"Yaris, buka pintunya sekarang dan biarkan mereka masuk" ucap Riri dan Yaris langsung membuka pintu ruangan itu perlahan.
Riri membantu pasiennya duduk dengan perlahan, "Hati - hati, ingatlah kamu harus lebih banyak istirahat dan menjaga kebersihan dari luka yang telah ku obati." ucap Riri pada pasiennya.
"Iya tuan putri." jawab pasien itu dengan tersenyum bahagia.
"Ya ampun lihat itu, dia sudah sembuh dan sudah bisa duduk."
Semua orang terkejud melihat pasien tabib senior itu sudah duduk dengan wajah sumringah dan tak pucat lagi. Setelah dalam waktu setengah hari dirawat dan diobati oleh putri Yourina secara tertutup.
"Putraku, kamu sudah sembuh" ibu dari pasien itu menerobos masuk dan memeluk putranya begitu juga dengan ayahnya.
"Ibu, ayah. Aku sudah baik sekarang, dan keinginan ku bertemu dengan tabib tangan ajaib telah tercapai." ucap pasien Riri dengan nada senang.
"Jangan terlalu kuat memeluknya karena lukanya masih belum pulih seutuhnya dan dia masih butuh penanganan setidaknya 1 minggu untuk memastikan lukanya menutup dengan sempurna." jawab Riri dan semua orang terdiam.
"Lihatlah, luka yang sudah ku obati ini tak boleh terkena air sama sekali dan dia juga harus diberikan makanan yang bergizi untuk pemulihan lebih cepat." ucap Riri menunjukkan luka yang telah dia jahit dengan rapi.
"Ya ampun lukanya benar - benar seperti tak ada hanya ada terlihat kerutan saja." ucap semua orang yang ikut melihat.
Tabib senior pun tak bisa mengelak selain dia mengakui kehebatan Riri setelah dia melihat sendiri kalau luka itu menutup dengan sempurna dan juga rapi, apa lagi pasiennya terlihat sangat baik serta sehat. Kulit wajah yang tadinya terlihat pucat sudah tak ada lagi dan orang itu sudah bisa berbicara dengan lancar.
"Dia benar - benar hebat, hanya dengan waktu setengah hari saja dia telah menutup luka - luka yang tadinya membuka lebar." gumam tabib senior dalam hati.
"Terima kasih tuan putri atas bantuannya dalam menolong putra kami, mulai sekarang kami sekeluarga akan mengabdikan diri kami kepada anda tuan putri." ucap ayah pasien itu dan memberikan hormat pada Riri dengan bersujud pada Riri semua keluarga pasien itu termasuk pasiennya sendiri.
"Tidak, tidak bangunlah. Nanti lukanya terbuka lagi, jangan banyak bergerak dulu nanti 4 hari lagi aku akan datang untuk melihat dan memeriksa lukanya lagi." ucap Riri memapah pasien itu berdiri.
"Tabib senior, ku serahkan perawatannya pada anda. Sekarang saya mau pamit dulu." ucap Riri meninggalkan rumah tabib senior.
"Baik, tuan putri Yourina dan terima kasih atas bantuannya dalam merawat pasien saya. Anda sungguh hebat sesuai dengan rumornya. Saya sebagai tabib senior mengakui bahwa anda adalah master dalam dunia pengobatan." ucap tabib senior memberikan penghormatan pada Riri.
"Tidak, tidak jangan begini. Saya senang bisa membantu dan saya juga senang jika orang yang saya tangani bisa sehat kembali, saya juga masih harus belajar dari anda karena saya masih belum tau pengobatan tradisional dengan baik dan benar." ucap Riri dan menerima penghormatan dari tabib senior.
"Kalau begitu saya pamit dulu." ucap Riri dan pergi meninggalkan rumah tabib senior.
"Aku lelah sekali, rasanya tubuhku tak kuat untuk ku tanggung sendiri." gumam Riri liri sambil bersandar didalam kereta kuda.
"Kau tak papa?" Altha bertanya dengan khawatir.
"Aku,,," kalimat Riri terpotong karena dia telah jatuh pingsan karena kelelahan.
"Putri, Yourina kau kenapa. Bangunlah." Altha kaget dan berusaha membangunkan Riri, namun Riri telah memasuki alam mimpinya.
"Percepat laju keretanya, keretanya langsung ke istana ku." teriak Altha dari dalam kereta sambil memapah tubuh Riri.
...🍁🍁🍁...
Sesampainya didepan istana Altha keluar dengan menggendong Riri dan hal itu membuat Jiyang dan juga Yaris kaget karena yang mereka tau Yourina tak pernah sampai pingsan secapek apa pun.
"Pangeran kenapa dengan tuan putri?" tanya Yaris dan Jiyang khawatir.
"Panggilkan tabib istana dan suruh ke kamar ku segerah." perintah Altha dan berlalu dengan cepat tanpa menghiraukan pertanyaan Jiyang dan juga Yaris.
"Pangeran tabib sudah datang." ucap Jiyang yang berjaga di luar pintu kamar Altha.
"Tolong periksa ada apa dengannya karena dia tiba - tiba saja pingsan." ucap Altha khawatir.
Altha menunggu tak sabar melihat tabib istana memeriksa kondisi Riri. Altha terus saja mondar mandir dan menghela nafas berat berkali - kali.
"Maaf pangeran, tuan putri tak apa hanya jatuh pingsan karena kelelahan dan juga perutnya kosong saja. Mungkin sudah lama belum makan dan juga bekerja keras dengan kondisi perut kosong, dengan istirahat sebentar juga tuan putri akan baik kembali." ucap tabib istana dan Altha merasa lega.
"Jiyang bilang pada bagian dapur untuk menyiapkan makanan bergizi untuk Yourina sekarang." perintah Altha pada Jiyang dan langsung dilaksanakan.
"Kau mengobati orang lain tanpa memperdulikan kondisi kesehatanmu sendiri sungguh sangat ceroboh." gumam Altha kesal dengan duduk ditepi ranjang Riri yang terbaring dengan sangat tenang.
Setelah sekian lama menunggu Riri di kamarnya Altha keluar dan menuju ke ruang kerjanya. Mengerjakan banyak berkas dan juga laporan yang telah banyak datang.
"Halo kakak" sapa pangeran ke tiga pada Riri yang menikmati makanannya setelah dia bangun dari tidurnya.
"Pangeran ke tiga kau datang." Riri menyambut dengan senang.
"Bagaimana bantuan ku waktu itu apa sangat membantu?" tanya pangeran Choi pada Riri.
"Ya amat sangat membantu informasi yang pangeran ke tiga kirimkan." jawab Riri tersenyum.
"Hem, bagus - bagus aku senang kalau begitu." pangeran ke tiga sangat bangga duduk dan ikut makan dengan Riri.
...🍁🍁🍁...
Keesokan paginya Riri keluar istana dengan dikawal oleh Jiyang dan Yaris saja, Riri memilih berjalan dari pada naik kereta kuda karena ingin menikmati suasana pasar dan perkotaan. Riri mendatangai satu persatu rumah dari prajurit pengasingan untuk menyampaikan surat - surat mereka kepada keluarganya.
"Dewi Yourina selamat datang, silakan berkunjung ke rumah hamba." ucap seorang warga dengan sangat senang melihat Riri.
"Tabib tangan ajaib datang ke desa kita." teriak seorang warga saat dia melihat Riri dan kedua pengawalnya.
"Dewi Yourina, tabib tangan ajaib."
"Terima kasih tuan putri anda adalah Dewi penyelamat putra kami yang telah dianggap gugur di medan perang."
"Terima kasih putri, anda benar - benar seorang Dewi bagi keluarga kami, karena sekarang hamba dan anak - anak memiliki semangat lagi karena suami kami telah diselamatkan oleh anda."
"Terima kasih Dewi, hidup putri Yourina, hidup tabib tangan ajaib, hidup sang dewi penyelamat."
"Panjang umur, sehat selalu untuk Dewi Yourina."
Semua warga menyambut dengan sangat senang dan mereka semua memuja - muja Riri yang dianggap sebagai penyelamat dan pengikat nyawa. "Datanglah lagi Dewi." teriak semua warga saat Riri mau beranjak ke desa lain untuk mengunjungi rumah prajurit lainnya lagi.
...🍁🍁🍁...
"Sial, kenapa bisa anak sialan itu bisa jadi penyelamat." gerutu ibu tiri Yourina saat dia mendengar nama putri Yuorina dipuja - puja oleh banyak warga.
"Ibu kita harus baik padanya agar kita juga bisa menikmati ketenarannya itu, kita harus mengingatkan pada dia bahwa kita juga berjasa karena sudah merawat dia selama ini." ucap Yurna pada ibunya.
"Yourina kemarilah, kebetulan sekali kamu datang ke desa ini ayo mampir dulu ke rumah apakah kamu tak rindu dengan keluarga mu." ucap ibu tiri Yourina yang bertemu di pasar desa kedua yang didatangi oleh Riri.
"Baiklah, aku akan mampir sebentar." ucap Riri mengiyakan undangan ibu tirinya.
"Jadi ini adalah keluarga dari Yourina ya." gumam Riri dalam hati memperhatikan seluruh bangunan dari rumah itu dan semua orang - orang yang ada disitu.
"Kenapa ini, kenapa tubuh Yourina bergetar seperti ini. Apakah dia punya pengalaman buruk di rumah ini?" gumam Riri lagi dalam hati.
"Yourina kemarilah nak ayah sangat merindukan mu." ucap ayah Yourina memeluknya.
"Kamu sungguh hebat, tak ku sangka kamu telah menjadi orang yang begitu luar biasa, jika kamu ada masalah dengan yang mulia pangeran kamu bisa kembali ke rumah ini. kami akan selalu menerima mu di sini." ucap ayah Yourina dengan nada lembut dan penuh kasih sayang.
"Benarkah begitu? Apa benar orang ini sebaik itu? Tapi kenapa tubuh Yourina ini terus berusaha untuk menolaknya." Riri terus bertanya - tanya didalam hatinya.
"Baiklah, terima kasih semuanya ayah, ibu. Tapi Youri sedang sibuk sekarang, nanti kalau ada waktu Youri akan datang lagi." ucap Riri mengakhiri penderitaan dari pemilik tubuh yang terus bergetar.
Riri pun meninggalkan rumah keluarga Yourina dan kembali lagi ke istana pangeran karena sudah selesai mengunjungi semua rumah prajurit.
...🍁🍁🍁...
"Apakah putri belum pulang?" tanya Altha pada pelayan yang melintas didepan ruangannya.
"Maaf pangeran belum, dan sepertinya tuan putri sedang mengunjungi rumah para prajurit." jawab pelayan itu.
"Hem," Altha masuk lagi ke ruangannya.
"Sepertinya nama kakak ipar sangatlah populer dan terkenal sekarang, karena hampir di seluruh kota semua orang memuja nama kakak ipar." ucap pangeran ke tiga yang juga berada didalam ruangan Altha.
"Tapi dia tetap saja orang yang sama, dia hanyalah sebuah alat yang telah mengikat diriku dalam sebuah pertunangan yang tak pernah ku inginkan ini." ucap Altha dengan kesal.
"Hahaha, kalau begitu setujui saja pembatalan pertunangannya jika kakak tak menyukainya." jawab pangeran ke tiga.
"Tidak, aku akan menyiksanya sampai puas." tegas Altha dengan cepat.
"Huh, sangat aneh. Terserah kakak saja aku pergi." ucap pangeran ke tiga dan keluar dari ruangan Altha.
"Dari mana kau, pergi tanpa ijin.!!" bentak Altha pada Riri yang baru datang setelah hari sudah petang.
"Aku dari rumah anak - anak ku, dan lagi aku sudah dapat ijin dari raja kalau aku bisa melakukan apa saja juga keluar masuk sesuka ku" jawab Riri cuek dengan berjalan melewati Altha.
"Ini bukan istana raja, tapi istana ku." Altha menahan tangan Riri.
"Lepaskan, kalau kau tak suka aku bisa pergi ke istana raja." jawab Riri dengan berani menatap Altha lurus.
"Kau, ikut aku." Altha menarik tangan Riri dengan paksa dan menyeretnya masuk kedalam kamar Altha. Yaris dan Jiyang tak bisa membantu karena itu urusan keluarga atau pasangan.
"Kenapa kau suka menindas ku, kau kekanak-kanakan." teriak Riri yang mendapatkan hukuman dari Altha dengan mengikat Riri disebuah kursi.
"Itu hukuman pergi tanpa ijin." ucap Altha dan meninggalkan Riri sendiri terikat didalam kamarnya.
"Altha kau kelewatan lepaskan.!!" teriak Riri namun Altha cuek saja.
"Jangan ada yang berani melepaskannya." ancam Altha pada Jiyang dan Yaris.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Ajusani Dei Yanti
dasar pangeran bunglon
2022-12-15
1
AbC Home
thor klo bs pengulangan bab terakhir pd bab sebelumnya jgn terlalu panjang
2022-08-19
3