Episode 2 — Akhir Kisah

Sebuah gedung tua dan kotor adalah tempat mereka menjalankan tugas kali ini. Target nya berada disini, maka disinilah mereka berada.

" Semuanya sudah siap?" tanya Ana meyakinkan.

" Ya, semua sudah sesuai rencana kita An"

" Bagus"

Ana menatap 8 orang anggotanya satu persatu sambil tersenyum.

" Kembalilah dengan selamat, dan utuh"

Mereka semua mengangguk lalu saling memeluk satu sama lain.

" Ayo!!!"

Semua orang berpencar sesuai posisi masing masing, 4 orang pergi ke arah barat, 4 orang pergi ke timur, dan Ana pergi ke arah utara. Ini adalah rencananya, kedua kelompoknya akan mengepung dari dua sisi yang berbeda dan membuat musuh terkecoh dengan mengira bahwa Ana hanya sendiri.

Langkah demi langkah mulai Ana tapaki, ruangan demi ruangan mulai ia masuki satu persatu. Aneh, tidak ada satupun orang Disana. Jika ini adalah tempat persembunyian biasanya akan ada beberapa jebakan dan penjagaan, tapi ini tidak ada sama sekali.

Ini mencurigakan, pikirnya.

Ana mulai siaga dan menyiapkan senjata ditangannya, dia mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada jebakan sama sekali, Ana kembali melangkahkan kakinya. Beberapa langkah setelahnya sesuatu terjadi.

DUAAARRRRRRR!!!!

Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang menghentikan langkah kaki Ana.

tunggu, ini bukan bagian dari rencananya, kenapa secepat ini. batin nya.

Suara langkah kaki terdengar dari arah depan, suara itu keleuar dari kegelapam membuat Ana menajamkan penglihatan nya dan membuat posisi siaga. Ana mengarahkan pandangan nya ke seluruh penjuru namun yang ia lihat hanya kegelapan.

" Anatari renavold"

Suara itu.....

Ana seperti mengenalnya. Suara itu sangat tidak asing, tapi siapa? kenapa dia tidak bisa mengingat sosoknya. Langkah kaki itu terdengar semakin dekat, lalu muncul lah seorang pria muda berjalan mendekati Ana, memakai pakaian serba hitam, tidak lupa juga dengan kacamata hitam yang ia pakai.

" Kau!!"

Dia adalah Henry, dia anak dari salah satu target Ana dahulu. Ayah Henry membuat kesalahan dengan rekan bisnis nya sehingga mengharuskan Ana mengakhiri hidupnya. Akan tetapi, Henry dan Ana adalah seorang teman semasa sekolah dulu.

" Ya, ini aku. Aku senang kau masih mengingatku"

" Kenapa kau ada disini? apa ini..."

" Ya. ini semua rencanaku"

Ana tersenyum miris, bagaimana bisa dia menerima pekerjaan konyol kali ini. Apakah ini yang ayah maksud? Apakah pimpinannya mempermainkannya? Tidak mungkin. Rodrigo bukanlah orang yang seperti itu, jika dia tau hal ini sudah pasti dia akan memberitahu Ana.

" Aku tidak punya waktu meladeni kekonyolanmu Henry"

" Tentu kau punya Ana"

Pria bernama Henry itu menjentikan tangan nya, lalu tiba-tiba keluarlah beberapa orang berbadan kekar memakai kaos hitam sambil menyeret anggota Ana yang sudah terluka.

Terkejut. Hanya itu yang Ana rasakan. Tapi, sedetik kemudian tatapan ana berubah. Tatapan nya sangat dingin dan penuh amarah, itu tertuju pada Henry.

" Apa yang telah kau lakukan pada mereka dalam waktu secepat ini Henry" nadanya sangat datar, tanpa emosi dan tanpa penekanan apapun.

Henry tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Ana

" Tak mungkin kau tak mendengar suara ledakan itu An"

" Kau gila!!!"

" Ya. Aku gila. Aku tidak ingin berlama-lama untuk menghabisimu An"

Ana diam terpatung, jadi targetnya adalah dirinya. Ana mengerti apa yang coba henry lakukan.

" Kau mencoba membalas dendam atas kematian ayahmu, Henry? Baiklah. Jika itu maumu, maka itu akan terwujud"

Henry terkejut dengan apa yang Ana katakan. Tidak ada perlawanan sama sekali? mana mungkin!

" Tapi dengan tiga syarat" lanjut Ana

Henry tertawa sarkastik.

sudah kuduga, batinnya.

" Apa itu" Tanya Henry.

" Pertama, lepaskan teman-temanku"

" Baik"

Henry memberi kode kepada pria berbadan kekar yang memegang teman-teman nya itu. Luka mereka tidak parah karna mereka tidak terkena dampak langsung dari ledakan nya. Beberapa hanya luka kecil karna mengalami benturan akibat gaya ledak dari bom nya,dan beberapa terlihat baik-baik saja.

Setelah Henry melepas anggotanya, Ana langsung menghampiri mereka dan memeluknya.

" Ana kau tidak bisa melakukan ini, kita bisa melawan nya" ucap Jo berusaha meyakinkan Ana.

Ana hanya tersenyum, lalu kembali ke tempatnya semula.

" Kedua, aku ingin bajingan yang membuatku datang kesini, aku menginginkan kepalanya "

Henry tersenyum puas.

" Ini adalah Ana yang ku kenal, permintaan dikabulkan"

Henry memberikan kode kepada salah satu bawahan nya, lalu datanglah seorang pria berbadan kekar lainnya sambil membawa target yang Ana incar. Targetnya sudah terikat oleh tali, tidak lupa mulutnya juga sudah disumpal oleh kain.

Hal ini membuat Ana bahagia.

" Kau memudahkan tugasku Henry, terimakasih"

Lekas Ana mengeluarkan sebuah pedang dari punggungnya, pedang itu terlihat mengkilat, sangat tajam. Hal itu membuat target nya sangat ketakutan dan berusaha memberontak.

" Bungkukan dia jika kau tak ingin kepalamu juga ikut terpenggal" titah Ana pada pria berbadan kekar tadi.

Target berhasil dibungkukan, dan sedetik kemudian...

Sraaatttt.....

Darah segar memenuhi pakaian dan wajah Ana. Kepala itu berhasil terlepas dari badan nya dengan mata yang melotot.

" Bawa itu Jo"

Mendengar perintah dari Ana, Jo langsung membawa kepala itu dan memasukan nya kedalam wadah yang mereka bawa.

" Apa yang terakhir Ana" tanya Henry tidak sabar.

Ana membalikan badan nya untuk menghadap Henry, dia tersenyum, bukan senyuman yang manis, tapi senyuman seorang pembunuh. Ditambah dengan darah yang ada pada wajahnya, membuatnya terlihat sangat sadis dan tidak berperasaan.

" Terakhir, aku ingin anggotaku keluar terlebih dahulu dari tempat tua ini, aku tidak ingin mereka melihat aku menyerahkan diri padamu, aku adalah pemimpin nya, sangat memalukan jika anggotaku melihatku tidak berdaya, setelah itu lakukan apa yang kau mau"

Henry mengangkat alisnya " Semudah itu ?"

" Ya "

" Baiklah, ku rasa bukan hanya anggotamu, tapi anggotaku juga"

Ana menatap Henry dengan bingung, apa yang dia maksud?

Henry membalikkan badannya ke arah kelompoknya. Melihat mereka dengan senyuman yang hangat, ini seperti Henry yang berbeda dengan tadi.

" Terimakasih telah bekerja bersama keluargaku selama ini, upah kalian sudahdi kirimkan tadi pagi, jika kalian masih ingin hidup keluarlah dari gedung ini"

" Tuan!!"

" Keluarlah! dan seret anggota nona Ana keluar, ini adalah perintah terakhir dariku!!!"

Tanpa berbasa-basi mereka semua bergegas keluar, tak lupa membawa anggota Ana keluar secara paksa. Sesaat gedung itu dipenuhi oleh teriakan teriakan memanggil Ana.

Jo yang telah selesai membungkus kepala targetnya itu bahkan langsung diseret keluar, tak diberikan kesempatan untuk menghampiri Ana sama sekali.

" ANNAAAAAA KAU TIDAK BISA MELAKUKAN ITU ANAAA!!"

" ANAAA KELUARLAHH!!"

" LEPASKAN AKU BODOH! ANAAAAAA JANGAN LAKUKAN ITU KU MOHON!

Ana hanya menatap mereka dengan senyuman, bukan senyuman seorang pembunuh, tapi senyuman yang sangat manis dari seorang Anatari Renavold.

"TERIMAKASIH! LANJUTKAN TUGASKU DAN JAGA DIRI KALIAN!" Ana berteriak guna membalas teriakan teman-temannya.

Ana terus memandangi nya sambil tersenyum, sampai tubuh mereka sudah tidak terlihat lagi, suara nyaring tadi kini telah terdengar sangat samar, itu artinya mereka telah berhasil menjauh.

Kini hanya tersisa Henry dan Ana diruangan itu.

" Kepergian ayahku membuatku sangat gila , dan itu semua karnamu Ana. Aku tau itu hanya tugas untukmu tapi tetap saja aku sangat membencimu"

" Aku mengerti "

Ana memandangi pedangnya sambil tersenyum, lalu mengarahkan pedang itu pada Henry. Tepat pada lehernya.

Sontak Henry memundurkan langkahnya kebelakang.

" Dengan pedang ini aku membunuh ayahmu, kau berhak jika ingin membunuhku dengan ini"

Henry tersenyum kecut " Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan membunuhmu"

Ana mengernyitkan dahinya, sesaat dia tidak mengerti maksud dari perkataan Henry.

Hingga akhirnya dia mengerti ketika melihat Henry mengeluarkan sebuah granat dari dalam sakunya.

" Bukankah ini jadi terlihat romantis Henry, kau ingin mati bersamaku?"

Henry tertawa " Haha ya kau benar, tapi jangan berharap lebih Ana, ini tidak seperti apa yang kau pikirkan"

" Well aku hanya mencoba mencairkan suasana "

" Ada kata kata terakhir ?" tanya Henry sambil menarik tuas dari granat itu.

" Terimakasih"

Ana menjatuhkan pedangnya ke lantai, melipat tangnya dibelakang badan seperti posisi istirahat saat sedang upacara, lalu menengadahkan kepalanya ke atas, memejamkan matanya dan tersenyum.

" Terimakasih"

" Terimakasih"

" Terimakasih"

Henry tak mengerti mengapa Ana mengatakan hal itu berulang kali, namun dia tak peduli.

Kini Henry pun melakukan hal yang sama, menengadah kepalanya menatap langit-langit yang hampir roboh.

'Ayah kita akan segera bertemu, maafkan aku' Batinnya.

Lalu Henry melempar granat nya tepat ditengah-tengah antara dirinya dan Ana.

" Terimakasih " ucap Ana.

" Tunggu aku ayah" Henry tersenyum ketika mengatakan nya.

Dan terdengarlah bunyi ledakan dari dalam rumah tua itu, ledakan nya sangat besar sehingga rumah itupun ambruk dan rata dengan tanah. Tidak ada yang menyangka bahwa Henry akan meledakan dirinya dengan Ana. Semua orang menyangka Henry akan membunuh Ana atau mungkin mencabik-cabiknya tanpa ampun, tapi semua perkiraan meleset.

Semua rekan Ana menjatuhkan badannya ke tanah, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Tidak ada harapan bagi mereka untuk berharap Ana akan bertahan. Ledakan itu sangat jelas bahkan dengan jarak mereka yang cukup jauh, bangunan tua itu ambruk. Itu bukanlah ledakan biasa, ledakan itu benar benar menghancurkan seluruh hal yang berada dekat bangunan itu.

Kabar kematian Anggota terbaik itu dengan cepat menyebar. The crue berduka selama satu minggu, kehilangan anggota terbaik, anak terbaik, ketua terbaik, teman terbaik dan sahabat terbaik. Tidak dapat dipungkiri semua merasa sedih saat mendengar kabar bahwa Ana telah tewas, namun tugasnya tetap terpenuhi, janjinya pun terlaksanakan, bahwa dia akan menjaga anggotanya tetap aman, utuh dan selamat. Namun dia tidak berjanji untuk menjaga dirinya sendiri tetap aman.

Anatari Renavold, nama yang akan selalu dikenang oleh orang-orang terdekatnya, nama yang membuktikan bahwa seorang perempuan bisa melakukan segalanya, nama yang akan selalu teringat oleh musuh-musuhnya karna mereka tidak bisa lagi menghadapi Ana secara langsung dan merebut gelar terbaik miliknya.

Ini adalah perjalanan terakhir seorang Anatari, takdirnya mengatakan bahwa kisahnya berakhir disini, kisahnya kini telah usai.

|

|

|

|

bersambung.....

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

ya ampun, awal yg menegangkan

2025-03-13

0

Risa Karisma

Risa Karisma

keknya ana lebih baik mati deh daripada terus keinget anggotanya yang meninggal gegara ngerasa itu kegagalan dia sepenuhnya

2025-02-06

0

Emai

Emai

kok nangis ya. author nya pinter giring opini

2025-01-25

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 — Tugas
2 Episode 2 — Akhir Kisah
3 Episode 3 — Kerajaan Wang
4 Episode 4 — Transmigrasi
5 Episode 5 — Keluarga
6 Episode 6 — Kutukan (?)
7 NOTES
8 Episode 7 — Penolakan
9 Episode 8 - Bukti
10 Episode 9 - Bunga Surgawi
11 Episode 10 - Tanda
12 Episode 11 - Perayaan
13 Episode 12 - Feng Yue
14 Episode 13 - Bunga Christaldeu
15 Episode 14 - Hutan Liar
16 Episode 15 - Fakta
17 Episode 16 - Naga Legendaris
18 Episode 17 - Pedang Moksha
19 Episode 18 - Sang Penguasa
20 Episode 19 - Berperang (?)
21 Episode 20 - Keputusan
22 Episode 21 - Syarat
23 Episode 22 - Keputusan 2
24 Episode 23 - Jendral Chi
25 Episode 24 - Asal Usul
26 Episode 25 - Rumor
27 Episode 26 - Pernikahan
28 Episode 27 - Malam Pertama
29 Episode 28 - Permaisuri
30 Episode 29 - Membela
31 episode 30 - Merasa Tersakiti
32 Episode 31 - Rencana
33 Episode 32 - Jamuan
34 Episode 33 - Inspektur Pengadilan?
35 Episode 34 - Tuan Hao
36 Episode 35 - Kita tahu!
37 Episode 36 - Berdebar
38 Episode 37 - Menyerah?
39 PENGUMUMAN!!!
40 Episode 38 - Memberikan Dekrit?
41 Episode 39 - Rencana
42 Episode 40 - Rencana 2
43 Episode 41 - Kejujuran Fu Tong
44 Episode 42 - Pendukung
45 Episode 43 - Yanran
46 Episode 44 - Tempat Latihan
47 Episode 44 - Rencana Licik (?)
48 Episode 45 - Terpancing
49 Episode 46 - Kesepakatan
50 Episode 47 - Kemenangan (?)
51 Episode 48 - Ketahuan
52 Episode 49 - Berpindah Tuan(?)
53 Episode 50 - Mimpi ( Fu Tong)
54 Episode 51 - Pelatihan Pertama Fu Tong
55 Episode 52 - Lulus (?)
56 Episode 53 - Ternyata.......
57 Episode 54 - Emosi
58 Episode 55 - Kemenangan Mao (?)
59 Episode 56 - .....
60 Episode 57 - Alam Langit?
61 Episode 58 - ???
62 Episode 59
63 Episode 60
64 Episode 61
65 Episode 62
66 Episode 63
67 Episode 64
68 PENGUMUMAN
69 Episode 65
70 Episode 66
71 Episode 67
72 Episode 68
73 Episode 69
74 Episode 70
75 Episode 71
76 Episode 72
77 Episode 73
78 Episode 74
79 Episode 75
80 Episode 76
81 Episode 77
82 Episode 78
83 Episode 79
84 Episode 80
85 Episode 81
86 Episode 82
87 Episode 83
88 Episode 84
89 Episode 85
90 Episode 86
91 Episode 87
92 Episode 88
93 Episode 89
94 Episode 90
95 Episode 91
96 Episode 92
97 Episode 93
98 Episode 94
99 Episode 95
100 Episode 96
101 Episode 97
102 Episode 98
103 Episode 99
104 Episode 100
105 Episode 101
106 Episode 102
107 Episode 103
108 Episode 104
109 episode 105
110 episode 106
111 Episode 107
112 Episode 108
113 Episode 109
114 episode 110
115 Episode 111
116 Episode 112
117 Episode 113
118 Episode 114
119 Episode 115
120 Episode 116
121 Episode 117 — Kunjungan ke padepokan
122 Episode 118 — keegoisan Xiao Shi
123 Episode 119 - pertarungan tak terhindar kan
124 Episode 120 - Persiapan Perang
125 Episode 121 - Perang
126 Episode 122 - Kesedihan mendalam
127 Episode 123 - Kesedihan Mendalam 2
128 Episode 124 - Menyerahkann Nyawa
129 Episode 125 - Kebingungan
130 Episode 126 - Membaik
131 Episode 127 - Hukuman
132 Episode 128 - Hukuman 2
133 Eps 129 - Belasungkawa Jendral Chi
134 Episode 130 - Tangisan
135 Episode 131 - Berkumpul
136 Episode 132 - Flashback
137 Episode 133 - Rencana
138 Episode 134 - Perintah
139 Episode 135 - Permintaan Terakhir (?)
140 Episode 136 - Pernikahan Ganda
141 Episode 137 - Penyerangan
142 Episode 138 - Perang
143 Episode 139 - Kekalahan
144 Episode 140 - Gejolak Energi
145 Episode 141 - Kemenangan Telak
146 Episode 142 - Berontak?
147 Episode 143 - Bertanggung jawab
148 Episode 144 - Akhir kisah
149 Episode 145 - Akhir Bahagia
Episodes

Updated 149 Episodes

1
Episode 1 — Tugas
2
Episode 2 — Akhir Kisah
3
Episode 3 — Kerajaan Wang
4
Episode 4 — Transmigrasi
5
Episode 5 — Keluarga
6
Episode 6 — Kutukan (?)
7
NOTES
8
Episode 7 — Penolakan
9
Episode 8 - Bukti
10
Episode 9 - Bunga Surgawi
11
Episode 10 - Tanda
12
Episode 11 - Perayaan
13
Episode 12 - Feng Yue
14
Episode 13 - Bunga Christaldeu
15
Episode 14 - Hutan Liar
16
Episode 15 - Fakta
17
Episode 16 - Naga Legendaris
18
Episode 17 - Pedang Moksha
19
Episode 18 - Sang Penguasa
20
Episode 19 - Berperang (?)
21
Episode 20 - Keputusan
22
Episode 21 - Syarat
23
Episode 22 - Keputusan 2
24
Episode 23 - Jendral Chi
25
Episode 24 - Asal Usul
26
Episode 25 - Rumor
27
Episode 26 - Pernikahan
28
Episode 27 - Malam Pertama
29
Episode 28 - Permaisuri
30
Episode 29 - Membela
31
episode 30 - Merasa Tersakiti
32
Episode 31 - Rencana
33
Episode 32 - Jamuan
34
Episode 33 - Inspektur Pengadilan?
35
Episode 34 - Tuan Hao
36
Episode 35 - Kita tahu!
37
Episode 36 - Berdebar
38
Episode 37 - Menyerah?
39
PENGUMUMAN!!!
40
Episode 38 - Memberikan Dekrit?
41
Episode 39 - Rencana
42
Episode 40 - Rencana 2
43
Episode 41 - Kejujuran Fu Tong
44
Episode 42 - Pendukung
45
Episode 43 - Yanran
46
Episode 44 - Tempat Latihan
47
Episode 44 - Rencana Licik (?)
48
Episode 45 - Terpancing
49
Episode 46 - Kesepakatan
50
Episode 47 - Kemenangan (?)
51
Episode 48 - Ketahuan
52
Episode 49 - Berpindah Tuan(?)
53
Episode 50 - Mimpi ( Fu Tong)
54
Episode 51 - Pelatihan Pertama Fu Tong
55
Episode 52 - Lulus (?)
56
Episode 53 - Ternyata.......
57
Episode 54 - Emosi
58
Episode 55 - Kemenangan Mao (?)
59
Episode 56 - .....
60
Episode 57 - Alam Langit?
61
Episode 58 - ???
62
Episode 59
63
Episode 60
64
Episode 61
65
Episode 62
66
Episode 63
67
Episode 64
68
PENGUMUMAN
69
Episode 65
70
Episode 66
71
Episode 67
72
Episode 68
73
Episode 69
74
Episode 70
75
Episode 71
76
Episode 72
77
Episode 73
78
Episode 74
79
Episode 75
80
Episode 76
81
Episode 77
82
Episode 78
83
Episode 79
84
Episode 80
85
Episode 81
86
Episode 82
87
Episode 83
88
Episode 84
89
Episode 85
90
Episode 86
91
Episode 87
92
Episode 88
93
Episode 89
94
Episode 90
95
Episode 91
96
Episode 92
97
Episode 93
98
Episode 94
99
Episode 95
100
Episode 96
101
Episode 97
102
Episode 98
103
Episode 99
104
Episode 100
105
Episode 101
106
Episode 102
107
Episode 103
108
Episode 104
109
episode 105
110
episode 106
111
Episode 107
112
Episode 108
113
Episode 109
114
episode 110
115
Episode 111
116
Episode 112
117
Episode 113
118
Episode 114
119
Episode 115
120
Episode 116
121
Episode 117 — Kunjungan ke padepokan
122
Episode 118 — keegoisan Xiao Shi
123
Episode 119 - pertarungan tak terhindar kan
124
Episode 120 - Persiapan Perang
125
Episode 121 - Perang
126
Episode 122 - Kesedihan mendalam
127
Episode 123 - Kesedihan Mendalam 2
128
Episode 124 - Menyerahkann Nyawa
129
Episode 125 - Kebingungan
130
Episode 126 - Membaik
131
Episode 127 - Hukuman
132
Episode 128 - Hukuman 2
133
Eps 129 - Belasungkawa Jendral Chi
134
Episode 130 - Tangisan
135
Episode 131 - Berkumpul
136
Episode 132 - Flashback
137
Episode 133 - Rencana
138
Episode 134 - Perintah
139
Episode 135 - Permintaan Terakhir (?)
140
Episode 136 - Pernikahan Ganda
141
Episode 137 - Penyerangan
142
Episode 138 - Perang
143
Episode 139 - Kekalahan
144
Episode 140 - Gejolak Energi
145
Episode 141 - Kemenangan Telak
146
Episode 142 - Berontak?
147
Episode 143 - Bertanggung jawab
148
Episode 144 - Akhir kisah
149
Episode 145 - Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!