Zahwa masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Ia melupakan peraturan di rumah itu yang melarang setiap penghuni di lantai dua untuk mengunci kamar di malam hari.
Zahwa melempar tasnya ke sembarang arah dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas kasur tanpa melepas sepatu dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Zahwa membenamkan wajahnya di atas bantal dan terisak menyayat hati meluapkan segala rasa yang menyesakkan dadanya. Kedua tangannya mencengkeram erat pada sisi bantal.
Suara teriakan dari luar kamarnya dan gedoran pada pintu kamarnya tidak membuat Zahwa terusik.
Di luar kamar, Zain mengamuk karena tidak bisa membuka kamar istri mudanya.
“Dasar bocah! Berani kamu melanggar peraturan rumah ini!” teriak Zain sembari kakinya menendang pintu di depanya berkali-kali.
Semua penghuni di rumah besar menunduk takut tidak ada yang berani mendekat, mereka belum pernah melihat tuan muda mereka semarah ini.
Bi Nur datang dan mendekat ke arah Zain. “Permisi tuan muda, biar saya buka pintunya.”
Zain melangkah mundur memberi ruang untuk bi Nur membukakan pintu.
Ceklek.
Dengan tidak sabar Zain membuka kasar pintu kamar Zahwa, ia melangkah masuk dan membanting pintu itu.
Brak!
Semua pelayan tersentak kaget, pun bi Nur yang tepat berada di depan pintu. Namun Zain tidak memedulikan hal itu, yang dia pedulikan hanya ingin segera menemui istri mudanya.
“Zahra!”
Zain berdiri tepat di sisi ranjang, ia pandangi tubuh istrinya yang tengkurap dengan punggung yang bergerak pelan naik turun seirama tarikan napasnya.
Zain menekuk satu lututnya dan menaikkannya ke atas kasur. Tangannya meraih tubuh istrinya dan dengan kasar membaliknya sehingga terlihat jelas wajah Zahwa.
Deg.
Zain membeku, wajahnya yang semula memerah karena amarah perlahan memudar, ia tatap lekat wajah istrinya yang terlihat kacau dan menyedihkan.
Entah perasaan apa yang Zain rasakan, ada sesak di dalam dadanya ketika melihat wajah pucat Zahwa yang memerah karena menangis dengan mata sembab yang terpejam, hidung merah, rambut acak-acakan dan sisa air mata di kedua pipinya.
Zain naik ke atas kasur dan duduk di samping istrinya, tanpa berkedip Zain menatap wajah Zahwa dan mulai membelai wajah itu dengan perlahan.
“Siapa yang berani membuatmu menangis, gadis kecil?” tanya Zain lirih.
Zain turun dari ranjang lalu melepaskan sepatu yang masih menempel di kaki Zahwa. Ia melangkahkan kakinya menuju walk in closed, mengambil pakaian untuk istrinya dan membantu menggantikan pakaian Zahwa dengan pelan agar tidak mengusik tidurnya.
Zain mengernyitkan wajahnya ketika mengganti pakaian istri mudanya, banyak pertanyaan muncul di kepalanya. ia memutuskan untuk bermalam di kamar Zahwa, ini baru pertama kalinya ia tidur di kamar istri mudanya.
Zain membenarkan posisi Zahwa tidur dan menarik selimut menutupi tubuh kecil istrinya, kemudian ia membaringkan tubuhnya di samping istri mudanya.
...*****...
Waktu menunjukkan pukul 04.00, Zain keluar dari kamar Zahwa dan berpapasan dengan Clarisa yang baru pulang dari pekerjaannya.
Tanpa menatap ke arah istri pertamanya, Zain melangkahkan kakinya menuju anak tangga.
“Kenapa kamu keluar dari kamar Zahwa?” tanya Clarisa dengan nada kesal karena suaminya mengacuhkan keberadaannya.
“Urus saja urusanmu! Jangan ikut campur dalam kehidupanku,” ucap Zain dengan datar lalu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai tiga.
Clarisa menatap punggung suaminya lalu beralih ke arah pintu kamar Zahwa, ia mengentakkan kakinya dan melangkah menuju kamarnya.
Ketika sarapan di meja makan, Zain tidak menemukan keberadaan istri mudanya.
“Di mana Zahra, Bi?” tanya Zain kepada bi Nur.
“Nyonya belum keluar dari kamarnya, Tuan.”
Zain berdiri meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat semua orang memandang heran ke arahnya.
Zain melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Zahwa dan masuk ke dalamnya. Ia mendekat ke tempat tidur dan melihat wajah istrinya yang masih terlihat pucat.
“Apa kamu tidak ingin bangun, gadis manja?” tanya Zain namun kali ini dengan nada sedikit rendah.
Tak mendapat jawaban dari istrinya, Zain mendekat dan duduk di tepi kasur, tangannya menyentuh dahi istrinya dan terasa panas.
“Barra!” teriak Zain dengan lantang hingga terdengar dari lantai bawah.
Mendengar teriakan tuan muda mereka, semua orang yang berada di ruang makan bergegas menuju ke arah sumber suara.
“Ada apa, Tuan?” tanya Barra setelah masuk ke dalam kamar Zahwa disusul oleh Ny. Amara dan Clarisa di belakangnya.
“Cepat panggil dokter!” seru Zain tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah istri mudanya.
Barra dengan cekatan langsung memanggil dokter keluarga menggunakan ponselnya.
“15 menit lagi Dr. Agam akan tiba di mansion, Tuan.”
“Apa tidak bisa lebih cepat?” tanya Zain dengan wajah khawatir.
Barra hanya diam tidak menjawab pertanyaan tuan mudanya, 15 menit sudah termasuk waktu paling cepat. Jarak mansion dari jalan kota saja membutuhkan waktu sekitar 10 menit, apalagi ini masih pagi. Kemungkinan dokter itu masih bersantai sarapan dengan keluarganya, tapi karena berurusan dengan tuan mudanya, semua orang pasti tidak akan membuang waktu dan mencari masalah dengannya.
“Kamu tenang saja Zain, Zahwa pasti baik-baik saja.” Ny. Amara mencoba menenangkan putranya, belum pernah ia melihat putranya merasa khawatir dan peduli terhadap orang lain.
Sedangkan Clarisa mencebikkan bibirnya dan menatap tidak suka ke arah madunya yang tengah berbaring di atas kasur ditemani suaminya di sampingnya.
“Apa Zahwa sedang hamil Zain?” tanya Ny. Amara dengan mata berbinar.
Semua pasang mata menatap ke arah Ny. Amara dengan pandangan yang berbeda-beda.
“Belum, Mom,” jawab Zain datar.
“Kita tunggu saja dokter datang untuk memastikannya.” Ny. Amara tetap dengan harapannya.
‘Jangan sampai wanita itu hamil. Aku tidak akan membiarkannya,’ ucap Clarisa dalam hati.
Tidak lama kemudian Dr. Agam datang dan mulai memeriksa keadaan Zahwa.
“Bagaimana keadaan menantu saya, Dokter?” tanya Ny. Amara antusias.
“Nyonya Zahwa baik-baik saja, dia hanya demam, setelah meminum obat dan cukup istirahat Ny. Zahwa akan segera membaik.” Dr. Agam menjelaskan.
“Lalu janinnya bagaimana, Dokter?”
Dr. Agam menautkan alisnya. “Maaf, maksud Anda apa, Nyonya?”
“Menantu saya hamil kan, Dokter?”
“Maaf Nyonya, sepertinya menantu Anda belum ada tanda-tanda kehamilan.”
Wajah Ny. Amara berubah menjadi murung, berbeda dengan Clarisa yang diam-diam tersenyum senang dengan kabar itu.
Barra mengantar Dr. Agam ke ruang kerja Zain untuk membicarakan sesuatu. Mereka keluar dari kamar Zahwa diikuti oleh Clarisa.
“Mommy tunggu kabar baik darimu, Zain! Jangan membuat mommy menunggu terlalu lama!” ucap Ny. Amara sebelum menghilang dibalik pintu.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!”
Pintu kamar Zahwa kembali terbuka, masuklah bi Nur yang sebelumnya sudah diminta untuk datang ke kamar Zahwa.
“Apakah Tuan memanggil saya?”
“Jaga Zahra! Jangan biarkan siapa pun mengusik tidurnya. Aku akan kembali lagi nanti.”
“Baik, Tuan.”
Zain meninggalkan kamar Zahwa dan pergi ke ruang kerjanya.
“Apa yang ingin Anda sampaikan dokter agam?” tanya Zain setelah mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
“Maaf, Tuan Zain. Apakah sebelumnya ada sesuatu yang terjadi kepada Ny. Zahwa?” tanya Dr. Agam pelan.
Zain menautkan alisnya, ia sejenak berpikir mencerna pertanyaan dai Dr. Agam. Lalu Zain menceritakan kejadian semalam di saat istrinya pulang dalam keadaan kacau.
“Sepertinya ada sesuatu yang membuat Ny. Zahwa terpuruk dan membuatnya tertekan,” jelas Dr. Agam.
Zain menatap ke arah Barra dan setelah itu Barra menghubungi seseorang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Susanty
tuh kan benar.
bisa gawat kalo Zahwa Hamil tapi Zain masih mempertahankan pernikahan nya sama Clarisa, bisa2 Zahwa celaka.
2022-10-30
1
Rini Musrini
zain dah ada perhatian sm zahwa
2022-09-29
1
Senajudifa
noh kerjaan nadya dan mommynya
2022-06-25
5