Pagi itu setelah Zain berangkat ke kantornya, Clarisa merengek kepada ibu mertuanya untuk mengajak Zahra jalan-jalan ke mal. Awalnya Ny. Amara tidak mengizinkannya, namun Clarisa menjadikan anak di dalam kandungannya sebagai alasan sehingga Ny. Amara terpaksa memberi izin kepada kedua menantunya untuk pergi.
Clarisa merangkul lengan Zahra sepanjang berjalan mengelilingi mal, awalnya Clarisa hanya ingin melihat-lihat saja, namun jiwa wanitanya meronta-ronta untuk berbelanja.
“Zahra, kamu coba baju ini ya!” pinta Clarisa dan menyodorkan sebuah mini dress selutut ke tangan Zahra.
“Tapi Mbak, aku nggak bisa pakai pakaian yang terbuka,” tolak Zahra.
“Ayolah, ini nggak terbuka Zahra! Coba sekali saja kamu memakai pakaian pendek. Apa kamu tidak merasa panas selalu memakai pakaian panjang seperti itu?” cerca Clarisa.
“Aku sudah terbiasa, Mbak. Jadinya ya tidak panas,” jawab Zahra tenang.
“Ya sudah kalau kamu nggak mau! Aku akan membeli untukku sendiri.” Clarisa meninggalkan Zahra dengan wajah yang di tekuk.
Zahra mengamati dress di tangannya, wajahnya terlihat sedih ketika melihat drees tersebut. Zahra kemudian meletakkan kembali dress itu ke tempatnya dan mengejar Clarisa yang sudah berjalan keluar meninggalkan toko.
“Mbak, kita mau ke mana lagi?” tanya Zahra setelah berhasil mengejar Clarisa, namun Clarisa hanya diam tidak menanggapi pertanyaan dari Zahra.
“Mbak, maafkan aku ya. Bukan maksud aku menolak baju pilihan Mbak Clarisa, tapi aku tidak bisa memakai pakaian pendek, Mbak,” jelas Zahra merasa bersalah.
“Sudahlah, pasti kamu tidak suka dengan baju pilihanku!” cetus Clarisa.
“Mbak, maaf. Bukan seperti itu, sebagai gantinya aku mau menemani mbak Clarisa keliling mal ini seharian.”
“Kamu tidak bohong, kan?” tanya Clarisa memastikan.
“Iya, Mbak.”
“Jika nanti Zain marah aku tidak ikut-ikutan ya!"
Zahra dengan ragu menganggukkan kepalanya.
“Baiklah aku akan memaafkanmu,” ucap Clarisa dan mengembangkan senyumnya.
Clarisa kembali merangkul lengan Zahra dan membawanya berkeliling mal itu.
Clarisa mengajak Zahra masuk ke dalam toko perlengkapan bayi. Clarisa berkeliling melihat isi toko itu dengan wajah yang berbinar diikuti oleh Zahra yang mengekor di belakangnya.
“Baju ini lucu ya, Ra.” Clarisa memperlihatkan baju bayi berwarna merah muda dengan motif kupu-kupu.
“Cantik Mbak, tapi ini baju perempuan. Apa mbak sudah mengetahui jenis kelamin anak Mbak?” tanya Zahra dengan hati-hati, ia tidak ingin menyinggung perasaan Clarisa, karena yang Zahra tahu suasana hati orang hamil sangatlah sensitif.
“Belum sih, tapi aku ingin membelinya,” rengek Clarisa.
“Mbak, kata orang tua zaman dulu, pamali jika membeli barang untuk bayi di dalam perut yang belum genap berusia 7 bulan.” Zahra memberi saran dengan hati-hati.
“Itu mah omongan orang zaman dulu. Sekarang kan, sudah zaman modern, Ra!” sangkal Clarisa.
Zahra terdiam, ia tidak ingin berdebat dengan Clarisa yang pastinya akan membuat masalah menjadi lebih panjang.
Clarisa memasukkan beberapa baju bayi perempuan yang terlihat sangat lucu ke dalam keranjang yang dibawa oleh Zahra.
“Wah ini lucu semua, Ra! Aku jadi ingin membeli semuanya.”
“Mbak, tapi ini semua baju bayi perempuan. Nanti jika anak Mbak lahir laki-laki bagaimana?” tanya Zahra yang tidak tahan melihat kegilaan Clarisa dalam memborong pakaian bayi.
“Tinggal beli lagi, kan. Hal kecil seperti itu ngapain dibikin susah,” ucap Clarisa tanpa merasa bersalah.
Zahra melebarkan bola matanya, ia tidak habis pikir dengan pemikiran Clarisa. Zahra teringat kepada dirinya sendiri yang sejak kecil selalu mendapat pakaian atau apa pun itu bekas dari kakaknya.
“Itu namanya pemborosan, Mbak!” tegur Zahra pelan.
“Kamu ini pelit banget sih! Kampungan! Suami kamu tidak akan jatuh miskin hanya karena memborong semua isi yang ada di dalam mal ini!” cetus Clarisa merasa kesal karena menganggap nasihat dari Zahra adalah sebuah kritikan yang melukai harga dirinya.
Zahra terperangah. “Bukan begitu maksud aku, Mbak. Mubazir kan kalau sudah dibeli tapi tidak di pakai.”
“Nanti pakaikan kepada anak kamu!” cetus Clarisa membuat Zahra semakin terkejut.
Clarisa menatap lekat wajah Zahra. “Apa kamu tidak suka jika anakmu nanti memakai pakaian dari kakaknya?”
“Su-suka kok, Mbak.”
“Ya sudah, jangan banyak protes!” tegas Clarisa tanda tidak ingin di bantah.
Zahra memilih untuk diam, membiarkan Clarisa melakukan apa pun yang disukainya.
“Kita makan dulu yuk, Zahra!” ajak Clarisa setelah merasa lelah mengelilingi mal.
Clarisa menggandeng tangan Zahra masuk ke dalam salah satu restoran di tempat itu.
Clarisa memesan banyak menu dan memakannya dengan lahap membuat Zahra merasa kenyang hanya dengan melihatnya, Zahra hanya mencicipi beberapa menu dan segelas jus jeruk di depannya.
Beberapa saat kemudian, Zahra merasakan perubahan suhu pada tubuhnya.
“Mbak, kok aku merasa panas ya?” tanyanya kepada Clarisa.
“Panas apaan? Ruangan ini ber-AC kok,” terang Clarisa.
“Aku serius, Mbak.”
Zahra bergerak tidak nyaman dalam duduknya, tangannya mengusap-usap bagian tabuhnya lalu ia menyeruput jus jeruk di depannya sampai habis tak tersisa, berharap minuman tersebut dapat menghilangkan panas di tubuhnya.
“Mbak, kita pulang saja ya! Aku nggak betah, gerah, panas sekali rasanya,” ucap Zahra dengan wajah yang mulai panik.
“Tunggu sebentar.”
Clarisa mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan meletakkan beberapa lembar uang kertas tersebut di atas meja.
“Ayo, Ra!” ajaknya.
Zahra berjalan dengan langkah lebar menuju tempat parkir, sesekali ia menghentikan langkahnya karena menunggu Clarisa yang tertinggal di belakang. Zahra mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
Di dalam mobil, Zahra menyalakan AC dengan suhu terendah, namun dirinya masih merasa kepanasan.
“Mbak, sepertinya AC-nya mati deh,” keluh Zahra.
Clarisa hanya melirik sebentar ke arah Zahra dan kembali fokus dengan kemudinya.
Beberapa saat kemudian Clarisa membelokkan mobilnya masuk ke dalam hotel melati.
“Kenapa kita ke sini, Mbak?” tanya Zahra bingung.
“Kita mampir dulu di sini, katanya kamu kepanasan dan ingin mandi. Kita sewa kamar di sini sebentar dari pada pulang ke mansion masih sangat jauh, Ra.”
Zahra turun dari mobil mengikuti langkah Clarisa tanpa sedikit pun menaruh curiga kepada Clarisa.
Clarisa memesan kamar yang cukup besar untuk mereka. Setelah menerima kunci dari resepsionis mereka berjalan menyusuri lorong mencari nomor kamar pesanan mereka.
Sampai di ujung lorong, mereka menemukan kamar bertuliskan angka 305, Clarisa membuka memasukkan kunci ke dalam pintu kamar tersebut dan membukanya.
“Ayo masuk, Ra!” ajaknya.
Zahra tanpa curiga langsung melangkahkan kakinya ke dalam kamar tersebut karena ingin segera mandi.
Brak!
Zahra memutar tubuhnya karena mendengar bunyi pintu yang ditutup dengan keras.
Zahra berlari menuju pintu yang tertutup itu.
“Mbak! Mbak Clarisa! Buka pintunya, Mbak!” teriak Zahra sambil menggedor pintu di depannya.
Di luar kamar, Clarisa membuang kunci kamar tersebut ke dalam tong sampah.
“Selamat bersenang-senang, Zahra!” Clarisa tersenyum menyeringai dan berjalan menjauh dari kamar bertuliskan nomor 305.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Mama Muda
jahatnya nenek lampir klarisa
2024-05-01
0
Zahraa jgn kemah ayo lawan klarisa
2022-10-15
2
Indra Indra
kayaknya lemah di Zahwa
terlalu tertindas
thorr kalau alur cerita nya ringan namun agak sedikit dikurangi kecurangan terhadap Zahra🙏
2022-10-06
1