Sejak mendengar kabar kehamilan Clarisa, Ny. Amara memutuskan untuk tinggal di mansion utama, dan melarang Clarisa untuk bekerja di dunia model untuk sementara waktu.
Keesokan paginya Ny. Amara mengantar Clarisa ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya, Ny. Amara juga memaksa Zain untuk ikut bersama mereka.
“Bagaimana keadaan calon cucu saya, Dokter?” tanya Ny. Amara antusias.
“Janin Ny. Clarisa sehat, Ny. Amara. Usianya sudah memasuki 8 minggu dan saya sarankan Ny. Clarisa untuk menjaga kesehatan dan pola makannya.”
Wajah Ny. Amara berseri-seri setelah mendengar penjelasan dari dokter. Sedangkan Clarisa mengulaskan senyum lebarnya sambil sesekali tangannya mengusap perut ratanya.
Setelah selesai konsultasi dengan dokter, Ny. Amara izin pamit lalu diikuti Clarisa dan Zain di belakangnya.
Setelah keluar dari ruang praktik Dr. Obgyn, Zain menatap ke arah Barra yang menunggunya di depan pintu.
Barra yang mengerti dengan tugasnya kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut setelah kepergian tuan mudanya beserta kedua nyonyanya.
...*****...
Seminggu sudah Ny. Amara tinggal di mansion utama, semakin hari Clarisa semakin bersikap manja kepada ibu mertuanya, dengan senang hati Ny. Amara pun memenuhi setiap keinginan Clarisa.
Siang itu, Clarisa tiduran di ruang keluarga sambil menonton TV dengan meletakkan kepalanya di atas pangkuan ibu mertuanya.
“Mom, boleh aku meminta sesuatu?” tanya Clarisa dengan manja.
“Apa pun yang kamu inginkan, Sayang,” ucap Ny. Amara sambil membelai pelan kepala Clarisa yang berada di pangkuannya.
“Aku merasa tidak nyaman jika ada wanita lain di rumah ini, Mom.” Clarisa mengeluh dan memasang wajah sedihnya.
“Maksud kamu apa?” tanya Ny. Amara bingung.
“Aku merasa tidak nyaman serumah dengan wanita lain dari ayah anakku, Mom.” Clarisa mengerucutkan bibirnya.
“Hmm, maksud kamu Zahra?” tanya Ny. Amara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV di depannya.
“Iya, Mom.”
“Nanti mommy coba bicarakan dengan Zain, ya.”
Clarisa menyeringai tipis, tanpa diketahui oleh ibu mertuanya.
“Mom,” panggil Clarisa.
“Apa, Sayang?”
“Tiba-tiba aku ingin memakan masakan buatan Zahra.” Clarisa bangkit dari tidurnya, lalu duduk menghadap ibu mertuanya.
“Tapi Zahra kan masih di hukum oleh Zain.”
“Sekarang Zain melarang Zahra keluar dari rumah, Mom. Bukan melarangnya keluar dari kamar,” kilah Clarisa.
“Baiklah, mommy akan menyuruh Zahra memasak untuk kamu.” Ny. Amara mengalah, daripada harus membuat menantunya bersedih.
“Bi, panggilkan Zahra kemari!” perintah Ny. Amara kepada pelayan yang berada di ruangan itu.
“Baik, Nyonya.”
Pelayan itu pergi memanggil Zahra, tak lama kemudian Zahra datang dan diikuti oleh pelayan tadi di belakangnya.
“Mommy memanggilku?” tanya Zahra pelan setelah berada di dekat ibu mertuanya.
“Iya, kamu masakkan sesuatu buat Clarisa ya! Dia ingin makan masakanmu,” ucap Ny. Amara tanpa menatap ke arah Zahra.
“Baiklah, Mom.” Zahra beralih menatap ke arah Clarisa. “Mbak Clarisa ingin makan apa?”
Clarisa berpikir sejenak. “Ramyeon super pedas!”
“Kamu tidak boleh makan yang pedas-pedas, Sayang!” tegur Ny. Amara menatap ke arah Clarisa.
“Bukan aku yang menginginkannya, Mom. Tapi cucu Mommy.” Clarisa menunjukkan wajah memohonnya.
“Baiklah. Cepat kamu buatkan ramyeon super pedas untuk Clarisa, Zahra.”
“Baik, Mom.”
Zahra berjalan menuju dapur untuk membuat ramyeon pesanan Clarisa.
“Terima kasih, Mom.” Clarisa memeluk tubuh ibu mertuanya dan terlihat senyum menyeringai di wajahnya.
15 menit kemudian Zahra keluar dengan nampan berisi mangkuk dan segelas air di atasnya. Zahra meletakkan mangkuk berisi ramyeon itu di atas meja, terlihat uap panas mengepul dari mangkuk tersebut.
Clarisa mendekat ke arah mangkuk itu dengan wajah berbinar membuat Ny. Amara yang melihatnya tersenyum bahagia. Clarisa mencicipi kuah ramyeon tersebut dengan hati-hati karena masih panas.
Zahra pamit untuk kembali ke dalam kamarnya, namun tertahan oleh suara Clarisa.
“Tunggu!” cegah Clarisa.
“Ada apa lagi mbak?” tanya Zahra pelan.
“Aku sudah tidak menginginkan ramyeon ini,” ucap Clarisa memandang ke arah Zahra.
“Loh, bukannya tadi kamu yang menginginkannya?” tanya Ny. Amara dengan menautkan alisnya.
“Maaf, Mom. Tiba-tiba saja aku sudah tidak menginginkannya.” Clarisa menunduk sedih.
“Ya sudah jika kamu tidak mau memakannya, kembalikan saja ke dapur, Zahra.”
“Mom,” panggil Clarisa dengan suara mengiba.
Ny. Amara menoleh ke arah Clarisa. “Kamu menginginkan apa lagi, Sayang?”
“Aku ingin Zahra menghabiskan ramyeon ini, Mom.”
Zahra membulatkan matanya mendengar permintaan Clarisa.
“Tapi Mbak-”
“Anakku yang menginginkannya,” sela Clarisa sebelum Zahra menyelesaikan ucapannya.
“Ayolah, Zahra. Ini keinginan anaknya Clarisa, anak Zain dan akan menjadi anak kamu juga!” tegas Ny. Amara.
Dengan ragu Zahra mendekat dan mengangkat mangkuk itu untuk dibawa ke dapur.
“Aku ingin kamu makan di sini dan melihat langsung saat kamu makan ramyeon.”
Zahra terpaksa duduk di dekat Clarisa dan perlahan memakan ramyeon pedas itu.
Wajah Zahra memerah dengan keringat bercucuran di wajahnya. Sedangkan Clarisa menatapnya dengan senyum menyeringai tanpa disadari oleh siapa pun.
Malam harinya ketika semua orang sibuk dengan makanan masing-masing, tiba-tiba Zahra berdiri dan berlari meninggalkan meja makan membuat Zain murka.
“Zahra!” teriaknya namun tidak dipedulikan oleh Zahra.
Zain membanting sendoknya di atas piring. Ia menyudahi makannya karena perubahan suasana hatinya akibat perbuatan Zahra. Semua orang ikut menghentikan aktivitas makannya.
Zain bangkit dan melangkah lebar menuju kamar mandi di mana istri mudanya berlari masuk ke dalamnya.
“Zahra!” teriak Zain sambil menggedor-gedor pintu.
Lama Zain berdiri di depan pintu dan pintu pun terbuka.
“Zah-”
Brak!
Pintu kembali tertutup tepat di depan wajah Zain membuat tuan muda tersebut semakin murka.
“Dasar bocah! Gadis manja! Kurang ajar kamu ya!” maki Zain di depan pintu kamar mandi sambil menendang pintu itu.
Ny. Amara ternganga melihat kelakuan putranya yang seperti anak kecil sedang merajuk minta dibelikan mainan. Sedangkan Clarisa tampak mengulas senyum tipisnya.
Sedangkan Barra sudah terbiasa melihat tuan muda dinginnya akan bertingkah seperti orang yang kebakaran jenggot hanya karena nonanya, yaitu Zahra.
Zain kembali menendang keras pintu di depannya dan melangkah menuju lift khusus ke lantai 3.
“Suruh gadis itu ke ruanganku nanti!” perintahnya sebelum pintu lift tertutup sempurna.
Zahra duduk diam sambil menundukkan kepalanya di depan suaminya.
“Kamu tahu apa kesalahanmu?” tanya Zain menatap lekat gadis di depannya.
Zahra menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak tahu, Tuan.”
“Zahra!” bentak Zain membuat Zahra berjingkat karena terkejut.
“Ma-maaf, saya tadi meninggalkan meja makan.”
“Angkat wajahmu jika aku sedang bicara!” kesal Zain, entah mengapa dia selalu tidak bisa menahan emosinya jika bersangkutan dengan gadis di depannya itu.
Perlahan Zahra mengangkat wajahnya, tidak sengaja matanya langsung menatap mata suaminya.
Deg.
Zahra memalingkan wajahnya membuat Zain semakin kesal karenanya.
“Apa wajahku kurang tampan bagimu?” pertanyaan Zain lolos begitu saja dari mulutnya.
‘Bodoh! Pertanyaan macam apa itu, Zain. Memalukan!’ batin Zain merutuki kebodohannya sendiri.
“Ti-tidak, Tuan.”
“Tidak apa?” desak Zain membuat Zahra salah tingkah dibuatnya.
“Anda sangat tampan, Tuan,” ucap Zahra sangat lirih, membuat Zain menatapnya tajam.
“Kamu menga-”
“Maaf permisi, Tuan.”
Zahra berlari ke arah pintu keluar tanpa menunggu Zain menyelesaikan perkataannya.
“Zahra! Awas kamu ya!” kesal Zain.
Zahra masuk ke dalam sebuah pintu tanpa melihat sekelilingnya, ia mencari toilet karena perutnya yang terasa sakit.
“Apa yang kamu lakukan!” bentak Zain membuat tubuh Zahra yang baru saja keluar dari kamar itu membeku di tempat.
“Maaf, Tuan,” cicit Zahra dengan wajah pucat.
Zahra tidak tahu jika pintu yang dimasukinya adalah kamar pribadi suaminya, ia baru dua kali menginjakkan kakinya di lantai 3, itu pun hanya di ruang kerja suaminya. Zahra masuk begitu saja tanpa melihat sekelilingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Bunda Abizzan
Kasian Zahra, dasar Clarissa licik dan jahat..
Semangat Zahra..
Salam dari "Perjalanan Cinta Qonita"
2022-06-16
3
Bunda Abizzan
Ehem,, 😉
2022-06-16
1
Bunda Abizzan
Suatu saat kamu akan kena batunya
2022-06-16
1