Hari semakin petang namun Yourina yang tak kunjung terlihat dikediamannya membuat Altha merasa tak tenang, didalam hatinya ingin marah namun tak tau kepada siapa harus marah. Altha menunggu dengan sangat gusar.
"Pangeran, tuan putri sudah datang" ucap pelayan yang menyampaikan kalau putri Yourina yang ditunggu dari tadi sudah datang.
"Dari mana kau, pergi tanpa ijin." bentak Altha pada Riri yang baru datang setelah hari sudah petang.
"Aku dari rumah anak - anak ku, dan lagi aku sudah dapat ijin dari raja kalau aku bisa melakukan apa saja juga keluar masuk sesuka ku" jawab Riri cuek dengan berjalan melewati Altha.
"Ini bukan istana raja, tapi istana ku." Altha menahan tangan Riri.
"Lepaskan, kalau kau tak suka aku bisa pergi ke istana raja." jawab Riri dengan berani menatap Altha lurus.
"Kau,,, ikut aku. Kalian diam di sini." Altha menarik tangan Riri dengan paksa dan menyeretnya masuk kedalam kamar Altha. Yaris dan Jiyang tak bisa membantu karena itu urusan keluarga atau pasangan, apa lagi Altha sudah memperingatkan pada mereka kalau mereka tak harus ikut campur.
"Apa yang mau kau lakukan, kenapa kau mengikatku." Riri terus berontak saat Altha mengikat tubuhnya di kursi.
"Kenapa kau suka menindas ku, kau kekanak - kanakan." teriak Riri yang mendapatkan hukuman dari Altha dengan mengikat Riri disebuah kursi.
"Itu hukuman pergi tanpa ijin dari ku dan pulang sampai hampir larut, kau benar - benar tak menghormati ku sebagai tunangan mu." ucap Altha dan meninggalkan Riri sendiri terikat didalam kamarnya.
"Altha kau kelewatan lepaskan aku.!!" teriak Riri namun Altha cuek saja.
"Jangan ada yang berani melepaskannya." ancam Altha pada Jiyang dan Yaris.
"Dasar berondong kejam, aku akan pergi meninggalkan mu sejauh mungkin. Aku benci pada mu Altha.!!" teriak Riri dengan kesal
Karena sudah lelah berjalan ke 3 desa Riri pun mulai mengantuk dan tak punya tenaga lagi untuk memaki Altha yang tak ada di tempat. Perlahan mata Riri menutup dengan posisi tubuh masih terikat di kursi.
"Kalian pergilah istirahat." ucap Altha saat kembali ke kamarnya dan melihat Jiyang juga Yaris masih berdiri didepan kamar Altha menjaga Yourina yang dihukum oleh Altha dengan setia.
"Baik pangeran." jawab Jiyang dan Yaris bersamaan lalu pergi meninggalkan tempatnya.
"Dia tertidur?" Altha berjalan mendekati Riri yang kepalanya tertunduk hampir tersungkur.
"Dia beneran tidur" gumam Altha saat melihat Riri memang beneran tertidur.
Perlahan Altha membuka ikatannya dan membawah tubuh Riri ketempat tidur membaringkannya dengan perlahan lalu menyelimutinya. Altha menatap lama wajah Riri yang terlelap dengan pulas.
"Altha, dasar berondong kejam." gumam Riri dalam tidurnya.
"Masih bisa memaki ku walau sudah tidur." Altha tersenyum membelai wajah Riri.
"Deg." debaran jantung Altha tak terkendali, Altha menghindar dan meninggalkan Riri tertidur didalam kamarnya, sementara dirinya kembali lagi ke ruang baca.
Keesokan harinya Riri sudah keluar dari kamar Altha dan sedang latihan pedang dengan Yaris dan juga Jiyang diarea latihan. Semua pelayan yang dulu suka menghina dan juga mengatai Riri merasa takut namun Riri tak peduli dengan mereka, terlebih Riri mengurus dirinya sendiri tanpa adanya pelayan disisinya selain Jiyang dan Yaris.
"Dia sudah bangun rupanya." gimana Altha saat dia baru bangun dari tidurnya dan kembali kekamarnya.
Setelah beres - beres Altha mau ke ruang bacanya lagi yang merupakan ruang kerjanya namun dia terhenti saat melihat Yourina berlatih pedang bersama dengan Yaris dan Jiyang.
"Hahaha, aku sudah bisa mengalahkan Jiyang. Yeeee,,,," Riri tertawa dan lompat - lompat saat dia berhasil menjatuhkan pedang Jiyang.
"Deg, ada apa dengan ku." Altha memegangi dadanya yang lagi - lagi berdebar saat melihat tingkah Yourina yang dianggapnya lucu.
"Lupakan aku harus kerja." Altha pergi ke ruang bacanya.
"Yodon, kamu harus kembali ke keluarga mu nanti aku akan mengantar mu sekalian aku mau berkunjung ke rumah Sul." ucap Riri sedih jika dia mengingat Sul yang tak bisa dia selamatkan.
"Baik tuan putri, tapi jika hamba sudah sembuh total bolehkan hamba mengikuti tuan putri lagi?" tanya Yodon pada Riri yang saat ini sedang istirahat setelah latihan.
"Tentu, karena kau adalah bagian dari anggota kita dan juga keluarga ku." jawab Riri tersenyum dan menepuk bahu Yodon.
Siang itu setelah bersiap - siap Riri mencari Altha dan mau meminta ijin untuk mengantar Yodon pulang dan berkunjung ke rumah prajurit yang telah gugur yang bernama Sul.
"Aku akan ikut jadi tunggu aku sampai selesai." jawab Altha setelah Riri melaporkan keinginannya.
...🍁🍁🍁...
Riri dan Altha pergi bersama ke rumah Yodon dan seperti biasa Jiyang juga Yaris selalu ikut serta kemana pun Riri pergi. Altha terlihat sering curi - curi pandang saat Riri sedang melihat ke arah lain.
"Yodon, apa daerah rumahmu dan juga Sul begitu jauh?" tanya Riri dengan mengeluarkan kepalanya dari cela jendela kereta kudanya.
"Ya sekitar setengah hari perjalanan tuan putri." jawab Yodon tersenyum malu.
"Tidak apa - apa sekalian bertamasya." jawab Riri juga dengan tersenyum ramah dan terlihat manis bagi Altha.
"Gila, kenapa dia selalu membuat ku tak tenang dengan sikapnya yang biasa dan sederhana itu." gimana Altha dalam hati menatap Yourina.
"Tuan putri sudah sampai silakan masuk kedalam gubuk kecil hamba." ucap Yodon setelah sampai di depan rumahnya.
Riri tersenyum dan menyambut uluran tangan Yodon yang ingin membantu Riri turun dari kereta kuda. Orang tua Yodon sangat kaget melihat itu, karena mereka tak pernah berfikir akan dikunjungi oleh Dewi yang selalu dipuja - puja oleh semua orang.
"Tuan putri terimalah hormat kami, semoga tuan putri panjang umur dan sehat selalu." sambut semua anggota keluarga Yodon.
"Bangunlah ibu, dan juga yang lainnya. Jangan terlalu membuat sulit diri sendiri dan jangan membuat penghormatan yang berlebihan terhadap ku." ucap Riri mengulurkan tangan membantu ibu Yodon untuk berdiri.
Sikap Riri yang selalu ramah dan juga murah senyum pada semua orang itu telah membuat sesuatu dalam dada pangeran Altha bergetar. Tanpa sadar Altha tersenyum melihat keakraban Riri dan keluarga Yodon yang merupakan prajurit biasa di pasukannya.
"Pangeran silakan duduk dan tuan putri silakan." ayah Yodon mempersilakan Riri dan Altha untuk duduk di kursi yang mereka sediakan.
"Terima kasih, dengarkan aku. Yodon mengalami luka yang lumayan fatal atau parah, karena tulang kakinya yang patah. Hari ini aku mengantarnya kembali ke rumah untuk beristirahat dan memulihkan diri, jadi tolong dijaga dia dengan baik." ucap Riri menjelaskan pada keluarga Yodon.
"Baik tuan putri kami akan menjaga putra kami dengan baik sampai dia pilih dan kembali lagi ke sisi tuan putri." jawab ayah Yodon dengan sangat semangat.
"Tuan putri Youri jika nanti hamba sudah sembuh apakah tuan putri akan memanggil hamba lagi? Tuan putri tidak membuat alasan untuk hamba agar tak ikut bersama dengan tuan putri kan?" tanya Yodon tertunduk dengan kekhawatiran dihatinya.
Riri bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Yodon yang berdiri dengan tertunduk didepannya, "Buka kaki mu lebar - lebar." perintah Riri dan membuat semua orang bingung termasuk Altha.
Yodon menuruti perintah Riri walau dia sendiri juga bingung apa yang dimaksudkan oleh Riri. "Baik tuan putri." Yodon melebarkan kedua kakinya dengan posisi masih tertunduk.
"Kau adalah prajurit terbaik dan aku tak mau kehilangan mu, jadi saat nanti waktunya tiba aku pasti akan memanggilmu kembali kau mengerti? Seperti yang sudah aku katakan padamu tadi pagi, kau adalah bagian dari keluargaku." ucap Riri tersenyum sambil mengusap kepala Yodon dengan lembut.
"Tu-tuan putri, ba-baik hamba mengerti. Terima kasih." jawab Yodon gugup dan juga kaget dengan sentuhan lembut yang diberikan oleh Riri.
Sepasang mata elang Altha menatap dengan sangat tajam pada aktifitas yang ditunjukkan oleh Riri pada anak buahnya didepan umum. Altha mengepalkan tangannya namun dia tak berani mencegah karena dia tak mau terlihat buruk didepan orang lain apa lagi keluarga dari anak buahnya.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi. kamu harus jaga diri dengan baik." ucap Riri pamit dan menyemangati Yodon.
"Baik tuan putri " jawab Yodon penuh dengan semangat.
"Yodon, kuda itu untuk mu jaga dan rawat dia dengan baik." ucap Altha memberikan kudanya pada Yodon yang tadi ditunggangi oleh Yodon.
"Terima kasih pangeran." Yodon tersenyum bahagia begitu juga dengan keluarganya.
Setelah dari rumah Yodon mereka melanjutkan ke rumah Sul. Dan selama dalam perjalanan Riri terlihat melamun sambil menatap keluar jendela kereta, berkali - kali menghela nafas dalam.
"Tuan putri sudah sampai." ucap Jiyang dengan nada pelan.
Riri keluar dan turun dari kereta, berdiri menatap rumah Sul cukup lama. Air mata Riri mulai menggenang dan menetes karena mengingat detik - detik akhir dia bicara dengan Sul hingga akhirnya Sul menutup matanya untuk selamanya.
Perlahan Riri melangkah memasuki rumah itu dan dia disambut dengan sangat hangat oleh keluarga Sul, air mata Riri pun tumpah begitu juga dengan Jiyang yang tau bagaimana kondisi Riri waktu itu.
"Tolong maafkan saya yang tak bisa dengan cepat menolongnya." ucap Riri menundukkan kepala setelah dia menjelaskan semuanya pada keluarga Sul.
Altha yang melihat itu merasa kaget karena dia tak menyangka kalau Yourina akan meminta maaf dan menundukkan kepalanya dihadapan orang lain yang bisa dibilang tak ada pangkat karena rakyat biasa.
"Itu bukan salah tuan putri, tolong jangan berlaku seperti ini karena Sul telah menjadi pejuang. Bagi kami Sul adalah pahlawan." ucap ibu Sul yang juga ikut menangis karena mendengar penjelasan dari Riri.
...🍁🍁🍁...
Setelah pamit pada keluarga Sul dan kembali ke istana setiap hari Altha dan Riri selalu saja berselisih paham dan bertengkar atas segala hal. Namun anehnya hal itu tak membuat Altha kesal pada Yourina malah justru membuat Altha selalu memikirkan Yourina.
"Apa - apa'an dia." geram Altha yang melihat Yourina begitu dekat dengan bawahannya dan tersenyum ramah dengan mereka.
"Tungguh, kenapa dengan ku? Kenapa aku merasa kesal setiap kali melihat dia tersenyum pada semua orang dan kenapa dadaku,,," Altha bergumam dan memegang dadanya sendiri.
"Yourina aku memanggilmu kenapa kau tak datang ke ruang baca ku." Altha mendatangi Riri yang sedang latihan dihalaman belakang istana bersama dengan Yaris dan Jiyang sore itu.
"Ah itu, aku masih latihan dan juga ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang permisi." ucap Riri dengan cepat pergi meninggalkan Altha yang baru saja datang.
"Hey,,," Altha bingung melihat Yourina yang berusaha menghindarinya dan hal itu membuat hati Altha semakin tak tenang.
Melihat tingkah Yourina yang selalu berusaha pergi setiap kali melihat Altha dan tak mengijinkan Altha masuk kedalam kamarnya hal membuat Altha semakin tak tenang, karena Yourina hanya membiarkan ijin masuk kamarnya pada Yaris juga Jiyang saja. Mereka berdua bisa dengan santai dan leluasa keluar masuk kamar Yourina.
"Apakah aku sudah gila, kenapa aku selalu merasa tak tenang begini, dan seakan - akan ada beban dalam dadaku yang tak ku tau apa itu." gumam Altha dalam ruang bacanya dan berfikir keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Ajusani Dei Yanti
sukurin 🤭🤭🤭🤭🤭
2022-12-15
1
Hasan
🤣🤣🤣rasakan pangeran bodoh
2022-10-03
1