Berbulan-bulan setelah kematian bu Rumi yang menggemparkan desaku, keberadaan mengenai Toha juga belum ada satu warga pun yang tahu. Ada yang bilang bahwa Toha sudah mati dan jasadnya dibuang dan ada juga yang bilang bahwa Toha dikurung dirumah Tuan Rogo.
Tahun berlalu kini usiaku sudah dua puluh tahun, seperti biasa aku pergi keladang untuk mengirim bekal makan siang bapak.
“Bapak, makan dulu ini Maya bawakan sayur lodeh dan gereh petek” Teriakku pada bapak yang masih sibuk di ladang.
“Siapin dulu sebentar lagi bapak selesai” Aku segera menyiapkan nasi keatas piring lengkap dengan sayur lodeh dan gereh petek kesukaan bapak dan menuangkan segelas air untuk minum bapak.
“Pak itu kok yang disebelah sayurannya pada mati?”
“Iya Maya, sepertinya desa kita sedang disambangi paceklik.Banyak ladang yang gagal panen, beruntung tumbuhan diladang kita masih dapat bertahan ya walaupun tidak sebagus tahun lalu setidaknya masih bisa dipanen”
“Alhamdullah ya pak” Saat aku dan bapak sedang menikmati makan siang yang aku bawa di gubug yang bapak buat untuk berteduh tiba-tiba saja Tuan Rogo dan anak buahnya datang menghampiri kami.
“Pak Mahdi”
“Iya Tuan, ada apa?”
“Rupanya ladang pak Mahditidak gagal panen seperti ladang-ladang milikku”
“Alhamdullah Tuan”
“Begung, keluarkan” Tuan Rogo memberikan tiga gepok uang kepada bapak
“Ini maksudnya apa, Tuan?”
“Kurang? Tambah lagi Begung”
“Cukup, cukup Tuan. Tapi mohon maaf saya tidak berniat untuk menjual ladang milik saya, ini ladang satu-satunya yang saya punya Tuan”
“Mahdi..Mahdi kamu bisa bekerja dengan saya, saya akan kasih upah kamu lebih dari buruh yang lain”
“Maaf Tuan, tapi saya tidak akan pernah menjual ladang ini kepada siapapun”
“Berani sekali kamu menolakku, selama ini aku masih menghargaimu karena jasa kakek tua itu tapi kali ini kesabaranku sudah habis, Begung, Jajang habisi dia”
“Siap Tuan”
Kedua anak buah Tuan Rogo menyeret bapak dan memukuli bapak .
“Bapak..” Aku berlari mencoba menolong bapak namun Tuang Rogo mencengkeram tanganku dengan kuat.
“Lepaskan aku, Bapak.. jangan sakiti bapak, lepaskan” Semua orang yang ada diladang hanya bisa menonton kami tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku terus berteriak dan meronta, namun cengkeraman Tuan Rogo semakin erat mencengkeram tanganku.
“Lepaskan mereka” Suara berat dari seorang laki-laki yang kepalanya terikat kain jarik yang sudah lusuh membuat anak buah Tuan Rogo menghentikan aktivitas mereka. Dengan kesempatan itu aku menggigit tangan Tuan Rogo dan berlari kearah bapak.
“Akhhhhh, gadis sialan” Teriak Tuan Rogo kesakitan karena gigitanku
“Hehhh bocah,siapa kau beraninya kamu melawan Rogo ”
“Tak penting siapa diriku yang jelas ini akhir dari kekuasaanmu Rogo”
“Lancang sekali kau, menyebut namaku. Begung Jajang habisi nyawanya dan berikan kepalanya padaku”
“Baik Tuan” Kedua anak buah Tuan Rogo berlari kearah pemuda itu, namun belum sampai mereka menyentuh tubuh pemuda itu kedua anak buah Tuan Rogo terhempas ke tanah.
“Hahaha..haha, Rupanya kau bukan orang sembarangan. Akhirnya aku mendapatkan lawan yang tidak lemah seperti bandot-bandot itu”
Tuan Rogo mengeluarkan keris yang selalu ia bawa, keris itu membuat kilatan petir disiang bolong.
“Hadapi keris Rogotnyowoku jika kau mampu menghadapinya”
Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap, dan ribuan demit berbagai rupa muncul dibelakang pemuda itu seoalah siap menerima perintah.
“Demit alas tuo, bocah edan” Melihat hal itu Tuan Rogo terlihat gentar dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
“Kali ini aku tidak akan melawanmu, tapi kupastikan kau akan mati ditanganku” Ucap Tuan Rogo yang mundur dari medan pertempuran.
Seketika langit cerah kembali dan sosok demit-demit itu satu persatu menghilang diikuti perginya pemuda itu. Aku menatap punggung pemuda itu yang mulai menjauh dari pandanganku, seperti aku mengenal punggung itu.
“Bangun, pak” Aku membantu bapak untuk kembali kerumah.
“Ibu..bu”
“Astagfirullah, apa yang terjadi sama bapak Maya kenapa bapak bisa babak belur begini?” Tanya ibu yang panic melihat kondisi bapak
“Nanti Maya ceritain bu, bantu Maya bawa bapak masuk dulu”
Setelah selesai mengobati bapak aku menceritakan semua yang terjadi denganku dan bapak diladang tadi juga soal pemuda misterius yang membantu kami.
“Apa kamu sama sekali tidak mengenal wajah pemuda itu?”
“Tidak bu, tapi saat melihat punggung dan cara berjalannya maya teringat seseorang yang Maya kenal, tapi siapa itu Maya masih belum ingat”.
“Yasudah jangan dipikirkan lebih baik kamu beristirahat”
“Iya bu”
Kondisi bapak berangsur membaik, selama bapak sakit aku yang menggantikan bapak untuk keladang, sekedar membersihkan ladang dan memanen sayuran yang sudah layak dipanen. Saat kembali kerumah aku melihat Tuan Rogo dan anak buahnya berada dirumahku.
“Ibu..bapak..”Aku berlari menuju rumah , tapi aku terlambat bapak tidak tertolong, tangisku dan ibu pecah meratapi kepergian bapak. Dipemakaman bapak aku melihat pemuda itu dari jauh memandang kearahku. Tatapannya sangat tajam seolah menyimpan dendam.
Setelah kepergian bapak aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini. Bagaimana caraku dan ibu bertahan hidup, selama ini tumpuan hidup kami berdua adalah bapak.
Udara malam ini sangat terasa berbeda, angina yang berhembus begitu dingin dan langit begitu gelap serta suasana desa ini terasa begitu sunyi. Atau ini hanya perasaanku saja yang masih terbawa suasana atas kepergian bapak. Aku melangkah menutup jendela rumah untuk mengurangi hembusan angin yang masuk. Lagi-lagi aku melihat pemuda itu berdiri didepan rumahku, menatap kosong kearah rumahku.
Keesokan harinya, bunyi kentongan kembali terdengar. Aku keluar rumah mencoba mencaritahu siapa yang meninggal.
“Pak..pak Bahar tunggu”
“Iya mbak Maya ada apa?”
“Siapa pak yang meninggal?”
“Keluarga Tuan Rogo mbak, yasudah saya kesana dulu ya mbak”
“Iya pak terimakasih”
“Bu..ibu Maya ijin pergi sebentar ya”
“Kamu mau kemana Maya?”
“Kerumah Tuan Rogo bu, ada keluarganya yang meninggal”
“Jangan Maya”
“Gak apa-apa bu, Maya cuma mau berbelasungkawa saja ibu gak usah khawatir Maya gak lama kok”
“Yasudah kamu hati-hati ya”
“Maya pamit ya bu”
Dirumah tuan Rogo sudah banyak orang yang datang, aku mencari celah untuk melihat siapa keluarga Tuan Rogo yang meninggal. Rupanya istri dan keempat anak Tuan Rogo meninggal dengan mengenaskan tubuhnya seperti dicabik-cabik makhluk buas.
“Keparat kau bocah asu, KELUAR KAU!!!!!” Seorang pemuda berjalan dengan tenang
“Aku disini rogo” ucap pemuda itu
“Kau yang sudah membunuh istri dan anakku”
“Iya Rogo, kau benar memang aku yang membunuh mereka” ucap pemuda itu dengan tenang
“Siapa kau sebenarnya, mengapa kau lakukan ini semua”
“Harusnya kau mengenali luka ini Rogo” Pemuda itu melepas pengikat kain jarik dari kepalanya. Terpampang bekas luka dipelipis kanannya
“Keparat…anak Rumini!!!!” Tuan Rogo mengepalkan kedua tangannya, mukanya dipenuhi amarah
“Aku Toha anak yang kau bunuh kedua orangtuanya dengan keji, aku datang untuk memenuhi janjiku pada almarhum ibuku, yaitu membunuhmu dan seluruh keturanmu”
“Lancang sekali” Tuan Rogo mengeluarkan keris Rogotnyowo miliknya, kilatan petir menyambar di langit diikuti gelapnya langit yang memunculkan ribuan demit dibelakang Toha. Rupanya kali ini Tuan Rogo sudah menyiapkan dirinya jika hal ini akan terjadi. Wajah Tuan Rogo tak sedikitpun terlihat gentar seperti waktu itu.
Terjadi pertarungan yang sangat sengit antara Toha dan Tuan Rogo, bagaimana dengan semua anak buah Tuan Rogo? Mereka hanya menjadi mainan bagi pada demit dan dengan mudahnya para demit menghabisi nyawa anak buah Tuan Rogo. Tuan Rogo kuwalahan menghadapi Toha, bahkan dukun yang selama ini dipercaya Tuan Rogo mati dengan mudahnya ditangan Toha.
Dikondisi yang terdesak, Tuan Rogo menghampiriku meletakkan kerisnya tepat di llherku,dan menjadikanku pancingan untuk membuat Toha mundur. Namun Toha tak gentar dengan ancaman Tuan Rogo. Kedua mata Toha menghitam, seolah tubuhnya sudah bersatu dengan demit-demit yang mengikutinya.
Aku mencoba membaca situasi, saat Tuan Rogo lengah aku menggigit lengannya seperti waktu itu, walaupun ujung kerisnya berhasil merobek lenganku.
Toha segera menyerang tubuh Tuan Rogo, dan mencabik-cabik tubuhnya tanpa ampun begitu juga dengan demit-demit itu. Yang menikmati setiap teriakan Tuan Rogo yang kesakitan.
Aku memang menginginkan Toha teman kecilku kembali namun tidak dengan ilmu hitamnya. Toha mengakui semua kesalahannya memilih jalur hitam padaku, semua ia lakukan karena dendamnya yang mebuat dirinya sehitam ini hingga ia melakukan perjanjian dengan demit alas tuo untuk mendapatkan ilmu hitam dan kekuatan untuk membalaskan dendamnya kepada Tuan Rogo dan seluruh keturunanya.
Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Toha, itu adalah terakhir kali aku bertemu dengannya. Informasi yang aku dapat Toha mengasingkan dirinya dan kembali ke alas tuo.
Aku dan ibu memutuskan pindah ke kota, berbekal alamat yang pernah bapak berikan aku dan ibu mendatangi rumah teman kecil bapak yang tinggal di kota. Rupanya bapak telah menitipkan kami berdua kepada beliau jika sesuatu terjadi pada bapak. Sebuah kota yang jauh berbeda dengan desa kelahiranku. Mungkin nanti akan ku ceritakan mengenai kota ini,karena setiap tempat menyimpan sisi gelap yang kadang kala menarik untuk diceritakan. Tapi nanti ya, karena sekarang aku dan ibu masih sibuk dengan warung yang baru kurintis bersama ibu dengan sisa uang yang kami miliki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Mami Mara
bagus ceritanya
2022-12-06
0
💎hart👑
masih nyimak
2022-06-23
0
Hergozin Cristina
demi janji kepada ibunya Toha bersekutu dengan demit alas Purwo....
apa yg kau perbuat akhirnya terbalaskan Rogo...nikmatilah kematianmi
2022-05-19
0