Bab 4. Perjanjian

Zahwa terdiam membeku ketika kakinya memasuki ruang kerja Zain. Ruangan luas berdinding kaca, megah dan elegan. Lengkap dengan segala furniturnya yang berkelas.

Meja kerja dan kursi kebesaran pemiliknya berada di dekat dinding kaca yang langsung memperlihatkan pepohonan hijau di luar sana. Di sebelahnya terdapat pintu kaca yang menghubungkan dengan balkon di lantai tersebut. Di tengah ruangan, terdapat sofa panjang lengkap dengan mejanya.

Mata Zahwa fokus menatap ke arah jajaran kabinet berdesain unik dengan berbagai macam buku tertata rapi di dalamnya.

Wajah Zahwa berbinar, ia seperti berada di dalam mimpi. Zahwa sangat menyukai buku dan apa pun yang berhubungan dengan pelajaran.

Zahwa gadis yang cerdas, sejak SD dia terbiasa membaca berbagai macam buku yang ia pinjam dari teman-tamannya sebagai imbalan untuknya. Karena Zahwa telah mengerjakan tugas ataupun memberi contekkan hasil tugasnya kepada mereka.

Kebiasaan itu masih Zahwa pertahankan hingga dia duduk di bangku SMA. Sebenarnya, Zahwa tahu bahwa perbuatannya itu salah. Namun, Zahwa membutuhkan uang untuk membeli jajan ataupun keperluan sekolah lainnya, sehingga membuatnya terpaksa menerima pekerjaan tersebut.

Sejak kecil mamanya selalu mengambil uang saku pemberian dari papanya. Pakaian ataupun tas dan lainnya, Zahwa hanya mendapatkan sisa dari kakaknya.

“Hai! Kamu tuli ya!” seru Zain yang sudah duduk di kursi kebesarannya dengan kaki kanan menyilang di atas kaki kirinya.

“Eh, ma-maaf, Tuan.” Zahwa tergagap karena terkejut mendengar suara Zain.

“Saya menyuruh kamu untuk masuk dan duduk! Bukannya mematung di depan pintu!” ucap Zain dengan dingin.

“Maaf.” Zahwa menundukkan kepalanya lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di depan Barra.

Barra meletakkan sebuah map dokumen keeper berwarna hitam di atas meja. Map yang diatasnya tercetak logo huruf ZM berwarna gold dengan sebuah mahkota di atas huruf Z. Melambangkan nama perusahaannya, yaitu ZM Corporation.

“Baca dan tandatangani surat perjanjian ini!” perintah Barra.

Zahwa meraih map itu dan membukanya, Zahwa menautkan alisnya membaca isi surat tersebut.

Pihak pertama adalah Zain Malik Ibrahim, segala sesuatu yang di ucapkan oleh pihak pertama selalu benar. Dan sebagai pihak kedua, Nn. Zahwa Zahratunnisa harus selalu mematuhi semua perintah yang diucapkan oleh pihak pertama.

Pihak kedua harus menjaga nama baik pihak pertama jika berada di luar rumah dan tidak terlibat skandal dengan pria lain.

Pihak pertama akan memberikan segala fasilitas dan memenuhi kebutuhan hidup pihak kedua selama pernikahan berlangsung.

Dilarang membawa keluarga ataupun teman ke dalam lingkungan mansion utama.

5. Pihak pertama berhak memberikan hukuman jika pihak kedua melanggar peraturan yang sudah disepakati.

6. Pihak kedua tidak boleh ikut campur dalam segala urusan pribadi pihak pertama.

Pihak kedua tidak boleh mengajukan perceraian selama pihak pertama tidak menyetujuinya.

“Maaf, Tuan. Menurut saya kesepakatan ini ti-”

“Apakah Nona sudah melupakan poin pertama dalam surat itu?” tanya Barra memotong perkataan Zahwa.

Zahwa melirik ke arah Zain, pria itu hanya diam dengan tatapan tajam mengarah kepadanya.

“Sebaiknya Nona segera menandatangani surat itu!”

Zahwa meraih pena yang ada di atas meja, ia masih ragu untuk membubuhkan tanda tangannya di atas kertas bermeterai di depannya tersebut.

“Ingat! Apa yang bisa tuan Zain lakukan kepada keluarga Nona jika Nona menolak perintah tuan Zain!” peringat Barra membuat Zahwa semakin gelisah.

“Tu-tuan. Bolehkah saya melanjutkan sekolah saya?” tanya Zahwa dengan hati-hati.

Barra menatap ke arah tuannya, menunggu persetujuan dari Zain.

“Diizinkan,” ucap Barra setelah mendapati anggukan dari tuannya.

“Terima kasih, Tuan.” Zahwa tersenyum lega, setidaknya dia masih bisa kuliah dan mengejar cita-citanya.

“Akan ada sopir yang akan mengantar dan menjemput Nona selama pergi ke kampus.” Barra menjelaskan kepada Zahwa.

“Baik, saya terima.” Zahwa lalu menandatangani surat perjanjian tersebut.

‘Setidaknya aku masih bisa kuliah dan terbebas dari mama dan kak Nindy.’

Barra membereskan berkas-berkas tersebut dan memberikannya kepada Zain.

Zain hanya menatap sekilas kertas tersebut, dan kembali menatap ke arah Zahwa.

“Kamu boleh pergi.”

Zahwa melebarkan matanya, ia tidak percaya bahwa tuan muda yang sudah sah menjadi suaminya itu akan bersikap dingin dan acuh kepadanya.

“Baik, saya permisi, Tu-an.” Zahwa pamit dengan menekankan kata ‘tuan’ saat mengucapkannya.

Barra berjalan menuju pintu diikuti oleh Zahwa di belakangnya.

“Tunggu!” Zain menahan Zahwa ketika ia sudah berada di ambang pintu membuat Zahwa menghentikan langkahnya dan kembali menghadap ke arah Zain.

“Pelajari semua peraturan di rumah ini! Saya tidak ingin ada kesalahan sedikit pun di rumah ini!”

“Baik, Tuan.”

Barra mengantar Zahwa hingga di ujung tangga, Zahwa menuruni satu persatu anak tangga hingga sampai di lantai satu.

Zahwa melangkahkan kakinya menuju dapur, ia melihat semua pelayan sudah selesai dengan pekerjaan mereka.

“Nyonya, Anda ditunggu nyonya besar di ruang keluarga,” ucap bi Nur ketika melihat nyonya mudanya memasuki dapur.

“Bisakah bibi antarkan aku ke ruang keluarga?” tanya Zahwa dengan sopan, ia belum mengerti tata letak ruang di rumah ini.

Bi Nur mengantarkan Zahwa ke ruangan keluarga, ruangan mewah dengan penataan ruang yang simpel namun elegan kemudian bi Nur berjalan kembali ke dapur.

Zahwa melihat ibu mertuanya duduk di sofa sibuk dengan ponsel ditangannya, di sebelahnya Clarisa pun melakukan hal yang sama dengan ibu mertuanya.

“Nyonya memanggil saya?” tanya Zahwa berjalan mendekat ke arah mertuanya, namun ia hanya berdiri di dekat sofa.

Ny. Amara mengangkat kepalanya, matanya memicing menatap ke arah Zahwa. Wanita paruh baya itu meneliti penampilan Zahwa, celana kain panjang dengan kaos panjang hitam yang sudah memudar.

Tadi pagi Ny. Amara tidak terlalu fokus dengan pakaian yang dipakai menantu barunya itu.

“Duduklah!” perintahnya.

Zahwa menatap sofa di depannya, ia ragu untuk mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang terlihat sangat mahal baginya.

Ny. Amara melihat keraguan di wajah Zahwa. “Duduklah! Jangan takut.”

“Baik, Nyonya.”

“Panggil aku mom, sama seperti Zain dan Clarisa memanggilku.”

“Baik, M-Mom.” Zahwa mendudukkan tubuhnya di atas sofa berhadapan langsung dengan ibu mertuanya, ia merasa gugup dan grogi.

“Apa kamu tidak memiliki pakaian yang layak?” tanya Ny. Amara sedikit merasa risi dengan pakaian lusuh yang dipakai Zahwa.

Clarisa melirik sekilas ke arah Zahwa, lalu kembali fokus dengan ponselnya. “Bahkan seragam para pelayan di rumah ini lebih layak dari pada pakaiannya,” lirihnya yang masih bisa di dengar oleh ibu mertuanya.

Ny. Amara menoleh ke arah Clarisa, ia tidak suka ada orang yang menghina keluarganya. Zahwa sudah resmi menjadi menantunya, tidak ada yang boleh menghina atau merendahkannya.

Clarisa merasa ada sepasang mata yang menatapnya tajam, lalu ia bergegas mendongakkan kepalanya.

“Aku ada beberapa baju yang masih baru. Kamu bisa memakainya, Zahwa.” Clarisa menghindari masalah karena menyadari kesalahannya.

“Tidak perlu! Zahwa, kamu ikut mommy ke butik sekarang juga!” perintah Ny. Amara tanpa ingin di bantah.

Zahwa hanya diam menundukkan kepala, ia belum terbiasa dengan kehidupan barunya.

“Angkat kepalamu, Zahwa! Jangan pernah kamu menundukkan kepalmu lagi. Kamu adalah nyonya di rumah ini! Bi Nur bilang tadi pagi kamu yang membuat sarapan.”

“I-iya, Mom.”

“Lumayan enak, tapi ingat! Itu bukanlah tempat kamu, Zahwa!” ucap Ny. Amara dengan nada tidak suka.

“Maaf, Mom.”

“Ayo kita ke butik, ganti pakaianmu dengan yang lebih layak!”

“Mo-Mom ....” cicit Zahwa.

“Apa? Jangan bilang kamu tidak punya pakaian yang lebih layak dari ini?”

Ny. Amara menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka bahwa putri dari teman sosialitanya tidak memiliki pakaian layak untuk dipakainya.

“Kapan terakhir kali kamu membeli baju?”

Zahwa hanya diam, bingung ingin menjawab pertanyaan ibu mertuanya. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa terakhir kali papanya membelikan pakaian baru ketika ulang tahunnya yang ke-10.

“Ck. Ikut denganku!” Ny. Amara bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya di lantai satu di ikuti oleh Zahwa di belakangnya.

Kamar Ny. Amara berada di lantai satu karena keinginannya, Ny. Amara berada di rumah itu setiap akhir pekan saja.

Ny. Amara memberikan sebuah gaun remaja yang masih baru untuk Zahwa. Ada beberapa gaun remaja yang Ny. Amara simpan di dalam walk in cosed di dalam kamar mewahnya.

“Pakailah! Aku akan memberikan baju baru untuk kamu, dan buang semua baju-baju kumuh milikmu itu!”

“Tapi, Mom-”

“Apa lagi?” tanya Ny. Amara meninggikan suaranya.

“Saya tidak bisa memakai pakaian yang terlalu pendek, Mom.” Zahwa meneliti dres dengan model sabrina selutut berwarna pastel di tangannya, terlihat cantik dan elegan.

Ny. Amara memilih dress baru untuk Zahwa, kali ini ia memberikan sebuah dress hitam panjang tanpa lengan dengan sebuah kardigan rajut berwarna putih.

Usai berganti pakaiannya, Ny. Amara dan Zahwa pergi ke butik terkenal milik kenalan Ny. Amara diantarkan oleh sopir pribadi Ny. Amara.

Ny. Amara memborong banyak pakaian untuk menantu barunya tersebut, semua pakaian mewah dan berkelas. Hampir seluruh pakaian itu adalah dres panjang atau celana dan baju lengan panjang, sesuai dengan permintaan Zahwa, entah apa alasan dibaliknya.

Ny. Amara juga membelikan beberapa pakaian pendek dengan style remaja masa kini. Sebenarnya Zahwa ingin menolaknya, namun ia urungkan ketika melihat wajah ibu mertuanya itu sangat bahagia ketika memborong baju remaja untuknya.

Terpopuler

Comments

Diah Elmawati

Diah Elmawati

Selamat Zahwa kamu memiliki Mertua yang sangat baik hati

2023-03-10

1

Susanty

Susanty

aku suka karekter nyonya Amara, adil,dan baik, wlwpun agak judez.🤭🤣🤣
semoga Zahwa nanti jadi menantu kesayangan, dan awas kau Clarisa kalo iri dan berniat menjebak Zahwa supaya Zain marah.

2022-10-30

1

Rini Musrini

Rini Musrini

menarik ceritanya

2022-09-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2 Bab 2. Pengantin Pengganti
3 Bab 3. Mansion Utama
4 Bab 4. Perjanjian
5 Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6 Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7 Bab 7. Zahwa Sakit
8 Bab 8. Rencana Clarisa
9 Bab 9. Berita Menggemparkan
10 Bab 10. Kehamilan Clarisa
11 Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12 Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13 Bab 13. Kamar 305
14 Bab 14. Pertolongan
15 Bab 15. Kehancuran Zahra
16 Bab 16. Kepanikan Zain
17 Bab 17. Kemarahan Zain
18 Bab 18. Trauma Zahra
19 Bab 19. Berpisah
20 Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21 Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22 Bab 22. Anindya
23 Bab 23. Kedatangan Anindya
24 Bab 24. Rencana Zain
25 Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26 Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27 Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28 Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29 Bab 29. Pengakuan Zahra
30 Bab 30. Keluarga Athaillah
31 Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32 Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33 Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34 Bab 34. Merasa Dipermainkan
35 Bab 35. Tidur Seranjang
36 Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37 Bab 37. Ziya's House
38 Bab 38. Ziya's House 2
39 Bab 39. Manis Bagai Candu
40 Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41 Bab 41. Rencana Ny. Amara
42 Bab 42. Keluar dari Penjara
43 Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44 Bab 44. Harapan Ny. Amara
45 Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46 Bab 45. Keposesifan Zain
47 Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48 Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49 Bab 48. Syukuran
50 Bab 49. Malam Penuh Drama
51 Bab 50. Rencana Berkunjung
52 Bab 51. Godaan
53 Bab 52. Menahan Emosi
54 Bab 53. Terungkap
55 Bab 54. Drama Keluarga
56 Bab 55. Keputusan Akhir
57 Bab 56. Gelisah
58 Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59 Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60 Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61 Bab 60. Crazy Rich Man
62 Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63 Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64 Bab 63. Hu Yitian
65 Bab 64. Karantina
66 Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67 Bab 66. Melepas Rindu
68 Bab 67. Pergi
69 Bab 68. Salah Paham
70 Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71 Bab 70. Zhang Yang Zi
72 Bab 71. Keputusan Barra
73 Bab 72. Calon Menantu
74 Bab 73. Nasihat dari Paman
75 Bab 74. Kejutan
76 Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77 Bab 76. Tragedi
78 Bab 77. Kisah Yang Zi
79 Bab 78. Amarah Sang Kakak
80 Bab 79. Disneyland
81 Bab 80. Mengulang Pesta
82 Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83 Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84 Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85 Bab 84. Alun-Alun Kota
86 Bab 85. Pengakuan Barra
87 Bab 86. Pesta Pernikahan
88 Bab 87. Kekacauan
89 Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90 Bab 89. Malam Pesta
91 Bab 90. Cucu Kesayangan
92 Bab 91. Hanya Salah Paham
93 Bab 92. Retak
94 Bab 93. Tak Pernah Terencana
95 Bab 94. Luka dan Trauma
96 Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97 Bab 96. Gelisah
98 Bab 97. Bumil Muda
99 Bab 98. Orang Asing
100 Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101 Bab 100. Singa yang Posesif
102 Bab 101. Drama di Kantin
103 Bab 102. Ketakutan Zahra
104 Bab 103. Teman Baru
105 Bab 104. Teman Lama
106 Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107 Bab 106. Perlengkapan Bayi
108 Bab 107. Musibah
109 Bab 108. Kembali Bermimpi
110 Bab 109. Pengakuan
111 Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112 Bab 110. Ali dan Tania
113 Bab 111. Penjelasan Zain
114 Bab 112. Baby Rayyanza
115 Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116 Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117 Bab 115. Keluarga Mahardika
118 Bab 116. Istana Tersembunyi
119 Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120 Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121 Bab 119. Merajuk
122 Bab 120. Datang untuk Melamar
123 Bab 121. Hadiah Pernikahan
124 Bab 122. Klub Malam
125 Bab 123. Permintaan Zahra
126 Bab 124. Sisi Lain Yitian
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2
Bab 2. Pengantin Pengganti
3
Bab 3. Mansion Utama
4
Bab 4. Perjanjian
5
Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6
Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7
Bab 7. Zahwa Sakit
8
Bab 8. Rencana Clarisa
9
Bab 9. Berita Menggemparkan
10
Bab 10. Kehamilan Clarisa
11
Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12
Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13
Bab 13. Kamar 305
14
Bab 14. Pertolongan
15
Bab 15. Kehancuran Zahra
16
Bab 16. Kepanikan Zain
17
Bab 17. Kemarahan Zain
18
Bab 18. Trauma Zahra
19
Bab 19. Berpisah
20
Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21
Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22
Bab 22. Anindya
23
Bab 23. Kedatangan Anindya
24
Bab 24. Rencana Zain
25
Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26
Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27
Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28
Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29
Bab 29. Pengakuan Zahra
30
Bab 30. Keluarga Athaillah
31
Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32
Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33
Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34
Bab 34. Merasa Dipermainkan
35
Bab 35. Tidur Seranjang
36
Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37
Bab 37. Ziya's House
38
Bab 38. Ziya's House 2
39
Bab 39. Manis Bagai Candu
40
Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41
Bab 41. Rencana Ny. Amara
42
Bab 42. Keluar dari Penjara
43
Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44
Bab 44. Harapan Ny. Amara
45
Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46
Bab 45. Keposesifan Zain
47
Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48
Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49
Bab 48. Syukuran
50
Bab 49. Malam Penuh Drama
51
Bab 50. Rencana Berkunjung
52
Bab 51. Godaan
53
Bab 52. Menahan Emosi
54
Bab 53. Terungkap
55
Bab 54. Drama Keluarga
56
Bab 55. Keputusan Akhir
57
Bab 56. Gelisah
58
Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59
Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60
Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61
Bab 60. Crazy Rich Man
62
Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63
Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64
Bab 63. Hu Yitian
65
Bab 64. Karantina
66
Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67
Bab 66. Melepas Rindu
68
Bab 67. Pergi
69
Bab 68. Salah Paham
70
Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71
Bab 70. Zhang Yang Zi
72
Bab 71. Keputusan Barra
73
Bab 72. Calon Menantu
74
Bab 73. Nasihat dari Paman
75
Bab 74. Kejutan
76
Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77
Bab 76. Tragedi
78
Bab 77. Kisah Yang Zi
79
Bab 78. Amarah Sang Kakak
80
Bab 79. Disneyland
81
Bab 80. Mengulang Pesta
82
Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83
Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84
Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85
Bab 84. Alun-Alun Kota
86
Bab 85. Pengakuan Barra
87
Bab 86. Pesta Pernikahan
88
Bab 87. Kekacauan
89
Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90
Bab 89. Malam Pesta
91
Bab 90. Cucu Kesayangan
92
Bab 91. Hanya Salah Paham
93
Bab 92. Retak
94
Bab 93. Tak Pernah Terencana
95
Bab 94. Luka dan Trauma
96
Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97
Bab 96. Gelisah
98
Bab 97. Bumil Muda
99
Bab 98. Orang Asing
100
Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101
Bab 100. Singa yang Posesif
102
Bab 101. Drama di Kantin
103
Bab 102. Ketakutan Zahra
104
Bab 103. Teman Baru
105
Bab 104. Teman Lama
106
Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107
Bab 106. Perlengkapan Bayi
108
Bab 107. Musibah
109
Bab 108. Kembali Bermimpi
110
Bab 109. Pengakuan
111
Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112
Bab 110. Ali dan Tania
113
Bab 111. Penjelasan Zain
114
Bab 112. Baby Rayyanza
115
Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116
Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117
Bab 115. Keluarga Mahardika
118
Bab 116. Istana Tersembunyi
119
Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120
Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121
Bab 119. Merajuk
122
Bab 120. Datang untuk Melamar
123
Bab 121. Hadiah Pernikahan
124
Bab 122. Klub Malam
125
Bab 123. Permintaan Zahra
126
Bab 124. Sisi Lain Yitian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!