Bab 7. Zahwa Sakit

Zahwa masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Ia melupakan peraturan di rumah itu yang melarang setiap penghuni di lantai dua untuk mengunci kamar di malam hari.

Zahwa melempar tasnya ke sembarang arah dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas kasur tanpa melepas sepatu dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu.

Zahwa membenamkan wajahnya di atas bantal dan terisak menyayat hati meluapkan segala rasa yang menyesakkan dadanya. Kedua tangannya mencengkeram erat pada sisi bantal.

Suara teriakan dari luar kamarnya dan gedoran pada pintu kamarnya tidak membuat Zahwa terusik.

Di luar kamar, Zain mengamuk karena tidak bisa membuka kamar istri mudanya.

“Dasar bocah! Berani kamu melanggar peraturan rumah ini!” teriak Zain sembari kakinya menendang pintu di depanya berkali-kali.

Semua penghuni di rumah besar menunduk takut tidak ada yang berani mendekat, mereka belum pernah melihat tuan muda mereka semarah ini.

Bi Nur datang dan mendekat ke arah Zain. “Permisi tuan muda, biar saya buka pintunya.”

Zain melangkah mundur memberi ruang untuk bi Nur membukakan pintu.

Ceklek.

Dengan tidak sabar Zain membuka kasar pintu kamar Zahwa, ia melangkah masuk dan membanting pintu itu.

Brak!

Semua pelayan tersentak kaget, pun bi Nur yang tepat berada di depan pintu. Namun Zain tidak memedulikan hal itu, yang dia pedulikan hanya ingin segera menemui istri mudanya.

“Zahra!”

Zain berdiri tepat di sisi ranjang, ia pandangi tubuh istrinya yang tengkurap dengan punggung yang bergerak pelan naik turun seirama tarikan napasnya.

Zain menekuk satu lututnya dan menaikkannya ke atas kasur. Tangannya meraih tubuh istrinya dan dengan kasar membaliknya sehingga terlihat jelas wajah Zahwa.

Deg.

Zain membeku, wajahnya yang semula memerah karena amarah perlahan memudar, ia tatap lekat wajah istrinya yang terlihat kacau dan menyedihkan.

Entah perasaan apa yang Zain rasakan, ada sesak di dalam dadanya ketika melihat wajah pucat Zahwa yang memerah karena menangis dengan mata sembab yang terpejam, hidung merah, rambut acak-acakan dan sisa air mata di kedua pipinya.

Zain naik ke atas kasur dan duduk di samping istrinya, tanpa berkedip Zain menatap wajah Zahwa dan mulai membelai wajah itu dengan perlahan.

“Siapa yang berani membuatmu menangis, gadis kecil?” tanya Zain lirih.

Zain turun dari ranjang lalu melepaskan sepatu yang masih menempel di kaki Zahwa. Ia melangkahkan kakinya menuju walk in closed, mengambil pakaian untuk istrinya dan membantu menggantikan pakaian Zahwa dengan pelan agar tidak mengusik tidurnya.

Zain mengernyitkan wajahnya ketika mengganti pakaian istri mudanya, banyak pertanyaan muncul di kepalanya. ia memutuskan untuk bermalam di kamar Zahwa, ini baru pertama kalinya ia tidur di kamar istri mudanya.

Zain membenarkan posisi Zahwa tidur dan menarik selimut menutupi tubuh kecil istrinya, kemudian ia membaringkan tubuhnya di samping istri mudanya.

...*****...

Waktu menunjukkan pukul 04.00, Zain keluar dari kamar Zahwa dan berpapasan dengan Clarisa yang baru pulang dari pekerjaannya.

Tanpa menatap ke arah istri pertamanya, Zain melangkahkan kakinya menuju anak tangga.

“Kenapa kamu keluar dari kamar Zahwa?” tanya Clarisa dengan nada kesal karena suaminya mengacuhkan keberadaannya. 

“Urus saja urusanmu! Jangan ikut campur dalam kehidupanku,” ucap Zain dengan datar lalu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai tiga.

Clarisa menatap punggung suaminya lalu beralih ke arah pintu kamar Zahwa, ia mengentakkan kakinya dan melangkah menuju kamarnya.

Ketika sarapan di meja makan, Zain tidak menemukan keberadaan istri mudanya.

“Di mana Zahra, Bi?” tanya Zain kepada bi Nur.

“Nyonya belum keluar dari kamarnya, Tuan.”

Zain berdiri meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat semua orang memandang heran ke arahnya.

Zain melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Zahwa dan masuk ke dalamnya. Ia mendekat ke tempat tidur dan melihat wajah istrinya yang masih terlihat pucat.

“Apa kamu tidak ingin bangun, gadis manja?” tanya Zain namun kali ini dengan nada sedikit rendah.

Tak mendapat jawaban dari istrinya, Zain mendekat dan duduk di tepi kasur, tangannya menyentuh dahi istrinya dan terasa panas.

“Barra!” teriak Zain dengan lantang hingga terdengar dari lantai bawah.

Mendengar teriakan tuan muda mereka, semua orang yang berada di ruang makan bergegas menuju ke arah sumber suara.

“Ada apa, Tuan?” tanya Barra setelah masuk ke dalam kamar Zahwa disusul oleh Ny. Amara dan Clarisa di belakangnya.

“Cepat panggil dokter!” seru Zain tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah istri mudanya.

Barra dengan cekatan langsung memanggil dokter keluarga menggunakan ponselnya.

“15 menit lagi Dr. Agam akan tiba di mansion, Tuan.”

“Apa tidak bisa lebih cepat?” tanya Zain dengan wajah khawatir.

Barra hanya diam tidak menjawab pertanyaan tuan mudanya, 15 menit sudah termasuk waktu paling cepat. Jarak mansion dari jalan kota saja membutuhkan waktu sekitar 10 menit, apalagi ini masih pagi. Kemungkinan dokter itu masih bersantai sarapan dengan keluarganya, tapi karena berurusan dengan tuan mudanya, semua orang pasti tidak akan membuang waktu dan mencari masalah dengannya.

“Kamu tenang saja Zain, Zahwa pasti baik-baik saja.” Ny. Amara mencoba menenangkan putranya, belum pernah ia melihat putranya merasa khawatir dan peduli terhadap orang lain.

Sedangkan Clarisa mencebikkan bibirnya dan menatap tidak suka ke arah madunya yang tengah berbaring di atas kasur ditemani suaminya di sampingnya.

“Apa Zahwa sedang hamil Zain?” tanya Ny. Amara dengan mata berbinar.

Semua pasang mata menatap ke arah Ny. Amara dengan pandangan yang berbeda-beda.

“Belum, Mom,” jawab Zain datar.

“Kita tunggu saja dokter datang untuk memastikannya.” Ny. Amara tetap dengan harapannya.

‘Jangan sampai wanita itu hamil. Aku tidak akan membiarkannya,’ ucap Clarisa dalam hati.

Tidak lama kemudian Dr. Agam datang dan mulai memeriksa keadaan Zahwa.

“Bagaimana keadaan menantu saya, Dokter?” tanya Ny. Amara antusias.

“Nyonya Zahwa baik-baik saja, dia hanya demam, setelah meminum obat dan cukup istirahat Ny. Zahwa akan segera membaik.” Dr. Agam menjelaskan.

“Lalu janinnya bagaimana, Dokter?”

Dr. Agam menautkan alisnya. “Maaf, maksud Anda apa, Nyonya?”

“Menantu saya hamil kan, Dokter?”

“Maaf Nyonya, sepertinya menantu Anda belum ada tanda-tanda kehamilan.”

Wajah Ny. Amara berubah menjadi murung, berbeda dengan Clarisa yang diam-diam tersenyum senang dengan kabar itu.

Barra mengantar Dr. Agam ke ruang kerja Zain untuk membicarakan sesuatu. Mereka keluar dari kamar Zahwa diikuti oleh Clarisa.

“Mommy tunggu kabar baik darimu, Zain! Jangan membuat mommy menunggu terlalu lama!” ucap Ny. Amara sebelum menghilang dibalik pintu.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk!”

Pintu kamar Zahwa kembali terbuka, masuklah bi Nur yang sebelumnya sudah diminta untuk datang ke kamar Zahwa.

“Apakah Tuan memanggil saya?”

“Jaga Zahra! Jangan biarkan siapa pun mengusik tidurnya. Aku akan kembali lagi nanti.”

“Baik, Tuan.”

Zain meninggalkan kamar Zahwa dan pergi ke ruang kerjanya.

“Apa yang ingin Anda sampaikan dokter agam?” tanya Zain setelah mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

“Maaf, Tuan Zain. Apakah sebelumnya ada sesuatu yang terjadi kepada Ny. Zahwa?” tanya Dr. Agam pelan.

Zain menautkan alisnya, ia sejenak berpikir mencerna pertanyaan dai Dr. Agam. Lalu Zain menceritakan kejadian semalam di saat istrinya pulang dalam keadaan kacau.

“Sepertinya ada sesuatu yang membuat Ny. Zahwa terpuruk dan membuatnya tertekan,” jelas Dr. Agam.

Zain menatap ke arah Barra dan setelah itu Barra menghubungi seseorang.

Terpopuler

Comments

Susanty

Susanty

tuh kan benar.
bisa gawat kalo Zahwa Hamil tapi Zain masih mempertahankan pernikahan nya sama Clarisa, bisa2 Zahwa celaka.

2022-10-30

1

Rini Musrini

Rini Musrini

zain dah ada perhatian sm zahwa

2022-09-29

1

Senajudifa

Senajudifa

noh kerjaan nadya dan mommynya

2022-06-25

5

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2 Bab 2. Pengantin Pengganti
3 Bab 3. Mansion Utama
4 Bab 4. Perjanjian
5 Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6 Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7 Bab 7. Zahwa Sakit
8 Bab 8. Rencana Clarisa
9 Bab 9. Berita Menggemparkan
10 Bab 10. Kehamilan Clarisa
11 Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12 Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13 Bab 13. Kamar 305
14 Bab 14. Pertolongan
15 Bab 15. Kehancuran Zahra
16 Bab 16. Kepanikan Zain
17 Bab 17. Kemarahan Zain
18 Bab 18. Trauma Zahra
19 Bab 19. Berpisah
20 Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21 Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22 Bab 22. Anindya
23 Bab 23. Kedatangan Anindya
24 Bab 24. Rencana Zain
25 Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26 Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27 Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28 Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29 Bab 29. Pengakuan Zahra
30 Bab 30. Keluarga Athaillah
31 Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32 Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33 Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34 Bab 34. Merasa Dipermainkan
35 Bab 35. Tidur Seranjang
36 Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37 Bab 37. Ziya's House
38 Bab 38. Ziya's House 2
39 Bab 39. Manis Bagai Candu
40 Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41 Bab 41. Rencana Ny. Amara
42 Bab 42. Keluar dari Penjara
43 Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44 Bab 44. Harapan Ny. Amara
45 Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46 Bab 45. Keposesifan Zain
47 Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48 Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49 Bab 48. Syukuran
50 Bab 49. Malam Penuh Drama
51 Bab 50. Rencana Berkunjung
52 Bab 51. Godaan
53 Bab 52. Menahan Emosi
54 Bab 53. Terungkap
55 Bab 54. Drama Keluarga
56 Bab 55. Keputusan Akhir
57 Bab 56. Gelisah
58 Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59 Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60 Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61 Bab 60. Crazy Rich Man
62 Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63 Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64 Bab 63. Hu Yitian
65 Bab 64. Karantina
66 Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67 Bab 66. Melepas Rindu
68 Bab 67. Pergi
69 Bab 68. Salah Paham
70 Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71 Bab 70. Zhang Yang Zi
72 Bab 71. Keputusan Barra
73 Bab 72. Calon Menantu
74 Bab 73. Nasihat dari Paman
75 Bab 74. Kejutan
76 Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77 Bab 76. Tragedi
78 Bab 77. Kisah Yang Zi
79 Bab 78. Amarah Sang Kakak
80 Bab 79. Disneyland
81 Bab 80. Mengulang Pesta
82 Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83 Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84 Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85 Bab 84. Alun-Alun Kota
86 Bab 85. Pengakuan Barra
87 Bab 86. Pesta Pernikahan
88 Bab 87. Kekacauan
89 Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90 Bab 89. Malam Pesta
91 Bab 90. Cucu Kesayangan
92 Bab 91. Hanya Salah Paham
93 Bab 92. Retak
94 Bab 93. Tak Pernah Terencana
95 Bab 94. Luka dan Trauma
96 Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97 Bab 96. Gelisah
98 Bab 97. Bumil Muda
99 Bab 98. Orang Asing
100 Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101 Bab 100. Singa yang Posesif
102 Bab 101. Drama di Kantin
103 Bab 102. Ketakutan Zahra
104 Bab 103. Teman Baru
105 Bab 104. Teman Lama
106 Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107 Bab 106. Perlengkapan Bayi
108 Bab 107. Musibah
109 Bab 108. Kembali Bermimpi
110 Bab 109. Pengakuan
111 Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112 Bab 110. Ali dan Tania
113 Bab 111. Penjelasan Zain
114 Bab 112. Baby Rayyanza
115 Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116 Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117 Bab 115. Keluarga Mahardika
118 Bab 116. Istana Tersembunyi
119 Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120 Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121 Bab 119. Merajuk
122 Bab 120. Datang untuk Melamar
123 Bab 121. Hadiah Pernikahan
124 Bab 122. Klub Malam
125 Bab 123. Permintaan Zahra
126 Bab 124. Sisi Lain Yitian
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2
Bab 2. Pengantin Pengganti
3
Bab 3. Mansion Utama
4
Bab 4. Perjanjian
5
Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6
Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7
Bab 7. Zahwa Sakit
8
Bab 8. Rencana Clarisa
9
Bab 9. Berita Menggemparkan
10
Bab 10. Kehamilan Clarisa
11
Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12
Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13
Bab 13. Kamar 305
14
Bab 14. Pertolongan
15
Bab 15. Kehancuran Zahra
16
Bab 16. Kepanikan Zain
17
Bab 17. Kemarahan Zain
18
Bab 18. Trauma Zahra
19
Bab 19. Berpisah
20
Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21
Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22
Bab 22. Anindya
23
Bab 23. Kedatangan Anindya
24
Bab 24. Rencana Zain
25
Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26
Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27
Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28
Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29
Bab 29. Pengakuan Zahra
30
Bab 30. Keluarga Athaillah
31
Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32
Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33
Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34
Bab 34. Merasa Dipermainkan
35
Bab 35. Tidur Seranjang
36
Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37
Bab 37. Ziya's House
38
Bab 38. Ziya's House 2
39
Bab 39. Manis Bagai Candu
40
Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41
Bab 41. Rencana Ny. Amara
42
Bab 42. Keluar dari Penjara
43
Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44
Bab 44. Harapan Ny. Amara
45
Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46
Bab 45. Keposesifan Zain
47
Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48
Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49
Bab 48. Syukuran
50
Bab 49. Malam Penuh Drama
51
Bab 50. Rencana Berkunjung
52
Bab 51. Godaan
53
Bab 52. Menahan Emosi
54
Bab 53. Terungkap
55
Bab 54. Drama Keluarga
56
Bab 55. Keputusan Akhir
57
Bab 56. Gelisah
58
Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59
Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60
Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61
Bab 60. Crazy Rich Man
62
Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63
Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64
Bab 63. Hu Yitian
65
Bab 64. Karantina
66
Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67
Bab 66. Melepas Rindu
68
Bab 67. Pergi
69
Bab 68. Salah Paham
70
Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71
Bab 70. Zhang Yang Zi
72
Bab 71. Keputusan Barra
73
Bab 72. Calon Menantu
74
Bab 73. Nasihat dari Paman
75
Bab 74. Kejutan
76
Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77
Bab 76. Tragedi
78
Bab 77. Kisah Yang Zi
79
Bab 78. Amarah Sang Kakak
80
Bab 79. Disneyland
81
Bab 80. Mengulang Pesta
82
Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83
Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84
Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85
Bab 84. Alun-Alun Kota
86
Bab 85. Pengakuan Barra
87
Bab 86. Pesta Pernikahan
88
Bab 87. Kekacauan
89
Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90
Bab 89. Malam Pesta
91
Bab 90. Cucu Kesayangan
92
Bab 91. Hanya Salah Paham
93
Bab 92. Retak
94
Bab 93. Tak Pernah Terencana
95
Bab 94. Luka dan Trauma
96
Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97
Bab 96. Gelisah
98
Bab 97. Bumil Muda
99
Bab 98. Orang Asing
100
Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101
Bab 100. Singa yang Posesif
102
Bab 101. Drama di Kantin
103
Bab 102. Ketakutan Zahra
104
Bab 103. Teman Baru
105
Bab 104. Teman Lama
106
Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107
Bab 106. Perlengkapan Bayi
108
Bab 107. Musibah
109
Bab 108. Kembali Bermimpi
110
Bab 109. Pengakuan
111
Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112
Bab 110. Ali dan Tania
113
Bab 111. Penjelasan Zain
114
Bab 112. Baby Rayyanza
115
Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116
Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117
Bab 115. Keluarga Mahardika
118
Bab 116. Istana Tersembunyi
119
Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120
Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121
Bab 119. Merajuk
122
Bab 120. Datang untuk Melamar
123
Bab 121. Hadiah Pernikahan
124
Bab 122. Klub Malam
125
Bab 123. Permintaan Zahra
126
Bab 124. Sisi Lain Yitian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!