"Allegra itu sepupu kamu, Sha!" Mom Ghea memperingatkan Sasha namun dengan nada selembut mungkin.
"Iya, Sasha tahu, Ma!" Jawab Sasha cepat.
"Tadi itu kami juga hanya jalan-jalan! Nggak ngapa-ngapain!" Sergah Sasha lagi mencari alasan.
"Tapi sorot mata kamu mengatakan hal lain!" Mom Ghea menuding ke arah Sasha yang langsung terdiam.
"Ghea, sudah! Sasha kan masih kecil! Jangan menekannya seperti itu!" Dad Alvin yang sejak tadi diam akhirat angkat bicara.
"Justru karena Sasha masih kecil dan sebelum dia menaruh perasaan yang terlalu dalam pada Allegra, kita harus mengantisipasinya, Vin!" Sergah Mom Ghea yang ganti mengajak Dad Alvin berdebat.
"Perasaan yang dalam bagaimana maksudnya, Mom? Sasha dan Alle belum jadian, kok!" Sasha membungkam mulutnya sendiri dengan cepat.
"Eh!"
Sial! Sasha keceplosan.
"Belum?" Mom Ghea mengernyit ke arah sang putri.
"Berarti memang ada niat ke sana?" Tuding Mom Ghea seraya menatap tak percaya pada Sasha.
"Enggak, Ma! Kami kan sepupuan!" Sergah Sasha membantah dengan cepat.
"Nah, itu kamu paham!"
"Mulai sekarang jaga jarak dari Allegra dan jangan seperti orang pacaran!"
"Kalian itu sepupu! Ingat!" Mom Ghea memperingatkan Sasha secara bertubi-tubi dan gadis itu sontak merengut.
"Mengerti, Sasha?" Mom Ghea menpertegas sekali lagi.
"Iya, Mom! Sasha mengerti!" Jawab Sasha sedikit kesal dan marah. Sasha bangkit dari duduknya, lalu langsung naik ke lantai dua dan membanting pintu kamar.
Sementara Mom Ghea menarik nafas dalam-dalam sembari mendarat bokongnya di sofa. Dad Alvin mengusal lembut punggung istrinya tersebut.
"Seharusnya sikapmu tak perlu berlebihan begitu, Ghe! Sasha juga pasti sudah paham tentang hubungannya dengan Allegra sebagai sepupu," Nasehat Alvin pada sang istri.
"Anak itu tidak paham, dan sikapku tadi tidak berlebihan!" Sergah Ghea mendelik pada sang suami.
"Tapj tak perlu sampai memperingatkan berulang-ulang begitu!"
"Lagipula hubungan darah Sasha dan Allegra juga jauh sekali! Apabsalahnya kalau mereka saling jatuh cinta?" Gumam Dad Alvin berpendapat sendiri.
"Tentu saja tidak boleh!" Sergah Mom Ghea cepat.
"Nanti keluarga kita hanya itu-itu saja dan tak berkembang. Memangnya kau mau berbesanan dengan sepupu sendiri?"
"Misalnya aku menyuruhmu berbesanan dengan Kak Audrey apa kau mau?" Cecar Mom Ghea bersungut-sungut pada Dad Alvin.
"Maksudnya kau mau menjodohkan Ethan dengan Olivia atau Alicia, begitu?" Dad Alvin tergelak dan Mom Ghea hanya berdecak, sebelum kemudian raut wajah wanita paruh baya itu berubah sedih.
"Keberadaan Ethan saja kita masih tidak tahu," guman Mom Ghea sedih.
Dad Alvin langsung mengusap punggung istrinya tersebut untuk memberikan kekuatan.
"Ethan pasti baik-baik saja dan mungkin saat ini dia sedang menjadi dokter magang di sebuah rumah sakit," ujar Dad Alvin begitu yakin. Mom Ghea langsung menatal pada suaminya tersebut.
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?"
"Insting seorang Dad!" Jawab Dad Alvin penuh percaya diri.
"Tapi aku yang mengandung dan melahirkan Ethan," Mom Ghea masih merasa sangsi.
"Dan aku yang mengajarkannya banyak hal serta memberikannya kasih sayang berlimpah!" Timpal Dad Alvin.
"Kau yang menindih tangannya saat malam pertama kita!" Mom Ghea menghapus airmatanya dan sudah mulai bisa tertawa.
"Hei! Yang itu aku tidak sengaja!" Kilah Dad Alvin yang langsung membuat Mom Ghea berdecak. Pasangan paruh baya itu melanjutkan obrolan mereka sekalogus mengenang moment-moment indah tentang Ethan dan Sasha saat mereka masih kecil.
****
[Hai, masih sibuk, ya? Baiklah aku tak akan mengganggu. Balas pesanku saat sudah senggang] -Sasha-
Allegra membaca sekilas pesan dari Sasha yang sejak tadi tak berhenti masuk ke dalam ponselnya. Pria itu mendadak merasa galau apakah harus membalas pesan Sasha atau tidak.
Tapi kata Mami Rachel, Allegra harus mulai menjaga jarak dari Sasha. Sedangkan jika Allegra membalas pesan Sasha atau menelepon gadis itu Allegra tak akan mau berhenti untuk terus menghida dan merayu Sasha.
Ah, gadis itu kenapa bisa membiat Allegra menjadi galau dan sedikit tergila-gila begini?
Pesona apa memangnya yang dimiliki seorang Sasha?
Allegra menghema nafas, dan lanjut membuka kopernya. Sebagian isi koper Allegra masih utuh, mengingat Allegra yang hanya sepekan berada di negara ini dan lebih banyak .emakai baju yang tersimpan di lemarinya, ketimbang membongkar koper.
Allegra hanya merapikan sedikit usi kopernya, lalu memasukkan barang lain dan tak butuh lama, koper Allegra sudah siap ia bawa ke luar negeri lagi.
Semoga memang ini jawaban serta jalan Allegra untuk menjaga jarak dari Sasha. Allegra akan mencoba mencari pacar saja nanti saat sudah sampai di luar negeri dan berusaha melupakan Sasha. Semoga Sasha juga akan bertemu pria yang baik nantinya, meskipun sebenarnya Allegra masih ikhlas tak ikhlas.
Tapi Allegra tak boleh egois dan biarlah ia dan Sasha tetap berhubungan sebagai sepupu saja ke depannya tanpa ada perasaan lain di antara mereka.
Semoga bisa!
[Alle, kau sudah tidur?] -Sasha-
Pesan dari Sasha kembali masuk ke ponsel Allegra. Apa sebaiknya Allegra berbicara sebentar pada Sasha via telepon? Sepertinya gadis itu ingin menyampaikan hal penting.
Setelah menimbang beberapa saat, Allegra akhirnya menekan nomor kontak Sasha dan memutuskan untuk menelepon gadis itu. Telepon langsung diangkat di dering pertama.
"Halo, Alle! Kau belum tidur?"
Suara Sasha terdengar riang. Bisa Allegra bayangkan wajah gadis itu sekarang.
"Iya, kebetulan baru selesai berkemas."
"Kau juga belum tidur?" Allegra sedikit berbasa-basi pada Sasha.
"Belum! Mendadak nggak bisa tidur karena besok kamu mau pergi."
"Tidur! Jangan begadang!" Nasehat Allegra.
"Nanti kalau udah ngantuk."
"Tapi ngomong-ngomong apa kamu nanti bakal lupa sama aku setelah balik ke luar negeri? Kapan kamu akan pulang lagi?"
"Masih belun tahu! Tapi aku nggak bakalan lupa sama kaki, Sha!" Allegra menyugar rambutnya sendiri.
"Aku ingin serius kuliah setelah kembali nanti agar tidak menjadi mahasiswa abadi dan membuat Papi kecewa."
Terdengar kekehan Sasha dari ujung telepon.
"Jadi mungkin aku baru akan pulang setelah wisuda," lanjut Allegra mengira-ngira.
"Begitu, ya? Kira-kira kapan? Satu tahun? Dua tahun?"
"Semoga bisa satu tahun."
"Kau juga harus fokus pada kuliahmu, kan?" Allegra mengingatkan Sasha.
"Ya! Mungkin nanti kita akan sama-sama sibuk dan tak sempat lagi untuk berkomunikasi secara intens."
"Kau bisa mengirim pesan oadakh kapanpun, Sha! Aku pasti membalasnya," janji Allegra.
"Benar? Baiklah!" Suara Sasha sudah kembali terdengar bersemangat.
"Tidur sana! Sudah malam," titah Allegra selanjutnya pada Sasha.
"Kamu tidur juga! Besok sore kita ketemu. Pagi aku ada kelas soalnya."
"Baiklah! Kita bertemu langsung di airport!" Ujar Allegra mengingatkan Sasha lagi.
"Iya! Aku akan datang! Bye!"
"Bye!" Jawab Allegra bersamaan dengan sambungan telepon yang sudah terputus. Allegra menyugar rambutnya sekali lagi, dan mendadak merasa bingung besok harus mengucapkan salam perpisahan yang bagaimana pada Sasha.
Apa Allegra bisa melupakan perasaannya pada Sasha?
Apa Allegra akan bisa menjalin hubungan dengan gadis lain nantinya?
Apa Sasha akan baik-baik saja setelah nanti Allegra mengatakan ketidakmungkinan dalam hubungan mereka?
Semuanya mendadak terasa rumit.
Benar-benar rumit!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Kharina.
🤣🤣
2022-06-13
0
Kharina.
gaya banget 😆😆
2022-06-13
0
Kharina.
Bener nih Dad Alvin, aku padamu Dad 😁😁
2022-06-13
0