Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara

“Kamu harus makan yang banyak, Sayang!” ucap Ny. Amara sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut Zahra.

Zahra begitu manja dan menurut begitu saja seperti anak kecil diberi makanan favoritnya oleh ibunya.

Ny. Amara tersenyum memandang wajah menantunya, matanya berkaca-kaca. “Jika saja putri mommy masih hidup, wajahnya pasti akan secantik dan semanis dirimu, Sayang.”

Zahra mendongak menatap wajah mertuanya. “Apa mommy mempunyai seorang putri?”

“Iya, Sayang.” Ny. Amara mengusap lembut kepala Zahra. “Tapi Tuhan tidak mengizinkan mommy untuk merawat dan membesarkannya,” ucap Ny. Amara sedih.

“Mommy jangan sedih, Mommy boleh kok menganggap Zahra sebagai pengganti putri Mommy.” Zahra mengusap pipi ibu mertuanya yang basah karena air mata.

“Benar boleh?” tanya Ny. Amara.

Zahra menganggukkan kepalannya.

“Kalau begitu, kamu harus janji sama mommy,” ucap Ny. Amara meletakkan piring di atas meja lalu menatap  wajah menantunya.

“Janji apa, Mom?”

“Kamu tidak boleh meninggalkan mommy seperti putri mommy dan daddy  Zain!” pinta Ny. Amara dengan menatap lekat pada bola mata Zahra.

“Zahra janji, Mom.”

“Anak pintar.” Ny. Amara mengacak rambut Zahra dan tersenyum.

Sebenarnya Ny. Amara sudah mengikhlaskan kepergian putrinya, ia melakukan ini sekedar untuk membuat Zahra kembali bangkit dari keterpurukkannya.

“Mom, bolehkah Zahra meminta sesuatu dari mommy?” tanya Zahra dengan sangat pelan.

“Apa pun untukmu, Sayang.”

“Emh, bolehkah Zahra memeluk mommy, sekali saja,” ucap Zahra ragu.

Ny. Amara meletakkan piring di tangannya ke atas meja, tanpa menjawab pertanyaan menantunya ia menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya.

Zahra menangis dalam pelukan ibu mertuanya, begitu pun Ny. Amara yang meneteskan air mata harunya.

Dari luar kamar itu, Zain ikut meneteskan air matanya melihat dua wanita yang sangat berarti dihidupnya. Hanya satu yang belum tercapai, yaitu menyatukan ibunya dan adik tirinya yang selama ini ia kirim ke luar negeri demi menjaga perasaan ibunya.

“Maaf, Mom,” ucap Zahra setelah melepas pelukan mereka.

“Mommy senang memeluk kamu, kamu boleh kapan saja untuk memeluk mommy, Sayang. Kenapa kamu menangis?” tanya Ny. Amara sembari menghapus air mata di pipi Zahra dengan tangannya.

“Ini pertama kali Zahra mendapat pelukan dari seorang ibu.” Zahra menundukkan wajahnya, teringat semua perlakuan ibunya yang selalu pilih kasih terhadapnya.

“Apa mama kamu tidak pernah memelukmu, Sayang?” tanya Ny. Amara dengan wajah terkejut.

Zahra menggelengkan kepalanya pelan. “Beberapa bulan lalu, mama mengatakan bahwa Zahra bukanlah anak kandung mama.”

Deg.

Ny. Amara merasakan sesak di dadanya. Apakah dirinya seburuk itu? Ny. Amara teringat dengan putri mendiang suaminya dengan wanita itu yang entah di mana keberadaannya.

‘Apa aku harus menerima kehadiran gadis itu? Tapi aku tidak siap jika harus melihat wajahnya! Apa aku sanggup?’ gejolak batin Ny. Amara.

“Apakah semua pakaian remaja di dalam kamar Mommy adalah milik putri Mommy?” tanya Zahra penasaran.

Ny. Amara menganggukkan kepalanya pelan.

“Apa Mommy ada foto Zain dan adiknya sewaktu kecil?” tanya Zahra polos.

Ny. Amara menatap sendu wajah Zahra dengan mata yang berkaca-kaca. “Adik Zain belum sempat merasakan dunia kita, Sayang.” Ny. Amara mendongakkan kepalanya, menahan air mata yang siap meluncur kapan saja.

“Ma-maaf, Mom. Aku tidak bermaksud un-”

“Ssstt! Sudah jangan dipikirkan, mommy baik-baik saja, mommy sudah mengikhlaskan kepergian adik Zain yang waktu itu masih di dalam perut mommy. Waktu itu usia kandungan mommy baru 8 bulan, namun dia tidak terselamatkan karena kecerobohan mommy,” ucap Ny. Amara sambil mengenang masa lalunya.

“Mommy,” ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca.

“Mungkin jika dia masih bersama mommy, usianya tidak jauh berbeda dengan kamu. Kejadian itu sudah sangat lama, 17 tahun lalu. Saat itu usia Zain baru 10 tahun, daddy Zain meninggalkan kami demi wanita lain yang baru dikenalnya dan mommy harus kehilangan buah hati mommy karena kecerobohan mommy.”

Zahra memeluk erat tubuh ibu mertuanya, ia merasakan tubuh wanita paruh baya itu bergetar namun tidak ada suara isakan yang keluar dari mulutnya.

“Mommy, anggaplah aku sebagai putri mommy, sebagai pengganti adik Zain, Mom.”

“Tidak Sayang!” Ny. Amara melepas pelukannya dan menatap lekat Zahra.

“Kenapa, Mom? Apa aku tidak pantas untuk itu?” tanya Zahra dengan wajah murung.

“Bukan begitu, mommy akan menganggapmu sebagai putri mommy, tapi tidak untuk permintaanmu yang kedua, mommy tidak bisa menganggap dan menjadikanmu sebagai pengganti adik Zain. Jika mommy melakukan itu, mommy tidak akan mendapatkan cucu dari kamu dan Zain, Sayang.” Ny. Amara mengucapkan itu untuk menggoda menantunya.

“Mom ... aku belum siap untuk itu ...,” ucap Zahra sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.

“Sayang, apa kamu tidak mau bertemu dengan suamimu?” tanya Ny. Amara hati-hati.

Zahra terdiam dan terus menundukkan wajahnya.

“Kalau kamu belum siap tidak apa-apa. Tapi kamu harus tahu bahwa Zain sangat menyayangimu.”

Ny. Amara menatap Zahra dengan hati yang terluka. Dia tidak menyalahkan sikap Zahra saat ini, semua ini hanya sebuah kecelakaan dan wajar saja jika Zahra mengalami trauma, ia membutuhkan waktu untuk kembali seperti semula, menerima kejadian tempo hari sebagai ujian dalam perjalanan hidupnya.

Ny. Amara meraih tangan Zahra dan menggenggamnya.

“Kamu tahu kan, malam itu Zainlah yang tidur bersamamu, bukan pria lain.” Ny. Amara dengan sangat hati-hati mengucapkan kata-katanya karena khawatir akan mempengaruhi kesehatan menantunya.

Zahra menganggukkan kepalanya pelan, membuat Ny. Amara menghela napasnya merasa lega.

“Jika kamu menginginkan sesuatu, katakan saja kepada momny jangan malu-malu.”

Zahra menganggukkan kepalanya, lalu Ny. Mara kembali menyuapi menantunya dengan penuh kasih sayang

...*****...

Sebulan berlalu, keadaan Zahra semakin membaik. Dia kini sudah mau berinteraksi dengan suaminya, meskipun hanya lewat pesan atau panggilan suara. Jika pun lewat video call, Zahra selalu menyembunyikan wajahnya dari depan layar ponsel. Itu pun harus ada seseorang di dekatnya untuk menemaninya.

‘Kamu tahu, gadis nakal?’ tanya Zain dari seberang telepon.

“Tidak, memangnya apa?” tanya Zahra balik.

‘Kamu begitu kejam kepadaku!’ ucap Zain dengan nada yang terdengar marah.

“Memang apa salahku?” tanya Zahra tidak terima.

‘Kamu tega menyiksaku, menghukumku dengan rasa rindu ini’

Zahra tersenyum dan pipinya bersemu merah. Tanpa dia tahu, ibu mertuanya yang duduk di sofa merekamnya dan ikut tersenyum melihat tingkah menantunya.

Ny. Amara selalu diam-diam merekam aktivitas Zahra untuk diperlihatkan kepada putranya.

‘Kapan kamu memperbolehkan aku untuk mengunjungimu, Zahra?’

“Emm, nanti ya. Sa-saya belum bisa,” lirih Zahra.

Terdengar suara helaan napas Zain di seberang telepon.

“Maaf,” cicit Zahra merasa bersalah.

‘Hei, kenapa kamu meminta maaf? Kamu tidak bersalah, Honey. Jangan bersedih!’ pinta Zain.

‘Ya sudah, aku akhiri panggilannya ya, kamu cepat sembuh!’

“Iya.”

Zahra meletakkan ponselnya di atas nakas setelah Zain mengakhiri panggilan tersebut. Ia berjalan menghampiri ibu mertuanya dan duduk di sebelahnya.

“Ada apa, Sayang?” tanya Ny. Amara.

Zahra diam tidak menjawab pertanyaan dari Ny. Amara, ia memeluk tubuh ibu mertuanya dan membenamkan wajahnya di dalam pelukan wanita paruh baya di depannya itu.

Terpopuler

Comments

Devi Sihotang Sihotang

Devi Sihotang Sihotang

bagus cerita mu author... isthebest...

2022-07-28

1

Bunda Abizzan

Bunda Abizzan

Zahra jangan hikum Zain yang berat-berat, kasin dia, takut gak kuat menahan rindu, hahaha

2022-06-29

5

Bunda Abizzan

Bunda Abizzan

Ehem 😁

2022-06-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2 Bab 2. Pengantin Pengganti
3 Bab 3. Mansion Utama
4 Bab 4. Perjanjian
5 Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6 Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7 Bab 7. Zahwa Sakit
8 Bab 8. Rencana Clarisa
9 Bab 9. Berita Menggemparkan
10 Bab 10. Kehamilan Clarisa
11 Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12 Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13 Bab 13. Kamar 305
14 Bab 14. Pertolongan
15 Bab 15. Kehancuran Zahra
16 Bab 16. Kepanikan Zain
17 Bab 17. Kemarahan Zain
18 Bab 18. Trauma Zahra
19 Bab 19. Berpisah
20 Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21 Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22 Bab 22. Anindya
23 Bab 23. Kedatangan Anindya
24 Bab 24. Rencana Zain
25 Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26 Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27 Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28 Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29 Bab 29. Pengakuan Zahra
30 Bab 30. Keluarga Athaillah
31 Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32 Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33 Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34 Bab 34. Merasa Dipermainkan
35 Bab 35. Tidur Seranjang
36 Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37 Bab 37. Ziya's House
38 Bab 38. Ziya's House 2
39 Bab 39. Manis Bagai Candu
40 Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41 Bab 41. Rencana Ny. Amara
42 Bab 42. Keluar dari Penjara
43 Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44 Bab 44. Harapan Ny. Amara
45 Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46 Bab 45. Keposesifan Zain
47 Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48 Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49 Bab 48. Syukuran
50 Bab 49. Malam Penuh Drama
51 Bab 50. Rencana Berkunjung
52 Bab 51. Godaan
53 Bab 52. Menahan Emosi
54 Bab 53. Terungkap
55 Bab 54. Drama Keluarga
56 Bab 55. Keputusan Akhir
57 Bab 56. Gelisah
58 Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59 Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60 Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61 Bab 60. Crazy Rich Man
62 Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63 Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64 Bab 63. Hu Yitian
65 Bab 64. Karantina
66 Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67 Bab 66. Melepas Rindu
68 Bab 67. Pergi
69 Bab 68. Salah Paham
70 Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71 Bab 70. Zhang Yang Zi
72 Bab 71. Keputusan Barra
73 Bab 72. Calon Menantu
74 Bab 73. Nasihat dari Paman
75 Bab 74. Kejutan
76 Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77 Bab 76. Tragedi
78 Bab 77. Kisah Yang Zi
79 Bab 78. Amarah Sang Kakak
80 Bab 79. Disneyland
81 Bab 80. Mengulang Pesta
82 Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83 Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84 Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85 Bab 84. Alun-Alun Kota
86 Bab 85. Pengakuan Barra
87 Bab 86. Pesta Pernikahan
88 Bab 87. Kekacauan
89 Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90 Bab 89. Malam Pesta
91 Bab 90. Cucu Kesayangan
92 Bab 91. Hanya Salah Paham
93 Bab 92. Retak
94 Bab 93. Tak Pernah Terencana
95 Bab 94. Luka dan Trauma
96 Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97 Bab 96. Gelisah
98 Bab 97. Bumil Muda
99 Bab 98. Orang Asing
100 Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101 Bab 100. Singa yang Posesif
102 Bab 101. Drama di Kantin
103 Bab 102. Ketakutan Zahra
104 Bab 103. Teman Baru
105 Bab 104. Teman Lama
106 Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107 Bab 106. Perlengkapan Bayi
108 Bab 107. Musibah
109 Bab 108. Kembali Bermimpi
110 Bab 109. Pengakuan
111 Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112 Bab 110. Ali dan Tania
113 Bab 111. Penjelasan Zain
114 Bab 112. Baby Rayyanza
115 Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116 Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117 Bab 115. Keluarga Mahardika
118 Bab 116. Istana Tersembunyi
119 Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120 Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121 Bab 119. Merajuk
122 Bab 120. Datang untuk Melamar
123 Bab 121. Hadiah Pernikahan
124 Bab 122. Klub Malam
125 Bab 123. Permintaan Zahra
126 Bab 124. Sisi Lain Yitian
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2
Bab 2. Pengantin Pengganti
3
Bab 3. Mansion Utama
4
Bab 4. Perjanjian
5
Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6
Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7
Bab 7. Zahwa Sakit
8
Bab 8. Rencana Clarisa
9
Bab 9. Berita Menggemparkan
10
Bab 10. Kehamilan Clarisa
11
Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12
Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13
Bab 13. Kamar 305
14
Bab 14. Pertolongan
15
Bab 15. Kehancuran Zahra
16
Bab 16. Kepanikan Zain
17
Bab 17. Kemarahan Zain
18
Bab 18. Trauma Zahra
19
Bab 19. Berpisah
20
Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21
Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22
Bab 22. Anindya
23
Bab 23. Kedatangan Anindya
24
Bab 24. Rencana Zain
25
Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26
Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27
Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28
Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29
Bab 29. Pengakuan Zahra
30
Bab 30. Keluarga Athaillah
31
Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32
Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33
Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34
Bab 34. Merasa Dipermainkan
35
Bab 35. Tidur Seranjang
36
Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37
Bab 37. Ziya's House
38
Bab 38. Ziya's House 2
39
Bab 39. Manis Bagai Candu
40
Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41
Bab 41. Rencana Ny. Amara
42
Bab 42. Keluar dari Penjara
43
Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44
Bab 44. Harapan Ny. Amara
45
Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46
Bab 45. Keposesifan Zain
47
Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48
Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49
Bab 48. Syukuran
50
Bab 49. Malam Penuh Drama
51
Bab 50. Rencana Berkunjung
52
Bab 51. Godaan
53
Bab 52. Menahan Emosi
54
Bab 53. Terungkap
55
Bab 54. Drama Keluarga
56
Bab 55. Keputusan Akhir
57
Bab 56. Gelisah
58
Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59
Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60
Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61
Bab 60. Crazy Rich Man
62
Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63
Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64
Bab 63. Hu Yitian
65
Bab 64. Karantina
66
Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67
Bab 66. Melepas Rindu
68
Bab 67. Pergi
69
Bab 68. Salah Paham
70
Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71
Bab 70. Zhang Yang Zi
72
Bab 71. Keputusan Barra
73
Bab 72. Calon Menantu
74
Bab 73. Nasihat dari Paman
75
Bab 74. Kejutan
76
Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77
Bab 76. Tragedi
78
Bab 77. Kisah Yang Zi
79
Bab 78. Amarah Sang Kakak
80
Bab 79. Disneyland
81
Bab 80. Mengulang Pesta
82
Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83
Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84
Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85
Bab 84. Alun-Alun Kota
86
Bab 85. Pengakuan Barra
87
Bab 86. Pesta Pernikahan
88
Bab 87. Kekacauan
89
Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90
Bab 89. Malam Pesta
91
Bab 90. Cucu Kesayangan
92
Bab 91. Hanya Salah Paham
93
Bab 92. Retak
94
Bab 93. Tak Pernah Terencana
95
Bab 94. Luka dan Trauma
96
Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97
Bab 96. Gelisah
98
Bab 97. Bumil Muda
99
Bab 98. Orang Asing
100
Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101
Bab 100. Singa yang Posesif
102
Bab 101. Drama di Kantin
103
Bab 102. Ketakutan Zahra
104
Bab 103. Teman Baru
105
Bab 104. Teman Lama
106
Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107
Bab 106. Perlengkapan Bayi
108
Bab 107. Musibah
109
Bab 108. Kembali Bermimpi
110
Bab 109. Pengakuan
111
Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112
Bab 110. Ali dan Tania
113
Bab 111. Penjelasan Zain
114
Bab 112. Baby Rayyanza
115
Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116
Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117
Bab 115. Keluarga Mahardika
118
Bab 116. Istana Tersembunyi
119
Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120
Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121
Bab 119. Merajuk
122
Bab 120. Datang untuk Melamar
123
Bab 121. Hadiah Pernikahan
124
Bab 122. Klub Malam
125
Bab 123. Permintaan Zahra
126
Bab 124. Sisi Lain Yitian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!