Keesokan paginya, Zahra pergi ke kampus dengan menenteng kotak makan untuk bekalnya siang nanti. Ia berencana untuk makan di taman belakang dari pada harus bolak balik pergi ke kantin, hitung-hitung berhemat.
Zahra berjalan memasuki lobi kampus yang ramai dengan mahasiswa yang sibuk bermain dengan ponsel masing-masing dan saling berbincang dengan teman di sebelahnya.
Namun ketika Zahra tiba di sana, mendadak semua mahasiswa saling berbisik dan menatap ke arahnya dengan tatapan menghina.
“Dasar pelakor!” seru seorang mahasiswa.
“Wanita kotor!”
“Tidak disangka, wajahnya terlihat sangat polos tapi kelakuannya begitu hina.”
“Makanya jangan tertipu dengan penampilan luarnya saja!” timpal mahasiswa lainnya.
“Percuma wajah cantik! Tapi perebut suami orang!”
Begitu banyak cacian dan hinaan yang keluarkan dari mulut mahasiswa di lobi kepada Zahra. Namun, Zahra yang tidak tahu bahwa dirinyalah sasaran mereka hanya cuek dan melanjutkan langkahnya.
Baru beberapa langkah Zahra berjalan, seorang wanita dengan pakaian sexy menarik lengannya dengan kasar membuat Zahra terhuyung ke belakang beberapa langkah.
“Hei cewek pelakor! Masih berani lo tunjukkan wajah lo di tempat ini?” tanya wanita sexy itu dengan suara tinggi.
“Apa maksud kamu?” tanya Zahra bingung.
“Jangan pura-pura bego, lo! Lo suka kan, menggoda cowok orang lain?” tanyanya dengan sinis.
Zahra semakin dibuat bingung, apalagi semua mahasiswa di sana sudah berkerumun melihat keributan itu.
“Lo lihat ini!” ucapnya sambil memberikan ponsel miliknya.
Zahra melebarkan matanya, ia kaget melihat beberapa foto yang memperlihatkan dirinya sedang berduaan dengan seorang pria, bahkan terlihat sangat intim. Setiap gambar foto memperlihatkan dirinya dengan pria yang berbeda-beda, Zahra tidak mengenal satu pun pria di dalam foto tersebut.
Wanita sexy itu kembali merebut ponselnya dengan kasar, dan memberikannya kembali kepada Zahra setelah beberapa saat ia mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
Zahra semakin terkejut melihat berita pagi ini disalah-satu situs web dengan berbagai judul yang menyebutnya sebagai perebut suami seorang model terkenal, ada pula yang mengatakan bahwa Zahra rela menggoda tuan muda kaya demi hartanya.
“Itu tidak benar!” teriak Zahra.
Semua mahasiswa di sana semakin menghina dan memojokkannya, apalagi dengan kehadiran wanita sexy itu yang sengaja membuat suasana di sana menjadi semakin panas. Wanita sexy itu juga yang menghasut para mahasiswa di sana.
Tubuh Zahra terasa lemas, semua suara teriakan di sekitarnya terdengar saling bertabrakan dan kacau di telinganya, membuat kepalanya semakin pusing dengan pandangan yang berkunang-kunang.
Di saat pandangannya mengabur karena matanya yang sudah berkaca-kaca, tiba-tiba seorang wanita masuk ke dalam gerombolan itu.
“STOP! BERHENTI KALIAN SEMUA!” teriaknya lalu menghampiri Zahra dan menghempaskan tubuh wanita berpakaian sexy yang berdiri berkacak pinggang di depan Zahra dengan kencang.
“Apa-apaan kalian semua! Jangan menghakimi seseorang jika belum mengetahui kebenarannya!” teriaknya dengan lantang membuat mereka semua seketika terdiam.
Wanita berpakaian sexy itu terlihat mencebikkan bibirnya tidak suka karena ada yang mengganggu aksinya.
“Siapa lo, berani-beraninya mendorong gue?” tanya wanita sexy itu dengan wajah merah penuh amarah.
“Gue sahabatnya! Mau apa lo? Lo nggak tahu permasalahannya jangan asal menuduh!” seru Rara.
“Buka mata lo! Cewek nggak bener kaya dia lo jadikan sahabat?” Cewek sexy itu tersenyum mengejek ke arah Rara.
Plak!
Rara melayangkan sebuah tamparan ke pipi wanita itu.
“Jaga omongan lo ya!” seru Rara dengan wajah memerah.
“Ra, sudah jangan terbawa emosi,” ucap Zahra dan menahan lengan Rara.
“Dia pantas mendapatkan itu, Za! Lo nggak seperti yang mereka tuduhkan!”
“Sudahlah, Ra. Jangan dipermasalahkan.”
“Wow! Ada tontonan seru nih!” teriak seorang pria keluar dari kerumunan mahasiswa.
“Sayang!” panggil Rara lalu menarik tangan pria itu.
Bastian melirik ke arah Zahra dan Zahra memalingkan wajahnya. Ia masih teringat kejadian malam itu, malam di mana ia hampir dilecehkan oleh pria di depannya, kekasih sahabatnya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Bastian kepada Rara pura-pura tidak tahu.
“Mereka semua menuduh yang tidak-tidak kepada Zahwa!” Rara menunjuk semua orang dengan jarinya, ia mencoba mencari pembelaan dari kekasihnya.
“Memang mereka menuduh apa?” Bastian berbicara kepada Rara namun matanya melirik ke arah Zahra.
“Masa Zahwa dibilang pelakor, dan wanita tidak benar.” Rara menjelaskan dan tetap menyebut nama sahabatnya dengan panggilan Zahwa.
“Kenapa kamu marah jika mereka mengatakan yang sebenarnya?” tanya Bastian membuat wanita sexy di sebelahnya mengulas senyum menyeringai.
Rara menautkan alisnya bingung. “Apa maksud kamu?”
“Kamu tanyakan saja kepadanya!” Bastian menunjuk ke arah Zahra.
Semua orang terdiam, merasa tegang dan menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Zahra.
Zahra menggelengkan kepalanya, wajahnya semakin pucat. Bastian pasti memiliki dendam kepadanya karena kejadian malam itu.
Rara memutar tubuhnya menghadap Zahra. “Apa semua berita itu benar, Za?”
“Tidak, Ra. Aku berani bersumpah, semua itu bohong. Foto-foto itu bohong, Ra!” Zahra meraih tangan Rara mencoba meyakinkan sahabatnya.
“Dia bohong, Sayang! Kamu harus hati-hati dengannya!” seru Bastian semakin membuat suasana semakin tegang.
Rara menatap ke arah kekasihnya dan sahabatnya secara bergantian. Hatinya bimbang antara memilih siapa yang harus ia percaya.
“Kamu tidak percaya, Sayang? Kamu masih ingat malam pesta ketika kamu menyuruhku untuk mengantarkannya pulang?” tanya Bastian tenang.
Rara menganggukkan kepalanya.
“Aku mengantarkannya ke hotel! Dia ada janji sama om-om langganannya!” Bastian sengaja menaikkan suaranya agar terdengar oleh gerombolan mahasiswa itu.
Rara menutup mulutnya dengan kedua tangannya, begitu pun seluruh mahasiswa di sana yang merasa tidak percaya namun ditepis dengan adanya bukti yang ada serta di tambah dengan pengakuan dari Bastian sebagai penguat.
“Bahkan di dalam mobil wanita itu mencoba merayuku dan mengajak check in hotel,” imbuh Bastian.
“Tidak, Ra! Dia berbohong! Aku tidak pernah melakukan itu!” Zahra menyangkal ucapan Bastian, dia tidak pernah melakukan semua yang dituduhkan Bastian kepadanya.
“Za!” Rara menatap lekat wajah Zahra.
Zahra menggeleng kencang, menarik napas panjang, suaranya tercekat di tenggorokannya. Sebutir air mata jatuh membasahi pipinya.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Zahra membuatnya tersentak. Zahra menatap nanar ke arah sahabatnya. Zahra memegang pipinya yang terasa perih dan memerah.
“Ra ...,” ucap Zahra parau.
“Gue nggak menyangka kelakuan lo serendah ini, Za!” seru Rara dengan tatapan mata penuh kekecewaan kepada Zahra.
“Ra, kamu salah paham.” Zahra meraih tangan sahabatnya namun dengan cepat di tepis oleh Rara.
“Mulai sekarang, lo bukan lagi sahabat gue! Anggap kita nggak pernah kenal!” tegas Rara lalu membalikkan tubuhnya.
Rara meraih tangan kekasihnya dan berjalan meninggalkan Zahra yang terpaku di tempat.
Sedangkan Wanita sexy itu diam-diam melangkah menjauh dari kerumunan mahasiswa dengan senyum puas mengembang di bibirnya.
Tubuh Zahra merosot ke lantai, menjatuhkan kotak makan yang sedari tadi berada ditangannya. tubuhnya bergetar, tangis yang ia tahan seketika pecah begitu saja.
Satu persatu mahasiswa menjauh meninggalkan Zahra dengan berbagai umpatan yang terlontar untuk Zahra.
Di tempat lain, Zain yang baru masuk ke dalam ruangannya melihat ada sebuah amplop coklat tanpa nama pengirimnya tergeletak di atas meja kerjanya. Zain meraih amplop tersebut dan mengamatinya.
Zain duduk di kursi kebesarannya dan perlahan membuka amplop tersebut.
Mata Zain membola melihat isi amplop itu, rahangnya mengeras dengan wajah yang memerah.
Zain meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Cepat datang ke ruanganku!”
Zain mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban dari seseorang di seberang telepon.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Rini Musrini
idih bastian jd kompor bleduk karena d tolak zahra .
2022-09-29
2
Senajudifa
bastian lg jd kompornya
2022-06-28
1
Ranran Miura
cinta boleh, tapi jangan bego 😤
2022-06-25
3