Anna tengah duduk termenung di atap gedung sekolahnya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirannya kini entah ke mana. Dia merasa seakan hidup di dalam sebuah jebakan dunia yang amat kejam.
Dimana bukan rahasia umum lagi, karena standar di hargai harus good looking, sebuah ketentuan yang diciptakan oleh standar sosial.
Anna menghela napasnya. Entah ini sudah helaan yang ke berapa. Sepuluh? Seratus? Mungkin lebih.
Annastasya
Aku mulai lelah dan ingin menyerah saja. Semesta tidak lagi menjadi tempat tinggal bagi orang sepertiku. Dimana jika tidak memenuhi standar yang telah diciptakan oleh standar sosial kita akan di anggap gagal.
Batin Anna sambil menangis terisak dengan tangannya menutupi wajahnya.
❣️❣️❣️❣️❣️
Aarash sampai di atap gedung sekolah. Dia melihat Anna yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya dengan tangannya menutupi wajahnya.
Mendengar suara itu, Anna langsung menghapus air matanya dan menoleh ke sumber suara.
Annastasya
Kenapa Bapak ada di sini?
Aarash Kioumehr
Saya mencarimu sejak tadi, bertanya kepada siswa-siswi yang lain katanya tidak melihatmu. Hingga bapak harus berkeliling satu sekolah untuk mencari. Lelah mencari akhirnya bapak menemukanmu di sini.
Aarash Kioumehr
Apa kau habis menangis?
Aarash mengerutkan dahinya.
Annastasya
Tidak.
Jawab Anna singkat.
Aarash mendekati Anna dan memegang kedua tangannya. Anna menatap wajah Aarash lekat, matanya menahan tangis.
Aarash Kioumehr
Jangan bohong, katakan yang sebenarnya.
Anna diam tak bergeming sambil menahan air matanya yang sebentar lagi akan membasahi pipinya. Aarash yang mengetahui itu tanpa ragu menarik badan Anna ke dalam pelukannya. Aarash memeluk Anna erat.
Walaupun kaget, Anna membiarkan Aarash memeluk dirinya dengan erat, bahkan dia membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang gurunya sambil menangis tersedu.
Aarash Kioumehr
Jika memang dibutuhkan, tumpahkan saja air matamu, Nak. Karena bersedih itu adalah sebuah kesadaran, agar Anna dapat mengambil keputusan. Bukan menyerah dengan keadaan serta menyalahkan kesedihan.
Anna semakin terisak dalam dekapan gurunya. Seakan enggan melepaskan, dia merasa nyaman di pelukan Aarash, hingga akhirnya Anna tersadar kalau Aarash bukan siapa-siapanya. Anna lalu melepaskan pelukannya.
Comments
꧁༺Asyfa༻꧂
ini cerita kayaknya pengalaman pribadi, ya 🤭
2022-06-20
2
𝕷𝖎𝖒𝖎𝖓 ♡´・ᴗ・`♡
seandainya ada guru seperti Jungkook, aku akan betah disekolah dan akan rangking 1 dari atas terus, karna giat belajar😍😍🥰
2022-06-14
0
Cip_13
🖤🥲
2022-06-12
1