Di dalam mansion utama, Clarisa menghampiri ibu mertuanya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Lalu Clarisa duduk di sebelah ibu mertuanya.
“Mom, aku menemukan amplop ini di gerbang depan,” ucapnya sembari meletakkan sebuah amplop coklat do atas mwja.
“Apa itu, Sayang?” tanya Ny. Amara, tangannya mengambil amplop tersebut.
“Aku juga tidak tahu, Mom. Coba dibuka saja.”
Ny. Amara membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isi di dalamnya. Ny. Amara menautkan alisnya bingung.
“Apa ini? Sepertinya foto.” Ny. Amara mengambil berlembar-lembar kertas foto lalu membaliknya.
“Ah! Astaga!” pekik Ny. Amara dengan mata membola.
“Kenapa, Mom?” tanya Clarisa dengan wajah terkejut lalu mengambil alih foto-foto tersebut dari tangan ibu mertuanya.
“Astaga!” teriak Clarisa Lalu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya dan melempar foto tersebut di atas meja.
Terlihat foto-foto vulgar Zahra dengan dua pria yang berbeda dengan pose yang terlihat dengan sebagian tubuh tertutup selimut.
“Zahra! Dasar gadis nakal!” seru Clarisa sambil melirik ke arah ibu mertuanya.
“Katakan jika foto-foto itu hanya editan, Clarisa!” pinta Ny. Amara dengan wajah memerah.
“Tidak mungkin itu editan, Mom. Foto itu terlihat nyata, mana mungkin editan,” sangkal Clarisa.
“Tapi Zahra tidak mungkin melakukan hal serendah itu.”
“Bisa saja selama ini gadis itu pura-pura dengan wajah polosnya, Mom. Mommy saja tidak tahu masa lalunya,” seloroh Clarisa mencoba mempengaruhi ibu mertuanya.
Ny. Amara terdiam, ia mulai termakan oleh perkataan Clarisa.
“Apa semua ini benar, apa mungkin selama ini jeng Tasya menyembunyikan keberadaannya karena menutupi sifat buruk putrinya ini?” tanya Ny. Amara, tepatnya bertanya kepada dirinya sendiri.
Clarisa tersenyum menyeringai, ia terus saja menghasut ibu mertuanya, bahkan Clarisa menyuruh ibu mertuanya untuk mengusir Zahra dari kehidupan Zain. Clarisa mengatakan jika Zahra bukanlah gadis baik, Zahra bisa kapan saja mencemarkan nama baik keluarga besar Malik Ibrahim, mendiang suami Ny. Amara.
Dengan mudahnya Ny. Amara terhasut oleh ucapan Clarisa, apalagi dengan adanya bukti-bukti yang sudah ada di depan matanya. Ny. Amara terlihat marah dan mengucapkan makian kepada menantu barunya itu.
“Aku tidak akan membiarkan wanita itu berada di dekat putraku!” ucap Ny. Amara.
"Iya Mom, jangan sampai jika nanti Zahra hamil, dia mengaku bahwa anak itu adalah anak Zain, padahal dia tidur dengan berbagai pria, bisa saja itu anak dari laki-laki lain!" ucap Clarisa degan menggebu-gebu.
Brak!
Zain masuk ke dalam rumah dengan menendang pintu utama, membuat semua orang terkejut akan kedatangannya.
Setelah Zahra di pindahkan dari IGD ke ruang VVIP serta memastikan keadaannya, Zain bergegas pulang ke mansion dengan amarah yang menggebu untuk memberi perhitungan kepada Clarisa.
“Apa-apaan kamu datang dengan cara seperti itu, Zain?” tanya Ny. Amara.
Zain tidak menghiraukan pertanyaan ibunya dan berjalan mendekat ke arah Clarisa dengan wajah memerah.
“Apa yang kamu lakukan?” bentak Zain tepat berdiri di depan Clarisa.
“Zain!” tegur Ny. Amara karena putranya membentak menantunya yang sedang hamil.
“Ada apa Zain, kenapa kamu marah kepadaku?” tanya Clarisa dengan wajah polosnya.
“Jangan pura-pura tidak tahu! Aku yakin kamu tahu apa yang aku bicarakan!” ketus Zain.
“Apa maksudmu, Zain? Aku benar-benar tidak tahu,” sangkal Clarisa mencoba meraih tangan suaminya namun ditepis kasar oleh Zain.
“Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu!”
“Zain!” bentak Ny. Amara.
“Apa yang kamu lakukan kepada Zahra?” tanya Zain dan menatap dengan mata tajamnya ke arah Clarisa
“Zain! Kamu marah-marah hanya karena gadis tidak tahu malu itu?” tanya Ny. Amara dengan nada tinggi.
“Jangan mengatakan hal itu di depanku, Mom!” teriak Zain membuat ibunya terkejut.
“Zain! Kamu membentak mommy hanya karena wanita jal*ng itu?” tanya Ny. Amara sembari menunjuk foto-foto yang tergeletak di atas meja.
Zain mengikuti arah yang ditunjukkan oleh ibunya, matanya melebar ia semakin emosi melihat foto-foto vulgar istri mudanya. Zain meraih foto-foto itu lalu merobek dan melemparkannya tepat di depan wajah Clarisa.
“Siapa yang pantas disebut wanita j*lang di sini?” tanya Zain dengan amarah.
“Zain!” seru Clarisa.
“Kamu pelacur! Bahkan aku tidak tahu anak siapa yang kamu kandung itu!” Zain menunjuk perut Clarisa dengan jarinya.
“Apa maksud kamu, Zain?” tanya Ny. Amara dengan wajah terkejut.
“Apa maksud kamu, Zain! Kamu menuduhku hamil anak laki-laki lain, hah?” Clarisa tersulut emosi.
“Memang benar aku bukan ayah dari anak haram itu!”
Plak!
Clarisa berdiri dan melayangkan tamparan di pipi Zain, membuat Zain tersenyum mengejek.
“Ck! Sudah ketahuan masih mau mengelak. Jangan sok suci kamu! Jangan berpikir aku tidak mengetahui semua kelakuan busuk kamu selama ini di belakangku! Bahkan sebelum menikah denganku!”
Zain melemparkan map biru ke atas meja dengan kasar dan mengeluarkan semua isi di dalamnya.
"Dengar baik-baik! Tidak mungkin anak itu adalah anakku, karena sejak menikah denganmu aku rutin melakukan suntik hormon agar tidak memiliki anak denganmu! Jika bukan karena permintaan kakekmu, Aku tidak sudi menikahi wanita j*lang sepertimu!"
Tubuh Clarisa membeku, sedangkan Ny. Amara jatuh terduduk di sofa dengan mata yang membola.
“Mau menyangkal apa lagi, kamu? Semua bukti sudah ada di depan matamu!” ucap Zain dingin.
“Bahkan kamu rela menjajakan tubuhmu hanya demi menyokong kariermu agar bisa selalu meroket! Bahkan aku tidak yakin siapa ayah dari anak dalam perut kamu karena begitu banyak pria yang sudah menikmati tubuhmu itu!” ketus Zain dan mendorong tubuh Clarisa sehingga wanita itu terduduk di sofa.
“Tunggu Barra mengantarkan surat perceraian kita! Dan tunggu balasanku karena kamu telah menjebak Zahra!” ucap Zain lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ibu dan istrinya, tepatnya calon mantan istrinya.
“Bi Nur! Jaga ibuku, aku harus kembali ke rumah sakit menunggu istriku yang sedang sekarat gara-gara ulah pelacur itu!” seru Zain sebelum benar-benar menghilang dari pandangan kedua wanita itu.
Dengan tangan bergetar Ny. Amara meraih berkas di depannya, bukti-bukti yang menunjukkan sifat Clarisa yang sering keluar masuk hotel dengan berbagai pria asing mulai dari yang muda bahkan sudah berumur, baik itu di dalam negeri ataupun di luar negeri.
Ny. Amara menyerahkan satu berkas ke tangan Clarisa. Dengan tangan bergetar, Clarisa mengambil berkas itu dan membacanya. Air matanya berjatuhan membasahi pipinya.
Plak!
Satu tamparan Clarisa dapatkan dari ibu mertuanya.
“Ini untukmu yang berani melayangkan tangan kotormu kepada putraku!”
Plak!
“Ini karena kepicikanmu yang telah menjebak menantuku, istri kesayangan putraku!”
Ny. Amara meninggalkan Clarisa yang mematung dengan memegang kedua pipinya yang memerah bekas tamparan tangan Ny. Amara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Diah Elmawati
Bagus Mom tampar aja Clarissa yang tidak tahu malu. Dia sendiri pelacur tetapi mengatakan orang lain yang pelacur
2023-03-10
1
Rini Musrini
rasain kamu clarisa blm berhasil mengusir zahra kamu sdh dcusir duluan .
2022-09-29
3
Senajudifa
hajar mom...kutukan cinta dan mr.playboy hadir
2022-07-09
1