Zahra berjalan keluar dari ruang kerja Zain, selama sebulan menjadi istri tuan muda tersebut, Zahwa sudah terbiasa menghadapi sifat dingin suaminya. Setiap hari kerja, Zahwa harus mengantar makan siang untuk Zain, namun belum sekali pun suaminya itu memuji masakannya.
“Hai gadis manja, kamu itu harus menurut!” gerutu Zahwa menirukan suara suaminya.
“Hai bocah! Kamu harus memperhatikan penampilanmu, jika bukan karena ulah kakak kamu, mana mungkin aku menikahi gadis kecil sepertimu!” Zahwa kembali menirukan nada bicara suaminya.
Sepanjang kakinya melangkah, Zahwa mengulang ucapan Zain yang hampir setiap hari di dengarnya.
Zahwa memasuki lift khusus menuju lantai dasar. Di lobi banyak pasang mata yang memandang ke arahnya, ada beberapa yang menunduk menghormat kepadanya, ada juga yang membicarakannya di belakang.
“Apasih yang dilihat dari dia? Tubuh kurus lurus, masih cantikkan Ny. Clarisa,” ucap karyawan berbaju biru.
“Ny. Zahra tidak kalah cantik, dia manis, masih muda juga ramah,” bela temanya yang berbaju putih.
“Tapi lebih sexy Ny. Clarisa, secara diakan model ternama,” jawab wanita berbaju biru tidak mau kalah.
“Iya sih model, tapi songongnya minta ampun. Jangankan menyapa atau tersenyum, menoleh kepada kita saja tidak pernah,” sela wanita satunya yang berbaju merah.
“Beruntung banget Ny. Zahra, aku mau kalau jadi dia,” ucap wanita berbaju putih dengan mata yang berbinar.
“Apa kalian ingin dipecat!” seru seseorang membuat ketiga wanita itu terkejut.
“Kalian itu di gaji untuk bekerja, bukan untuk bergosip!” tegurnya.
“Maaf, Pak,” ucap mereka berbarengan.
“Cepat kembali bekerja!”
“Baik, Pak.”
Ketiga karyawan wanita tersebut pergi dengan wajah pucat, mereka saling menyalahkan satu sama lain.
Zahwa meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah orang tuanya, dan pastinya sudah meminta izin dari suaminya.
Mobil Zahwa memasuki halaman rumah orang tuanya, Zahwa turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi.
Zahwa melangkahkan kakinya menuju dapur, tepatnya ke arah ruangan kecil yang dulu menjadi kamarnya.
Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok wanita asing yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Mbak siapa?” tanya Zahwa.
Wanita itu menoleh dan menatap tajam ke arah Zahwa. “Kamu yang siapa? Maling ya?”
“Bukan. Mbak sedang apa di rumahku?” tanya Zahwa menyelidik.
“Rumah kamu? Jangan berbohong! Ny. Tasya mengatakan hanya memiliki satu anak perempuan yaitu nona Nindy, dan dia baru kemarin pulang dari luar negeri,” ucap wanita itu membuat Zahwa terkejut.
“Mbak bekerja di rumah ini sejak kapan?” tanya Zahwa mencoba untuk tetap tenang.
“Baru satu minggu.”
‘Satu minggu? Berarti dia belum pernah bertemu dengan papa, karena papa kembali ke luar negeri setelah acara pernikahanku,’ batin Zahwa.
“Apa mbak yang menempati kamar itu?” tanya Zahwa ragu sambil menunjuk ke arah kamarnya.
“Ya.”
“Barang-barang milikku apa masih berada di dalam?”
Wanita itu menautkan alisnya bingung. “Barang apa ya, Mbak? Saat saya datang ruangan itu kosong.”
Zahwa terkejut, lalu di mana semua buku-bukunya? Semua desain yang selama ini ia buat. Sewaktu SMA, Zahwa mengikuti ekstra kurikuler tata busana dan beberapa hasil karyanya pernah diikut sertakan dalam lomba. Zahwa terpikir untuk menanyakannya kepada mamanya.
“Mama ada di mana, Mbak?” tanya Zahwa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Belum sempat wanita itu menjawab, terdengar suara menggelegar seorang wanita dari arah depan.
“Mau apa kamu mencariku?” tanya Tasya berjalan memasuki dapur diikuti oleh Nindy di belakangnya.
Zahwa menatap wajah wanita paruh baya di depannya, wanita yang selama ini ia rindukan kasih sayang darinya. “Kamana semua barang milikku?”
“Barang sampah itu? Aku buang semuanya!” seru Tasya.
“Mama ....”
“Jangan pernah lagi memanggilku mama! Aku bukan mamamu!” teriak Tasya.
Tubuh Zahwa menegang, napasnya terasa tercekat dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Air mata yang sedari tadi ia tahan berhasil lolos dengan lancangnya.
“Apa maksud, Mama?” tanya Zahwa dengan suara bergetar, lidahnya terasa kelu.
“Sudah aku bilang aku bukan mama kamu!”
“Ma-mama berbohong, kan?” tanya Zahwa semakin terisak.
“Aku tidak sudi memiliki anak sepertimu! Dasar anak wanita j*lang!” bentak Tasya.
“Mama!” teriak Zahwa.
Plak!
Zahwa memegang pipinya yang terasa panas karena mendapat tamparan dari wanita yang selam ini ia anggap sebagai ibunya.
“Berani sekali kamu membentakku! Sudah untung aku mau menampungmu selama ini!” bentak Tasya semakin terbakar emosi.
“Ma, katakan kalau mama bohong, kan?” rengek Zahwa berharap semua ini hanyalah sandiwara.
“Ck! Sudah dibilang kalau kamu itu anak haram, anak yang tidak pernah diinginkan kehadirannya,” ucap Nindya sinis. Membuat Zahwa semakin syok.
“Pergi dari sini! kembalilah ke rumah mewah suamimu itu! Jangan pernah menginjakkan kaki kotormu itu di rumah ini lagi!” usir Tasya.
“Ma ....” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Zahwa.
Tasya berdiri angkuh dengan berkacak pinggang. “Aku sudah merencanakan pernikahanmu dengan pria kaya itu.”
Zahwa melebarkan matanya, tidak menyangka ibunya sudah merencanakan semua ini untuknya.
“Aku sangat berterima kasih kepada Ny. Amara yang merengek meminta menikahkan putranya agar segera memiliki cucu.” Tasya memandang sinis ke arah Zahwa. “Karena dia, aku bisa menendangmu dari rumah ini dan mendapatkan imbalan dengan nominal yang cukup banyak. Walaupun kaya dan tampan, aku tidak sudi menyerahkan putriku yang cantik ini kepada laki-laki seperti dia, pria dingin, kejam, suka bermain wanita! Apalagi hanya menjadi istri kedua,” lanjutnya.
Tubuh Zahwa merosot ke lantai, tubuhnya bergetar hebat karena menahan tangis agar tidak meledak saat itu juga. Sekuat tenaga Zahwa menahan perih dan sesak yang memenuhi dadanya.
“Dasar pembunuh!” ucap Tasya lalu pergi meninggalkan Zahwa.
Nindya berjalan mendekat ke arah Zahwa dan menundukkan tubuhnya sejajar dengan adiknya itu.
“Nikmatilah hidup barumu sebagai ratu di mansion mewah itu, Nyonya Zain Malik!” ucapnya tepat di telinga Zahwa.
Nindya berdiri dan berjalan menyusul ibunya meninggalkan Zahwa yang semakin terisak pilu.
“Dan kamu!” Nindya menunjuk ke arah wanita yang berdiri mematung di depan pintu kamar Zahwa.
“Tutup mulutmu jika ingin hidupmu tenang! Anggap kamu tidak pernah melihat kejadian ini!” peringat Nindya sebelum benar-benar meninggalkan dapur.
Wanita itu terdiam mematung, bingung harus melakukan apa. Dia baru bekerja di rumah itu dan belum terlalu mengerti keadaan rumah tempatnya bekerja. Ia ingin menolong Zahwa namun disisi lain ia juga takut jika akan membuat masalah baru dalam hidupnya.
Sepuluh menit Zahwa terduduk di lantai, wajahnya terlihat berantakan, banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Tentang siapa ibunya? Kenapa mamanya menyebutnya sebagai pembunuh? Hal apa lagi yang belum dia tahu? Apa penyebab sikap kasar ibu dan kakaknya selama ini karena hal ini?
Zahwa mengusap air matanya, ia berdiri dan dengan gontai melangkahkan kakinya keluar meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat berteduhnya.
Zahwa masuk ke dalam mobilnya dan meminta sang sopir untuk mengantarnya ke sebuah tempat.
Sepanjang perjalanan Zahwa hanya terdiam, sopirnya pun tidak berani untuk bertanya kepada nyonyanya tersebut.
Seharian Zahwa duduk di bangku taman di tepi danau, sudah lama sekali ia tidak datang ke tempat itu. Dulu sewaktu kecil, ayahnya sering mengajak Zahwa dan Nindya untuk bermain di taman itu. Namun setelah dia berusia 10 tahun, ayahnya sering pergi keluar negeri dan jarang berkomunikasi dengannya.
Hingga malam Zahwa tetap berdiam di tempat dengan pandangan kosong lurus menatap ke arah danau.
“Nyonya, sebaiknya kita segera pulang,” ajak sopir pribadi Zahwa.
Zahwa tersasar dari lamunannya dan mendongak menatap wajah pemuda yang setia berdiri di samping bangku tempatnya duduk. Pemuda itu bernama Ali yang bertugas menjadi sopirnya sekaligus diam-diam ditugaskan untuk mengawasi Zahwa.
Zahwa mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, sepi. Tanpa berkata, ia berdiri dan melangkah menuju mobilnya diikuti sopirnya.
Perjalanan menuju mansion utama membutuhkan waktu sekitar satu jam. Zahwa turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam mansion tanpa melihat sekelilingnya, Zahwa langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
“Hai bocah! Dari mana saja kamu jam 21.00 baru pulang!” seru Zain namun tak dihiraukan oleh Zahwa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Rini Musrini
kejam ibu sm kk tirinya .
2022-09-29
1
Senajudifa
kasian zahwa
2022-06-25
5
Ranran Miura
oh, ternyata cuma ibu tiri, pantes kejam
2022-06-25
7