"Kamu hanya sendirian Mel?" tanya Abim, mulai bicara setelah beberapa menit mereka saling diam.
" Iya kak, yang sift dua belum datang, seharusnya aku sudah jam pulang, tapi nggak apa-apa lah, mungkin jalanan macet." tutur Melati panjang.
Ditengah perbincangan customer berdatangan. Setelah memilih-milih mereka antri mengular di depan kasir.
"Aku bantu ya, Mel" tidak menunggu jawaban Melati, dengan cepat Abim masuk kedalam, berdiri disamping Melati melayani customer. Ia melayani bagian pembayaran dengan cara credit melalui Bank.
"Nggak usah kak, lebih baik kakak pulang deh, nanti Diah menunggu." kata Melati tidak menatap Abim karena tangannya sibuk menghitung.
Abim tidak menjawab, satu persatu customer ia layani dengan ramah dan cekatan agar tidak mengecewakan.
"Terimakasih ya kak" kata Melati setelah pembeli pulang. Ia lantas melihat jam sudah jam lima sore Kenanga dan Kantil belum juga datang.
"Sama-sama Mel" Abim melirik Melati disebelah, lagi-lagi dadanya berdebar.
"Kak, sebaiknya kakak pulang gih, istri tercinta sudah menunggu," Melati mengulangi sudah tiga kali meminta Abim pulang. Hanya satu yang Melati pikirkan khawatir Diah salah sangka.
Mendengar kata istri tercinta. Abim tersenyum kecut.
Andai kamu tahu Mel, seperti apa tumah tanggaku kini. Pernikahanku dengan Diah, Pernikahan Berujung Luka. Kamu terluka, karena aku. Aku terluka karena Diah, dan Diah sendiripun mungkin terluka karena aku.
Abim menunduk merenung. Mereka tidak tahu, didepan ada sepasang mata yang melihat kebersamaan mereka.
Dia adalah Diah dengan tatapan mata tajam melangkah masuk. Wajah devil itu sampai didepan kasir dengan perasaan berapi-api.
"Jadi gini! kelakuan kalian dibelakang aku?!" bentak Diah geregetan.
"Diah," ucap Abim dan Melati bersamaan. Melati terkesiap melihat kedatangan Diah.
"Apa? kalian selingkuh di belakang aku kan?!" tuduh Diah, tangannya menunjuk-nunjuk. Lalu menyambar amplop dimeja kasir yang belum sempat Melati benahi, memasukkan kedalam tas.
Dalam hati Melati tertawa, dasar materialistis sedang marah pun begitu melihat uang tetap saja matanya hijau.
"Diah, kamu salah sangka, kami tidak melakukan apa-apa." Melati akhirnya menjelaskan.
Sudah Melati bayangkan, hal semacam ini akan terjadi.
"Jangan munafik kamu Mel! dasar kamu, wanita nggak laku, bisanya menjadi pelakor!" tuding Diah.
"Diah! jaga ucapanmu!" Abim keluar dari meja kasir menarik paksa Diah mengajaknya keluar. Diah tidak mau rasanya belum puas memaki-maki Melati.
"Kamu juga Mas! pulang kerja bukanya langsung pulang, gajian pertama malah kamu kasih Melati." tuduh Diah, tidak ada rasa takut menatap devil suaminya.
"Pantas! kamu selalu pelit, ternyata gajimu kamu belah dua, kan?! iya kan?!" Diah mengeluarkan taringnya.
Melati menggeleng menatap suami istri itu menjadi tau, ternyata begini rumah tangga mereka.
"Diah!" Abim menatap horor Diah.
Bersamaan dengan itu Mawar bersama Adit masuk kedalam.
Rupanya melihat kegaduhan itu, cleaning service telepon Mawar.
Aditya menatap Diah jengkel, yang masih meronta-ronta ingin lepas dari tangan Abim.
"Ada apa dek? kalau ada masalah kita bicarakan baik-baik," kata Mawar lembut mendekati Diah.
Para pegawai Mawar, semua berdiri didepan kasir. Mata mereka menyorot wanita yang berpakaian tanpa lengan itu, sedang dikerubungi kakak dan suaminya.
Abim malu sekali melihat istrinya menjadi tontonan.
"Eh! ayo kalian, kerja, kerja. Ini bukan tontonan." Melati memperingatkan.
Karyawan pun kembali menjalankan tugasnya masing-masing.
Tidak lama kemudian, Kenanga dan Kantil sudah datang cepat ganti pakaian, lalu mengganti Melati.
"Mel, maaf ya, macet banget tadi" belum ditanya Kenanga sudah memberi penjelasan dan minta maaf.
"Ya sudah... nggak apa-apa Nga, tapi lain kali... usahakan jangan berangkat mepet, kamu kan tahu... jam segiti tuh, rawan macet." Melati menasehati. "Untung aku nggak ada jam kuliah," Melati menambahkan.
"Iya Mel, besok aku akan berangkat lebih awal," pungkas Kenanga.
"Mel ada apa sih... itu diluar rame-rame?" Kantil yang sudah berdiri bersebelahan dengan Kenanga didalam kasir melempar pandanganya ke depan dimana Diah masih ribut disana.
"Bukan apa-apa, masalah internal keluarga," kata Melati sudah siap ingin pulang.
"Nga, aku pulang ya"
"Iya Mel" sahut Kenanga.
Melati keluar dari pintu belakang yang biasa dilalui keluarga. Meninggalkan motornya.
Ia masuk ke kios bu Riska makan baso yang pedas mungkin akan menghilangkan rasa laparnya.
Masa bodoh dengan Diah ia sudah biasa menghadapi ulahnya.
Saking sibuknya Melati tadi siang tidak sempat makan bekalnya.
Sementara Aditya diluar menyeret Adiknya menuju rumah Bu Reny. Tidak hanya Abim yang malu, Adit apa lagi, adiknya menjadi tontonan orang-orang yang hendak belanja.
"Lepas!" Diah menepis tangan Adit. "Aku biasa jalan sendiri, nggak usah ditarik-tarik juga!" ucap Diah geram.
Bruk"
Adit mendorong tubuh Diah hingga terjerembab di sofa. Disana ada Pak Renggono yang baru selesai mandi beristirahat menonton televisi.
"Kenapa lagi Dit?" tanya pak Renggono menatap kedua anak, dan kedua menantunya bergantian.
"Anak ini tidak ada bosannya membuat ulah Pak," Adit duduk dengan kasar di susul Mawar yang tidak berucap sepatah kata pun.
"Mas Abim selingkuh dengan Melati Pak," bohong Melati.
Semua mata menatap Abim.
"Apa?!" sergah bu Reny, yang baru keluar dari dapur lantas menyambar seperti api berdekatan dengan bensin.
"Bu... Mas Abim jahat... aku memergoki dia sedang berduaan dengan Melati. Hiks hiks hiks," Diah mengeluarkan air mata palsunya sambil memeluk ibu kandungnya.
"Bohong bu, yang dibilang Diah itu tidak benar," Abim membela diri.
"Jangan bohong Mas, aku sudah memergoki kalian." Diah berakting seperti korban.
"Duduk kalian semua," titah Bapak.
Ibu dan Abim pun duduk. Bapak menatap tajam Diah. Baru 15 menit yang lalu dinasehati kini sudah berbuat ulah lagi.
Sebelum mendatangi Rose shop, Diah habis dari rumah bapak. Lalu Bapak menasehati panjang lebar.
"Pak, saya akan jelaskan, sumpah, saya tidak melakukan seperti apa yang Diah tiduhkan." Abim menatap Bapak yang masih belum memutar bola matanya dari Diah.
"Saya percaya sama kamu Bim, saya lebih tahu kok, anak bapak itu seperti bapak." Pak Renggono sadar kelakuan Diah.
"Lagian kamu ngapain Bim, bukanya kesini menemui Ibu, malah mememui Melati!" Bu Reny melirik Abim sebentar, lantas membuang muka.
Kemarin ketika Abim ditelepon bu Reny ingin menagih hutang. Abim berjanji akan menemuinya hari ini sepulang kerja. Bu Reny kesal kenapa Abim malah menemui Melati. Pikir bu Reny, yang tidak tahu ceritanya.
"Abim akan ceritakan semuanya Pak, Bu" kata Abim sopan. Lalu ia menceritakan saat Diah memalak di Rose shop, dan juga menunjukan vidio.
"Kedatangan saya menemui Melati ingin membayar hutang, sekaligus ingin minta maaf. Bapak, Ibu sudah tahu kan? sebesar apa kesalah Diah." Abim melempar pandang kearah Diah yang berwajah masam.
"Diah, sampai kapan! kamu mau terus begini? membuat malu kami semua! Diah!" Pak Renggono murka. Menumpahkan kekesalanya.
Diah menangis, marah Pak Renggono lama-lama mereda. Lastas Abim mengajaknya Diah pulang setelah pamit semua.
Adit pun menggandeng Mawar pulang.
Tinggal Pak Renggono dangan bu Reny tampak menegang.
"Bapak jangan keterlaluan setiap memarahi Diah, Bapak selalu membedakan Adit dengan Diah. Mentang-mentang Diah bukan anak biologis mu!" Bu Reny bersengut-sengut, kemudian meninggal kan Pak Renggono.
"Ibu..." pekik Pak Renggono.
******
"Nah lo, nah lo! ada apa lagi ini..."
Edisi Malming.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Buna_Qaya
pantas kelakuan nya ajib bener
2022-07-13
0
Buna_Qaya
Wah anak hasil ngepet kah itu
2022-07-13
0
Ufika
kesel jga sma kelakuan diah gak ada habis habisnya gitu.
yg sbar mas abim semoga aj bisa cepat berubah kasihan juga kalau terus begini
2022-07-11
1