Waktu menunjukkan pukul 01.30, waktu yang tepat untuk semua orang bermanja dengan mimpi mereka. Namun tidak berlaku untuk orang-orang di dalam ruangan dengan pencahayaan lampu kerlap-kerlip yang menyilaukan mata itu.
Terlihat Zain duduk tanpa kehadiran Barra maupun pengawalan dari anak buahnya. Beberapa wanita berpakaian sexy mencoba mendekat dan merayu Zain. Bahkan, di antara mereka ada yang tanpa malu-malu mencoba mencium wajah Zain, namun dengan gesit Zain selalu menepis dan berhasil menghindarinya.
Hingga akhirnya, ada seseorang dengan gerakan cepat duduk di pangkuan Zain. Mengalungkan tangannya di leher Zain dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibirnya, membuat Zain marah besar.
Prang.
Zain mendorong kasar wanita tersebut hingga membuatnya terdorong ke belakang menabrak meja dan jatuh tersungkur ke lantai.
"Brengsek! Jal*ng! Berani-beraninya kamu menyentuhku!" teriak Zain dengan wajah memerah dan rahang mengeras memperlihatkan urat-urat di lehernya.
Semua orang menghentikan aktivitas mereka dan menatap ke arah kekacauan yang telah Zain lakukan. Para wanita yang tadi berada di dekat Zain dengan cepat berjalan menjauh dengan wajah ketakutan.
Suara musik seketika berhenti, tidak seorang pun berani mengeluarkan suara mereka. Seketika hingar bingar keramaian tempat itu berubah menjadi sepi penuh ketegangan.
Barra yang sedari tadi duduk agak jauh mengamati Zain segera berlari mendekat ke arah tuannya.
"Maaf, Tuan. Apa Anda baik-baik saja?" tanya Barra lalu melirik sekilas ke arah wanita yang tersungkur di lantai dengan tatapan tajamnya.
Manajer tempat tersebut berjalan cepat mendekat ke arah mereka dengan wajah pucat ketakutan.
"Ma-maafkan atas kesalahan kami, Tu-Tuan." Tubuh manajer tersebut sedikit bergetar.
"Kenapa kamu memperkerjakan jal*ng seperti dia?"
"Tu-Tuan, ma-maaf. Dia orang baru, belum memahami peraturan di tempat ini," ucap manajer itu sambil menunduk takut.
"Ck, mengotori tubuhku saja." Zain berlalu meninggalkan tempat itu dengan wajah marahnya.
"Urus dia! Jangan sampai tuan muda melihat wajahnya lagi. Anda tahu sendiri akibatnya!" peringat Barra kepada manajer tersebut kemudian berlalu menyusul tuan mudanya.
Setelah kepergian Zain dan asistennya, sang manajer mendekati wanita tadi dan menyuruhnya untuk berdiri.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipinya, meninggalkan bekas kemerahan di atas pipi mulusnya.
"Bodoh! Apa yang telah kamu lakukan, hah!" teriak sang manajer.
wanita itu memegangi pipinya yang terasa panas. "A-aku hanya melakukan pekerjaanku, Bos."
"Pekerjaan apa? apa kamu siap kehilangan pekerjaan kamu?"
Wanita itu mengerutkan alisnya bingung. "Apa salahku?"
"Kamu masih tanya apa salahmu? Apa kamu tidak membaca peraturan di tempat ini?"
Wanita itu melihat ke sekelilingnya, semua mata masih setia melihat tontonan gratis di depan mereka. "A-aku membacanya."
"Kalau kamu membacanya, kenapal kamu melakukan kesalahan kepada tuan muda?"
"Tu-tuan muda? maksudnya ta-tadi itu tuan Za-Zain?" Tubuh wanita itu menenggang, wajahnya berubah menjadi pucat.
"Ck! Ceroboh sekali kamu, kamu tahu sendiri apa konsekuensi dari kesalahan kamu, kan?" tanya sang manajer dengan wajah yang terlihat kesal.
Glek.
Wanita itu menelan ludahnya kasar, ia mendekati bosnya dan memegang lengannya. "B-Bos ... tolong aku! Aku nggak mau kehilangan pekerjaanku, Bos! Tolong aku."
Namun sang manajer menepis tangan wanita itu dan pergi begitu saja meninggalkan wanita malang itu sendirian.
Sedangkan semua orang kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing tidak memedulikan nasib wanita malang tersebut.
Sudah menjadi rahasia umum di tempat itu, jika tuan muda Zain tidak suka jika dirinya disentuh tanpa izin darinya. Jika ada yang berani menyentuhnya, maka bersiap-siaplah untuk menjadi gelandangan.
Setiap Zain mendatangi tempat itu, maka para wanita-wanita itu akan mendapatkan uang yang lumayan banyak dari Zain tanpa harus mengeluarkan keringat. Hanya menemaninya minum dan duduk saja sudah cukup, tidak perlu melakukan hal yang lebih lagi.
Zain memasuki mansion miliknya. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 02.15, mansion terlihat sepi, hanya ada beberapa penjaga yang bertugas menjaga di tempat masing-masing.
Zain menaiki anak tangga satu persatu, ia menghentikan langkahnya di lantai dua dan berjalan ke arah kiri menuju kamar istri barunya.
Ceklek.
Zain memasuki kamar tersebut, seketika matanya membola.
"Astaga! Dasar bocah! Kenapa aku harus menikahi seorang bocah?" gerutunya.
Zain berjalan mendekat ke arah ranjang, ia memungut bantal yang tergeletak di lantai dan melemparkannya ke atas tubuh istri barunya dengan sedikit kencang. Namun, gadis tersebut tidak merasa terganggu sedikit pun.
Zain memandangi tubuh istri barunya. Gadis dengan tubuh yang cukup kurus, terlentang tidur di atas kasur masih lengkap dengan bathrobe yang membungkus tubuhnya.
Zain menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Zahwa yang tidur pulas memenuhi kasur tanpa selimut bahkan ia tidak menyalakan AC kamarnya.
Zain berjalan menuju kamar Clarisa dan masuk ke dalamnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Salah satu peraturan di rumah tersebut adalah pelayan dan penjaga dilarang naik ke lantai dua di malam hari tanpa seizin anggota keluarga, sehingga semua kamar tidak dikunci agar sewaktu-waktu Zain bebas memasuki kamar istrinya.
Tidak seorang pun bebas naik ke lantai tiga tanpa izin darinya, apa pun alasannya. Hanya Barra yang memilik akses untuk pergi ke lantai tiga dan juga kepala pelayan sekedar untuk membersihkan lantai tersebut.
Zain menarik selimut dan masuk ke dalamnya, setelah melepas asal sepatunya tanpa mengganti kemeja pernikahan yang ia pakai di acara pernikahannya kemarin.
Zain mendekap tubuh Clarisa yang hanya berbalut gaun malam tipis dan transparan.
"Emh, kamu sudah pulang?" tanya Clarisa yang merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
Clarisa memutar tubuhnya dan mengalungkan tangannya di leher suaminya, ia mencium bau alkohol dari tubuh suaminya. Hal yang sudah biasa baginya.
"Aku menginginkanmu!" ucap Zain dengan suara datar.
"Hmm," gumam Clarisa tersenyum semringah.
Selama pernikahannya yang berjalan hampir dua tahun, mereka hanya beberapa kali tidur bersama. Jarang sekali Zain mau masuk ke dalam kamarnya, bahkan sudah lama sekali. Entah berapa bulan lalu, Clarisa pun sudah lupa.
...*****...
Keesokan harinya, pukul 04.00 Zahwa sudah terjaga dari tidurnya. Ia bergegas menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya, kemudian mengganti bathrobe yang ia pakai dengan pakaian yang ibunya bawakan dari rumah orang tuanya.
Zahwa keluar dari kamarnya menuruni satu persatu anak tangga menuju dapur. Zahwa sudah terbiasa bangun pagi, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan memasak sebelum berangkat ke sekolah.
Ayahnya pernah menanyakan kepada ibunya kenapa tidak memperkerjakan pelayan, alasan ibunya hanya satu. Karena dirinya tidak ada kerjaan di rumah, jadi ia bisa mengerjakannya sendiri dan lumayan uangnya bisa untuk tambahan belanja.
Namun, semua itu hanyalah sebuah alasan, kenyataannya selalu saja Zahwa yang melakukan semua pekerjaan rumah tangga karena ayahnya lebih sering berada di luar negeri.
Zahwa masuk ke dalam dapur yang masih sepi. Ia mulai mengeluarkan bahan-bahan yang akan di masaknya. di tengah pekerjaannya, kepala pelayan dan beberapa pelayan berdatangan, mereka terkejut melihat nyonya baru mereka memasuki dapur.
"Astaga! Nyonya, apa yang Anda lakukan di sini? Anda tidak perlu mengotori tangan Anda, jika menginginkan sesuatu tinggal bilang saja, kami dengan senang hati akan melayani Anda," ucap kepala pelayan merasa takut jika tuan mudanya mengetahui bahwa istrinya memasuki dapur. Karena selama ia bekerja di rumah itu, belum sekalipun anggota keluarga rumah itu memasuki dapur.
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan alat-alat ini. Jadi kalian tidak perlu takut. Ayo kita masak bersama, Emmh-"
"Anda bisa memanggil saya bi Nur, Nyonya," ucap bi Nur sang kepala pelayan yang melihat nyonya barunya kebingungan untuk memanggil dirinya.
"Baik, Bi Nur. Oh ya, jangan panggil aku nyonya, aku bukan nyonya kalian. panggil saja Zahwa. Okay!" pinta Zahwa dengan melebarkan senyumannya.
"Maaf, kami tidak bisa, Nyonya. Nanti tuan muda akan menghukum kami jika lancang memanggil Nyonya hanya dengan sebutan nama saja." Bi Nur menolak dengan sopan permintaan Zahwa.
"Ya sudah, terserah kalian. Tapi jangan larang aku untuk memasak ya." Zahwa menunjukkan wajah imutnya.
"Baiklah, tapi hanya hari ini saja." Bi Nur terpaksa mengizinkan Zahwa untuk memasak, ia tidak tega menolak keinginan majikannya tersebut.
"Aku tidak janji," lirih Zahwa yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.
Zahwa melanjutkan memasaknya dibantu oleh beberapa pelayan yang bertugas untuk memasak.
Selesai memasak, Zahwa meminta para pelayan untuk menyajikan masakannya di atas meja makan, sedangkan dirinya izin ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, Zain duduk di kursi utama. Ny. Amara, ibunya Zain duduk di sebelah kanannya, di sampingnya duduk Clarisa. dan di sebelah kiri Zain duduk Barra sang asisten yang setiap pagi ikut sarapan bersama atas perintah Zain. Zahwa? entah di mana keberadaan gadis itu.
Zain mengamati sekitar. "Kemana bocah itu?" tanyanya yang membuat semua orang merasa bingung.
"Bocah? Siapa maksud kamu Zain?" tanya Ny. Amara.
"Zahra."
Ny. Amara menautkan alis bingung. "Siapa Zahra?"
"Cepat panggil bocah itu ke sini!" perintah Zain kepada seorang pelayan.
Dengan cepat pelayan itu berlari ke arah dapur, dan kembali bersama Zahwa di sebelahnya.
"Tuan mencari saya?" tanya Zahwa dengan wajah polos.
"Cepat duduk! Semua orang harus menunda sarapa hanya untuk menunggumu!" ucap Zain dengan suara dinginnya.
"Ta-tapi Tuan ...." Zahwa merasa ragu dan bingung harus ikut makan bersama mereka di meja makan tersebut, dulu dirumahnya ia selalu makan di dapur sendirian.
"Cepat! Tunggu apalagi? Kamu ingin membuat semua orang kelaparan?"
"Ma-maaf Tuan." Zahwa duduk di sebelah Barra dengan jarak satu kursi.
Mereka makan dengan diam, salah satu peraturan di rumah itu ketika makan tidak boleh ada yang mengeluarkan suaranya.
Acara makan harus menunggu Zain untuk memulainya terlebih dahulu dan berakhir setelah Zain menyelesaikan makannya.
Zain menyilangkan sendoknya di atas piring, tanda ia sudah selesai dengan makanannya. Ia berdiri dari duduknya. "Ikut denganku ke ruang kerjaku!" Titahnya kepada Zahwa.
Zain berjalan menuju lift yang mengarah langsung ke lantai khusus miliknya, diikuti Barra dan Zahwa di belakangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Susanty
masih penasaran kenapa Zain menikah lagi.
semoga Zain jadi bucin sama Zahwa.
2022-10-30
1
Ranran Miura
serasa kayak lagi ospek 😅
2022-06-22
6
Ranran Miura
manggil nama aja salah 🙄
2022-06-22
2