Zahwa terdiam membeku ketika kakinya memasuki ruang kerja Zain. Ruangan luas berdinding kaca, megah dan elegan. Lengkap dengan segala furniturnya yang berkelas.
Meja kerja dan kursi kebesaran pemiliknya berada di dekat dinding kaca yang langsung memperlihatkan pepohonan hijau di luar sana. Di sebelahnya terdapat pintu kaca yang menghubungkan dengan balkon di lantai tersebut. Di tengah ruangan, terdapat sofa panjang lengkap dengan mejanya.
Mata Zahwa fokus menatap ke arah jajaran kabinet berdesain unik dengan berbagai macam buku tertata rapi di dalamnya.
Wajah Zahwa berbinar, ia seperti berada di dalam mimpi. Zahwa sangat menyukai buku dan apa pun yang berhubungan dengan pelajaran.
Zahwa gadis yang cerdas, sejak SD dia terbiasa membaca berbagai macam buku yang ia pinjam dari teman-tamannya sebagai imbalan untuknya. Karena Zahwa telah mengerjakan tugas ataupun memberi contekkan hasil tugasnya kepada mereka.
Kebiasaan itu masih Zahwa pertahankan hingga dia duduk di bangku SMA. Sebenarnya, Zahwa tahu bahwa perbuatannya itu salah. Namun, Zahwa membutuhkan uang untuk membeli jajan ataupun keperluan sekolah lainnya, sehingga membuatnya terpaksa menerima pekerjaan tersebut.
Sejak kecil mamanya selalu mengambil uang saku pemberian dari papanya. Pakaian ataupun tas dan lainnya, Zahwa hanya mendapatkan sisa dari kakaknya.
“Hai! Kamu tuli ya!” seru Zain yang sudah duduk di kursi kebesarannya dengan kaki kanan menyilang di atas kaki kirinya.
“Eh, ma-maaf, Tuan.” Zahwa tergagap karena terkejut mendengar suara Zain.
“Saya menyuruh kamu untuk masuk dan duduk! Bukannya mematung di depan pintu!” ucap Zain dengan dingin.
“Maaf.” Zahwa menundukkan kepalanya lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di depan Barra.
Barra meletakkan sebuah map dokumen keeper berwarna hitam di atas meja. Map yang diatasnya tercetak logo huruf ZM berwarna gold dengan sebuah mahkota di atas huruf Z. Melambangkan nama perusahaannya, yaitu ZM Corporation.
“Baca dan tandatangani surat perjanjian ini!” perintah Barra.
Zahwa meraih map itu dan membukanya, Zahwa menautkan alisnya membaca isi surat tersebut.
Pihak pertama adalah Zain Malik Ibrahim, segala sesuatu yang di ucapkan oleh pihak pertama selalu benar. Dan sebagai pihak kedua, Nn. Zahwa Zahratunnisa harus selalu mematuhi semua perintah yang diucapkan oleh pihak pertama.
Pihak kedua harus menjaga nama baik pihak pertama jika berada di luar rumah dan tidak terlibat skandal dengan pria lain.
Pihak pertama akan memberikan segala fasilitas dan memenuhi kebutuhan hidup pihak kedua selama pernikahan berlangsung.
Dilarang membawa keluarga ataupun teman ke dalam lingkungan mansion utama.
5. Pihak pertama berhak memberikan hukuman jika pihak kedua melanggar peraturan yang sudah disepakati.
6. Pihak kedua tidak boleh ikut campur dalam segala urusan pribadi pihak pertama.
Pihak kedua tidak boleh mengajukan perceraian selama pihak pertama tidak menyetujuinya.
“Maaf, Tuan. Menurut saya kesepakatan ini ti-”
“Apakah Nona sudah melupakan poin pertama dalam surat itu?” tanya Barra memotong perkataan Zahwa.
Zahwa melirik ke arah Zain, pria itu hanya diam dengan tatapan tajam mengarah kepadanya.
“Sebaiknya Nona segera menandatangani surat itu!”
Zahwa meraih pena yang ada di atas meja, ia masih ragu untuk membubuhkan tanda tangannya di atas kertas bermeterai di depannya tersebut.
“Ingat! Apa yang bisa tuan Zain lakukan kepada keluarga Nona jika Nona menolak perintah tuan Zain!” peringat Barra membuat Zahwa semakin gelisah.
“Tu-tuan. Bolehkah saya melanjutkan sekolah saya?” tanya Zahwa dengan hati-hati.
Barra menatap ke arah tuannya, menunggu persetujuan dari Zain.
“Diizinkan,” ucap Barra setelah mendapati anggukan dari tuannya.
“Terima kasih, Tuan.” Zahwa tersenyum lega, setidaknya dia masih bisa kuliah dan mengejar cita-citanya.
“Akan ada sopir yang akan mengantar dan menjemput Nona selama pergi ke kampus.” Barra menjelaskan kepada Zahwa.
“Baik, saya terima.” Zahwa lalu menandatangani surat perjanjian tersebut.
‘Setidaknya aku masih bisa kuliah dan terbebas dari mama dan kak Nindy.’
Barra membereskan berkas-berkas tersebut dan memberikannya kepada Zain.
Zain hanya menatap sekilas kertas tersebut, dan kembali menatap ke arah Zahwa.
“Kamu boleh pergi.”
Zahwa melebarkan matanya, ia tidak percaya bahwa tuan muda yang sudah sah menjadi suaminya itu akan bersikap dingin dan acuh kepadanya.
“Baik, saya permisi, Tu-an.” Zahwa pamit dengan menekankan kata ‘tuan’ saat mengucapkannya.
Barra berjalan menuju pintu diikuti oleh Zahwa di belakangnya.
“Tunggu!” Zain menahan Zahwa ketika ia sudah berada di ambang pintu membuat Zahwa menghentikan langkahnya dan kembali menghadap ke arah Zain.
“Pelajari semua peraturan di rumah ini! Saya tidak ingin ada kesalahan sedikit pun di rumah ini!”
“Baik, Tuan.”
Barra mengantar Zahwa hingga di ujung tangga, Zahwa menuruni satu persatu anak tangga hingga sampai di lantai satu.
Zahwa melangkahkan kakinya menuju dapur, ia melihat semua pelayan sudah selesai dengan pekerjaan mereka.
“Nyonya, Anda ditunggu nyonya besar di ruang keluarga,” ucap bi Nur ketika melihat nyonya mudanya memasuki dapur.
“Bisakah bibi antarkan aku ke ruang keluarga?” tanya Zahwa dengan sopan, ia belum mengerti tata letak ruang di rumah ini.
Bi Nur mengantarkan Zahwa ke ruangan keluarga, ruangan mewah dengan penataan ruang yang simpel namun elegan kemudian bi Nur berjalan kembali ke dapur.
Zahwa melihat ibu mertuanya duduk di sofa sibuk dengan ponsel ditangannya, di sebelahnya Clarisa pun melakukan hal yang sama dengan ibu mertuanya.
“Nyonya memanggil saya?” tanya Zahwa berjalan mendekat ke arah mertuanya, namun ia hanya berdiri di dekat sofa.
Ny. Amara mengangkat kepalanya, matanya memicing menatap ke arah Zahwa. Wanita paruh baya itu meneliti penampilan Zahwa, celana kain panjang dengan kaos panjang hitam yang sudah memudar.
Tadi pagi Ny. Amara tidak terlalu fokus dengan pakaian yang dipakai menantu barunya itu.
“Duduklah!” perintahnya.
Zahwa menatap sofa di depannya, ia ragu untuk mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang terlihat sangat mahal baginya.
Ny. Amara melihat keraguan di wajah Zahwa. “Duduklah! Jangan takut.”
“Baik, Nyonya.”
“Panggil aku mom, sama seperti Zain dan Clarisa memanggilku.”
“Baik, M-Mom.” Zahwa mendudukkan tubuhnya di atas sofa berhadapan langsung dengan ibu mertuanya, ia merasa gugup dan grogi.
“Apa kamu tidak memiliki pakaian yang layak?” tanya Ny. Amara sedikit merasa risi dengan pakaian lusuh yang dipakai Zahwa.
Clarisa melirik sekilas ke arah Zahwa, lalu kembali fokus dengan ponselnya. “Bahkan seragam para pelayan di rumah ini lebih layak dari pada pakaiannya,” lirihnya yang masih bisa di dengar oleh ibu mertuanya.
Ny. Amara menoleh ke arah Clarisa, ia tidak suka ada orang yang menghina keluarganya. Zahwa sudah resmi menjadi menantunya, tidak ada yang boleh menghina atau merendahkannya.
Clarisa merasa ada sepasang mata yang menatapnya tajam, lalu ia bergegas mendongakkan kepalanya.
“Aku ada beberapa baju yang masih baru. Kamu bisa memakainya, Zahwa.” Clarisa menghindari masalah karena menyadari kesalahannya.
“Tidak perlu! Zahwa, kamu ikut mommy ke butik sekarang juga!” perintah Ny. Amara tanpa ingin di bantah.
Zahwa hanya diam menundukkan kepala, ia belum terbiasa dengan kehidupan barunya.
“Angkat kepalamu, Zahwa! Jangan pernah kamu menundukkan kepalmu lagi. Kamu adalah nyonya di rumah ini! Bi Nur bilang tadi pagi kamu yang membuat sarapan.”
“I-iya, Mom.”
“Lumayan enak, tapi ingat! Itu bukanlah tempat kamu, Zahwa!” ucap Ny. Amara dengan nada tidak suka.
“Maaf, Mom.”
“Ayo kita ke butik, ganti pakaianmu dengan yang lebih layak!”
“Mo-Mom ....” cicit Zahwa.
“Apa? Jangan bilang kamu tidak punya pakaian yang lebih layak dari ini?”
Ny. Amara menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka bahwa putri dari teman sosialitanya tidak memiliki pakaian layak untuk dipakainya.
“Kapan terakhir kali kamu membeli baju?”
Zahwa hanya diam, bingung ingin menjawab pertanyaan ibu mertuanya. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa terakhir kali papanya membelikan pakaian baru ketika ulang tahunnya yang ke-10.
“Ck. Ikut denganku!” Ny. Amara bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya di lantai satu di ikuti oleh Zahwa di belakangnya.
Kamar Ny. Amara berada di lantai satu karena keinginannya, Ny. Amara berada di rumah itu setiap akhir pekan saja.
Ny. Amara memberikan sebuah gaun remaja yang masih baru untuk Zahwa. Ada beberapa gaun remaja yang Ny. Amara simpan di dalam walk in cosed di dalam kamar mewahnya.
“Pakailah! Aku akan memberikan baju baru untuk kamu, dan buang semua baju-baju kumuh milikmu itu!”
“Tapi, Mom-”
“Apa lagi?” tanya Ny. Amara meninggikan suaranya.
“Saya tidak bisa memakai pakaian yang terlalu pendek, Mom.” Zahwa meneliti dres dengan model sabrina selutut berwarna pastel di tangannya, terlihat cantik dan elegan.
Ny. Amara memilih dress baru untuk Zahwa, kali ini ia memberikan sebuah dress hitam panjang tanpa lengan dengan sebuah kardigan rajut berwarna putih.
Usai berganti pakaiannya, Ny. Amara dan Zahwa pergi ke butik terkenal milik kenalan Ny. Amara diantarkan oleh sopir pribadi Ny. Amara.
Ny. Amara memborong banyak pakaian untuk menantu barunya tersebut, semua pakaian mewah dan berkelas. Hampir seluruh pakaian itu adalah dres panjang atau celana dan baju lengan panjang, sesuai dengan permintaan Zahwa, entah apa alasan dibaliknya.
Ny. Amara juga membelikan beberapa pakaian pendek dengan style remaja masa kini. Sebenarnya Zahwa ingin menolaknya, namun ia urungkan ketika melihat wajah ibu mertuanya itu sangat bahagia ketika memborong baju remaja untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Diah Elmawati
Selamat Zahwa kamu memiliki Mertua yang sangat baik hati
2023-03-10
1
Susanty
aku suka karekter nyonya Amara, adil,dan baik, wlwpun agak judez.🤭🤣🤣
semoga Zahwa nanti jadi menantu kesayangan, dan awas kau Clarisa kalo iri dan berniat menjebak Zahwa supaya Zain marah.
2022-10-30
1
Rini Musrini
menarik ceritanya
2022-09-29
1