Bab 13. Kamar 305

Pagi itu setelah Zain berangkat ke kantornya, Clarisa merengek kepada ibu mertuanya untuk mengajak Zahra jalan-jalan ke mal. Awalnya Ny. Amara tidak mengizinkannya, namun Clarisa menjadikan anak di dalam kandungannya sebagai alasan sehingga Ny. Amara terpaksa memberi izin kepada kedua menantunya untuk pergi.

Clarisa merangkul lengan Zahra sepanjang berjalan mengelilingi mal, awalnya Clarisa hanya ingin melihat-lihat saja, namun jiwa wanitanya meronta-ronta untuk berbelanja.

“Zahra, kamu coba baju ini ya!” pinta Clarisa dan menyodorkan sebuah mini dress selutut ke tangan Zahra.

“Tapi Mbak, aku nggak bisa pakai pakaian yang terbuka,” tolak Zahra.

“Ayolah, ini nggak terbuka Zahra! Coba sekali saja kamu memakai pakaian pendek. Apa kamu tidak merasa panas selalu memakai pakaian panjang seperti itu?” cerca Clarisa.

“Aku sudah terbiasa, Mbak. Jadinya ya tidak panas,” jawab Zahra tenang.

“Ya sudah kalau kamu nggak mau! Aku akan membeli untukku sendiri.” Clarisa meninggalkan Zahra dengan wajah yang di tekuk.

Zahra mengamati dress di tangannya, wajahnya terlihat sedih ketika melihat drees tersebut. Zahra kemudian meletakkan kembali dress itu ke tempatnya dan mengejar Clarisa yang sudah berjalan keluar meninggalkan toko.

“Mbak, kita mau ke mana lagi?” tanya Zahra setelah berhasil mengejar Clarisa, namun Clarisa hanya diam tidak menanggapi pertanyaan dari Zahra.

“Mbak, maafkan aku ya. Bukan maksud aku menolak baju pilihan Mbak Clarisa, tapi aku tidak bisa memakai pakaian pendek, Mbak,” jelas Zahra merasa bersalah.

“Sudahlah, pasti kamu tidak suka dengan baju pilihanku!” cetus Clarisa.

“Mbak, maaf. Bukan seperti itu, sebagai gantinya aku mau menemani mbak Clarisa keliling mal ini seharian.”

“Kamu tidak bohong, kan?” tanya Clarisa memastikan.

“Iya,  Mbak.”

“Jika nanti Zain marah aku tidak ikut-ikutan ya!"

Zahra dengan ragu menganggukkan kepalanya.

“Baiklah aku akan memaafkanmu,” ucap Clarisa dan mengembangkan senyumnya.

Clarisa kembali merangkul lengan Zahra dan membawanya berkeliling mal itu.

Clarisa mengajak Zahra masuk ke dalam toko perlengkapan bayi. Clarisa berkeliling melihat isi toko itu dengan wajah yang berbinar diikuti oleh Zahra yang mengekor di belakangnya.

“Baju ini lucu ya, Ra.” Clarisa memperlihatkan baju bayi berwarna merah muda dengan motif kupu-kupu.

“Cantik Mbak, tapi ini baju perempuan. Apa mbak sudah mengetahui jenis kelamin anak Mbak?” tanya Zahra dengan hati-hati, ia tidak ingin menyinggung perasaan Clarisa, karena yang Zahra tahu suasana hati orang hamil sangatlah sensitif.

“Belum sih, tapi aku ingin membelinya,” rengek Clarisa.

“Mbak, kata orang tua zaman dulu, pamali jika membeli barang untuk bayi di dalam perut yang belum genap berusia 7 bulan.” Zahra memberi saran dengan hati-hati.

“Itu mah omongan orang zaman dulu. Sekarang kan, sudah zaman modern, Ra!” sangkal Clarisa.

Zahra terdiam, ia tidak ingin berdebat dengan Clarisa yang pastinya akan membuat masalah menjadi lebih panjang.

Clarisa memasukkan beberapa baju bayi perempuan yang terlihat sangat lucu ke dalam keranjang yang dibawa oleh Zahra.

“Wah ini lucu semua, Ra! Aku jadi ingin membeli semuanya.”

“Mbak, tapi ini semua baju bayi perempuan. Nanti jika anak Mbak lahir laki-laki bagaimana?” tanya Zahra yang tidak tahan melihat kegilaan Clarisa dalam memborong pakaian bayi.

“Tinggal beli lagi, kan. Hal kecil seperti itu ngapain dibikin susah,” ucap Clarisa tanpa merasa bersalah.

Zahra melebarkan bola matanya, ia tidak habis pikir dengan pemikiran Clarisa. Zahra teringat kepada dirinya sendiri yang sejak kecil selalu mendapat pakaian atau apa pun itu bekas dari kakaknya.

“Itu namanya pemborosan, Mbak!” tegur Zahra pelan.

“Kamu ini pelit banget sih! Kampungan! Suami kamu tidak akan jatuh miskin hanya karena memborong semua isi yang ada di dalam mal ini!” cetus Clarisa merasa kesal karena menganggap nasihat dari Zahra adalah sebuah kritikan yang melukai harga dirinya.

Zahra terperangah. “Bukan begitu maksud aku, Mbak. Mubazir kan kalau sudah dibeli tapi tidak di pakai.”

“Nanti pakaikan kepada anak kamu!” cetus Clarisa membuat Zahra semakin terkejut.

Clarisa menatap lekat wajah Zahra. “Apa kamu tidak suka jika anakmu nanti memakai pakaian dari kakaknya?”

“Su-suka kok, Mbak.”

“Ya sudah, jangan banyak protes!” tegas Clarisa tanda tidak ingin di bantah.

Zahra memilih untuk diam, membiarkan Clarisa melakukan apa pun yang disukainya.

“Kita makan dulu yuk, Zahra!” ajak Clarisa setelah merasa lelah mengelilingi mal.

Clarisa menggandeng tangan Zahra masuk ke dalam salah satu restoran di tempat itu.

Clarisa memesan banyak menu dan memakannya dengan lahap membuat Zahra merasa kenyang hanya dengan melihatnya, Zahra hanya mencicipi beberapa menu dan segelas jus jeruk di depannya.

Beberapa saat kemudian, Zahra merasakan perubahan suhu pada tubuhnya.

“Mbak, kok aku merasa panas ya?” tanyanya kepada Clarisa.

“Panas apaan? Ruangan ini ber-AC kok,” terang Clarisa.

“Aku serius, Mbak.”

Zahra bergerak tidak nyaman dalam duduknya, tangannya mengusap-usap bagian tabuhnya lalu ia menyeruput jus jeruk di depannya sampai habis tak tersisa, berharap minuman tersebut dapat menghilangkan panas di tubuhnya.

“Mbak, kita pulang saja ya! Aku nggak betah, gerah, panas sekali rasanya,” ucap Zahra dengan wajah yang mulai panik.

“Tunggu sebentar.”

Clarisa mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan meletakkan beberapa lembar uang kertas tersebut di atas meja.

“Ayo, Ra!” ajaknya.

Zahra berjalan dengan langkah lebar menuju tempat parkir, sesekali ia menghentikan langkahnya karena menunggu Clarisa yang tertinggal di belakang. Zahra mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.

Di dalam mobil, Zahra menyalakan AC dengan suhu terendah, namun dirinya masih merasa kepanasan.

“Mbak, sepertinya AC-nya mati deh,” keluh Zahra.

Clarisa hanya melirik sebentar ke arah Zahra dan kembali fokus dengan kemudinya.

Beberapa saat kemudian Clarisa membelokkan mobilnya masuk ke dalam hotel melati.

“Kenapa kita ke sini, Mbak?” tanya Zahra bingung.

“Kita mampir dulu di sini, katanya kamu kepanasan dan ingin mandi. Kita sewa kamar di sini sebentar dari pada pulang ke mansion masih sangat jauh, Ra.”

Zahra turun dari mobil mengikuti langkah Clarisa tanpa sedikit pun menaruh curiga kepada Clarisa.

Clarisa memesan kamar yang cukup besar untuk mereka. Setelah menerima kunci dari resepsionis mereka berjalan menyusuri lorong mencari nomor kamar pesanan mereka.

Sampai di ujung lorong, mereka menemukan kamar bertuliskan angka 305, Clarisa membuka memasukkan kunci ke dalam pintu kamar tersebut dan membukanya.

“Ayo masuk, Ra!” ajaknya.

Zahra tanpa curiga langsung melangkahkan kakinya ke dalam kamar tersebut karena ingin segera mandi.

Brak!

Zahra memutar tubuhnya karena mendengar bunyi pintu yang ditutup dengan keras.

Zahra berlari menuju pintu yang tertutup itu.

“Mbak! Mbak Clarisa! Buka pintunya, Mbak!” teriak Zahra sambil menggedor pintu di depannya.

Di luar kamar, Clarisa membuang kunci kamar tersebut ke dalam tong sampah.

“Selamat bersenang-senang, Zahra!” Clarisa tersenyum menyeringai dan berjalan menjauh dari kamar bertuliskan nomor 305.

Terpopuler

Comments

Mama Muda

Mama Muda

jahatnya nenek lampir klarisa

2024-05-01

0

Zahraa jgn kemah ayo lawan klarisa

2022-10-15

2

Indra Indra

Indra Indra

kayaknya lemah di Zahwa
terlalu tertindas
thorr kalau alur cerita nya ringan namun agak sedikit dikurangi kecurangan terhadap Zahra🙏

2022-10-06

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2 Bab 2. Pengantin Pengganti
3 Bab 3. Mansion Utama
4 Bab 4. Perjanjian
5 Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6 Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7 Bab 7. Zahwa Sakit
8 Bab 8. Rencana Clarisa
9 Bab 9. Berita Menggemparkan
10 Bab 10. Kehamilan Clarisa
11 Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12 Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13 Bab 13. Kamar 305
14 Bab 14. Pertolongan
15 Bab 15. Kehancuran Zahra
16 Bab 16. Kepanikan Zain
17 Bab 17. Kemarahan Zain
18 Bab 18. Trauma Zahra
19 Bab 19. Berpisah
20 Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21 Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22 Bab 22. Anindya
23 Bab 23. Kedatangan Anindya
24 Bab 24. Rencana Zain
25 Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26 Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27 Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28 Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29 Bab 29. Pengakuan Zahra
30 Bab 30. Keluarga Athaillah
31 Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32 Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33 Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34 Bab 34. Merasa Dipermainkan
35 Bab 35. Tidur Seranjang
36 Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37 Bab 37. Ziya's House
38 Bab 38. Ziya's House 2
39 Bab 39. Manis Bagai Candu
40 Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41 Bab 41. Rencana Ny. Amara
42 Bab 42. Keluar dari Penjara
43 Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44 Bab 44. Harapan Ny. Amara
45 Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46 Bab 45. Keposesifan Zain
47 Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48 Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49 Bab 48. Syukuran
50 Bab 49. Malam Penuh Drama
51 Bab 50. Rencana Berkunjung
52 Bab 51. Godaan
53 Bab 52. Menahan Emosi
54 Bab 53. Terungkap
55 Bab 54. Drama Keluarga
56 Bab 55. Keputusan Akhir
57 Bab 56. Gelisah
58 Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59 Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60 Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61 Bab 60. Crazy Rich Man
62 Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63 Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64 Bab 63. Hu Yitian
65 Bab 64. Karantina
66 Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67 Bab 66. Melepas Rindu
68 Bab 67. Pergi
69 Bab 68. Salah Paham
70 Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71 Bab 70. Zhang Yang Zi
72 Bab 71. Keputusan Barra
73 Bab 72. Calon Menantu
74 Bab 73. Nasihat dari Paman
75 Bab 74. Kejutan
76 Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77 Bab 76. Tragedi
78 Bab 77. Kisah Yang Zi
79 Bab 78. Amarah Sang Kakak
80 Bab 79. Disneyland
81 Bab 80. Mengulang Pesta
82 Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83 Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84 Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85 Bab 84. Alun-Alun Kota
86 Bab 85. Pengakuan Barra
87 Bab 86. Pesta Pernikahan
88 Bab 87. Kekacauan
89 Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90 Bab 89. Malam Pesta
91 Bab 90. Cucu Kesayangan
92 Bab 91. Hanya Salah Paham
93 Bab 92. Retak
94 Bab 93. Tak Pernah Terencana
95 Bab 94. Luka dan Trauma
96 Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97 Bab 96. Gelisah
98 Bab 97. Bumil Muda
99 Bab 98. Orang Asing
100 Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101 Bab 100. Singa yang Posesif
102 Bab 101. Drama di Kantin
103 Bab 102. Ketakutan Zahra
104 Bab 103. Teman Baru
105 Bab 104. Teman Lama
106 Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107 Bab 106. Perlengkapan Bayi
108 Bab 107. Musibah
109 Bab 108. Kembali Bermimpi
110 Bab 109. Pengakuan
111 Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112 Bab 110. Ali dan Tania
113 Bab 111. Penjelasan Zain
114 Bab 112. Baby Rayyanza
115 Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116 Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117 Bab 115. Keluarga Mahardika
118 Bab 116. Istana Tersembunyi
119 Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120 Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121 Bab 119. Merajuk
122 Bab 120. Datang untuk Melamar
123 Bab 121. Hadiah Pernikahan
124 Bab 122. Klub Malam
125 Bab 123. Permintaan Zahra
126 Bab 124. Sisi Lain Yitian
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2
Bab 2. Pengantin Pengganti
3
Bab 3. Mansion Utama
4
Bab 4. Perjanjian
5
Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6
Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7
Bab 7. Zahwa Sakit
8
Bab 8. Rencana Clarisa
9
Bab 9. Berita Menggemparkan
10
Bab 10. Kehamilan Clarisa
11
Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12
Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13
Bab 13. Kamar 305
14
Bab 14. Pertolongan
15
Bab 15. Kehancuran Zahra
16
Bab 16. Kepanikan Zain
17
Bab 17. Kemarahan Zain
18
Bab 18. Trauma Zahra
19
Bab 19. Berpisah
20
Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21
Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22
Bab 22. Anindya
23
Bab 23. Kedatangan Anindya
24
Bab 24. Rencana Zain
25
Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26
Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27
Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28
Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29
Bab 29. Pengakuan Zahra
30
Bab 30. Keluarga Athaillah
31
Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32
Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33
Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34
Bab 34. Merasa Dipermainkan
35
Bab 35. Tidur Seranjang
36
Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37
Bab 37. Ziya's House
38
Bab 38. Ziya's House 2
39
Bab 39. Manis Bagai Candu
40
Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41
Bab 41. Rencana Ny. Amara
42
Bab 42. Keluar dari Penjara
43
Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44
Bab 44. Harapan Ny. Amara
45
Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46
Bab 45. Keposesifan Zain
47
Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48
Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49
Bab 48. Syukuran
50
Bab 49. Malam Penuh Drama
51
Bab 50. Rencana Berkunjung
52
Bab 51. Godaan
53
Bab 52. Menahan Emosi
54
Bab 53. Terungkap
55
Bab 54. Drama Keluarga
56
Bab 55. Keputusan Akhir
57
Bab 56. Gelisah
58
Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59
Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60
Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61
Bab 60. Crazy Rich Man
62
Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63
Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64
Bab 63. Hu Yitian
65
Bab 64. Karantina
66
Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67
Bab 66. Melepas Rindu
68
Bab 67. Pergi
69
Bab 68. Salah Paham
70
Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71
Bab 70. Zhang Yang Zi
72
Bab 71. Keputusan Barra
73
Bab 72. Calon Menantu
74
Bab 73. Nasihat dari Paman
75
Bab 74. Kejutan
76
Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77
Bab 76. Tragedi
78
Bab 77. Kisah Yang Zi
79
Bab 78. Amarah Sang Kakak
80
Bab 79. Disneyland
81
Bab 80. Mengulang Pesta
82
Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83
Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84
Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85
Bab 84. Alun-Alun Kota
86
Bab 85. Pengakuan Barra
87
Bab 86. Pesta Pernikahan
88
Bab 87. Kekacauan
89
Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90
Bab 89. Malam Pesta
91
Bab 90. Cucu Kesayangan
92
Bab 91. Hanya Salah Paham
93
Bab 92. Retak
94
Bab 93. Tak Pernah Terencana
95
Bab 94. Luka dan Trauma
96
Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97
Bab 96. Gelisah
98
Bab 97. Bumil Muda
99
Bab 98. Orang Asing
100
Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101
Bab 100. Singa yang Posesif
102
Bab 101. Drama di Kantin
103
Bab 102. Ketakutan Zahra
104
Bab 103. Teman Baru
105
Bab 104. Teman Lama
106
Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107
Bab 106. Perlengkapan Bayi
108
Bab 107. Musibah
109
Bab 108. Kembali Bermimpi
110
Bab 109. Pengakuan
111
Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112
Bab 110. Ali dan Tania
113
Bab 111. Penjelasan Zain
114
Bab 112. Baby Rayyanza
115
Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116
Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117
Bab 115. Keluarga Mahardika
118
Bab 116. Istana Tersembunyi
119
Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120
Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121
Bab 119. Merajuk
122
Bab 120. Datang untuk Melamar
123
Bab 121. Hadiah Pernikahan
124
Bab 122. Klub Malam
125
Bab 123. Permintaan Zahra
126
Bab 124. Sisi Lain Yitian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!