19. Raveno Tahu

“Kalian cuma berdua di sini?” tanya orang yang baru saja tiba itu.

“Iya,” jawab Bila. “Lo?” lanjut Bila.

“Gue sendiri. Kebetulan banget kalau gitu, boleh gue gabung belajar? Boleh kan Pak?” tanya Revano meminta persetujuan kedua orang yang ada di hadapannya itu.

Bila mengangguk dengan semangat. Berbeda dengan Jeff yang saat ini menghela napasnya kecewa. Ini memang kewajibannya untuk mengajar kedua muridnya ini, tapi jika ada Raveno, bagaimana dia akan berkencan dengan Bila.

Dengan segala keterpaksaan akhirnya Jeff mengangguk. Bila yang tadi mengeluh lapar kini sepertinya telah melupakan hal itu. Dia menjadi lebih semangat belajar.

“Untuk hari ini sampai di sini dulu ya. Rav, kita berdua permisi dulu. Masih ada yang harus saya dan Bila bicarakan,” ucapnya. Jeff tak hanya tinggal diam, dia ikut membereskan alat tulis Bila agar bisa segera pergi dari sana.

“Rav, gue duluan ya. Besok kita lanjut belajar,” ucap Bila ambi berlalu karena dia ditarik oleh Jeff.

Raveno melambaikan tangannya sembari mengangguk. Dia merasa ada yang aneh dengan Bila dan Pak Jeff. “Ada apa dengan mereka?” bisiknya pada dirinya sendiri.

Tak ingin ambil pusing, Raveno menggelengkan kepalanya dan memilih tak ambil pusing masalah temannya dan gurunya itu.

Dia juga ikut membereskan bukunya. Saat ini dia memilih untuk mencari makan karena perutnya sudah sangat keroncongan.

“Di sana aja,” ucapnya saat melihat restoran yang jauh dari sana. Dia melangkahkan kakinya untuk tiba di sana. Memesan makanan dan mencari tempat duduk. Pandangannya mengedar untuk mencari tempat duduk yang masih kosong.

“Loh, itu mereka?” tanyanya. Untuk memastikan penglihatannya tak salah, Raveno mendekati orang yang rasanya dia kenali.

“Ternyata benar kalian. Kebetulan untuk yang kedua kalinya,” kekehnya. Ya, di sana ada Jeff dan Bila. Jeff yang merasa kesal karena kembali bertemu dengan orang yang dia benci dan Bila yang tersenyum manis karena kembali bertemu dengan teman seperjuangannya.

“Sini gabung Rav,” ucap Bila yang berhasil membuat Jeff memandang Bila dengan pandangan tak percaya. Mulutnya yang menganga dan matanya yang tak berkedip.

“Boleh?” tanya Raveno. Bila mengangguk dengan semangat. Makanan mereka datang, akhirnya mereka makan bersama dalam keadaan tenang sebelum sebuah pembicaraan dimulai.

“Bapak kenapa barengan terus sama Bila?” akhirnya Raveno mengeluarkan hal yang sedari tadi mengganggu pikirannya.

“Saya pacarnya.” Jawaban Jeff membuat Bila tersedak air minumnya. Jeff yang peka segera mengusap punggung Bila berharap itu akan meredakan batuknya.

“Beneran?” tanya Raveno. Dia seakan buta bahwa di hadapannya kini Bila sedang terbatuk-batuk karena jawaban Jeff.

“Tentu saja. Kenapa saya harus bohong?” Jawaban Jeff seakan menantang dan membuktikan bahwa Bila adalah hak miliknya.

Raveno mengangguk-anggukkan kepalanya mengakui jika Bila memang milik Jeff.

“Pantesan nempel terus,” sindirnya yang tentu saja didengar oleh Jeff dan Bila. Sementara itu Bila masih membelalakkan matanya terkejut dengan jawaban Jeff.

“Pak, bagaimana jika seisi sekolah tahu?” bisik Bila pada Jeff.

“Lalu kenapa? Bukan sebuah dosa kan kalau murid dan gurunya berpacaran?” Apa yang dikatakan Jeff memang benar, tapi Bila sungguh merasa ketakutan.

Bila yang kesal akhirnya meninggalkan Jeff dan Raveno di sana. Gadis itu pergi ke mobil Jeff dengan mencebikan bibirnya.

“Saya duluan, uangnya tolong bayarkan nanti. Punya kamu juga bayar saja.” Jeff memberikan uang seratus ribuan sebanyak tujuh lembar pada Raveno meminta muridnya itu untuk membayar makanannya. Sementara dia pergi menyusul Bila yang marah.

“Kamu kenapa?” tanya Jeff setelah dia berada di mobil dengan Bila.

“Kenapa bilang kalau kita pacaran? Kalau nanti anak-anak satu sekolah tahu bagaimana?” tanya Bila dengan sedikit menaikan nada bicaranya karena dia merasa tak tahan.

“Mereka tak akan kenapa-kenapa.” Jeff menjawab dengan yakin dan tenang.

“Bagaimana bisa Bapak tahu kalau semuanya bakal baik-baik saja?” tanya Bila.

“Katakan padaku kalau mereka mengganggumu.”

“Bukan itu. Aku bisa mengatasinya kalau mereka mengganggu, tapi apa Bapak tahu bagaimana populernya Bapak di kalangan para siswi?” tanya Bila.

Jeff hanya diam menunggu Bila melanjutkan kalimatnya.

“Bapak sangat populer, bahkan tak jarang dari mereka yang mau ada di posisi aku sekarang. Aku bakal dijauhi teman-teman, nama Bapak juga akan menjadi jelek.” Air mata mulai menetes membasahi pipi Bila.

Jeff memilih menunda jawabannya, saat ini dia mendekap tubuh Bila dengan erat berharap gadis itu akan tenang.

“Tak perlu memikirkan mereka. Kamu masih punya aku kalau mereka menjauhimu,” bujuk Jeff.

Bila masih menangis. “Tapi ...”

“Oke, nanti aku ngomong sama si Raveno itu buat gak bilang siapa-siapa oke? Sekarang berhentilah berpikir yang tidak-tidak dan berhentilah menangis. Aku tak bisa melihatmu seperti ini,” bujuk Jeff.

Akhirnya Bila mengangguk dan berusaha menghentikan tangisannya. “Bagus,” ucap Jeff.

Setelah Bila selesai dengan acara menangisinya, mereka kembali mencari tempat makan yang cukup jauh dari sana karena mereka tak sempat memakan makanannya tadi.

“Mau makan apa?” tanya Jeff. “Apa aja.” Jeff tak bertanya lagi, kali ini dia yang akan memilih makanannya.

Dia tahu Bila akan memakan apapun yang dipilihnya karena gadis itu bukan tipe pemilih. Dia akan memakan apapun yang ada di hadapannya tanpa banyak bertanya.

Mereka sampai di sebuah warung pinggir jalan. Bukannya Jeff tak mampu, dia lebih dari mampu untuk membelikan Bila sebuah restoran, tapi saat ini dia sedang ingin makan di sini.

Pecel lele, ya di sanalah mereka akan makan siang ini. Bila keluar dari mobil tanpa banyak bertanya. Dia segera memesan dua porsi.

“Enak,” ucapnya saat memasukan makanan ke dalam mulutnya. Jeff tersenyum karena akhirnya bisa tersenyum setelah gadis itu menangis tadi.

“Makan yang banyak. Pesan lagi kalau masih lapar,” ucap Jeff. Bila mengangguk mengerti. Mereka makan dengan tenang. Tak ada suara lagi setelah itu.

“Jarang banget loh ada pasangan semuda kalian yang makan di sini,” ucap si Ibu pemilik warung itu.

Jeff mengalihkan atensinya pada penjual itu dan tersenyum kemudian. Begitu juga dengan Bila.

“Lagi pengen aja Bu. Di sini selalu sepi seperti ini?” tanya Jeff balik bertanya. Dia berbasa-basi agar tak terlalu kosong.

“Kalau siang memang sepi, tapi malam nanti baru ramai,” jawab si Ibu. Jeff mengangguk paham.

Bila hanya mendengarkan percakapan kedua orang itu dan masih anteng dengan makanan yang ada di depannya. Sudah dari tadi dia merasa lapar, itulah mengapa dia memesan lagi saat ini.

“Ibu, mau satu lagi ya?” ucapnya. Jeff terkekeh, badan Bila yang kecil dibandingkan dengannya ternyata memiliki nafsu makan yang besar.

“Kenapa ketawa?” tanya Bila kesal. Sementara itu si Ibu mengangguk dan kembali membuatkan satu porsi.

“Engga, emang gak boleh?” goda Jeff. Bila mendengus kesal, tapi dia memilih mengabaikan kekasihnya itu karena makanan di hadapannya lebih menarik saat ini.

Episodes
1 1. Perkenalan
2 2. Alone
3 3. Real Happiness
4 4. Pertanggung Jawaban
5 5. Guru Aneh
6 6. Malam Panjang
7 7. Bantuannya
8 8. Ancaman
9 9. Rasa Takut
10 10. Bimbingan Belajar
11 11. For The First Time
12 12. Official
13 13. Cemburu
14 14. Tragedi Bilik Toko
15 15. You're Mine
16 16. Merajuk
17 17. Bersamamu
18 18. Our Dating
19 19. Raveno Tahu
20 20. Permen Kapas
21 21. Kamar Mandi
22 22. Making Love
23 23. Tanda
24 24. Terabaikan
25 25. Seorang Anak
26 26. Pencarian
27 27. Sesal
28 28. Tamparan Keisya
29 29. Raveno dan Melinda
30 30. Akankah Berjumpa
31 31. Pertemuan Awal
32 32. Takut Bertemu
33 33. Bertemu Denganya, Lagi
34 34. Hamil??
35 35. Pelajaran Untuk Jeff
36 36. Lari Lagi
37 37. Raveno Si Pria Tengil
38 38. Tamparan seorang sahabat
39 39. Pesan Dari Bila
40 40. Pendusta
41 41. Membujuk Bila
42 42. Cerita Masa Lalu dan Jeff
43 43. Hari Pulang Ke Rumah
44 44. Apology
45 45. Perjuangan
46 46. Bertemu Sahabat
47 47. KDRT
48 48. Khawatir
49 49. Kembali Bersama
50 50. Manja
51 51. Cek Kandungan
52 51. List Pertanyaan
53 52. Meminta Saran dan Bantuan
54 53. Bukan Meminta Izin, Hanya Memberitahu
55 54. Rumah Ternyaman
56 55. Surat Undangan
57 56. Benarkah?
58 57. The Day
59 58. Anak Keras Kepala
60 59. Raveno Tahu
61 60. Hukuman
62 61. Mulai Peduli
63 62. Khawatir
64 63. Lampu Hijau Calon Mertua
65 64. Kenapa?
66 65. Gibah
67 66. Rumah Baru
68 67. Persiapan
69 68. Mulai Peduli
70 69. Syukuran
71 70. Terbongkar
72 71. Cerita Keluarga Jeff
73 72. Keburukan Ayah Melinda
74 73. Izin Kepada Ayah
75 74. Bukti Transfer
76 75. Apartemen
77 76. Perjuangan dan Penolakan
78 77. Kedatangan Laras
79 78. Kecewa
80 79. Victor dan Nasihatnya
81 80. Bersama
82 81. Berbohong
83 82. Tanpa Jeff
84 83. Sangat Kecewa
85 84. Sebuah Perbedaan
86 85. Kesalah Pahaman
87 86. Perang Dingin
88 87. Masih Dingin
89 88. Latihan Basket
90 89. Kiss
91 90. Kecelakaan
92 91. Panik
93 92. Membaik
94 93. Rumah
95 94. She's My Sister
96 95. Terungkap
97 96. Meminta Maaf
98 97. Kedekatan Raveno dengan Bila
99 98. Jatuh Cinta
100 99. Tiga Tahun
101 100. Kuliah Bareng
102 101. Laras dan Kehidupannya
103 102. Azka POV
104 Pengumuman!!!
Episodes

Updated 104 Episodes

1
1. Perkenalan
2
2. Alone
3
3. Real Happiness
4
4. Pertanggung Jawaban
5
5. Guru Aneh
6
6. Malam Panjang
7
7. Bantuannya
8
8. Ancaman
9
9. Rasa Takut
10
10. Bimbingan Belajar
11
11. For The First Time
12
12. Official
13
13. Cemburu
14
14. Tragedi Bilik Toko
15
15. You're Mine
16
16. Merajuk
17
17. Bersamamu
18
18. Our Dating
19
19. Raveno Tahu
20
20. Permen Kapas
21
21. Kamar Mandi
22
22. Making Love
23
23. Tanda
24
24. Terabaikan
25
25. Seorang Anak
26
26. Pencarian
27
27. Sesal
28
28. Tamparan Keisya
29
29. Raveno dan Melinda
30
30. Akankah Berjumpa
31
31. Pertemuan Awal
32
32. Takut Bertemu
33
33. Bertemu Denganya, Lagi
34
34. Hamil??
35
35. Pelajaran Untuk Jeff
36
36. Lari Lagi
37
37. Raveno Si Pria Tengil
38
38. Tamparan seorang sahabat
39
39. Pesan Dari Bila
40
40. Pendusta
41
41. Membujuk Bila
42
42. Cerita Masa Lalu dan Jeff
43
43. Hari Pulang Ke Rumah
44
44. Apology
45
45. Perjuangan
46
46. Bertemu Sahabat
47
47. KDRT
48
48. Khawatir
49
49. Kembali Bersama
50
50. Manja
51
51. Cek Kandungan
52
51. List Pertanyaan
53
52. Meminta Saran dan Bantuan
54
53. Bukan Meminta Izin, Hanya Memberitahu
55
54. Rumah Ternyaman
56
55. Surat Undangan
57
56. Benarkah?
58
57. The Day
59
58. Anak Keras Kepala
60
59. Raveno Tahu
61
60. Hukuman
62
61. Mulai Peduli
63
62. Khawatir
64
63. Lampu Hijau Calon Mertua
65
64. Kenapa?
66
65. Gibah
67
66. Rumah Baru
68
67. Persiapan
69
68. Mulai Peduli
70
69. Syukuran
71
70. Terbongkar
72
71. Cerita Keluarga Jeff
73
72. Keburukan Ayah Melinda
74
73. Izin Kepada Ayah
75
74. Bukti Transfer
76
75. Apartemen
77
76. Perjuangan dan Penolakan
78
77. Kedatangan Laras
79
78. Kecewa
80
79. Victor dan Nasihatnya
81
80. Bersama
82
81. Berbohong
83
82. Tanpa Jeff
84
83. Sangat Kecewa
85
84. Sebuah Perbedaan
86
85. Kesalah Pahaman
87
86. Perang Dingin
88
87. Masih Dingin
89
88. Latihan Basket
90
89. Kiss
91
90. Kecelakaan
92
91. Panik
93
92. Membaik
94
93. Rumah
95
94. She's My Sister
96
95. Terungkap
97
96. Meminta Maaf
98
97. Kedekatan Raveno dengan Bila
99
98. Jatuh Cinta
100
99. Tiga Tahun
101
100. Kuliah Bareng
102
101. Laras dan Kehidupannya
103
102. Azka POV
104
Pengumuman!!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!