Bab 11. Gara-gara Ramyeon

Sejak mendengar kabar kehamilan Clarisa, Ny. Amara memutuskan untuk tinggal di mansion utama, dan melarang Clarisa untuk bekerja di dunia model untuk sementara waktu.

Keesokan paginya Ny. Amara mengantar Clarisa ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya, Ny. Amara juga memaksa Zain untuk ikut bersama mereka.

“Bagaimana keadaan calon cucu saya, Dokter?” tanya Ny. Amara antusias.

“Janin Ny. Clarisa sehat, Ny. Amara. Usianya sudah memasuki 8 minggu dan saya sarankan Ny. Clarisa untuk menjaga kesehatan dan pola makannya.”

Wajah Ny. Amara berseri-seri setelah mendengar penjelasan dari dokter. Sedangkan Clarisa mengulaskan senyum lebarnya sambil sesekali tangannya mengusap perut ratanya.

Setelah selesai konsultasi dengan dokter, Ny. Amara izin pamit lalu diikuti Clarisa dan Zain di belakangnya.

Setelah keluar dari ruang praktik Dr. Obgyn, Zain menatap ke arah Barra yang menunggunya di depan pintu.

Barra yang mengerti dengan tugasnya kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut setelah kepergian tuan mudanya beserta kedua nyonyanya.

...*****...

Seminggu sudah Ny. Amara tinggal di mansion utama, semakin hari Clarisa semakin bersikap manja kepada ibu mertuanya, dengan senang hati Ny. Amara pun memenuhi setiap keinginan Clarisa.

Siang itu, Clarisa tiduran di ruang keluarga sambil menonton TV dengan meletakkan kepalanya di atas pangkuan ibu mertuanya.

“Mom, boleh aku meminta sesuatu?” tanya Clarisa dengan manja.

“Apa pun yang kamu inginkan, Sayang,” ucap Ny. Amara sambil membelai pelan kepala Clarisa yang berada di pangkuannya.

“Aku merasa tidak nyaman jika ada wanita lain di rumah ini, Mom.” Clarisa mengeluh dan memasang wajah sedihnya.

“Maksud kamu apa?” tanya Ny. Amara bingung.

“Aku merasa tidak nyaman serumah dengan wanita lain dari ayah anakku, Mom.” Clarisa mengerucutkan bibirnya.

“Hmm, maksud kamu Zahra?” tanya Ny. Amara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV di depannya.

“Iya, Mom.”

“Nanti mommy coba bicarakan dengan Zain, ya.”

Clarisa menyeringai tipis, tanpa diketahui oleh ibu mertuanya.

“Mom,” panggil Clarisa.

“Apa, Sayang?”

“Tiba-tiba aku ingin memakan masakan buatan Zahra.” Clarisa bangkit dari tidurnya, lalu duduk menghadap ibu mertuanya.

“Tapi Zahra kan masih di hukum oleh Zain.”

“Sekarang Zain melarang Zahra keluar dari rumah, Mom. Bukan melarangnya keluar dari kamar,” kilah Clarisa.

“Baiklah, mommy akan menyuruh Zahra memasak untuk kamu.” Ny. Amara mengalah, daripada harus membuat menantunya bersedih.

“Bi, panggilkan Zahra kemari!” perintah Ny. Amara kepada pelayan yang berada di ruangan itu.

“Baik, Nyonya.”

Pelayan itu pergi memanggil Zahra, tak lama kemudian Zahra datang dan diikuti oleh pelayan tadi di belakangnya.

“Mommy memanggilku?” tanya Zahra pelan setelah berada di dekat ibu mertuanya.

“Iya, kamu masakkan sesuatu buat Clarisa ya! Dia ingin makan masakanmu,” ucap Ny. Amara tanpa menatap ke arah Zahra.

“Baiklah, Mom.” Zahra beralih menatap ke arah Clarisa. “Mbak Clarisa ingin makan apa?”

Clarisa berpikir sejenak. “Ramyeon super pedas!”

“Kamu tidak boleh makan yang pedas-pedas, Sayang!” tegur Ny. Amara menatap ke arah Clarisa.

“Bukan aku yang menginginkannya, Mom. Tapi cucu Mommy.” Clarisa menunjukkan wajah memohonnya.

“Baiklah. Cepat kamu buatkan ramyeon super pedas untuk Clarisa, Zahra.”

“Baik, Mom.”

Zahra berjalan menuju dapur untuk membuat ramyeon pesanan Clarisa.

“Terima kasih, Mom.” Clarisa memeluk tubuh ibu mertuanya dan terlihat senyum menyeringai di wajahnya.

15 menit kemudian Zahra keluar dengan nampan berisi mangkuk dan segelas air di atasnya. Zahra meletakkan mangkuk berisi ramyeon itu di atas meja, terlihat uap panas mengepul dari mangkuk tersebut.

Clarisa mendekat ke arah mangkuk itu dengan wajah berbinar membuat Ny. Amara yang melihatnya tersenyum bahagia. Clarisa mencicipi kuah ramyeon tersebut dengan hati-hati karena masih panas.

Zahra pamit untuk kembali ke dalam kamarnya, namun tertahan oleh suara Clarisa.

“Tunggu!” cegah Clarisa.

“Ada apa lagi mbak?” tanya Zahra pelan.

“Aku sudah tidak menginginkan ramyeon ini,” ucap Clarisa memandang ke arah Zahra.

“Loh, bukannya tadi kamu yang menginginkannya?” tanya Ny. Amara dengan menautkan alisnya.

“Maaf, Mom. Tiba-tiba saja aku sudah tidak menginginkannya.” Clarisa menunduk sedih.

“Ya sudah jika kamu tidak mau memakannya, kembalikan saja ke dapur, Zahra.”

“Mom,” panggil Clarisa dengan suara mengiba.

Ny. Amara menoleh ke arah Clarisa. “Kamu menginginkan apa lagi, Sayang?”

“Aku ingin Zahra menghabiskan ramyeon ini, Mom.”

Zahra membulatkan matanya mendengar permintaan Clarisa.

“Tapi Mbak-”

“Anakku yang menginginkannya,” sela Clarisa sebelum Zahra menyelesaikan ucapannya.

“Ayolah, Zahra. Ini keinginan anaknya Clarisa, anak Zain dan akan menjadi anak kamu juga!” tegas Ny. Amara.

Dengan ragu Zahra mendekat dan mengangkat mangkuk itu untuk dibawa ke dapur.

“Aku ingin kamu makan di sini dan melihat langsung saat kamu makan ramyeon.”

Zahra terpaksa duduk di dekat Clarisa dan perlahan memakan ramyeon pedas itu.

Wajah Zahra memerah dengan keringat bercucuran di wajahnya. Sedangkan Clarisa menatapnya dengan senyum menyeringai tanpa disadari oleh siapa pun.

Malam harinya ketika semua orang sibuk dengan makanan masing-masing, tiba-tiba Zahra berdiri dan berlari meninggalkan meja makan membuat Zain murka.

“Zahra!” teriaknya namun tidak dipedulikan oleh Zahra.

Zain membanting sendoknya di atas piring. Ia menyudahi makannya karena perubahan suasana hatinya akibat perbuatan Zahra. Semua orang ikut menghentikan aktivitas makannya.

Zain bangkit dan melangkah lebar menuju kamar mandi di mana istri mudanya berlari masuk ke dalamnya.

“Zahra!” teriak Zain sambil menggedor-gedor pintu.

Lama Zain berdiri di depan pintu dan pintu pun terbuka.

“Zah-”

Brak!

Pintu kembali tertutup tepat di depan wajah Zain membuat tuan muda tersebut semakin murka.

“Dasar bocah! Gadis manja! Kurang ajar kamu ya!” maki Zain di depan pintu kamar mandi sambil menendang pintu itu.

Ny. Amara ternganga melihat kelakuan putranya yang seperti anak kecil sedang merajuk minta dibelikan mainan. Sedangkan Clarisa tampak mengulas senyum tipisnya.

Sedangkan Barra sudah terbiasa melihat tuan muda dinginnya akan bertingkah seperti orang yang kebakaran jenggot hanya karena nonanya, yaitu Zahra.

Zain kembali menendang keras pintu di depannya dan melangkah menuju lift khusus ke lantai 3.

“Suruh gadis itu ke ruanganku nanti!” perintahnya sebelum pintu lift tertutup sempurna.

Zahra duduk diam sambil menundukkan kepalanya di depan suaminya.

“Kamu tahu apa kesalahanmu?” tanya Zain menatap lekat gadis di depannya.

Zahra menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak tahu, Tuan.”

“Zahra!” bentak Zain membuat Zahra berjingkat karena terkejut.

“Ma-maaf, saya tadi meninggalkan meja makan.”

“Angkat wajahmu jika aku sedang bicara!” kesal Zain, entah mengapa dia selalu tidak bisa menahan emosinya jika bersangkutan dengan gadis di depannya itu.

Perlahan Zahra mengangkat wajahnya, tidak sengaja matanya langsung menatap mata suaminya.

Deg.

Zahra memalingkan wajahnya membuat Zain semakin kesal karenanya.

“Apa wajahku kurang tampan bagimu?” pertanyaan Zain lolos begitu saja dari mulutnya.

‘Bodoh! Pertanyaan macam apa itu, Zain. Memalukan!’ batin Zain merutuki kebodohannya sendiri.

“Ti-tidak, Tuan.”

“Tidak apa?” desak Zain membuat Zahra salah tingkah dibuatnya.

“Anda sangat tampan, Tuan,” ucap Zahra sangat lirih, membuat Zain menatapnya tajam.

“Kamu menga-”

“Maaf permisi, Tuan.”

Zahra berlari ke arah pintu keluar tanpa menunggu Zain menyelesaikan perkataannya.

“Zahra! Awas kamu ya!” kesal Zain.

Zahra masuk ke dalam sebuah pintu tanpa melihat sekelilingnya, ia mencari toilet karena perutnya yang terasa sakit.

“Apa yang kamu lakukan!” bentak Zain membuat tubuh Zahra yang baru saja keluar dari kamar itu membeku di tempat.

“Maaf, Tuan,” cicit Zahra dengan wajah pucat.

Zahra tidak tahu jika pintu yang dimasukinya adalah kamar pribadi suaminya, ia baru dua kali menginjakkan kakinya di lantai 3, itu pun hanya di ruang kerja suaminya. Zahra masuk begitu saja tanpa melihat sekelilingnya.

Terpopuler

Comments

Bunda Abizzan

Bunda Abizzan

Kasian Zahra, dasar Clarissa licik dan jahat..
Semangat Zahra..

Salam dari "Perjalanan Cinta Qonita"

2022-06-16

3

Bunda Abizzan

Bunda Abizzan

Ehem,, 😉

2022-06-16

1

Bunda Abizzan

Bunda Abizzan

Suatu saat kamu akan kena batunya

2022-06-16

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2 Bab 2. Pengantin Pengganti
3 Bab 3. Mansion Utama
4 Bab 4. Perjanjian
5 Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6 Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7 Bab 7. Zahwa Sakit
8 Bab 8. Rencana Clarisa
9 Bab 9. Berita Menggemparkan
10 Bab 10. Kehamilan Clarisa
11 Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12 Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13 Bab 13. Kamar 305
14 Bab 14. Pertolongan
15 Bab 15. Kehancuran Zahra
16 Bab 16. Kepanikan Zain
17 Bab 17. Kemarahan Zain
18 Bab 18. Trauma Zahra
19 Bab 19. Berpisah
20 Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21 Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22 Bab 22. Anindya
23 Bab 23. Kedatangan Anindya
24 Bab 24. Rencana Zain
25 Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26 Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27 Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28 Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29 Bab 29. Pengakuan Zahra
30 Bab 30. Keluarga Athaillah
31 Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32 Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33 Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34 Bab 34. Merasa Dipermainkan
35 Bab 35. Tidur Seranjang
36 Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37 Bab 37. Ziya's House
38 Bab 38. Ziya's House 2
39 Bab 39. Manis Bagai Candu
40 Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41 Bab 41. Rencana Ny. Amara
42 Bab 42. Keluar dari Penjara
43 Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44 Bab 44. Harapan Ny. Amara
45 Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46 Bab 45. Keposesifan Zain
47 Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48 Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49 Bab 48. Syukuran
50 Bab 49. Malam Penuh Drama
51 Bab 50. Rencana Berkunjung
52 Bab 51. Godaan
53 Bab 52. Menahan Emosi
54 Bab 53. Terungkap
55 Bab 54. Drama Keluarga
56 Bab 55. Keputusan Akhir
57 Bab 56. Gelisah
58 Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59 Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60 Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61 Bab 60. Crazy Rich Man
62 Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63 Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64 Bab 63. Hu Yitian
65 Bab 64. Karantina
66 Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67 Bab 66. Melepas Rindu
68 Bab 67. Pergi
69 Bab 68. Salah Paham
70 Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71 Bab 70. Zhang Yang Zi
72 Bab 71. Keputusan Barra
73 Bab 72. Calon Menantu
74 Bab 73. Nasihat dari Paman
75 Bab 74. Kejutan
76 Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77 Bab 76. Tragedi
78 Bab 77. Kisah Yang Zi
79 Bab 78. Amarah Sang Kakak
80 Bab 79. Disneyland
81 Bab 80. Mengulang Pesta
82 Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83 Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84 Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85 Bab 84. Alun-Alun Kota
86 Bab 85. Pengakuan Barra
87 Bab 86. Pesta Pernikahan
88 Bab 87. Kekacauan
89 Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90 Bab 89. Malam Pesta
91 Bab 90. Cucu Kesayangan
92 Bab 91. Hanya Salah Paham
93 Bab 92. Retak
94 Bab 93. Tak Pernah Terencana
95 Bab 94. Luka dan Trauma
96 Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97 Bab 96. Gelisah
98 Bab 97. Bumil Muda
99 Bab 98. Orang Asing
100 Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101 Bab 100. Singa yang Posesif
102 Bab 101. Drama di Kantin
103 Bab 102. Ketakutan Zahra
104 Bab 103. Teman Baru
105 Bab 104. Teman Lama
106 Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107 Bab 106. Perlengkapan Bayi
108 Bab 107. Musibah
109 Bab 108. Kembali Bermimpi
110 Bab 109. Pengakuan
111 Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112 Bab 110. Ali dan Tania
113 Bab 111. Penjelasan Zain
114 Bab 112. Baby Rayyanza
115 Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116 Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117 Bab 115. Keluarga Mahardika
118 Bab 116. Istana Tersembunyi
119 Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120 Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121 Bab 119. Merajuk
122 Bab 120. Datang untuk Melamar
123 Bab 121. Hadiah Pernikahan
124 Bab 122. Klub Malam
125 Bab 123. Permintaan Zahra
126 Bab 124. Sisi Lain Yitian
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2
Bab 2. Pengantin Pengganti
3
Bab 3. Mansion Utama
4
Bab 4. Perjanjian
5
Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6
Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7
Bab 7. Zahwa Sakit
8
Bab 8. Rencana Clarisa
9
Bab 9. Berita Menggemparkan
10
Bab 10. Kehamilan Clarisa
11
Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12
Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13
Bab 13. Kamar 305
14
Bab 14. Pertolongan
15
Bab 15. Kehancuran Zahra
16
Bab 16. Kepanikan Zain
17
Bab 17. Kemarahan Zain
18
Bab 18. Trauma Zahra
19
Bab 19. Berpisah
20
Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21
Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22
Bab 22. Anindya
23
Bab 23. Kedatangan Anindya
24
Bab 24. Rencana Zain
25
Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26
Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27
Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28
Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29
Bab 29. Pengakuan Zahra
30
Bab 30. Keluarga Athaillah
31
Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32
Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33
Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34
Bab 34. Merasa Dipermainkan
35
Bab 35. Tidur Seranjang
36
Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37
Bab 37. Ziya's House
38
Bab 38. Ziya's House 2
39
Bab 39. Manis Bagai Candu
40
Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41
Bab 41. Rencana Ny. Amara
42
Bab 42. Keluar dari Penjara
43
Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44
Bab 44. Harapan Ny. Amara
45
Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46
Bab 45. Keposesifan Zain
47
Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48
Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49
Bab 48. Syukuran
50
Bab 49. Malam Penuh Drama
51
Bab 50. Rencana Berkunjung
52
Bab 51. Godaan
53
Bab 52. Menahan Emosi
54
Bab 53. Terungkap
55
Bab 54. Drama Keluarga
56
Bab 55. Keputusan Akhir
57
Bab 56. Gelisah
58
Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59
Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60
Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61
Bab 60. Crazy Rich Man
62
Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63
Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64
Bab 63. Hu Yitian
65
Bab 64. Karantina
66
Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67
Bab 66. Melepas Rindu
68
Bab 67. Pergi
69
Bab 68. Salah Paham
70
Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71
Bab 70. Zhang Yang Zi
72
Bab 71. Keputusan Barra
73
Bab 72. Calon Menantu
74
Bab 73. Nasihat dari Paman
75
Bab 74. Kejutan
76
Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77
Bab 76. Tragedi
78
Bab 77. Kisah Yang Zi
79
Bab 78. Amarah Sang Kakak
80
Bab 79. Disneyland
81
Bab 80. Mengulang Pesta
82
Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83
Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84
Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85
Bab 84. Alun-Alun Kota
86
Bab 85. Pengakuan Barra
87
Bab 86. Pesta Pernikahan
88
Bab 87. Kekacauan
89
Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90
Bab 89. Malam Pesta
91
Bab 90. Cucu Kesayangan
92
Bab 91. Hanya Salah Paham
93
Bab 92. Retak
94
Bab 93. Tak Pernah Terencana
95
Bab 94. Luka dan Trauma
96
Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97
Bab 96. Gelisah
98
Bab 97. Bumil Muda
99
Bab 98. Orang Asing
100
Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101
Bab 100. Singa yang Posesif
102
Bab 101. Drama di Kantin
103
Bab 102. Ketakutan Zahra
104
Bab 103. Teman Baru
105
Bab 104. Teman Lama
106
Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107
Bab 106. Perlengkapan Bayi
108
Bab 107. Musibah
109
Bab 108. Kembali Bermimpi
110
Bab 109. Pengakuan
111
Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112
Bab 110. Ali dan Tania
113
Bab 111. Penjelasan Zain
114
Bab 112. Baby Rayyanza
115
Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116
Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117
Bab 115. Keluarga Mahardika
118
Bab 116. Istana Tersembunyi
119
Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120
Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121
Bab 119. Merajuk
122
Bab 120. Datang untuk Melamar
123
Bab 121. Hadiah Pernikahan
124
Bab 122. Klub Malam
125
Bab 123. Permintaan Zahra
126
Bab 124. Sisi Lain Yitian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!