Setiap hari Riri selalu membuat alasan untuk menghindari bertemu dengan Altha, terlebih lagi Riri selalu saja menyibukkan dirinya dibagian belakang istana dengan para pelayan untuk memasak dan belajar membuat api unggun.
"Putri apa ada yang kau sembunyikan dari ku?" tanya Altha dengan dingin saat dia tak sengaja bertemu dengan Altha di taman teratai saat Riri melakukan sesuatu dengan melihat biji bunga teratai.
"Gawat, aku harus pura - pura tetap jadi Yourina yang lemah dan juga sombong. Tapi bagaimana caranya menjadi sombong ya?" gumam Riri dalam hati.
"Memangnya kenapa?! Itu adalah hak ku. Huh.!" Riri berjalan melewati Altha begitu saja.
"Apa seperti itu sudah benar ya sombongnya?" gumam Riri dalam hatinya dengan berjalan cepat.
"Kenapa dia jadi aneh begitu? Dia terlihat biasa saja, tapi dia selalu saja punya cara dan alasan untuk menghindari ku. Lebih - lebih kenapa dia jadi keras dan juga aneh bicaranya." gumam Altha melihat Riri pergi dengan cepat.
"Apa yang dia lakukan dengan bunga teratai ini tadi? Apa dia menyembunyikan pesan tersembunyi atau dia sedang memberi tanda pada yang lainnya." Altha melihat teratai yang tadi disentuh dan dibolak balik oleh Riri.
Siang itu Riri tidur didalam kamarnya dengan tenang karena dia merasa bosan dan juga bingung bagaimana caranya dia bisa kembali lagi ke dunia asalnya. Riri berusaha dengan sangat keras mengingat semua kejadian sebelum dia masuk ke dalam dunia novel ini.
"Aku harus menemukannya, dan aku harus cepat kembali ke dunia asal ku. Bagaimana keadaan diriku di sana, apakah aku meninggal atau aku hanya pingsan saja." gumam Riri mengobrak abrik isi kamar Yourina yang membuat dia terbangun di tempat ini.
"Bagaimana dengan orang - orang dan semua teman dekat ku, mereka pasti mencemaskan aku yang sudah lama tak kembali bekerja lagi." Riri masih sibuk membongkar ini dan itu.
"Apa,,, benda apa yang harus aku cari agar aku bisa kembali. Aaaaargh.!" Riri berteriak frustasi.
Brak
"Kakak,,, kakakku kau? Apa yang kau lakukan?! Apa kau benar - benar seorang mata - mata,,, dan sekarang kau sedang mencari benda yang bisa kau gunakan untuk memberikan kutukan pada yang mulia pangeran Altha?!" teriak seorang wanita yang tiba - tiba saja masuk kedalam kamar Riri disaat Riri sedang mengacak - acak isi kamarnya untuk mencari benda yang bisa membuatnya kembali lagi ke dunia dan ke kehidupan aslinya.
"Ini tidak bisa dibiarkan." wanita itu keluar dari kamar Riri, "Yang mulia pangeran,,, yang mulia pangeran,,, ini gawat, ini sangat gawat." teriak wanita itu sambil berlari.
"Tunggu, apa dia adalah Yurna? Barusan dia berteriak apa?" Riri merasa bingung dan dia masih bengong sambil duduk dilantai.
"Ah, jangan - jangan ini adalah kejadian itu. Jadi alur ceritanya tidak berubah dan masih tetap sama dengan cerita aslinya hanya saja tertunda oleh waktu. Bagaimana ini, sebentar lagi pasukan Altha akan datang dan membawah aku menghadap Altha untuk menjatuhi aku hukuman mati." gumam Riri dan dia langsung berdiri.
"Putri tolong ikut dengan kami, yang mulia pangeran ingin bertemu dan putri harus menghadap di aula persidangan." ucap seseorang yang terlihat seperti orang penting dan beberapa pengawal.
"Gawat, ini benar - benar sesuai dengan cerita awalnya. Aku harus mencari cara agar hukumannya jangan mati, setidaknya aku harus tetap hidup karena aku gak mau mati konyol di sini tanpa tau apa - apa. Aku harus kembali ke dunia asal ku." gumam Riri berjalan mengikuti para pengawal itu.
"Putri Yourina hadir dalam persidangan." teriak seorang pengawal lain yang berdiri diambang pintu.
"Deg." jantung Riri berdebar hebat melihat tatapan Altha yang dingin dan juga tajam dari atas singgasananya.
"Berlutut.!" perintah Altha dan Riri langsung berlutut tanpa melawan.
"Apa yang dikatakan oleh putri Yurna itu benar? Kau memiliki tanda kutukan di tubuhmu, dan kau datang kesini sebagai mata - mata untuk mengutuk ku dan merebut tahta yang saat ini aku tempati." suara dingin yang seolah bisa menusuk hingga tembus ke tulang membuat Riri semakin bergetar, otaknya masih berputar untuk mencari cara lepas dari situasi itu.
"Putri Youri.!" teriak Altha dengan suara melengking.
"Kau sangat kejam, kau egois, dasar pria tak berprikemanusiaan, tak punya perasaan dan belas kasih, tak punya kasih sayang, brondong tak tau diri.!" teriak Riri spontan dan itu membuat semua orang yang ada didalam ruang sidang kaget, termasuk Altha sendiri karena tak mengerti bahasa apa yang baru saja diucapkan oleh Riri.
"Eh, apa yang barusan aku katakan? Dia pasti akan langsung memberiku hukuman di sini." gumam Riri dalam hati setelah sadar dengan ucapan makiannya tadi.
"Yang mulia pangeran, anda jangan percaya dengan apa yang barusaja dikatakan. Dia hanya ingin berusaha mengambil hati yang mulia pangeran jasa." ucap Yurna dengan nada kesal.
"Sebaiknya dia langsung diberikan hukuman saja sekarang agar tak ada yang berani mencobak mengusik keluarga kerajaan lagi." sambung Yurna memprovokasi.
"Eh, apa barusan yang dia katakan. Mengambil hati, aku, pada brondong tengik itu? Hahaha." gumam Riri dalam hati tertawa.
"Tidak bisa begitu, sebagai seorang pangeran tak boleh mengambil tindakan sembarangan tanpa adanya bukti yang jelas dan juga penyelidikan yang benar." ucap Riri lantang tanpa ada rasa takut lagi.
"Dengarkan aku, aku mau menerima apa pun hukumannya jika memang aku terbukti bersalah bukan hanya karena laporan dari seseorang saja. Dan lagi di kerajaan ini masih ada hukum raja yang lebih tinggi." sambung Riri lagi, dan semua orang pun berkasak kusuk menganggap apa yang barusaja dikatakan oleh Youri ada benarnya juga.
"Asing-kan dulu putri dan lakukan penyelidikan." perintah Altha dan Riri pun dibawah ketahanan bawah tanah.
"Selamat, aku berhasil mengulur sedikit waktu. Sekarang aku harus berfikir lagi untuk lepas dari jeruji besi ini." gumam Riri yang duduk dengan tenang didalam tahanan.
Selama 3 hari Riri dikurung Altha selalu berfikir dan mencari cara bagaimana caranya dia menyingkirkan Riri tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Karena dia tak pernah menyukai Riri yang sebenarnya adalah Yourina yang telah dirasuki oleh Riri.
"Aku sangat membenci pertunangan ini, terlebih lagi dengan wanita yang tak berguna dan hanya bisa menyombongkan diri itu." gumam Altha yang duduk didepan meja kerjanya.
"Aku harus menyingkirkan dia jauh dari hidupku dan membuangnya hingga tak ada orang yang tau serta curiga kalau aku yang melakukannya." Altha sudah sangat marah dan juga kesal, dia ingin sekali segerah melenyapkan Yourina dari hidupnya.
"Pangeran, bagaimana kalau kita kirim saja putri ke perbatasan dan kita laporkan sebagai bela negara untuk putri yang mengabdikan diri sebagai tunangan pangeran calon putra mahkota." ucap pengawal yang ada disamping Altha dan orang kepercayaan Altha memberikan saran.
"Medan perang ya?" Altha berfikir dan bibirnya sedikit melengkung memunculkan senyum dan juga ide gila serta kejam darinya.
"Baik, kerahkan semua orang dan kirim putri sekarang juga ke Medan perang. Yang lebih tepatnya pada lembah terasing, asing-kan dia di sana dan biarkan dia putus asah hingga mengakhiri hidupnya sendiri di sana." perintah Altha pada anak buahnya.
Malam itu juga mereka membawah Riri atau putri Yourina ke perbatasan yang sedang terjadi perang, dan membawah Riri ke suatu tempat yang sangat sepi juga memiliki aroma busuk serta bau darah yang sangat menyengat.
Riri tak sadar saat dibawah dalam kereta kuda karena matanya ditutup dan tangannya diikat, entah sudah berapa lama Riri dibiarkan tanpa makan dan juga minum selama perjalanan, hingga sampai pada tempat tujuan juga dalam keadaan malam hari.
"Putri maaf hamba hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh yang mulia pangeran saja. Ini ada roti dan juga air untuk putri Youri." ucap pengawal itu pada Riri dan melepaskan ikatan tangan serta penutup mata Riri.
"I-ini tempat apa?" tubuh Riri merasa merinding.
"Ini adalah hukuman putri dari yang mulia pangeran, jadi Putri jalani saja hukumannya di sini dengan tenang." ucap pengawal itu lalu pergi meninggalkan Riri.
Malam semakin larut suara - suara rintihan mulai terdengar semakin jelas sangat memilukan dan juga menyayat hati, Riri tak berani bergerak dari tempatnya. Riri meringkuk memegangi kedua lututnya menahan rasa takut dalam kegelapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
R yuyun Saribanon
cerita nya masi ribet.. mengapa di fitnah? ada tujuan apa?...masi belum ketemu alur nya
2024-02-17
0
Ajusani Dei Yanti
lanjut thorrrr kuh seru
2022-12-15
1
Hasan
hmmm maaf itu pangeran otaknya cmn sebesar biji kacang hijau kah?
2022-10-03
2