Airin Rustamsyah

Seminggu berlalu.

Kini di kediaman Nyonya Nia sedang heboh. Ia sedang bersandiwara jika dirinya sedang tidak enak badan. Banyak macam yang di minta oleh wanita tua ini.

Membuat seluruh pembantu dirumahnya merasa kesal.

''Tuh lihat! pintar banget mainin peran artis! cocok tuh jadi nyonya tua yang galak! Sok kecakepan! Sok cantik! merasa paling baik! sebel gue! apa-apa semua salah! gantian Wi! gue nggak mau ketemu lagi sama tuh nenek lampir! pegal kaki gue, dari tadi suruh sana sini tapi tak ada yang betul semua! huh!'' ucap seorang pembantu di keluarga kaya itu, bernama Nina.

''Hehehe... sabar atuh Neng! memang harus kudu nurut apa pun yang diperintahkan oleh nyonya! mau elu dipecat jadi pembokat disini, tanpa pesangon??'' kekeh Dewi.

Nina merengut, ''Ishhh.. sebel gue Neng! sama tuh nenek Lampir! elu aja dah gantiin? Yak? mau yak?'' tanya nya. Membuat Dewi mendelik.

''Gue?? Ogah ah! yang ada ntar kena damprat melulu gue sama tuh macan tutul! kagak berani gue! lu liat aja sendiri gimana kelakuannya! Anaknya aja kagak mau! apalagi gue? Secara gue kan pembokat??'' ujar Dewi, membuat seseorang disana terkekeh geli mendengar ucapannya itu.

''Lah! emang elu pembokat, Neng! siapa yang bilang elu anaknya sih?! Karena elu pembokat nya makanya gue bilang gantian! gimana sih elu?!'' kesal Nina.

''Kagak mau gue! elu aja urusin tuh macan tutul! gue ogaaahh!!'' ujar Dewi lagi.

Nina berdecak kesal. Sedangkan seseorang dibalik dinding sana cekikikan, mendengar jika nyonya dirumah itu bukan hanya dirinya yang memberi gelar. Tapi juga pembokat nya.

Sadar jika ia sedang menguping, akhirnya pemuda itu berlalu pergi. Sesekali ia terkekeh geli, mengingat ucapan pembokatnya tadi.

Tibanya ia diruang tamu, sejenak ia berhenti dan menggelengkan kepalanya, melihat tingkah sang nyonya yang berlebihan.

''Hadeeeuuhh .. kapan berubahnya ni Nini-Nini sih?! nggak sadar umur apa?! nanti ditegur, katanya protes! ishh.. ada-ada saja ulahnya!'' gumam Reza seraya berlalu meninggalkan drama yang sedang dibuat oleh Nyonya rumah itu.

''Ayo dong Ma.. jangan alasan kenapa sih?! Kan udah seminggu ini! Hari ini Fatih harus tau jawabannya apa? Jika memang Fatih ditolak, ya sudah nggak pa-pa. Tapi jika diterima, berarti Fatih bisa menikahinya dalam waktu dekat ini, iyakan Pa?'' sengaja ia bertanya pendapat Papanya.

''Terserah padamu Fatih! Papa nggak akan melarang, juga nggak akan memaksa! semua itu kamu yang akan melaksanakan nya!'' ucapnya datar.

Fatih menghela nafasnya. Ia tau, jika selama seminggu ini, Papa dan Mama nya memaksa Fatih untuk tidak menikahi gadis yang terlahir dari wanita gila. Tapi Fatih menolak.

Ia kekeuh pada pendiriannya, tetap hanya wanita itu saja. Sedangkan ibunya sudah memiliki calon yang lebih baik daripada gadis pembawa sial itu, menurut ibunya.

''Ya sudah, jika kalian tidak mau menemani Saya akan pergi sendiri!'' ujarnya, setelah itu ia berlalu keluar, meninggalkan kedua orangtuanya yang tercenung disana.

''Dasar anak bandal! sampai kapan pun, aku tak merestui pernikahan mereka! kita harus cari cara Pa! agar pernikahan itu gagal.'' imbuhnya.

Sang raja mengangguk dan tersenyum menyeringai.

Setibanya Fatih di pintu gerbang, ia berpapasan dengan adik bungsunya yang baru saja pulang sekolah.

''Ha! Abang mau kemana?? kok rapi amat?? mau melamar kah??'' tanya nya dengan sedikit cengengesan.

Fatih tersenyum.''Abang mau melamar kembali calon kakak ipar mu! kan kemarin Abang udah bilang, ia minta waktu selama seminggu. Jadi, ya.. hari ini tepatnya.'' imbuhnya santai.

Sedangkan si bungsu, yang tadi hanya diam kini berubah sumringah. ''Benarkah Bang?? boleh adek ikut?? Mama mana?? Nggak ikut kah??'' tanyanya, seraya celingukan mencari sang nyonya.

''Mama ada didalam, beliau tidak mau menemani Abang kesana. Alasannya, beliau sedang sakit!'' ujar Fatih seraya membuka pintu gerbang ingin beranjak pergi dan mendorong motor bututnya untuk dihidupkan.

''Kalau begitu, biar adek aja yang ikut abang! adek bisa gantiin Mama disana! boleh ya adek ikut Abang??'' tanya nya dengan penuh harap.

Fatih menatap adik bungsunya ini. Ia menghela nafasnya, kemudian mengangguk.

''Ya.. jika Adek nggak keberatan! Abang sih mau aja! lagian Abang kan nggak ada temennya!'' ujarnya lagi. Membuat adik bungsunya tersenyum hingga menunjukkan gigi nya yang putih.

''Oke! cuss kita berangkat!'' ajaknya langsung nemplok di motor Fatih.

Fatih melotot. ''Adek, ganti baju dulu atuh.. jangan pakai seragam sekolah lah! ihh.. ganti dulu..'' ujarnya seraya mendorong si bungsu untuk segera ganti baju.

''Isshh.. Abang gimana sih?! kalau adek masuk yang ada adek nggak dijinin kesana nya Abang... gimana sih?!'' ucapnya kesal. Fatih terdiam sejenak.

''Ya sudah, ayo kita jalan!'' ujarnya

''Cuss...'' sahut nya

Tiga puluh menit kemudian, sampailah mereka di tempat tujuan. Sesampainya disana, si bungsu melihat rumah itu yang begitu kecil dibandingkan dengan rumahnya.

Sekilas ia melihat sepasang baju bergelantungan di tali. Ia memandangnya lama sekali tanpa kedip.

''Itu, bukannya baju...'' belum selesai gumaman nya tentang baju yang di jemur ditali, Fatih mengucapkan salam.

''Assalamualaikum... Dek...'' ucap Fatih serta mengetuk pintu perlahan.

Terdengar sahutan dari dalam. ''Waalaikum salam...''

Ceklek!

Pintu terbuka. Dan menunjukkan seseorang yang begitu dikenal oleh si bungsu.

''Kak Ai!!'' panggil si bungsu

''Loh! Airin?? Ngapain kamu disini??'' tanya Rani dengan bingung.

''Disuruh masuk dulu atuh Dek... masa' tamu dibiarkan di luar aja sih??'' tegur Fatih.

Rani tersenyum malu. ''Eh, iya! Mari silahkan masuk! ayo Dek, masuk! maklum ya rumah Kakak tidak sebesar rumahmu..'' ucap Rani merendah diri.

''Ishh.. Kakak apaan sih?! Orang akunya berteman dengan Kakak bukan karena Kakak kaya atau miskin! tapi aku berteman dengan Kakak, karena aku ingin memiliki Kakak perempuan seperti kakak! yang lembut, namun tegas dalam bersikap! ajari aku menjadi wanita seperti itu kak?'' ucap si bungsu, ia memeluk Rani dengan sayang.

''Iya sayang, tentu saja! dengan senang hati Kakak akan mengajari mu menjadi wanita sholehah!'' jawab Rani, ia memeluk sibungsu dengan sayang.

''Ehem! Yaaahh.. Abang dicuekin! jauh-jauh kesini malah di anggurin! kasian amat lu ya jadi pemuda! noh mereka lagi sayang-sayangan! sedang gue? di anggurin! ck!'' gerutu Fatih.

''Eh? tunggu dulu kenapa adek bisa sama bang Fatih??'' tanya Rani, ia baru sadar jika Fatih juga ada di sana.

Sedang Fatih, ia mencebik lucu. Airin yang melihatnya tersenyum cengengesan.

''Hehehe... Bang Fatih kan, Abang nya Airin kak! Al Fatih Rustamsyah dan ini..'' ucap Airin seraya menunjuk dadanya sendiri.

''Airin Rustamsyah! Kakak! kami tiga bersaudara! Airin punya Abang satu lagi, namanya Bang Reza! nanti Kakak pasti kenal? Eh? tunggu dulu! jangan bilang kalau Kakak adalah calon istri Bang Fatih??''

Rani mengangguk. ''Ya, kakak calon istrinya bang Fatih!'' jawabnya dengan tersenyum.

''Yeeeee....''

Eh??

💕

TBC

Episodes
1 Talak
2 Aisyahrani
3 Aisyahrani 2
4 Trauma nya kambuh lagi
5 Sarasvati Alamsyah.
6 Sepupu??
7 Menolak
8 Butuh Waktu
9 Nasehat Ibu untuk Rani
10 Masa lalu yang begitu kelam
11 Keluarga Fatih
12 Reza
13 Airin Rustamsyah
14 Dirumah Rani
15 Jawaban Rani
16 Mama dan Papa
17 Cerita Reza
18 Di jodohkan sejak kecil?
19 Shock
20 Dirumah Rani
21 Menikah dengan sepupu
22 Mertua
23 Mengamuk
24 Kebenaran dianggap kebohongan
25 Kenapa?
26 Ditikung Abang sendiri
27 Maafkan Abang, Dek..
28 Gagal
29 Tak sempurna
30 Makan malam
31 Bude alias Mama mertua
32 Liontin Berharga Untukmu dan Untukku.
33 Kepergian Reza
34 Foto profil
35 Ke pasar
36 Kemarahan Fatih
37 Rani Pergi
38 Diceraikan??
39 Sabar dan Tegar
40 Rahasia tersembunyi
41 Makam asli Ayah Alam
42 Cibiran tetangga
43 Kembali nya Reza
44 Mengabaikan
45 Marah
46 Menikah??
47 Mengamuk lagi??
48 Rani di kota Medan
49 Komplek Griya M
50 Tetangga baru
51 Makam ayah Alam
52 Rapuh
53 Liontin lagi
54 Penjelasan Reza
55 Bukti
56 Surat wasiat
57 Surat untuk Rani dan Reza.
58 Keputusan
59 Kabur
60 Istri Gilang
61 Pesan Rindu
62 Marah dan kecewa
63 Terpaksa
64 Karinita Bramantyo
65 Berbagi cerita dengan Gilang
66 Paket
67 Terpuruk
68 Kedatangan Paman Ali
69 Nasihat Alisa.
70 Ke rumah sakit
71 Sadar dari koma
72 Kedatangan Fatih
73 Memaafkan
74 Sah secara hukum tapi tidak sah secara agama
75 Mengalah untuk mendapatkan
76 Pelipur lara
77 Hidup Mandiri tanpa nya
78 Pertemuan pertama setelah sekian lama
79 Sesak
80 Pergi Dari hidupku!
81 Tidak mau!
82 Menyusul nya
83 Kembali ke Bogor
84 Meledak
85 Di bohongi
86 Bukan Pembawa Sial
87 Tuduhan tak berdasar
88 Teror
89 Teror 2
90 Dalang teror
91 Kembalinya Rani
92 Balas Dendam
93 Tak ada siapapun disini!
94 Diculik
95 Di sekap
96 Di sekap 2
97 Tertawa diatas penderitaan orang lain
98 Di pancing
99 Rekaman
100 Dapat!
101 Kesalahan dimasa lalu
102 Di buru sampai mati.
103 Jatuh ke dasar tebing
104 Tertembak
105 Keluar dari hutan
106 Masuk penjara
107 Pulang ke Medan
108 Undangan pernikahan
109 Pernikahan Rani dan Reza
110 Resepsi pernikahan Rani dan Reza.
111 Duda vs Janda
112 Bidadari surgaku
113 Janda kembang
114 Extrapart 1
115 Extrapart 2
116 Extrapart 3
117 Extrapart 6
118 Extrapart 7
119 Extrapart End
120 Pengumuman Novel baru udah rilis
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Talak
2
Aisyahrani
3
Aisyahrani 2
4
Trauma nya kambuh lagi
5
Sarasvati Alamsyah.
6
Sepupu??
7
Menolak
8
Butuh Waktu
9
Nasehat Ibu untuk Rani
10
Masa lalu yang begitu kelam
11
Keluarga Fatih
12
Reza
13
Airin Rustamsyah
14
Dirumah Rani
15
Jawaban Rani
16
Mama dan Papa
17
Cerita Reza
18
Di jodohkan sejak kecil?
19
Shock
20
Dirumah Rani
21
Menikah dengan sepupu
22
Mertua
23
Mengamuk
24
Kebenaran dianggap kebohongan
25
Kenapa?
26
Ditikung Abang sendiri
27
Maafkan Abang, Dek..
28
Gagal
29
Tak sempurna
30
Makan malam
31
Bude alias Mama mertua
32
Liontin Berharga Untukmu dan Untukku.
33
Kepergian Reza
34
Foto profil
35
Ke pasar
36
Kemarahan Fatih
37
Rani Pergi
38
Diceraikan??
39
Sabar dan Tegar
40
Rahasia tersembunyi
41
Makam asli Ayah Alam
42
Cibiran tetangga
43
Kembali nya Reza
44
Mengabaikan
45
Marah
46
Menikah??
47
Mengamuk lagi??
48
Rani di kota Medan
49
Komplek Griya M
50
Tetangga baru
51
Makam ayah Alam
52
Rapuh
53
Liontin lagi
54
Penjelasan Reza
55
Bukti
56
Surat wasiat
57
Surat untuk Rani dan Reza.
58
Keputusan
59
Kabur
60
Istri Gilang
61
Pesan Rindu
62
Marah dan kecewa
63
Terpaksa
64
Karinita Bramantyo
65
Berbagi cerita dengan Gilang
66
Paket
67
Terpuruk
68
Kedatangan Paman Ali
69
Nasihat Alisa.
70
Ke rumah sakit
71
Sadar dari koma
72
Kedatangan Fatih
73
Memaafkan
74
Sah secara hukum tapi tidak sah secara agama
75
Mengalah untuk mendapatkan
76
Pelipur lara
77
Hidup Mandiri tanpa nya
78
Pertemuan pertama setelah sekian lama
79
Sesak
80
Pergi Dari hidupku!
81
Tidak mau!
82
Menyusul nya
83
Kembali ke Bogor
84
Meledak
85
Di bohongi
86
Bukan Pembawa Sial
87
Tuduhan tak berdasar
88
Teror
89
Teror 2
90
Dalang teror
91
Kembalinya Rani
92
Balas Dendam
93
Tak ada siapapun disini!
94
Diculik
95
Di sekap
96
Di sekap 2
97
Tertawa diatas penderitaan orang lain
98
Di pancing
99
Rekaman
100
Dapat!
101
Kesalahan dimasa lalu
102
Di buru sampai mati.
103
Jatuh ke dasar tebing
104
Tertembak
105
Keluar dari hutan
106
Masuk penjara
107
Pulang ke Medan
108
Undangan pernikahan
109
Pernikahan Rani dan Reza
110
Resepsi pernikahan Rani dan Reza.
111
Duda vs Janda
112
Bidadari surgaku
113
Janda kembang
114
Extrapart 1
115
Extrapart 2
116
Extrapart 3
117
Extrapart 6
118
Extrapart 7
119
Extrapart End
120
Pengumuman Novel baru udah rilis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!