“Kamu harus makan yang banyak, Sayang!” ucap Ny. Amara sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut Zahra.
Zahra begitu manja dan menurut begitu saja seperti anak kecil diberi makanan favoritnya oleh ibunya.
Ny. Amara tersenyum memandang wajah menantunya, matanya berkaca-kaca. “Jika saja putri mommy masih hidup, wajahnya pasti akan secantik dan semanis dirimu, Sayang.”
Zahra mendongak menatap wajah mertuanya. “Apa mommy mempunyai seorang putri?”
“Iya, Sayang.” Ny. Amara mengusap lembut kepala Zahra. “Tapi Tuhan tidak mengizinkan mommy untuk merawat dan membesarkannya,” ucap Ny. Amara sedih.
“Mommy jangan sedih, Mommy boleh kok menganggap Zahra sebagai pengganti putri Mommy.” Zahra mengusap pipi ibu mertuanya yang basah karena air mata.
“Benar boleh?” tanya Ny. Amara.
Zahra menganggukkan kepalannya.
“Kalau begitu, kamu harus janji sama mommy,” ucap Ny. Amara meletakkan piring di atas meja lalu menatap wajah menantunya.
“Janji apa, Mom?”
“Kamu tidak boleh meninggalkan mommy seperti putri mommy dan daddy Zain!” pinta Ny. Amara dengan menatap lekat pada bola mata Zahra.
“Zahra janji, Mom.”
“Anak pintar.” Ny. Amara mengacak rambut Zahra dan tersenyum.
Sebenarnya Ny. Amara sudah mengikhlaskan kepergian putrinya, ia melakukan ini sekedar untuk membuat Zahra kembali bangkit dari keterpurukkannya.
“Mom, bolehkah Zahra meminta sesuatu dari mommy?” tanya Zahra dengan sangat pelan.
“Apa pun untukmu, Sayang.”
“Emh, bolehkah Zahra memeluk mommy, sekali saja,” ucap Zahra ragu.
Ny. Amara meletakkan piring di tangannya ke atas meja, tanpa menjawab pertanyaan menantunya ia menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya.
Zahra menangis dalam pelukan ibu mertuanya, begitu pun Ny. Amara yang meneteskan air mata harunya.
Dari luar kamar itu, Zain ikut meneteskan air matanya melihat dua wanita yang sangat berarti dihidupnya. Hanya satu yang belum tercapai, yaitu menyatukan ibunya dan adik tirinya yang selama ini ia kirim ke luar negeri demi menjaga perasaan ibunya.
“Maaf, Mom,” ucap Zahra setelah melepas pelukan mereka.
“Mommy senang memeluk kamu, kamu boleh kapan saja untuk memeluk mommy, Sayang. Kenapa kamu menangis?” tanya Ny. Amara sembari menghapus air mata di pipi Zahra dengan tangannya.
“Ini pertama kali Zahra mendapat pelukan dari seorang ibu.” Zahra menundukkan wajahnya, teringat semua perlakuan ibunya yang selalu pilih kasih terhadapnya.
“Apa mama kamu tidak pernah memelukmu, Sayang?” tanya Ny. Amara dengan wajah terkejut.
Zahra menggelengkan kepalanya pelan. “Beberapa bulan lalu, mama mengatakan bahwa Zahra bukanlah anak kandung mama.”
Deg.
Ny. Amara merasakan sesak di dadanya. Apakah dirinya seburuk itu? Ny. Amara teringat dengan putri mendiang suaminya dengan wanita itu yang entah di mana keberadaannya.
‘Apa aku harus menerima kehadiran gadis itu? Tapi aku tidak siap jika harus melihat wajahnya! Apa aku sanggup?’ gejolak batin Ny. Amara.
“Apakah semua pakaian remaja di dalam kamar Mommy adalah milik putri Mommy?” tanya Zahra penasaran.
Ny. Amara menganggukkan kepalanya pelan.
“Apa Mommy ada foto Zain dan adiknya sewaktu kecil?” tanya Zahra polos.
Ny. Amara menatap sendu wajah Zahra dengan mata yang berkaca-kaca. “Adik Zain belum sempat merasakan dunia kita, Sayang.” Ny. Amara mendongakkan kepalanya, menahan air mata yang siap meluncur kapan saja.
“Ma-maaf, Mom. Aku tidak bermaksud un-”
“Ssstt! Sudah jangan dipikirkan, mommy baik-baik saja, mommy sudah mengikhlaskan kepergian adik Zain yang waktu itu masih di dalam perut mommy. Waktu itu usia kandungan mommy baru 8 bulan, namun dia tidak terselamatkan karena kecerobohan mommy,” ucap Ny. Amara sambil mengenang masa lalunya.
“Mommy,” ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca.
“Mungkin jika dia masih bersama mommy, usianya tidak jauh berbeda dengan kamu. Kejadian itu sudah sangat lama, 17 tahun lalu. Saat itu usia Zain baru 10 tahun, daddy Zain meninggalkan kami demi wanita lain yang baru dikenalnya dan mommy harus kehilangan buah hati mommy karena kecerobohan mommy.”
Zahra memeluk erat tubuh ibu mertuanya, ia merasakan tubuh wanita paruh baya itu bergetar namun tidak ada suara isakan yang keluar dari mulutnya.
“Mommy, anggaplah aku sebagai putri mommy, sebagai pengganti adik Zain, Mom.”
“Tidak Sayang!” Ny. Amara melepas pelukannya dan menatap lekat Zahra.
“Kenapa, Mom? Apa aku tidak pantas untuk itu?” tanya Zahra dengan wajah murung.
“Bukan begitu, mommy akan menganggapmu sebagai putri mommy, tapi tidak untuk permintaanmu yang kedua, mommy tidak bisa menganggap dan menjadikanmu sebagai pengganti adik Zain. Jika mommy melakukan itu, mommy tidak akan mendapatkan cucu dari kamu dan Zain, Sayang.” Ny. Amara mengucapkan itu untuk menggoda menantunya.
“Mom ... aku belum siap untuk itu ...,” ucap Zahra sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
“Sayang, apa kamu tidak mau bertemu dengan suamimu?” tanya Ny. Amara hati-hati.
Zahra terdiam dan terus menundukkan wajahnya.
“Kalau kamu belum siap tidak apa-apa. Tapi kamu harus tahu bahwa Zain sangat menyayangimu.”
Ny. Amara menatap Zahra dengan hati yang terluka. Dia tidak menyalahkan sikap Zahra saat ini, semua ini hanya sebuah kecelakaan dan wajar saja jika Zahra mengalami trauma, ia membutuhkan waktu untuk kembali seperti semula, menerima kejadian tempo hari sebagai ujian dalam perjalanan hidupnya.
Ny. Amara meraih tangan Zahra dan menggenggamnya.
“Kamu tahu kan, malam itu Zainlah yang tidur bersamamu, bukan pria lain.” Ny. Amara dengan sangat hati-hati mengucapkan kata-katanya karena khawatir akan mempengaruhi kesehatan menantunya.
Zahra menganggukkan kepalanya pelan, membuat Ny. Amara menghela napasnya merasa lega.
“Jika kamu menginginkan sesuatu, katakan saja kepada momny jangan malu-malu.”
Zahra menganggukkan kepalanya, lalu Ny. Mara kembali menyuapi menantunya dengan penuh kasih sayang
...*****...
Sebulan berlalu, keadaan Zahra semakin membaik. Dia kini sudah mau berinteraksi dengan suaminya, meskipun hanya lewat pesan atau panggilan suara. Jika pun lewat video call, Zahra selalu menyembunyikan wajahnya dari depan layar ponsel. Itu pun harus ada seseorang di dekatnya untuk menemaninya.
‘Kamu tahu, gadis nakal?’ tanya Zain dari seberang telepon.
“Tidak, memangnya apa?” tanya Zahra balik.
‘Kamu begitu kejam kepadaku!’ ucap Zain dengan nada yang terdengar marah.
“Memang apa salahku?” tanya Zahra tidak terima.
‘Kamu tega menyiksaku, menghukumku dengan rasa rindu ini’
Zahra tersenyum dan pipinya bersemu merah. Tanpa dia tahu, ibu mertuanya yang duduk di sofa merekamnya dan ikut tersenyum melihat tingkah menantunya.
Ny. Amara selalu diam-diam merekam aktivitas Zahra untuk diperlihatkan kepada putranya.
‘Kapan kamu memperbolehkan aku untuk mengunjungimu, Zahra?’
“Emm, nanti ya. Sa-saya belum bisa,” lirih Zahra.
Terdengar suara helaan napas Zain di seberang telepon.
“Maaf,” cicit Zahra merasa bersalah.
‘Hei, kenapa kamu meminta maaf? Kamu tidak bersalah, Honey. Jangan bersedih!’ pinta Zain.
‘Ya sudah, aku akhiri panggilannya ya, kamu cepat sembuh!’
“Iya.”
Zahra meletakkan ponselnya di atas nakas setelah Zain mengakhiri panggilan tersebut. Ia berjalan menghampiri ibu mertuanya dan duduk di sebelahnya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Ny. Amara.
Zahra diam tidak menjawab pertanyaan dari Ny. Amara, ia memeluk tubuh ibu mertuanya dan membenamkan wajahnya di dalam pelukan wanita paruh baya di depannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Devi Sihotang Sihotang
bagus cerita mu author... isthebest...
2022-07-28
1
Bunda Abizzan
Zahra jangan hikum Zain yang berat-berat, kasin dia, takut gak kuat menahan rindu, hahaha
2022-06-29
5
Bunda Abizzan
Ehem 😁
2022-06-29
1