Bab 16. Kepanikan Zain

Di sebuah hotel mewah di pusat kota, Zain tengah berbincang dan menikmati jamuan dalam acara peresmian pembukaan ‘Hotel A’ yang baru saja resmi dibuka oleh perusahaannya.

Sebenarnya Zain enggan untuk menghadiri acara tersebut karena tidak ingin meninggalkan Zahra yang masih terlelap setelah kemarin hampir saja menjadi korban pelecehan. Namun Zain juga tidak ingin mengecewakan rekan bisnisnya dengan tidak menghadiri acara penting ini.

Barra berjalan menghampiri Zain dan membisikkan sesuatu di telinga tuan mudanya tersebut. Seketika raut wajah Zain berubah menjadi tegang dan panik.

Tanpa berucap kata atau pun berpamitan, Zain melangkahkan kakinya meninggalkan pesta yang tengah berlangsung tersebut. Membuat semua tamu yang hadir menatap bingung kepergian tuan rumah.

Sebenarnya acara itu sudah berlangsung sejak pagi dan akan berlanjut sampai malam nanti, namun ada sesuatu yang lebih penting yang harus Zain lakukan.

Zain duduk dengan gelisah di jok samping kemudi, Barra yang berada di sampingnya sesekali melirik tuan mudanya lewat ujung matanya dan kembali fokus dengan kemudinya.

Zain melirik arloji yang melingkar di tagannya. “Ck! Kenapa lama sekali!” kesalnya.

“Sabar, Tuan.”

“Sabar bagaimana? Ini sudah jam 4.30, Zahra belum juga keluar dari kamar itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya!”

Barra hanya diam, tidak berani berkomentar lebih lanjut karena hanya akan membuat tuan mudanya itu merasa semakin emosi.

30 menit kemudian mobil mereka sampai di depan hotel melati tempat semalam Zain menginap bersama istri mudanya, dengan langkah lebar Zain menerobos masuk ke dalam kamar bernomor 305 dan mendobrak pintunya dengan kasar, tidak peduli jika pintu itu akan rusak karena perbuatannya.

“Zahra!” panggil Zain karena tidak mendapati istrinya di dalam kamar itu.

Zain menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup dan berjalan mendekat.

Samar-samar Zain mendengar suara gemercik air dari dalamnya. Tangannya meraih knop pintu dan memutarnya, namun pintu itu terkunci dari dalam.

“Zahra! Kamu di dalam?” tanya Zain sembari tangannya sibuk menggedor-gedor pintu di depannya.

“Zahra!” ulang Zain karena tidak mendapat jawaban dari dalam.

“Gadis nakal! Cepat keluar! Kalalu tidak, aku akan mendobrak pintu ini!”

Brak!

Zain mendobrak pintu di depannya sebelum menyelesaikan kalimatnya. Hanya dengan sekali tendangan pintu itu terbuka lebar.

Zain membulatkan matanya terkejut melihat pemandangan di depan matanya.

Keadaan kamar mandi yang terlihat berantakan, dengan air yang membanjiri lantainya. Shower yang masih menyala dan terlihat tangan pucat seseorang menggantung keluar dari bathub.

Deg.

Dada Zain berdebar kencang, wajahnya pucat, napasnya tercekat membayangkan jika tangan itu adalah tangan istrinya. Segera ia tepis pikiran buruk itu.

Zain melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi mengabaikan genangan air yang membasahi sepatu dan celana bawahnya.

Dengan tangan gemetar, Zain mendekat ke arah bathub dan seketika wajahnya semakin pucat, tubuhnya terasa lemas. Terlihat wajah istrinya yang pucat pasi dengan bibir yang membiru, dengan setengah tubuh polosnya terendam di dalam air.

“Zahra!” teriaknya dengan kencang sehingga terdengar dari luar kamar 305 itu.

Barra dan beberapa anak buahnya yang menunggu di depan pintu berlari menuju kamar mandi.

“Tuan!” seru Barra dan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi, tangannya terangkat memberi isyarat kepada anak buahnya untuk ikut berhenti.

Di dalam kamar mandi, Zain melepas jasnya dan memakaikan ke tubuh polos.

Zain membalikkan tubuhnya karena menyadari kehadiran anak buahnya berada di luar kamar mandi.

“Keluar semuanya dari kamar ini!” perintah Zain dengan suara lantang.

Setelah memastikan tidak ada orang lain di dalam kamar tersebut, Zain mengangkat tubuh Zahra dan merasakan tubuh istrinya itu terasa begitu dingin. Lalu ia membawa tubuh Zahra ke atas kasur kemudian mengambil pakaian ganti milik Zahra dan memakaikannya.

Sedangkan di luar kamar terdapat pemilik hotel tersebut beserta beberapa karyawannya yang hendak masuk ke dalam kamar namun di tahan oleh orang-orang Zain.

Setelah mendapat laporan dari karyawannya bahwa ada keributan di hotelnya ia bergegas menuju hotelnya.

Pemilik hotel itu terkejut ketika menginjakkan kakinya di hotel miliknya, ia melihat begitu banyak orang berseragam serba hitam berdiri di lobi dan juga di depan kamar bernomor 305.

Belum sempat ia bertanya kronologi kejadian kepada karyawannya, pemilik hotel itu dibuat terkejut melihat sosok seseorang yang ia ketahui sebagai tuan muda yang terkenal akan kekuasaan serta kekejamannya.

 “Aku akan menghancurkan tempat sialan ini!” seru Zain ketika matanya menangkap keberadaan pemilik hotel tersebut.

Seketika tubuh pemilik hotel menegang dengan wajah memucat karena mendapat ancaman dari Zain, ia menundukkan kepalanya dalam.

“Tu-tuan. Maafkan kesalahan kami,” ucapnya dengan suara bergetar.

“Cepat Barra!” seru Zain berlalu mengabaikan permohonan pemilik hotel.

“Urusan Anda dengan saya belum selesai, Tuan!” peringat Barra sebelum menyusul tuan mudanya.

Barra berlari menuju mobil mewah Zain yang terparkir tepat di depan pintu lobi. Lalu ia bergegas membukakan pintu belakang untuk tuannya.

Zain dengan pelan membaringkan tubuh Zahra di kursi belakang lalu ia ikut masuk ke dalamnya. Zain duduk dan mengangkat kepala Zahra ke dalam pangkuannya.

Setelah memastikan tuan muda dan istrinya masuk ke dalam mobil, Barra menutup pintu belakang dan langsung masuk ke dalam kursi depan di belakang kemudi.

“Cepat jalan!” perintah Zain dengan dingin.

“Baik, Tuan.”

Barra melajukan mobilnya dengan secepat mungkin. Sesekali ia melirik tuannya dari spion di depannya.

Di kursi belakang, Zain memeluk tubuh Zahra dengan wajah dingin tanpa ekspresi, namun Barra dapat melihat kecemasan yang terpancar dari sorot mata tuan mudanya.

“Bertahanlah,” ucap Zain lirih di telinga Zahra, tangannya terus menggenggam tangan kecil istrinya.

“Cepat Barra!” serunya tidak sabar.

Barra hanya melirik sekilas lewat kaca spion, ia memilih untuk diam dari pada harus meladeni tuan mudanya yang sedang menahan emosi serta menghawatirkan istrinya.

“Ck! Sial, awas saja kalau terjadi sesuatu dengan gadisku! Tak akan aku biarkan kalian semua hidup tenang di dunia ini!” umpat Zain entah untuk siapa.

Sepanjang perjalanan Barra dibuat pusing oleh tuan mudanya yang terus menggerutu tidak jelas. Padalah selama dia bekerja dengan tuannya, Zain hanya akan mengeluarkan suaranya sepatah atau dua patah.

Sesampainya di halaman rumah sakit, Zain langsung mengangkat tubuh lemah Zahra keluar dari mobil dan menggendongnya memasuki IGD tanpa menghiraukan keberadaan suster yang telah menyiapkan brankar di depan pintu kedatangan, karena sebelumnya Barra sudah mengabari pihak rumah sakit atas kedatangan tuan mudanya.

“Dokter! Cepat periksa istri saya!” teriak Zain membuat semua orang di ruangan menatap ke arahnya.

Zain meletakkan tubuh Zahra di atas brankar kosong di dekatnya.

“Dokter!” teriaknya karena belum ada Dokter yang mendekat.

“Tuan, tolong jangan membuat keributan di sini! Mengganggu pasien lainnya,” tegur seorang Dokter yang sedang menangani pasien di ruangan tersebut.

“Cepat periksa istri saya!” seru Zain tidak sabar.

“Bapak jika tidak bisa tenang silakan keluar dari ruangan ini.” Dokter itu mendekat hendak memeriksa keadaan Zahra, namun tertahan karena Zain menarik tangannya.

Bugh!

Zain mendaratkan pukulan di wajah Dokter itu, membuat orang-orang terpekik kaget.

“Apa yang kamu lakukan!” bentak Dokter itu sambil mengusap darah di sudut bibirnya.

Zain hendak kembali melayangkan pukulannya namun seseorang memegang tangannya dari arah belakang.

“Tahan emosimu, sekarang bukan saatnya untuk beradu tinju. Istrimu lebih membutuhkanmu!” peringat Dr. Agam yang baru saja masuk ke dalam IGD.

“Bawa dia ke ruanganku!” Perintah Dr. Agam kepada Barra.

“Mari, Tuan.” Barra menarik paksa tubuh Zain yang enggan meninggalkan ruangan itu.

“Tenangkan dirimu! Biarkan Dokter fokus bekerja menyelamatkan pasiennya. Percayalah semua akan baik-baik saja.” Dr. Agam menepuk pelan pundak Zain, pemuda yang sudah beliau anggap sebagai anaknya sendiri.

“Ayo, Tuan.” Barra kembali menarik tangan tuannya.

Dengan berat hati, Zain berjalan ke arah pintu keluar dengan memandangi tubuh istrinya yang sedang di tangani oleh Dokter.

“Jangan biarkan istriku di sentuh oleh Dokter itu!” seru Zain menunjuk Dokter yang tadi mengusirnya.

“Zain. Kamu percaya sama saya?” tanya Dr. Agam.

Zain menganggukkan kepalanya dengan ragu tanpa mengalihkan pandangannya dari brankar tempat Zahra terbaring.

“Barra!” seru Dr. Agam, Barra menganggukkan kepalanya lalu membawa Zain keluar dari IGD.

“Kamu!” Dr. Agam kepada menunjuk Dokter tadi dengan jarinya.

“Lain kali jaga emosimu! Jaga sopan-santunmu! Saya tidak bisa menjamin kariermu di tempat ini jika orang yang tadi kamu usir tidak menginginkan keberadaanmu lagi.” Dr. Agam berjalan menuju brankar Zahra meninggalkan Dokter tersebut dengan wajah bingungnya.

“Bersabarlah! Semoga tuan muda tidak menendangmu keluar dari rumah sakitnya,” ucap seorang perawat lalu menepuk pelan bahu Dokter tersebut.

“Apa maksudmu?” tanyanya bingung. “Apa orang tadi adalah tuan Zain Malik?”

Perawat itu menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Dokter tersebut yang semakin dibuat syok oleh kenyataan yang baru di ketahuinya. Ia hanyalah Dokter baru yang beberapa bulan bekerja di rumah sakit tersebut.

Terpopuler

Comments

Susanty

Susanty

salah sendiri ngapin sampe ditinggal2, seharusnya jaga kek sampai Zahwa bangun. giliran kaya gini yg disalahkan orang2 di sekitarnya 🤦

2022-10-30

3

Senajudifa

Senajudifa

lanjut

2022-07-09

1

Sri Wahyuni

Sri Wahyuni

lgian s zain jg goblog dah tau keadaan s zahwa bgtu d tnggl sndrian

2022-06-27

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2 Bab 2. Pengantin Pengganti
3 Bab 3. Mansion Utama
4 Bab 4. Perjanjian
5 Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6 Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7 Bab 7. Zahwa Sakit
8 Bab 8. Rencana Clarisa
9 Bab 9. Berita Menggemparkan
10 Bab 10. Kehamilan Clarisa
11 Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12 Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13 Bab 13. Kamar 305
14 Bab 14. Pertolongan
15 Bab 15. Kehancuran Zahra
16 Bab 16. Kepanikan Zain
17 Bab 17. Kemarahan Zain
18 Bab 18. Trauma Zahra
19 Bab 19. Berpisah
20 Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21 Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22 Bab 22. Anindya
23 Bab 23. Kedatangan Anindya
24 Bab 24. Rencana Zain
25 Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26 Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27 Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28 Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29 Bab 29. Pengakuan Zahra
30 Bab 30. Keluarga Athaillah
31 Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32 Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33 Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34 Bab 34. Merasa Dipermainkan
35 Bab 35. Tidur Seranjang
36 Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37 Bab 37. Ziya's House
38 Bab 38. Ziya's House 2
39 Bab 39. Manis Bagai Candu
40 Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41 Bab 41. Rencana Ny. Amara
42 Bab 42. Keluar dari Penjara
43 Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44 Bab 44. Harapan Ny. Amara
45 Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46 Bab 45. Keposesifan Zain
47 Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48 Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49 Bab 48. Syukuran
50 Bab 49. Malam Penuh Drama
51 Bab 50. Rencana Berkunjung
52 Bab 51. Godaan
53 Bab 52. Menahan Emosi
54 Bab 53. Terungkap
55 Bab 54. Drama Keluarga
56 Bab 55. Keputusan Akhir
57 Bab 56. Gelisah
58 Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59 Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60 Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61 Bab 60. Crazy Rich Man
62 Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63 Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64 Bab 63. Hu Yitian
65 Bab 64. Karantina
66 Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67 Bab 66. Melepas Rindu
68 Bab 67. Pergi
69 Bab 68. Salah Paham
70 Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71 Bab 70. Zhang Yang Zi
72 Bab 71. Keputusan Barra
73 Bab 72. Calon Menantu
74 Bab 73. Nasihat dari Paman
75 Bab 74. Kejutan
76 Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77 Bab 76. Tragedi
78 Bab 77. Kisah Yang Zi
79 Bab 78. Amarah Sang Kakak
80 Bab 79. Disneyland
81 Bab 80. Mengulang Pesta
82 Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83 Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84 Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85 Bab 84. Alun-Alun Kota
86 Bab 85. Pengakuan Barra
87 Bab 86. Pesta Pernikahan
88 Bab 87. Kekacauan
89 Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90 Bab 89. Malam Pesta
91 Bab 90. Cucu Kesayangan
92 Bab 91. Hanya Salah Paham
93 Bab 92. Retak
94 Bab 93. Tak Pernah Terencana
95 Bab 94. Luka dan Trauma
96 Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97 Bab 96. Gelisah
98 Bab 97. Bumil Muda
99 Bab 98. Orang Asing
100 Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101 Bab 100. Singa yang Posesif
102 Bab 101. Drama di Kantin
103 Bab 102. Ketakutan Zahra
104 Bab 103. Teman Baru
105 Bab 104. Teman Lama
106 Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107 Bab 106. Perlengkapan Bayi
108 Bab 107. Musibah
109 Bab 108. Kembali Bermimpi
110 Bab 109. Pengakuan
111 Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112 Bab 110. Ali dan Tania
113 Bab 111. Penjelasan Zain
114 Bab 112. Baby Rayyanza
115 Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116 Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117 Bab 115. Keluarga Mahardika
118 Bab 116. Istana Tersembunyi
119 Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120 Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121 Bab 119. Merajuk
122 Bab 120. Datang untuk Melamar
123 Bab 121. Hadiah Pernikahan
124 Bab 122. Klub Malam
125 Bab 123. Permintaan Zahra
126 Bab 124. Sisi Lain Yitian
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2
Bab 2. Pengantin Pengganti
3
Bab 3. Mansion Utama
4
Bab 4. Perjanjian
5
Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6
Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7
Bab 7. Zahwa Sakit
8
Bab 8. Rencana Clarisa
9
Bab 9. Berita Menggemparkan
10
Bab 10. Kehamilan Clarisa
11
Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12
Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13
Bab 13. Kamar 305
14
Bab 14. Pertolongan
15
Bab 15. Kehancuran Zahra
16
Bab 16. Kepanikan Zain
17
Bab 17. Kemarahan Zain
18
Bab 18. Trauma Zahra
19
Bab 19. Berpisah
20
Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21
Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22
Bab 22. Anindya
23
Bab 23. Kedatangan Anindya
24
Bab 24. Rencana Zain
25
Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26
Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27
Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28
Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29
Bab 29. Pengakuan Zahra
30
Bab 30. Keluarga Athaillah
31
Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32
Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33
Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34
Bab 34. Merasa Dipermainkan
35
Bab 35. Tidur Seranjang
36
Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37
Bab 37. Ziya's House
38
Bab 38. Ziya's House 2
39
Bab 39. Manis Bagai Candu
40
Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41
Bab 41. Rencana Ny. Amara
42
Bab 42. Keluar dari Penjara
43
Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44
Bab 44. Harapan Ny. Amara
45
Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46
Bab 45. Keposesifan Zain
47
Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48
Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49
Bab 48. Syukuran
50
Bab 49. Malam Penuh Drama
51
Bab 50. Rencana Berkunjung
52
Bab 51. Godaan
53
Bab 52. Menahan Emosi
54
Bab 53. Terungkap
55
Bab 54. Drama Keluarga
56
Bab 55. Keputusan Akhir
57
Bab 56. Gelisah
58
Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59
Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60
Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61
Bab 60. Crazy Rich Man
62
Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63
Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64
Bab 63. Hu Yitian
65
Bab 64. Karantina
66
Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67
Bab 66. Melepas Rindu
68
Bab 67. Pergi
69
Bab 68. Salah Paham
70
Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71
Bab 70. Zhang Yang Zi
72
Bab 71. Keputusan Barra
73
Bab 72. Calon Menantu
74
Bab 73. Nasihat dari Paman
75
Bab 74. Kejutan
76
Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77
Bab 76. Tragedi
78
Bab 77. Kisah Yang Zi
79
Bab 78. Amarah Sang Kakak
80
Bab 79. Disneyland
81
Bab 80. Mengulang Pesta
82
Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83
Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84
Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85
Bab 84. Alun-Alun Kota
86
Bab 85. Pengakuan Barra
87
Bab 86. Pesta Pernikahan
88
Bab 87. Kekacauan
89
Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90
Bab 89. Malam Pesta
91
Bab 90. Cucu Kesayangan
92
Bab 91. Hanya Salah Paham
93
Bab 92. Retak
94
Bab 93. Tak Pernah Terencana
95
Bab 94. Luka dan Trauma
96
Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97
Bab 96. Gelisah
98
Bab 97. Bumil Muda
99
Bab 98. Orang Asing
100
Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101
Bab 100. Singa yang Posesif
102
Bab 101. Drama di Kantin
103
Bab 102. Ketakutan Zahra
104
Bab 103. Teman Baru
105
Bab 104. Teman Lama
106
Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107
Bab 106. Perlengkapan Bayi
108
Bab 107. Musibah
109
Bab 108. Kembali Bermimpi
110
Bab 109. Pengakuan
111
Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112
Bab 110. Ali dan Tania
113
Bab 111. Penjelasan Zain
114
Bab 112. Baby Rayyanza
115
Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116
Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117
Bab 115. Keluarga Mahardika
118
Bab 116. Istana Tersembunyi
119
Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120
Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121
Bab 119. Merajuk
122
Bab 120. Datang untuk Melamar
123
Bab 121. Hadiah Pernikahan
124
Bab 122. Klub Malam
125
Bab 123. Permintaan Zahra
126
Bab 124. Sisi Lain Yitian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!