Aku kaget saat kembali kerumah aku melihat Lita sedang menangis di pelukan ibuku.
“Bu, Lita kenapa?”
“Lita gak apa-apa kamu ganti baju dulu nanti ibu ceritain”
Aku mengganti pakaian kerjaku, dan membuat segelas teh untuk Lita yang masih di tenangankan oleh ibu. Aku masih heran dengan keberadaan Lita dirumahku, selama ini Lita sangat tertutup bahkan dengan orangtuanya sendiri.
“Budhe, Lita boleh ndak kalo tidur disini?”
“Boleh, tapi budhe pamitin dulu ya sama ibumu biar dia gak khawatir” Lita mengangguk
“Lita ini di minum tehnya”
“Suwun mbak”
“Yasudah Lita disini dulu ya sama mbak Maya, biar budhe kerumah kamu”
“Ibu hati-hati ya”
Aku mencoba menenangkan Lita yang terlihat masih shock, aku bingung harus memulai pembicaraan dengan anak pendiam seperti Lita.
“Lita, sudah makan?”
Lita menggeleng
“Mbak Maya ambilin makan ya?” Saat aku hendak pergi ke dapur tiba-tiba Lita melemparkan pertanyaan yang membuatku tercengang.
“Apa mbak Maya ndak tau soal perselingkuhan bapak dengan bosnya?” Aku berbalik badan dan menatap kearah Lita.
“Kamu ini bicara apa to?”
“Bapak selingkuh mbak, sama pemilik pabrik kayu namanya bu Anggoro” Air mata Lita mulai menetes lagi
“Kamu tau dari mana?”
“Bapak itu awalnya cuma buruh biasa dipabrik, bertahun-tahun kami hidup miskin dan tinggal dirumah ini (rumah yang ditinggali Maya), tapi semua dengan sekejap mata berubah. Saat itu Ibu dan Lita gak sedikitpun curiga dengan kedekatan bapak dan bu Anggoro. Bu Anggoro sering mampir kerumah kami, membawakan peralatan sekolah Lita, bahan makanan dan banyak lagi. Sampai akhirnya bapak diangkat jadi mandor di pabrik kayu. Bahkan rumah yang Lita dan ibu tinggali sekarang adalah pemberian bu Anggoro. Sejak itu kehidupan kami menjadi lebih baik, sampai Lita bisa kuliah di kedokteran. Tapi lama-lama sikap bapak berubah pada kami, bapak jadi sering pulang malam, suka bentak-bentak ibu. Setiap malam Lita selalu mengurung diri dikamar, karena Lita gak tega Liat ibu nangis. Sampai akhirnya Lita mergokin bapak dan bu Anggoro sedang bermesraan. Bukannya merasa bersalah tapi bapak malah memukul Lita dan mengurung Lita. Yang bikin Lita lebih sakit lagi, ternyata ibu sudah tahu kalau bapak ada main dengan bu Anggoro, tapi ibu tidak mau jika Lita tau makanya selama ini ibu pendam sendiri”
Mendengar cerita Lita aku hanya bisa menenangkan Lita, apa yang diceritakan putri ternyata semuanya benar. Malam ini Lita tidur dirumahku, bersama aku dan ibu. Karena besok hari libur aku meminta Aryo dan Bimo datang kerumah dan menceritakan permasalahan yang sedang menimpa Lita.
Aku bertanya lagi kepada Aryo dan Bima mengenai bu Anggoro adalah seorang bahu lawean. Apa itu yang menjadikan paklek dan bu Anggoro menjalin hubungan secara diam-diam. Tapi pendapatku berbeda dengan pendapat Aryo dan Bima.
“Cerita tentang bu Anggoro seorang bahu lawean memang sudah bukan rahasia umum lagi mbak, menurut penglihatan saya pak Roni sendiri yang menginginkan bu Anggoro”
“Maksunya Bim?”
“Jadi, bukan bu Anggoro yang mengikat pak Roni tapi sebaliknya pak Ronilah yang mengikat bu Anggoro”
“Ya, Lita pernah liat bapak mengubur sesuatu disamping rumah”
“Sesuatu apa Lita?”
“Lita gak liat jelas mbak, seingat Lita bentuknya seperti gentong kecil yang ditutup kain berwarna merah”
“Kalau benar apa yang dikatakan Lita, kita harus mendapatkan benda itu dan memusnahkannya”
Malam ini aku,Lita,Aryo dan Bima berniat mengambil benda tersebut. Beruntungnya, malam ini paklek tidak pulang kerumah jadi kami leluasa untuk mencari keberadaan benda tersebut. Kami menggali tempat dimana Lita sempat melihat paklek mengubur barang tersebut, setelah mendapatkan barang tersebut aku meminta Lita untuk tidur dirumah dan menjaga bulek.
“Benda apa itu Maya?”
“Maya juga gak tau buk”
“Kita gak bisa memusnahkan benda ini sendiri mbak, ilmu Aryo dan Bima belum sampai ke tahap ini”
“Terus kita harus gimana?”
“Tapi Bima dan Aryo sudah memikirkan hal ini, malam ini juga Bima dan Aryo akan pergi kerumah seseorang yang pastinya bisa membantu kita”
“Lebih tepatnya beliau adalah guru kami”
“Apa aku perlu ikut?”
“Tidak usah mbak, mbak Maya disini saja nemenin ibu dan Lita kalau ada apa-apa langsung kabarin kita”
“Iya mbak ini mbak Maya pegang handphone Aryo biar kalau ada apa-apa mbak Maya bisa langsung ngabarin kami”
“Bima juga udah kirim pesan ke Lita untuk sementara waktu Lita, ibu dan adek-adeknya untuk tinggal bersama ibu dan mbak Maya dulu”
“Paling sebentar lagi Lita sampai, tadi katanya udah dijalan”
Rupanya masalah ini sangat rumit hingga harus melibatkan banyak orang. Aku tidak bisa membayangkan bulek selama ini bertahan diatas duri pernikahannya dengan paklek.Demi jabatan dan kekayaan paklek tega menyakiti keluarganya.
Tak berselang lama Lita dan Bulek sampai, dengan wajah ketakutan. Aryo dan Bima pamit untuk segera menemui seseorang yang bisa menolong permasalahan yang sedang kami hadapi.
Tiga hari lamanya Aryo dan Bima pergi, aku tidak bisa fokus dengan pekerjaanku.
“Kamu ini kenapa Maya”
“Emmm gak apa-apa Des, aku lagi gak enak badan aja”
“Yaudah kalau begitu kamu ijin pulang aja”
“Terus kerjaanku gimana?”
“Tenang aja, biar aku yang pegang”
“Kamu yakin?”
“Udah kamu gak usah khawatirin aku, nanti aku minta bantuan Putri. Lagi pula aku gak tega liat kamu pucet gitu. Aku tau kamu lagi mikirin keadaan dirumah kan?”
“Makasih ya Des, kamu udah baik banget sama aku”
Aku meminta ijin ke mandorku dan segera bergegas pulang kerumah. Perasaanku semakin gelisah saat melihat paklek berdiri di depan rumahku dengan membawa golok ditangannya. Beberapa warga mencoba menenangkan emosi paklek namun peklek tak segan-segan melukai orang yang berusaha menghalangi dirinya.
Aku tidak bisa diam saja nyawa ibu dan yang lain dalam bahaya.
“Paklek..hentikan paklek apa yang sudah paklek lakukan sudah keterlaluan”
“Jangan ikut campur Maya, ini bukan urusanmu”
“Ini akan menjadi urusanku jika paklek tega mencelakai keluarga peklek sendiri”
Paklek yang bertambah emosi setelah mendengar ucapanku, mencekik leherku hingga membuat nafasku tercekat.
“Keluar kalian atau kuhabisi nyawanya”
“Lepaskan Maya, Roni” ucap ibu yang panik melihatku
“Berikan anak itu padaku”
“Ini anakmu mas” ucap bulek sembari menangis
“Lepaskan mbak Maya pak, jika bapak menginginkan tumbal ambil Lita saja pak tapi biarkan yang lain tetap hidup”
Paklek melepaskan cekikannya dari leherku, sekuat tenaga aku mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
“Maya kamu gak apa-apa nak?”
“Gak apa-apa buk”
“Bagus jika kamu sadar sebagai anak” Teriak paklek dengan puas sembari menarik tangan Lita. Bulek berusaha menahan paklek tapi pukulan dari paklek berhasil membuat bulek terjatuh.
“IBUUUU”
“Lepaskan gadis itu” Aku menoleh ke arah suara itu, hatiku sedikit lega melihat kedatangan Aryo dan Bimo
“Ini yang kau cari?” Tambah seseorang yang usianya hampir seumuran paklek dengan menunjukkan gentong yang kami temukan waktu itu dirumah paklek.
“Teganya dirimu mengorbankan darah dagingmu hanya demi nafsu biadabmu”
“Cihhhhh, tidak usah mengguruiku. Berikan saja benda itu”
Bapak itu membacakan doa-doa yang membuat paklek bereaksi seperti menahan sakit disekujur tubuhnya. Paklek terus berteriak tanpa bisa memberikan perlawanan sedikitpun.
Terdengar suara mobil terhenti,seorang wanita yang anggun dan ayu keluar dari dalam mobil. Orang tersebut adalah bu Anggoro.
“Roni, aku telah mengetahui maksud dan tujuanmu dan ini juga salahku membiarkanmu bertindak sejauh ini” Bu Anggoro melepas kalung permata dari lehernya yang ternyada disitulah pengikat yang paklek berikan pada bu Anggoro.
“Jangan Nyai jangan lepaskan benda itu, aku telah menaruhkan jiwaku sebagai penggantinya jangan nyai” Paklek memohon di dalam keputusasaannya.
“Aku memang seseorang yang ditakdirkan menjadi bahu lawean, namun aku tidak sekeji itu” Setelah itu bu Anggoro kembali kedalam mobilnya dan meninggalkan kami semua.
“Ampuni saya, tolong sakittttt” Paklek terus merintih kesakitan
“Mintalah ampunan kepada sang Maha Pencipta, Roni” Ucap bapak itu
“Aku salah, aku minta maaf” Suara tangisan paklek sangat memilukan, namun tiba-tiba saja paklek memekik sembari mencekik lehernya sendiri.
“Pak, sadar pak ibu sudah maafin bapak”
“Ikhlaskan bu” Dengan bantuan bapak itu, paklek dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat namun tak ada suara apapun yang bisa keluar dari mulut paklek, yang terjadi malah wajah dan seluruh tubuh paklek melepuh seolah habis terbakar dan matanya melotot hingga hampir keluar dari tempatnya.
Kejadian itu memang menyisakan duka yang mendalam bagi kami semua, terutama Lita dan bulek. Taka da yang menyangka jika orang sebaik paklek bisa melakukan hal sekeji itu. Alfatihah untuk almarhum paklek, semoga paklek bisa diampuni dari dosa-dosa yang telah ia lakukan. Amin.
“Silahkan pak diminum kopinya”
“Ibu , mbak Maya ini paman Guntur. Beliaulah yang selama ini mengajari Aryo dan Bima”
“Mengajari apa toh, memangnya saya guru”
“Lah bukannya iya ya, paman”
“Terimakasih ya paman sudah membantu keluarga Maya”
“Sama-sama kita sesame manusia harus saling tolong menolong karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya”
“Apa Maya juga boleh berguru sama paman?”
“Hahahahaha” Ucapanku malah membuat semua tertawa, aku yang mendengarnya pun kesal.
“Kok pada ketawa sih, emang ada yang aneh dari ucapan Maya?”
“Gak kok mbak Maya, nanti mbak Maya Aryo yang ngajarin”
“Kalo sama kamu mah yang ada bukan tambah pinter malah tambah gemblung”
“Namanya juga Aryo si Pendekar Gemblung” Ucapan Aryo mengakhiri obrolan kami malam ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Hergozin Cristina
Alhamdulillah ., Bu Anggoro juga sadar kok...dia tidak sekeji itu hanya pak lek Roni yg menginginkan harta Bu Anggoro.
dan buat Aryo...muga2 ada jodoh dg Maya/ kita .
2022-05-24
1