Bab 6. Kenyataan Menyakitkan

Zahra berjalan keluar dari ruang kerja Zain, selama sebulan menjadi istri tuan muda tersebut, Zahwa sudah terbiasa menghadapi sifat dingin suaminya. Setiap hari kerja, Zahwa harus mengantar makan siang untuk Zain, namun belum sekali pun suaminya itu memuji masakannya.

“Hai gadis manja, kamu itu harus menurut!” gerutu Zahwa menirukan suara suaminya.

“Hai bocah! Kamu harus memperhatikan penampilanmu, jika bukan karena ulah kakak kamu, mana mungkin aku menikahi gadis kecil sepertimu!” Zahwa kembali menirukan nada bicara suaminya.

Sepanjang kakinya melangkah, Zahwa mengulang ucapan Zain yang hampir setiap hari di dengarnya.

Zahwa memasuki lift khusus menuju lantai dasar. Di lobi banyak pasang mata yang memandang ke arahnya, ada beberapa yang menunduk menghormat kepadanya, ada juga yang membicarakannya di belakang.

“Apasih yang dilihat dari dia? Tubuh kurus lurus, masih cantikkan Ny. Clarisa,” ucap karyawan berbaju biru.

“Ny. Zahra tidak kalah cantik, dia manis, masih muda juga ramah,” bela temanya yang berbaju putih.

“Tapi lebih sexy Ny. Clarisa, secara diakan model ternama,” jawab wanita berbaju biru tidak mau kalah.

“Iya sih model, tapi songongnya minta ampun. Jangankan menyapa atau tersenyum, menoleh kepada kita saja tidak pernah,” sela wanita satunya yang berbaju merah.

“Beruntung banget Ny. Zahra, aku mau kalau jadi dia,” ucap wanita berbaju putih dengan mata yang berbinar.

“Apa kalian ingin dipecat!” seru seseorang membuat ketiga wanita itu terkejut.

“Kalian itu di gaji untuk bekerja, bukan untuk bergosip!” tegurnya.

“Maaf, Pak,” ucap mereka berbarengan.

“Cepat kembali bekerja!”

“Baik, Pak.”

Ketiga karyawan wanita tersebut pergi dengan wajah pucat, mereka saling menyalahkan satu sama lain.

Zahwa meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah orang tuanya, dan pastinya sudah meminta izin dari suaminya.

Mobil Zahwa memasuki halaman rumah orang tuanya, Zahwa turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi.

Zahwa melangkahkan kakinya menuju dapur, tepatnya ke arah ruangan kecil yang dulu menjadi kamarnya.

Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok wanita asing yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Mbak siapa?” tanya Zahwa.

Wanita itu menoleh dan menatap tajam ke arah Zahwa. “Kamu yang siapa? Maling ya?”

“Bukan. Mbak sedang apa di rumahku?” tanya Zahwa menyelidik.

“Rumah kamu? Jangan berbohong! Ny. Tasya mengatakan hanya memiliki satu anak perempuan yaitu nona Nindy, dan dia baru kemarin pulang dari luar negeri,” ucap wanita itu membuat Zahwa terkejut.

“Mbak bekerja di rumah ini sejak kapan?” tanya Zahwa mencoba untuk tetap tenang.

“Baru satu minggu.”

‘Satu minggu? Berarti dia belum pernah bertemu dengan papa, karena papa kembali ke luar negeri setelah acara pernikahanku,’ batin Zahwa.

“Apa mbak yang menempati kamar itu?” tanya Zahwa ragu sambil menunjuk ke arah kamarnya.

“Ya.”

“Barang-barang milikku apa masih berada di dalam?”

Wanita itu menautkan alisnya bingung. “Barang apa ya, Mbak? Saat saya datang ruangan itu kosong.”

Zahwa terkejut, lalu di mana semua buku-bukunya? Semua desain yang selama ini ia buat. Sewaktu SMA, Zahwa mengikuti ekstra kurikuler tata busana dan beberapa hasil karyanya pernah diikut sertakan dalam lomba. Zahwa terpikir untuk menanyakannya kepada mamanya.

“Mama ada di mana, Mbak?” tanya Zahwa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Belum sempat wanita itu menjawab, terdengar suara menggelegar seorang wanita dari arah depan.

“Mau apa kamu mencariku?” tanya Tasya berjalan memasuki dapur diikuti oleh Nindy di belakangnya.

Zahwa menatap wajah wanita paruh baya di depannya, wanita yang selama ini ia rindukan kasih sayang darinya. “Kamana semua barang milikku?”

“Barang sampah itu? Aku buang semuanya!” seru Tasya.

“Mama ....”

“Jangan pernah lagi memanggilku mama! Aku bukan mamamu!” teriak Tasya.

Tubuh Zahwa menegang, napasnya terasa tercekat dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Air mata yang sedari tadi ia tahan berhasil lolos dengan lancangnya.

“Apa maksud, Mama?” tanya Zahwa dengan suara bergetar, lidahnya terasa kelu.

“Sudah aku bilang aku bukan mama kamu!”

“Ma-mama berbohong, kan?” tanya Zahwa semakin terisak.

“Aku tidak sudi memiliki anak sepertimu! Dasar anak wanita j*lang!” bentak Tasya.

“Mama!” teriak Zahwa.

Plak!

Zahwa memegang pipinya yang terasa panas karena mendapat tamparan dari wanita yang selam ini ia anggap sebagai ibunya.

“Berani sekali kamu membentakku! Sudah untung aku mau menampungmu selama ini!” bentak Tasya semakin terbakar emosi.

“Ma, katakan kalau mama bohong, kan?” rengek Zahwa berharap semua ini hanyalah sandiwara.

“Ck! Sudah dibilang kalau kamu itu anak haram, anak yang tidak pernah diinginkan kehadirannya,” ucap Nindya sinis. Membuat Zahwa semakin syok.

“Pergi dari sini! kembalilah ke rumah mewah suamimu itu! Jangan pernah menginjakkan kaki kotormu itu di rumah ini lagi!” usir Tasya.

“Ma ....” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Zahwa.

Tasya berdiri angkuh dengan berkacak pinggang. “Aku sudah merencanakan pernikahanmu dengan pria kaya itu.”

Zahwa melebarkan matanya, tidak menyangka ibunya sudah merencanakan semua ini untuknya.

“Aku sangat berterima kasih kepada Ny. Amara yang merengek meminta menikahkan putranya agar segera memiliki cucu.” Tasya memandang sinis ke arah Zahwa. “Karena dia, aku bisa menendangmu dari rumah ini dan mendapatkan imbalan dengan nominal yang cukup banyak. Walaupun kaya dan tampan, aku tidak sudi menyerahkan putriku yang cantik ini kepada laki-laki seperti dia, pria dingin, kejam, suka bermain wanita! Apalagi hanya menjadi istri kedua,” lanjutnya.

Tubuh Zahwa merosot ke lantai, tubuhnya bergetar hebat karena menahan tangis agar tidak meledak saat itu juga. Sekuat tenaga Zahwa menahan perih dan sesak yang memenuhi dadanya.

“Dasar pembunuh!” ucap Tasya lalu pergi meninggalkan Zahwa.

Nindya berjalan mendekat ke arah Zahwa dan menundukkan tubuhnya sejajar dengan adiknya itu.

“Nikmatilah hidup barumu sebagai ratu di mansion mewah itu, Nyonya Zain Malik!” ucapnya tepat di telinga Zahwa.

Nindya berdiri dan berjalan menyusul ibunya meninggalkan Zahwa yang semakin terisak pilu.

“Dan kamu!” Nindya menunjuk ke arah wanita yang berdiri mematung di depan pintu kamar Zahwa.

“Tutup mulutmu jika ingin hidupmu tenang! Anggap kamu tidak pernah melihat kejadian ini!” peringat Nindya sebelum benar-benar meninggalkan dapur.

Wanita itu terdiam mematung, bingung harus melakukan apa. Dia baru bekerja di rumah itu dan belum terlalu mengerti keadaan rumah tempatnya bekerja. Ia ingin menolong Zahwa namun disisi lain ia juga takut jika akan membuat masalah baru dalam hidupnya.

Sepuluh menit Zahwa terduduk di lantai, wajahnya terlihat berantakan, banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Tentang siapa ibunya? Kenapa mamanya menyebutnya sebagai pembunuh? Hal apa lagi yang belum dia tahu? Apa penyebab sikap kasar ibu dan kakaknya selama ini karena hal ini?

Zahwa mengusap air matanya, ia berdiri dan dengan gontai melangkahkan kakinya keluar meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat berteduhnya.

Zahwa masuk ke dalam mobilnya dan meminta sang sopir untuk mengantarnya ke sebuah tempat.

Sepanjang perjalanan Zahwa hanya terdiam, sopirnya pun tidak berani untuk bertanya kepada nyonyanya tersebut.

Seharian Zahwa duduk di bangku taman di tepi danau, sudah lama sekali ia tidak datang ke tempat itu. Dulu sewaktu kecil, ayahnya sering mengajak Zahwa dan Nindya untuk bermain di taman itu. Namun setelah dia berusia 10 tahun, ayahnya sering pergi keluar negeri dan jarang berkomunikasi dengannya.

Hingga malam Zahwa tetap berdiam di tempat dengan pandangan kosong lurus menatap ke arah danau.

“Nyonya, sebaiknya kita segera pulang,” ajak sopir pribadi Zahwa.

Zahwa tersasar dari lamunannya dan mendongak menatap wajah pemuda yang setia berdiri di samping bangku tempatnya duduk. Pemuda itu bernama Ali yang bertugas menjadi sopirnya sekaligus diam-diam ditugaskan untuk mengawasi Zahwa.

Zahwa mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, sepi. Tanpa berkata, ia berdiri dan melangkah menuju mobilnya diikuti sopirnya.

Perjalanan menuju mansion utama membutuhkan waktu sekitar satu jam. Zahwa turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam mansion tanpa melihat sekelilingnya, Zahwa langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

“Hai bocah! Dari mana saja kamu jam 21.00 baru pulang!” seru Zain namun tak dihiraukan oleh Zahwa.

Terpopuler

Comments

Rini Musrini

Rini Musrini

kejam ibu sm kk tirinya .

2022-09-29

1

Senajudifa

Senajudifa

kasian zahwa

2022-06-25

5

Ranran Miura

Ranran Miura

oh, ternyata cuma ibu tiri, pantes kejam

2022-06-25

7

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2 Bab 2. Pengantin Pengganti
3 Bab 3. Mansion Utama
4 Bab 4. Perjanjian
5 Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6 Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7 Bab 7. Zahwa Sakit
8 Bab 8. Rencana Clarisa
9 Bab 9. Berita Menggemparkan
10 Bab 10. Kehamilan Clarisa
11 Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12 Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13 Bab 13. Kamar 305
14 Bab 14. Pertolongan
15 Bab 15. Kehancuran Zahra
16 Bab 16. Kepanikan Zain
17 Bab 17. Kemarahan Zain
18 Bab 18. Trauma Zahra
19 Bab 19. Berpisah
20 Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21 Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22 Bab 22. Anindya
23 Bab 23. Kedatangan Anindya
24 Bab 24. Rencana Zain
25 Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26 Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27 Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28 Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29 Bab 29. Pengakuan Zahra
30 Bab 30. Keluarga Athaillah
31 Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32 Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33 Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34 Bab 34. Merasa Dipermainkan
35 Bab 35. Tidur Seranjang
36 Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37 Bab 37. Ziya's House
38 Bab 38. Ziya's House 2
39 Bab 39. Manis Bagai Candu
40 Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41 Bab 41. Rencana Ny. Amara
42 Bab 42. Keluar dari Penjara
43 Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44 Bab 44. Harapan Ny. Amara
45 Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46 Bab 45. Keposesifan Zain
47 Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48 Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49 Bab 48. Syukuran
50 Bab 49. Malam Penuh Drama
51 Bab 50. Rencana Berkunjung
52 Bab 51. Godaan
53 Bab 52. Menahan Emosi
54 Bab 53. Terungkap
55 Bab 54. Drama Keluarga
56 Bab 55. Keputusan Akhir
57 Bab 56. Gelisah
58 Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59 Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60 Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61 Bab 60. Crazy Rich Man
62 Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63 Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64 Bab 63. Hu Yitian
65 Bab 64. Karantina
66 Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67 Bab 66. Melepas Rindu
68 Bab 67. Pergi
69 Bab 68. Salah Paham
70 Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71 Bab 70. Zhang Yang Zi
72 Bab 71. Keputusan Barra
73 Bab 72. Calon Menantu
74 Bab 73. Nasihat dari Paman
75 Bab 74. Kejutan
76 Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77 Bab 76. Tragedi
78 Bab 77. Kisah Yang Zi
79 Bab 78. Amarah Sang Kakak
80 Bab 79. Disneyland
81 Bab 80. Mengulang Pesta
82 Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83 Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84 Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85 Bab 84. Alun-Alun Kota
86 Bab 85. Pengakuan Barra
87 Bab 86. Pesta Pernikahan
88 Bab 87. Kekacauan
89 Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90 Bab 89. Malam Pesta
91 Bab 90. Cucu Kesayangan
92 Bab 91. Hanya Salah Paham
93 Bab 92. Retak
94 Bab 93. Tak Pernah Terencana
95 Bab 94. Luka dan Trauma
96 Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97 Bab 96. Gelisah
98 Bab 97. Bumil Muda
99 Bab 98. Orang Asing
100 Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101 Bab 100. Singa yang Posesif
102 Bab 101. Drama di Kantin
103 Bab 102. Ketakutan Zahra
104 Bab 103. Teman Baru
105 Bab 104. Teman Lama
106 Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107 Bab 106. Perlengkapan Bayi
108 Bab 107. Musibah
109 Bab 108. Kembali Bermimpi
110 Bab 109. Pengakuan
111 Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112 Bab 110. Ali dan Tania
113 Bab 111. Penjelasan Zain
114 Bab 112. Baby Rayyanza
115 Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116 Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117 Bab 115. Keluarga Mahardika
118 Bab 116. Istana Tersembunyi
119 Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120 Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121 Bab 119. Merajuk
122 Bab 120. Datang untuk Melamar
123 Bab 121. Hadiah Pernikahan
124 Bab 122. Klub Malam
125 Bab 123. Permintaan Zahra
126 Bab 124. Sisi Lain Yitian
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2
Bab 2. Pengantin Pengganti
3
Bab 3. Mansion Utama
4
Bab 4. Perjanjian
5
Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6
Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7
Bab 7. Zahwa Sakit
8
Bab 8. Rencana Clarisa
9
Bab 9. Berita Menggemparkan
10
Bab 10. Kehamilan Clarisa
11
Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12
Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13
Bab 13. Kamar 305
14
Bab 14. Pertolongan
15
Bab 15. Kehancuran Zahra
16
Bab 16. Kepanikan Zain
17
Bab 17. Kemarahan Zain
18
Bab 18. Trauma Zahra
19
Bab 19. Berpisah
20
Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21
Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22
Bab 22. Anindya
23
Bab 23. Kedatangan Anindya
24
Bab 24. Rencana Zain
25
Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26
Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27
Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28
Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29
Bab 29. Pengakuan Zahra
30
Bab 30. Keluarga Athaillah
31
Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32
Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33
Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34
Bab 34. Merasa Dipermainkan
35
Bab 35. Tidur Seranjang
36
Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37
Bab 37. Ziya's House
38
Bab 38. Ziya's House 2
39
Bab 39. Manis Bagai Candu
40
Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41
Bab 41. Rencana Ny. Amara
42
Bab 42. Keluar dari Penjara
43
Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44
Bab 44. Harapan Ny. Amara
45
Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46
Bab 45. Keposesifan Zain
47
Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48
Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49
Bab 48. Syukuran
50
Bab 49. Malam Penuh Drama
51
Bab 50. Rencana Berkunjung
52
Bab 51. Godaan
53
Bab 52. Menahan Emosi
54
Bab 53. Terungkap
55
Bab 54. Drama Keluarga
56
Bab 55. Keputusan Akhir
57
Bab 56. Gelisah
58
Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59
Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60
Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61
Bab 60. Crazy Rich Man
62
Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63
Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64
Bab 63. Hu Yitian
65
Bab 64. Karantina
66
Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67
Bab 66. Melepas Rindu
68
Bab 67. Pergi
69
Bab 68. Salah Paham
70
Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71
Bab 70. Zhang Yang Zi
72
Bab 71. Keputusan Barra
73
Bab 72. Calon Menantu
74
Bab 73. Nasihat dari Paman
75
Bab 74. Kejutan
76
Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77
Bab 76. Tragedi
78
Bab 77. Kisah Yang Zi
79
Bab 78. Amarah Sang Kakak
80
Bab 79. Disneyland
81
Bab 80. Mengulang Pesta
82
Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83
Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84
Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85
Bab 84. Alun-Alun Kota
86
Bab 85. Pengakuan Barra
87
Bab 86. Pesta Pernikahan
88
Bab 87. Kekacauan
89
Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90
Bab 89. Malam Pesta
91
Bab 90. Cucu Kesayangan
92
Bab 91. Hanya Salah Paham
93
Bab 92. Retak
94
Bab 93. Tak Pernah Terencana
95
Bab 94. Luka dan Trauma
96
Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97
Bab 96. Gelisah
98
Bab 97. Bumil Muda
99
Bab 98. Orang Asing
100
Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101
Bab 100. Singa yang Posesif
102
Bab 101. Drama di Kantin
103
Bab 102. Ketakutan Zahra
104
Bab 103. Teman Baru
105
Bab 104. Teman Lama
106
Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107
Bab 106. Perlengkapan Bayi
108
Bab 107. Musibah
109
Bab 108. Kembali Bermimpi
110
Bab 109. Pengakuan
111
Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112
Bab 110. Ali dan Tania
113
Bab 111. Penjelasan Zain
114
Bab 112. Baby Rayyanza
115
Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116
Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117
Bab 115. Keluarga Mahardika
118
Bab 116. Istana Tersembunyi
119
Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120
Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121
Bab 119. Merajuk
122
Bab 120. Datang untuk Melamar
123
Bab 121. Hadiah Pernikahan
124
Bab 122. Klub Malam
125
Bab 123. Permintaan Zahra
126
Bab 124. Sisi Lain Yitian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!