Di sebuah hotel mewah di pusat kota, Zain tengah berbincang dan menikmati jamuan dalam acara peresmian pembukaan ‘Hotel A’ yang baru saja resmi dibuka oleh perusahaannya.
Sebenarnya Zain enggan untuk menghadiri acara tersebut karena tidak ingin meninggalkan Zahra yang masih terlelap setelah kemarin hampir saja menjadi korban pelecehan. Namun Zain juga tidak ingin mengecewakan rekan bisnisnya dengan tidak menghadiri acara penting ini.
Barra berjalan menghampiri Zain dan membisikkan sesuatu di telinga tuan mudanya tersebut. Seketika raut wajah Zain berubah menjadi tegang dan panik.
Tanpa berucap kata atau pun berpamitan, Zain melangkahkan kakinya meninggalkan pesta yang tengah berlangsung tersebut. Membuat semua tamu yang hadir menatap bingung kepergian tuan rumah.
Sebenarnya acara itu sudah berlangsung sejak pagi dan akan berlanjut sampai malam nanti, namun ada sesuatu yang lebih penting yang harus Zain lakukan.
Zain duduk dengan gelisah di jok samping kemudi, Barra yang berada di sampingnya sesekali melirik tuan mudanya lewat ujung matanya dan kembali fokus dengan kemudinya.
Zain melirik arloji yang melingkar di tagannya. “Ck! Kenapa lama sekali!” kesalnya.
“Sabar, Tuan.”
“Sabar bagaimana? Ini sudah jam 4.30, Zahra belum juga keluar dari kamar itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya!”
Barra hanya diam, tidak berani berkomentar lebih lanjut karena hanya akan membuat tuan mudanya itu merasa semakin emosi.
30 menit kemudian mobil mereka sampai di depan hotel melati tempat semalam Zain menginap bersama istri mudanya, dengan langkah lebar Zain menerobos masuk ke dalam kamar bernomor 305 dan mendobrak pintunya dengan kasar, tidak peduli jika pintu itu akan rusak karena perbuatannya.
“Zahra!” panggil Zain karena tidak mendapati istrinya di dalam kamar itu.
Zain menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup dan berjalan mendekat.
Samar-samar Zain mendengar suara gemercik air dari dalamnya. Tangannya meraih knop pintu dan memutarnya, namun pintu itu terkunci dari dalam.
“Zahra! Kamu di dalam?” tanya Zain sembari tangannya sibuk menggedor-gedor pintu di depannya.
“Zahra!” ulang Zain karena tidak mendapat jawaban dari dalam.
“Gadis nakal! Cepat keluar! Kalalu tidak, aku akan mendobrak pintu ini!”
Brak!
Zain mendobrak pintu di depannya sebelum menyelesaikan kalimatnya. Hanya dengan sekali tendangan pintu itu terbuka lebar.
Zain membulatkan matanya terkejut melihat pemandangan di depan matanya.
Keadaan kamar mandi yang terlihat berantakan, dengan air yang membanjiri lantainya. Shower yang masih menyala dan terlihat tangan pucat seseorang menggantung keluar dari bathub.
Deg.
Dada Zain berdebar kencang, wajahnya pucat, napasnya tercekat membayangkan jika tangan itu adalah tangan istrinya. Segera ia tepis pikiran buruk itu.
Zain melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi mengabaikan genangan air yang membasahi sepatu dan celana bawahnya.
Dengan tangan gemetar, Zain mendekat ke arah bathub dan seketika wajahnya semakin pucat, tubuhnya terasa lemas. Terlihat wajah istrinya yang pucat pasi dengan bibir yang membiru, dengan setengah tubuh polosnya terendam di dalam air.
“Zahra!” teriaknya dengan kencang sehingga terdengar dari luar kamar 305 itu.
Barra dan beberapa anak buahnya yang menunggu di depan pintu berlari menuju kamar mandi.
“Tuan!” seru Barra dan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi, tangannya terangkat memberi isyarat kepada anak buahnya untuk ikut berhenti.
Di dalam kamar mandi, Zain melepas jasnya dan memakaikan ke tubuh polos.
Zain membalikkan tubuhnya karena menyadari kehadiran anak buahnya berada di luar kamar mandi.
“Keluar semuanya dari kamar ini!” perintah Zain dengan suara lantang.
Setelah memastikan tidak ada orang lain di dalam kamar tersebut, Zain mengangkat tubuh Zahra dan merasakan tubuh istrinya itu terasa begitu dingin. Lalu ia membawa tubuh Zahra ke atas kasur kemudian mengambil pakaian ganti milik Zahra dan memakaikannya.
Sedangkan di luar kamar terdapat pemilik hotel tersebut beserta beberapa karyawannya yang hendak masuk ke dalam kamar namun di tahan oleh orang-orang Zain.
Setelah mendapat laporan dari karyawannya bahwa ada keributan di hotelnya ia bergegas menuju hotelnya.
Pemilik hotel itu terkejut ketika menginjakkan kakinya di hotel miliknya, ia melihat begitu banyak orang berseragam serba hitam berdiri di lobi dan juga di depan kamar bernomor 305.
Belum sempat ia bertanya kronologi kejadian kepada karyawannya, pemilik hotel itu dibuat terkejut melihat sosok seseorang yang ia ketahui sebagai tuan muda yang terkenal akan kekuasaan serta kekejamannya.
“Aku akan menghancurkan tempat sialan ini!” seru Zain ketika matanya menangkap keberadaan pemilik hotel tersebut.
Seketika tubuh pemilik hotel menegang dengan wajah memucat karena mendapat ancaman dari Zain, ia menundukkan kepalanya dalam.
“Tu-tuan. Maafkan kesalahan kami,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Cepat Barra!” seru Zain berlalu mengabaikan permohonan pemilik hotel.
“Urusan Anda dengan saya belum selesai, Tuan!” peringat Barra sebelum menyusul tuan mudanya.
Barra berlari menuju mobil mewah Zain yang terparkir tepat di depan pintu lobi. Lalu ia bergegas membukakan pintu belakang untuk tuannya.
Zain dengan pelan membaringkan tubuh Zahra di kursi belakang lalu ia ikut masuk ke dalamnya. Zain duduk dan mengangkat kepala Zahra ke dalam pangkuannya.
Setelah memastikan tuan muda dan istrinya masuk ke dalam mobil, Barra menutup pintu belakang dan langsung masuk ke dalam kursi depan di belakang kemudi.
“Cepat jalan!” perintah Zain dengan dingin.
“Baik, Tuan.”
Barra melajukan mobilnya dengan secepat mungkin. Sesekali ia melirik tuannya dari spion di depannya.
Di kursi belakang, Zain memeluk tubuh Zahra dengan wajah dingin tanpa ekspresi, namun Barra dapat melihat kecemasan yang terpancar dari sorot mata tuan mudanya.
“Bertahanlah,” ucap Zain lirih di telinga Zahra, tangannya terus menggenggam tangan kecil istrinya.
“Cepat Barra!” serunya tidak sabar.
Barra hanya melirik sekilas lewat kaca spion, ia memilih untuk diam dari pada harus meladeni tuan mudanya yang sedang menahan emosi serta menghawatirkan istrinya.
“Ck! Sial, awas saja kalau terjadi sesuatu dengan gadisku! Tak akan aku biarkan kalian semua hidup tenang di dunia ini!” umpat Zain entah untuk siapa.
Sepanjang perjalanan Barra dibuat pusing oleh tuan mudanya yang terus menggerutu tidak jelas. Padalah selama dia bekerja dengan tuannya, Zain hanya akan mengeluarkan suaranya sepatah atau dua patah.
Sesampainya di halaman rumah sakit, Zain langsung mengangkat tubuh lemah Zahra keluar dari mobil dan menggendongnya memasuki IGD tanpa menghiraukan keberadaan suster yang telah menyiapkan brankar di depan pintu kedatangan, karena sebelumnya Barra sudah mengabari pihak rumah sakit atas kedatangan tuan mudanya.
“Dokter! Cepat periksa istri saya!” teriak Zain membuat semua orang di ruangan menatap ke arahnya.
Zain meletakkan tubuh Zahra di atas brankar kosong di dekatnya.
“Dokter!” teriaknya karena belum ada Dokter yang mendekat.
“Tuan, tolong jangan membuat keributan di sini! Mengganggu pasien lainnya,” tegur seorang Dokter yang sedang menangani pasien di ruangan tersebut.
“Cepat periksa istri saya!” seru Zain tidak sabar.
“Bapak jika tidak bisa tenang silakan keluar dari ruangan ini.” Dokter itu mendekat hendak memeriksa keadaan Zahra, namun tertahan karena Zain menarik tangannya.
Bugh!
Zain mendaratkan pukulan di wajah Dokter itu, membuat orang-orang terpekik kaget.
“Apa yang kamu lakukan!” bentak Dokter itu sambil mengusap darah di sudut bibirnya.
Zain hendak kembali melayangkan pukulannya namun seseorang memegang tangannya dari arah belakang.
“Tahan emosimu, sekarang bukan saatnya untuk beradu tinju. Istrimu lebih membutuhkanmu!” peringat Dr. Agam yang baru saja masuk ke dalam IGD.
“Bawa dia ke ruanganku!” Perintah Dr. Agam kepada Barra.
“Mari, Tuan.” Barra menarik paksa tubuh Zain yang enggan meninggalkan ruangan itu.
“Tenangkan dirimu! Biarkan Dokter fokus bekerja menyelamatkan pasiennya. Percayalah semua akan baik-baik saja.” Dr. Agam menepuk pelan pundak Zain, pemuda yang sudah beliau anggap sebagai anaknya sendiri.
“Ayo, Tuan.” Barra kembali menarik tangan tuannya.
Dengan berat hati, Zain berjalan ke arah pintu keluar dengan memandangi tubuh istrinya yang sedang di tangani oleh Dokter.
“Jangan biarkan istriku di sentuh oleh Dokter itu!” seru Zain menunjuk Dokter yang tadi mengusirnya.
“Zain. Kamu percaya sama saya?” tanya Dr. Agam.
Zain menganggukkan kepalanya dengan ragu tanpa mengalihkan pandangannya dari brankar tempat Zahra terbaring.
“Barra!” seru Dr. Agam, Barra menganggukkan kepalanya lalu membawa Zain keluar dari IGD.
“Kamu!” Dr. Agam kepada menunjuk Dokter tadi dengan jarinya.
“Lain kali jaga emosimu! Jaga sopan-santunmu! Saya tidak bisa menjamin kariermu di tempat ini jika orang yang tadi kamu usir tidak menginginkan keberadaanmu lagi.” Dr. Agam berjalan menuju brankar Zahra meninggalkan Dokter tersebut dengan wajah bingungnya.
“Bersabarlah! Semoga tuan muda tidak menendangmu keluar dari rumah sakitnya,” ucap seorang perawat lalu menepuk pelan bahu Dokter tersebut.
“Apa maksudmu?” tanyanya bingung. “Apa orang tadi adalah tuan Zain Malik?”
Perawat itu menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Dokter tersebut yang semakin dibuat syok oleh kenyataan yang baru di ketahuinya. Ia hanyalah Dokter baru yang beberapa bulan bekerja di rumah sakit tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Susanty
salah sendiri ngapin sampe ditinggal2, seharusnya jaga kek sampai Zahwa bangun. giliran kaya gini yg disalahkan orang2 di sekitarnya 🤦
2022-10-30
3
Senajudifa
lanjut
2022-07-09
1
Sri Wahyuni
lgian s zain jg goblog dah tau keadaan s zahwa bgtu d tnggl sndrian
2022-06-27
2