BAB 8

"Dasar kurang ajar, berani sekali dia mematikan ponselnya tanpa izinku."

Ibra mengerutkan dahi, menatap ponsel yang kini telah terdiam. Beberapa detik lalu dia berusaha menahan agar Kanaya tak menyudahi pembicaraannya. Akan tetapi, pria itu justru mendapat hal semacam ini.

"Woah, bisa-bisanya dia semahal ini setelah tadi malam ... ck."

Pemilik rambut coklat itu berdecak heran sembari memukul angin. Sebal sekali rasanya, mendapat perlakuan semacam ini adalah hal pertama bagi Ibra.

Seakan tak percaya ada seorang wanita yang tak mendambakan dirinya. Ya walau sebenarnya tadi malam semua sudah membuktikan bahwa Kanaya juga tak berbeda seperti wanita lainnya.

Baru berpisah beberapa waktu lalu, kini Ibra justru khawatir tak bisa lagi bertemu dengan wanita itu. Wanita cantik yang berhasil membuat tubuhnya melayang di atas awan dengan kenikmatan surga kerinduan Ibra.

Ada perasaan was-was, karena jujur saja pertemuan mereka terbilang ringkas dan Ibra belum mengetahui dimana kediaman Kanaya sesungguhnya.

Bagaikan kekasih yang ditinggal pasangannya, Ibra sempat bersandar lemah di mobilnya. Ada satu cara untuk mengetahui dimana Kanaya sebenarnya.

Ktp dan semuanya ada di dalam tas itu, dan mudah saja bagi Ibra jika dia mau melakukannya. Akan tetapi, hal semacam itu bukan dirinya sama sekali, Ibra takkan mengambil sesuatu jika belum mendapat izin dari tuannya.

"Huft, terserahlah ... kenapa juga aku memikirkan wanita itu."

Tak ingin terlalu dalam, toh memang semua yang terjadi adalah kemauan Kanaya sendiri, apa yang salah? Ibra memutuskan untuk tak peduli.

Ddrt Ddrt

Ponselnya bergetar, spontan mata Ibra menatap layar benda pipih itu. Namun, ada sedikit kekecawaan kala yang menghubunginya.

"Ada apa?" tanya Ibra singkat, sorot mata elangnya menatap tajam kedepan.

"Jangan melakukan apapun, cukup awasi saja ... kau tahu aku belum bisa bertindak semaunya jika masih ada Mama."

Seperti perintah, Ibra kini meremmas tas Kanaya yang sejak tadi ia genggam sekuat tenaga. Sorot mata Ibra menjelaskan betapa muak dirinya lagi-lagi mendengar laporan Gavin perihal ini.

"Aku tidak akan pulang, katakan saja aku ada urusan di luar kota, Gavin ... hal sepele macam ini harusnya kau tidak perlu bertanya."

Sedikit marah, Ibra mengeluarkan suara dingin penuh penekanan di sana. Sudah dia jelaskan berkali-kali untuk berhenti karena dia berhak bebas melakukan jalan hidupnya, akan tetapi kenapa wanita tua itu masih saja menjadi duri dalam hidupnya, pikir Ibra.

Ibra menyelesaikan pembicaraannya, kini mendongak dan lagi-lagi pandangannya mengarah lantai 20 hotel bintang 5 tersebut. Hatinya resah, gundah dan seakan ada yang hilang ketika dia hendak meninggalkan tempat ini.

-

.

.

.

Semua baik-baik saja, tampaknya. Kanaya kembali bekerja dengan baik meski ada beberapa perubahan yang Lorenza rasakan sejak tiga minggu terakhir.

Apa yang sebenarnya Kanaya sembunyikan? Kenapa Kanaya hanya fokus tentang uang dan jabatan. Apa mungkin Kanaya tengah mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kembali membayar seorang pria seperti tiga minggu lalu, selidik Lorenza sejak tadi memantau Kanaya dengan mata elangnya.

"Sampai kapan matamu melihatku begitu, Za? Nggak capek?" tanya Kanaya santai sembari fokus dengan layar monitor di depannya, sejak tadi dia sungguh luar biasa risih dengan tatapan menyebalkan Lorenza yang seakan tak khawatir jika nanti bola matanya tertusuk pulpen.

"Kanaya, apa ada yang kamu sembunyikan dariku dan Siska?" Blak-blakan dia bertanya karena sejak tadi jiwanya penasaran luar biasa.

"Nggak ada, kenapa tiba-tiba nanya begitu?"

Kanaya menggosok hidungnya, tampak gugup dan mencoba tak terlihat tegang kala pertanyaan itu menyerangnya. Walau sejujurnya dia sedikit kaget dengan cara Lorenza bertanya yang persis guru BK.

"Mencurigakan, sejak kamu ketemu Abraham itu ...."

"Ibrahim, Lorenza," ujar Kanaya menghela napas perlahan.

"Iya intinya laki-laki itu ... kamu aneh banget di mataku, Nay."

Menuduh dengan segala asumsinya, sebenarnya jika orang yang tak mengenal Kanaya dekat, perubahan Kanaya takkan begitu di sadari, akan tetapi berbeda dengan mereka berdua.

"Perasaan kamu aja, toh selama ini aku baik-baik aja kan?"

Memang, semua baik-baik saja. Akan tetapi perubahan mood Kanaya yang kerap kali memilih berdiam diri daripada ikut kemana mereka pergi adalah hal tak wajar menurut Lorenza.

Selama ini dia pahami, Kanaya adalah wanita kesepian yang tak bisa ditinggal baik olehnya maupun Siska. Akan tetapi, semenjak hari itu memang Kanaya lebih memilih untuk diam.

"Semoga ya hanya perasaanku," ucap Lorenza akhirnya menyerah dan kini kembali fokus dengan pekerjaannya yang juga menggunung.

Mungkin benar perkiraan Siska, Kanaya begini karena masih belum begitu menerima jika Gibran dan Khaira justru menikah. Belum lagi mereka yang tinggal serumah karena Mahatma enggan berpisah dengan putri kandungnya untuk sementara waktu.

Tersiksa, patah dan hancur jelas saja Kanaya rasa. Hidup di atap yang sama dengan seseorang yang pernah menjadi masa lalunya dan sempat mengukir cinta adalah pil pahit bagi Kanaya.

Akan tetapi yang terjadi sebenarnya tidak demikian, Kanaya sama sekali tak memusingkan perihal Gibran dan Khaira.Terserah, selagi mereka bisa menenikmati kebahagiaan tanpa pura-pura, pikirnya.

Hendak berbagi Kisah Kanaya enggan karena jujur saja saat ini ia tengah berusaha melupa untuk tak mengingat apa yang terjadi padanya. Perihal Ibra, ia akan mengubur kekhilafan itu sebisanya.

Tak perlu dia mengatakan ke siapapun aib tentangnya, karena bagi Kanaya hal semacam itu adalah sesuatu yang tak pantas didengar siapapun saat ini.

"Nay, kamu sarapan nggak sih pagi tadi?"

Perhartian sekali, Kanaya sampai bosan menjawabnya. Sudah Kanaya katakan dia tidak ingin sarapan walau hanya satu butir nasi, mulut dan perutnya memang tidak bersedia menerima apapun saat ini.

"Tadi udah aku jelaskan, Za ...nggak usah banyak tanya kan bisa."

Kanaya memijat pangkal hidungnya, kepalanya sudah sangat amat pusing. Dan sejak tadi pertanyaan spontan yang Lorenza berikan semakin membuatnya meradang.

"Kan kamu beda, biasanya Naya tu nggak sesensi ini."

Bukan masalah apa, tapi memang siapapun yang berhadapan dengan Lorenza akan merasakan hal sama. Bertanya yang tak cukup satu kali dan takkan berhenti sebelum mendapat pernyataan pasti.

"Terserah!!" sentak Kanaya sembari melangkah pergi meninggalkan meja kerjanya, dirinya merasa sama sekali tidak baik sejak tadi pagi sebenarnya, belum lagi memiliki teman super riweh menjadi alasan kepalanya semakin tak karuan.

"Yeee baperan!! Gak beres ni cewek asli." Lorenza meneliti perubahan emosi Kanaya, dan itu sejak beberapa hari ia lakukan.

Terpopuler

Comments

SasSya

SasSya

duh bahaya naayyy
ada yg bertumbuh

2024-05-22

4

💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ

💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ

hamidun kamu nay

2024-03-16

0

Dewi Anggya

Dewi Anggya

hamidun🤭

2024-03-06

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1
2 BAB 2
3 BAB 3
4 BAB 4
5 BAB 5
6 BAB 6
7 BAB 7
8 BAB 8
9 BAB 9
10 BAB 10
11 BAB 11
12 BAB 12
13 BAB 13
14 BAB 14
15 BAB 15
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20
21 BAB 21
22 BAB 22
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28
29 BAB 29
30 BAB 30
31 BAB 31
32 BAB 32
33 BAB 33
34 BAB 34
35 BAB 35
36 BAB 36
37 BAB 37
38 BAB 38
39 BAB 39
40 BAB 40
41 Bukan Visual Cast
42 BAB 41
43 BAB 42
44 BAB 43
45 BAB 44
46 BAB 45
47 BAB 46
48 BAB 47
49 BAB 48
50 BAB 49
51 BAB 50
52 BAB 51
53 BAB 52
54 BAB 53
55 BAB 54
56 BAB 55
57 BAB 56
58 BAB 57
59 BAB 58
60 BAB 59
61 BAB 60
62 BAB 61
63 BAB 62
64 BAB 63
65 BAB 64
66 BAB 65
67 BAB 66
68 BAB 67
69 BAB 68
70 BAB 69
71 BAB 70
72 BAB 71
73 BAB 72
74 BAB 73
75 BAB 74
76 BAB 75
77 BAB 76
78 BAB 77
79 BAB 78
80 BAB 79
81 BAB 80
82 BAB 81
83 BAB 82
84 BAB 83
85 BAB 84
86 BAB 85
87 BAB 86
88 BAB 87
89 BAB 88
90 BAB 89
91 BAB 90
92 BAB 91
93 BAB 92
94 BAB 93
95 BAB 94
96 BAB 95
97 BAB 96
98 BAB 97
99 BAB 98
100 BAB 99
101 BAB 100
102 BAB 101
103 BAB 102
104 BAB 103
105 BAB 104
106 BAB 105
107 BAB 106
108 BAB 107
109 BAB 108
110 BAB 109
111 BAB 110
112 BAB 111
113 BAB 112
114 BAB 113
115 BAB 114
116 BAB 115
117 BAB 116
118 BAB 117
119 BAB 118
120 BAB 119
121 BAB 120
122 BAB 121
123 BAB 122
124 BAB 123
125 BAB 124
126 REKOMENDASI NOVEL BY (EMMARISMA & EL PUTRI)
127 BAB 125
128 BAB 126
129 BAB 127
130 BAB 128
131 BAB 129
132 BAB 130
133 REKOMENDASI NOVEL KEREN
134 BAB 131
135 BAB 132
136 BAB 133
137 BAB 134
138 BAB 135
139 BAB 136
140 BAB 137
141 BAB 138
142 BAB 139
143 BAB 140
144 BAB 141
145 BAB 142
146 BAB 143
147 BAB 144 - Tamat
148 BONUS CHAPTER
149 BONUS CHAPTER II
150 BONUS CHAPTER III
151 BONUS CHAPTER IV
152 GAIRAH CINTA SANG PRESDIR (KARYA BARU)
Episodes

Updated 152 Episodes

1
BAB 1
2
BAB 2
3
BAB 3
4
BAB 4
5
BAB 5
6
BAB 6
7
BAB 7
8
BAB 8
9
BAB 9
10
BAB 10
11
BAB 11
12
BAB 12
13
BAB 13
14
BAB 14
15
BAB 15
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20
21
BAB 21
22
BAB 22
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28
29
BAB 29
30
BAB 30
31
BAB 31
32
BAB 32
33
BAB 33
34
BAB 34
35
BAB 35
36
BAB 36
37
BAB 37
38
BAB 38
39
BAB 39
40
BAB 40
41
Bukan Visual Cast
42
BAB 41
43
BAB 42
44
BAB 43
45
BAB 44
46
BAB 45
47
BAB 46
48
BAB 47
49
BAB 48
50
BAB 49
51
BAB 50
52
BAB 51
53
BAB 52
54
BAB 53
55
BAB 54
56
BAB 55
57
BAB 56
58
BAB 57
59
BAB 58
60
BAB 59
61
BAB 60
62
BAB 61
63
BAB 62
64
BAB 63
65
BAB 64
66
BAB 65
67
BAB 66
68
BAB 67
69
BAB 68
70
BAB 69
71
BAB 70
72
BAB 71
73
BAB 72
74
BAB 73
75
BAB 74
76
BAB 75
77
BAB 76
78
BAB 77
79
BAB 78
80
BAB 79
81
BAB 80
82
BAB 81
83
BAB 82
84
BAB 83
85
BAB 84
86
BAB 85
87
BAB 86
88
BAB 87
89
BAB 88
90
BAB 89
91
BAB 90
92
BAB 91
93
BAB 92
94
BAB 93
95
BAB 94
96
BAB 95
97
BAB 96
98
BAB 97
99
BAB 98
100
BAB 99
101
BAB 100
102
BAB 101
103
BAB 102
104
BAB 103
105
BAB 104
106
BAB 105
107
BAB 106
108
BAB 107
109
BAB 108
110
BAB 109
111
BAB 110
112
BAB 111
113
BAB 112
114
BAB 113
115
BAB 114
116
BAB 115
117
BAB 116
118
BAB 117
119
BAB 118
120
BAB 119
121
BAB 120
122
BAB 121
123
BAB 122
124
BAB 123
125
BAB 124
126
REKOMENDASI NOVEL BY (EMMARISMA & EL PUTRI)
127
BAB 125
128
BAB 126
129
BAB 127
130
BAB 128
131
BAB 129
132
BAB 130
133
REKOMENDASI NOVEL KEREN
134
BAB 131
135
BAB 132
136
BAB 133
137
BAB 134
138
BAB 135
139
BAB 136
140
BAB 137
141
BAB 138
142
BAB 139
143
BAB 140
144
BAB 141
145
BAB 142
146
BAB 143
147
BAB 144 - Tamat
148
BONUS CHAPTER
149
BONUS CHAPTER II
150
BONUS CHAPTER III
151
BONUS CHAPTER IV
152
GAIRAH CINTA SANG PRESDIR (KARYA BARU)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!