Bab 3. Mansion Utama

Waktu menunjukkan pukul 01.30, waktu yang tepat untuk semua orang bermanja dengan mimpi mereka. Namun tidak berlaku untuk orang-orang di dalam ruangan dengan pencahayaan lampu kerlap-kerlip yang menyilaukan mata itu.

Terlihat Zain duduk tanpa kehadiran Barra maupun pengawalan dari anak buahnya. Beberapa wanita berpakaian sexy mencoba mendekat dan merayu Zain. Bahkan, di antara mereka ada yang tanpa malu-malu mencoba mencium wajah Zain, namun dengan gesit Zain selalu menepis dan berhasil menghindarinya.

Hingga akhirnya, ada seseorang dengan gerakan cepat duduk di pangkuan Zain. Mengalungkan tangannya di leher Zain dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibirnya, membuat Zain marah besar.

Prang.

Zain mendorong kasar wanita tersebut hingga membuatnya terdorong ke belakang menabrak meja dan jatuh tersungkur ke lantai.

"Brengsek! Jal*ng! Berani-beraninya kamu menyentuhku!" teriak Zain dengan wajah memerah dan rahang mengeras memperlihatkan urat-urat di lehernya.

Semua orang menghentikan aktivitas mereka dan menatap ke arah kekacauan yang telah Zain lakukan. Para wanita yang tadi berada di dekat Zain dengan cepat berjalan menjauh dengan wajah ketakutan.

Suara musik seketika berhenti, tidak seorang pun berani mengeluarkan suara mereka. Seketika hingar bingar keramaian tempat itu berubah menjadi sepi penuh ketegangan.

Barra yang sedari tadi duduk agak jauh mengamati Zain segera berlari mendekat ke arah tuannya.

"Maaf, Tuan. Apa Anda baik-baik saja?" tanya Barra lalu melirik sekilas ke arah wanita yang tersungkur di lantai dengan tatapan tajamnya.

Manajer tempat tersebut berjalan cepat mendekat ke arah mereka dengan wajah pucat ketakutan.

"Ma-maafkan atas kesalahan kami, Tu-Tuan." Tubuh manajer tersebut sedikit bergetar.

"Kenapa kamu memperkerjakan jal*ng seperti dia?"

"Tu-Tuan, ma-maaf. Dia orang baru, belum memahami peraturan di tempat ini," ucap manajer itu sambil menunduk takut.

"Ck, mengotori tubuhku saja." Zain berlalu meninggalkan tempat itu dengan wajah marahnya.

"Urus dia! Jangan sampai tuan muda melihat wajahnya lagi. Anda tahu sendiri akibatnya!" peringat Barra kepada manajer tersebut kemudian berlalu menyusul tuan mudanya.

Setelah kepergian Zain dan asistennya, sang manajer mendekati wanita tadi dan menyuruhnya untuk berdiri.

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipinya, meninggalkan bekas kemerahan di atas pipi mulusnya.

"Bodoh! Apa yang telah kamu lakukan, hah!" teriak sang manajer.

wanita itu memegangi pipinya yang terasa panas. "A-aku hanya melakukan pekerjaanku, Bos."

"Pekerjaan apa? apa kamu siap kehilangan pekerjaan kamu?"

Wanita itu mengerutkan alisnya bingung. "Apa salahku?"

"Kamu masih tanya apa salahmu? Apa kamu tidak membaca peraturan di tempat ini?"

Wanita itu melihat ke sekelilingnya, semua mata masih setia melihat tontonan gratis di depan mereka. "A-aku membacanya."

"Kalau kamu membacanya, kenapal kamu melakukan kesalahan kepada tuan muda?"

"Tu-tuan muda? maksudnya ta-tadi itu tuan Za-Zain?" Tubuh wanita itu menenggang, wajahnya berubah menjadi pucat.

"Ck! Ceroboh sekali kamu, kamu tahu sendiri apa konsekuensi dari kesalahan kamu, kan?" tanya sang manajer dengan wajah yang terlihat kesal.

Glek.

Wanita itu menelan ludahnya kasar, ia mendekati bosnya dan memegang lengannya. "B-Bos ... tolong aku! Aku nggak mau kehilangan pekerjaanku, Bos! Tolong aku."

Namun sang manajer menepis tangan wanita itu dan pergi begitu saja meninggalkan wanita malang itu sendirian.

Sedangkan semua orang kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing tidak memedulikan nasib wanita malang tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum di tempat itu, jika tuan muda Zain tidak suka jika dirinya disentuh tanpa izin darinya. Jika ada yang berani menyentuhnya, maka bersiap-siaplah untuk menjadi gelandangan.

Setiap Zain mendatangi tempat itu, maka para wanita-wanita itu akan mendapatkan uang yang lumayan banyak dari Zain tanpa harus mengeluarkan keringat. Hanya menemaninya minum dan duduk saja sudah cukup, tidak perlu melakukan hal yang lebih lagi.

Zain memasuki mansion miliknya. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 02.15, mansion terlihat sepi, hanya ada beberapa penjaga yang bertugas menjaga di tempat masing-masing.

Zain menaiki anak tangga satu persatu, ia menghentikan langkahnya di lantai dua dan berjalan ke arah kiri menuju kamar istri barunya.

Ceklek.

Zain memasuki kamar tersebut, seketika matanya membola.

"Astaga! Dasar bocah! Kenapa aku harus menikahi seorang bocah?" gerutunya.

Zain berjalan mendekat ke arah ranjang, ia memungut bantal yang tergeletak di lantai dan melemparkannya ke atas tubuh istri barunya dengan sedikit kencang. Namun, gadis tersebut tidak merasa terganggu sedikit pun.

Zain memandangi tubuh istri barunya. Gadis dengan tubuh yang cukup kurus, terlentang tidur di atas kasur masih lengkap dengan bathrobe yang membungkus tubuhnya.

Zain menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Zahwa yang tidur pulas memenuhi kasur tanpa selimut bahkan ia tidak menyalakan AC kamarnya.

Zain berjalan menuju kamar Clarisa dan masuk ke dalamnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Salah satu peraturan di rumah tersebut adalah pelayan dan penjaga dilarang naik ke lantai dua di malam hari tanpa seizin anggota keluarga, sehingga semua kamar tidak dikunci agar sewaktu-waktu Zain bebas memasuki kamar istrinya.

Tidak seorang pun bebas naik ke lantai tiga tanpa izin darinya, apa pun alasannya. Hanya Barra yang memilik akses untuk pergi ke lantai tiga dan juga kepala pelayan sekedar untuk membersihkan lantai tersebut.

Zain menarik selimut dan masuk ke dalamnya, setelah melepas asal sepatunya tanpa mengganti kemeja pernikahan yang ia pakai di acara pernikahannya kemarin.

Zain mendekap tubuh Clarisa yang hanya berbalut gaun malam tipis dan transparan.

"Emh, kamu sudah pulang?" tanya Clarisa yang merasakan seseorang memeluknya dari belakang.

Clarisa memutar tubuhnya dan mengalungkan tangannya di leher suaminya, ia mencium bau alkohol dari tubuh suaminya. Hal yang sudah biasa baginya.

"Aku menginginkanmu!" ucap Zain dengan suara datar.

"Hmm," gumam Clarisa tersenyum semringah.

Selama pernikahannya yang berjalan hampir dua tahun, mereka hanya beberapa kali tidur bersama. Jarang sekali Zain mau masuk ke dalam kamarnya, bahkan sudah lama sekali. Entah berapa bulan lalu, Clarisa pun sudah lupa.

...*****...

Keesokan harinya, pukul 04.00 Zahwa sudah terjaga dari tidurnya. Ia bergegas menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya, kemudian mengganti bathrobe yang ia pakai dengan pakaian yang ibunya bawakan dari rumah orang tuanya.

Zahwa keluar dari kamarnya menuruni satu persatu anak tangga menuju dapur. Zahwa sudah terbiasa bangun pagi, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan memasak sebelum berangkat ke sekolah.

Ayahnya pernah menanyakan kepada ibunya kenapa tidak memperkerjakan pelayan, alasan ibunya hanya satu. Karena dirinya tidak ada kerjaan di rumah, jadi ia bisa mengerjakannya sendiri dan lumayan uangnya bisa untuk tambahan belanja.

Namun, semua itu hanyalah sebuah alasan, kenyataannya selalu saja Zahwa yang melakukan semua pekerjaan rumah tangga karena ayahnya lebih sering berada di luar negeri.

Zahwa masuk ke dalam dapur yang masih sepi. Ia mulai mengeluarkan bahan-bahan yang akan di masaknya. di tengah pekerjaannya, kepala pelayan dan beberapa pelayan berdatangan, mereka terkejut melihat nyonya baru mereka memasuki dapur.

"Astaga! Nyonya, apa yang Anda lakukan di sini? Anda tidak perlu mengotori tangan Anda, jika menginginkan sesuatu tinggal bilang saja, kami dengan senang hati akan melayani Anda," ucap kepala pelayan merasa takut jika tuan mudanya mengetahui bahwa istrinya memasuki dapur. Karena selama ia bekerja di rumah itu, belum sekalipun anggota keluarga rumah itu memasuki dapur.

"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan alat-alat ini. Jadi kalian tidak perlu takut. Ayo kita masak bersama, Emmh-"

"Anda bisa memanggil saya bi Nur, Nyonya," ucap bi Nur sang kepala pelayan yang melihat nyonya barunya kebingungan untuk memanggil dirinya.

"Baik, Bi Nur. Oh ya, jangan panggil aku nyonya, aku bukan nyonya kalian. panggil saja Zahwa. Okay!" pinta Zahwa dengan melebarkan senyumannya.

"Maaf, kami tidak bisa, Nyonya. Nanti tuan muda akan menghukum kami jika lancang memanggil Nyonya hanya dengan sebutan nama saja." Bi Nur menolak dengan sopan permintaan Zahwa.

"Ya sudah, terserah kalian. Tapi jangan larang aku untuk memasak ya." Zahwa menunjukkan wajah imutnya.

"Baiklah, tapi hanya hari ini saja." Bi Nur terpaksa mengizinkan Zahwa untuk memasak, ia tidak tega menolak keinginan majikannya tersebut.

"Aku tidak janji," lirih Zahwa yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.

Zahwa melanjutkan memasaknya dibantu oleh beberapa pelayan yang bertugas untuk memasak.

Selesai memasak, Zahwa meminta para pelayan untuk menyajikan masakannya di atas meja makan, sedangkan dirinya izin ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.

Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, Zain duduk di kursi utama. Ny. Amara, ibunya Zain duduk di sebelah kanannya, di sampingnya duduk Clarisa. dan di sebelah kiri Zain duduk Barra sang asisten yang setiap pagi ikut sarapan bersama atas perintah Zain. Zahwa? entah di mana keberadaan gadis itu.

Zain mengamati sekitar. "Kemana bocah itu?" tanyanya yang membuat semua orang merasa bingung.

"Bocah? Siapa maksud kamu Zain?" tanya Ny. Amara.

"Zahra."

Ny. Amara menautkan alis bingung. "Siapa Zahra?"

"Cepat panggil bocah itu ke sini!" perintah Zain kepada seorang pelayan.

Dengan cepat pelayan itu berlari ke arah dapur, dan kembali bersama Zahwa di sebelahnya.

"Tuan mencari saya?" tanya Zahwa dengan wajah polos.

"Cepat duduk! Semua orang harus menunda sarapa hanya untuk menunggumu!" ucap Zain dengan suara dinginnya.

"Ta-tapi Tuan ...." Zahwa merasa ragu dan bingung harus ikut makan bersama mereka di meja makan tersebut, dulu dirumahnya ia selalu makan di dapur sendirian.

"Cepat! Tunggu apalagi? Kamu ingin membuat semua orang kelaparan?"

"Ma-maaf Tuan." Zahwa duduk di sebelah Barra dengan jarak satu kursi.

Mereka makan dengan diam, salah satu peraturan di rumah itu ketika makan tidak boleh ada yang mengeluarkan suaranya.

Acara makan harus menunggu Zain untuk memulainya terlebih dahulu dan berakhir setelah Zain menyelesaikan makannya.

Zain menyilangkan sendoknya di atas piring, tanda ia sudah selesai dengan makanannya. Ia berdiri dari duduknya. "Ikut denganku ke ruang kerjaku!" Titahnya kepada Zahwa.

Zain berjalan menuju lift yang mengarah langsung ke lantai khusus miliknya, diikuti Barra dan Zahwa di belakangnya.

Terpopuler

Comments

Susanty

Susanty

masih penasaran kenapa Zain menikah lagi.
semoga Zain jadi bucin sama Zahwa.

2022-10-30

1

Ranran Miura

Ranran Miura

serasa kayak lagi ospek 😅

2022-06-22

6

Ranran Miura

Ranran Miura

manggil nama aja salah 🙄

2022-06-22

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2 Bab 2. Pengantin Pengganti
3 Bab 3. Mansion Utama
4 Bab 4. Perjanjian
5 Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6 Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7 Bab 7. Zahwa Sakit
8 Bab 8. Rencana Clarisa
9 Bab 9. Berita Menggemparkan
10 Bab 10. Kehamilan Clarisa
11 Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12 Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13 Bab 13. Kamar 305
14 Bab 14. Pertolongan
15 Bab 15. Kehancuran Zahra
16 Bab 16. Kepanikan Zain
17 Bab 17. Kemarahan Zain
18 Bab 18. Trauma Zahra
19 Bab 19. Berpisah
20 Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21 Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22 Bab 22. Anindya
23 Bab 23. Kedatangan Anindya
24 Bab 24. Rencana Zain
25 Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26 Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27 Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28 Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29 Bab 29. Pengakuan Zahra
30 Bab 30. Keluarga Athaillah
31 Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32 Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33 Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34 Bab 34. Merasa Dipermainkan
35 Bab 35. Tidur Seranjang
36 Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37 Bab 37. Ziya's House
38 Bab 38. Ziya's House 2
39 Bab 39. Manis Bagai Candu
40 Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41 Bab 41. Rencana Ny. Amara
42 Bab 42. Keluar dari Penjara
43 Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44 Bab 44. Harapan Ny. Amara
45 Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46 Bab 45. Keposesifan Zain
47 Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48 Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49 Bab 48. Syukuran
50 Bab 49. Malam Penuh Drama
51 Bab 50. Rencana Berkunjung
52 Bab 51. Godaan
53 Bab 52. Menahan Emosi
54 Bab 53. Terungkap
55 Bab 54. Drama Keluarga
56 Bab 55. Keputusan Akhir
57 Bab 56. Gelisah
58 Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59 Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60 Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61 Bab 60. Crazy Rich Man
62 Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63 Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64 Bab 63. Hu Yitian
65 Bab 64. Karantina
66 Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67 Bab 66. Melepas Rindu
68 Bab 67. Pergi
69 Bab 68. Salah Paham
70 Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71 Bab 70. Zhang Yang Zi
72 Bab 71. Keputusan Barra
73 Bab 72. Calon Menantu
74 Bab 73. Nasihat dari Paman
75 Bab 74. Kejutan
76 Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77 Bab 76. Tragedi
78 Bab 77. Kisah Yang Zi
79 Bab 78. Amarah Sang Kakak
80 Bab 79. Disneyland
81 Bab 80. Mengulang Pesta
82 Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83 Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84 Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85 Bab 84. Alun-Alun Kota
86 Bab 85. Pengakuan Barra
87 Bab 86. Pesta Pernikahan
88 Bab 87. Kekacauan
89 Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90 Bab 89. Malam Pesta
91 Bab 90. Cucu Kesayangan
92 Bab 91. Hanya Salah Paham
93 Bab 92. Retak
94 Bab 93. Tak Pernah Terencana
95 Bab 94. Luka dan Trauma
96 Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97 Bab 96. Gelisah
98 Bab 97. Bumil Muda
99 Bab 98. Orang Asing
100 Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101 Bab 100. Singa yang Posesif
102 Bab 101. Drama di Kantin
103 Bab 102. Ketakutan Zahra
104 Bab 103. Teman Baru
105 Bab 104. Teman Lama
106 Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107 Bab 106. Perlengkapan Bayi
108 Bab 107. Musibah
109 Bab 108. Kembali Bermimpi
110 Bab 109. Pengakuan
111 Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112 Bab 110. Ali dan Tania
113 Bab 111. Penjelasan Zain
114 Bab 112. Baby Rayyanza
115 Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116 Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117 Bab 115. Keluarga Mahardika
118 Bab 116. Istana Tersembunyi
119 Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120 Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121 Bab 119. Merajuk
122 Bab 120. Datang untuk Melamar
123 Bab 121. Hadiah Pernikahan
124 Bab 122. Klub Malam
125 Bab 123. Permintaan Zahra
126 Bab 124. Sisi Lain Yitian
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Bab 1. Sebuah Kejutan Besar
2
Bab 2. Pengantin Pengganti
3
Bab 3. Mansion Utama
4
Bab 4. Perjanjian
5
Bab 5. Mengantar Makan Siang untuk Zain
6
Bab 6. Kenyataan Menyakitkan
7
Bab 7. Zahwa Sakit
8
Bab 8. Rencana Clarisa
9
Bab 9. Berita Menggemparkan
10
Bab 10. Kehamilan Clarisa
11
Bab 11. Gara-gara Ramyeon
12
Bab 12. Ancaman untuk Zahra
13
Bab 13. Kamar 305
14
Bab 14. Pertolongan
15
Bab 15. Kehancuran Zahra
16
Bab 16. Kepanikan Zain
17
Bab 17. Kemarahan Zain
18
Bab 18. Trauma Zahra
19
Bab 19. Berpisah
20
Bab 20. Masa Lalu Ny. Amara
21
Bab 21. Buket Bunga dari Zain
22
Bab 22. Anindya
23
Bab 23. Kedatangan Anindya
24
Bab 24. Rencana Zain
25
Bab 25. Perubahan Sikap Zain
26
Bab 26. Kedatangan Tuan Harun
27
Bab 27. Keterkejutan Tuan Harun
28
Bab 28. Pertemuan Zahra dengan Tuan Harun
29
Bab 29. Pengakuan Zahra
30
Bab 30. Keluarga Athaillah
31
Bab 31. Karena Takut Kehilangan
32
Bab 32. Masa Lalu Tuan Harun
33
Bab 33. Masa Lalu Tuan Harun 2
34
Bab 34. Merasa Dipermainkan
35
Bab 35. Tidur Seranjang
36
Bab 36. Sisi Lain Ny. Amara
37
Bab 37. Ziya's House
38
Bab 38. Ziya's House 2
39
Bab 39. Manis Bagai Candu
40
Bab 40. Kebiasaan Baru Zain
41
Bab 41. Rencana Ny. Amara
42
Bab 42. Keluar dari Penjara
43
Bab 43. Kejutan untuk Zahra
44
Bab 44. Harapan Ny. Amara
45
Hai, Kenalan dengan Author yuk!
46
Bab 45. Keposesifan Zain
47
Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik
48
Bab 47. Mencairnya Es Kutub
49
Bab 48. Syukuran
50
Bab 49. Malam Penuh Drama
51
Bab 50. Rencana Berkunjung
52
Bab 51. Godaan
53
Bab 52. Menahan Emosi
54
Bab 53. Terungkap
55
Bab 54. Drama Keluarga
56
Bab 55. Keputusan Akhir
57
Bab 56. Gelisah
58
Bab 57. Kecemasan Semua Orang
59
Bab 58. Hukuman untuk Zahra
60
Bab 59. Tidak Sesuai dengan Rencana
61
Bab 60. Crazy Rich Man
62
Bab 61. Nama Pemberian Kakek
63
Bab 62. Masih Seputar Nama dan Wajah
64
Bab 63. Hu Yitian
65
Bab 64. Karantina
66
Bab 65. Tiga Hari Terlewati
67
Bab 66. Melepas Rindu
68
Bab 67. Pergi
69
Bab 68. Salah Paham
70
Bab 69. Dia Baik-Baik Saja
71
Bab 70. Zhang Yang Zi
72
Bab 71. Keputusan Barra
73
Bab 72. Calon Menantu
74
Bab 73. Nasihat dari Paman
75
Bab 74. Kejutan
76
Bab 75. Mengutarakan Niat Baik
77
Bab 76. Tragedi
78
Bab 77. Kisah Yang Zi
79
Bab 78. Amarah Sang Kakak
80
Bab 79. Disneyland
81
Bab 80. Mengulang Pesta
82
Bab 81. Satu-satunya Istri Zain Malik
83
Bab 82. Berkunjung ke Pesantren
84
Bab 83. Cinta Seorang Ayah
85
Bab 84. Alun-Alun Kota
86
Bab 85. Pengakuan Barra
87
Bab 86. Pesta Pernikahan
88
Bab 87. Kekacauan
89
Bab 88. Kehancuran Keluarga Bramasta
90
Bab 89. Malam Pesta
91
Bab 90. Cucu Kesayangan
92
Bab 91. Hanya Salah Paham
93
Bab 92. Retak
94
Bab 93. Tak Pernah Terencana
95
Bab 94. Luka dan Trauma
96
Bab 95. Kegelisahan Hati Zahra
97
Bab 96. Gelisah
98
Bab 97. Bumil Muda
99
Bab 98. Orang Asing
100
Bab 99. Meluluhkan Hati Mommy Amara
101
Bab 100. Singa yang Posesif
102
Bab 101. Drama di Kantin
103
Bab 102. Ketakutan Zahra
104
Bab 103. Teman Baru
105
Bab 104. Teman Lama
106
Bab 105. Kegigihan Aldebaran
107
Bab 106. Perlengkapan Bayi
108
Bab 107. Musibah
109
Bab 108. Kembali Bermimpi
110
Bab 109. Pengakuan
111
Pengumuman Giveaway dan Promosi Novel
112
Bab 110. Ali dan Tania
113
Bab 111. Penjelasan Zain
114
Bab 112. Baby Rayyanza
115
Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren
116
Bab 114. Bertemu Iblis Betina
117
Bab 115. Keluarga Mahardika
118
Bab 116. Istana Tersembunyi
119
Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?
120
Bab 118. Berbeda dari Lainnya
121
Bab 119. Merajuk
122
Bab 120. Datang untuk Melamar
123
Bab 121. Hadiah Pernikahan
124
Bab 122. Klub Malam
125
Bab 123. Permintaan Zahra
126
Bab 124. Sisi Lain Yitian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!