Setelah kepergian Yuni, Aldo mengajak Arumi untuk masuk ke dalam rumahnya. Aldo langsung mengunci pintunya dan menggendong Arumi lalu masuk ke dalam kamarnya.
Dia sudah sangat rindu dengan kekasihnya. Padahal mereka baru bertemu semalam, bahkan mereka bercumbu di mobil hampir satu jam lamanya.
Akan tetapi, rasanya belum cukup. Kalau saja Arumi tak menolak, rasanya Aldo benar-benar ingin memasuki Arumi saat itu juga.
Namun, Arumi selalu berkilah jika mereka harus melakukannya nanti setelah menikah.
Arumi memang mencintai Aldo, sangat mencintai Aldo. Bahkan dia tak ingin kehilangan Aldo, akan tetapi Arumi juga manusia biasa.
Seperti wanita kebanyakan di luar sana, hanya ingin memberikan keperawanannya kepada sang suami.
Walaupun pada kenyataannya, memang dia ingin sekali menikah dengan Aldo dan memberikannya pada Aldo.
Akan tetapi, bukan di saat yang tidak tepat, pikirnya. Sampai di dalam kamar, tentu Aldo langsung merebahkan tubuh Arumi di atas kasur big size miliknya.
Lalu Aldo pun langsung mengecup setiap inci wajah Arumi dan yang terakhir dia melabuhkan ciuman hangat di bibir Arumi.
Ciuman yang begitu memabukkan dan membuat Arumi selalu ketagihan. Bahkan Arumi, ingin terus merasakan kelembutan bibirnya Aldo.
Padahal awalnya Arumi ingin sekali marah kepada Aldo, apalagi mengingat Yuni yang sudah dua kali keluar-masuk ke dalam rumah Aldo.
Yuni boleh saja berkata jika dirinya hanya membutuhkan bantuan Aldo, dia berkata datang ke rumah Aldo hanya untuk meminjam uang saja, untuk keperluan operasi Ibunya.
Makanya Yuni datang ke rumah Aldo, namun diam-diam Arumi memperhatikan, jika Yuni terlihat menatap Aldo dengan tatapan yang lain.
Namun, setelah mendapatkan sentuhan yang begitu membuat dirinya candu, dirinya seakan lupa akan rasa kesal dan marah yang bersarang di dalam hatinya.
“Emph, Mas!” Arumi mendorong dada Aldo dan segera bangun.
Dia tak mau kalau sampai kebablasan, karena jujur saja Arumi pun menginginkannya. Dia juga haus akan cumbuan Aldo, dia wanita dewasa yang normal.
Dia hanya manusia biasa yang gampang terbuai dengan bujuk rayu, dia wanita normal yang ingin merasakan nikmatnya surgawi.
“Apa, Sayang?” tanya Aldo.
“Lapar,” ucap Arumi seraya mengelus perutnya.
Sebenarnya Arumi belum terlalu lapar, hanya saja dia berusaha untuk mengalihkan perhatian Aldo. Dia takut jika Aldo akan memaksanya untuk melakukan hubungan suami istri.
“Baiklah, kita makan dulu. Mas sudah masak soalnya,” kata Aldo.
Mendengar Aldo yang sudah memasak, Arumi merasa kaget. Karena jujur saja selama ini dia tahu tidak tahu jika Aldo bisa melakukan pekerjaan wanita tersebut.
“Masak apa?” tanya Arumi.
Aldo terkekeh saat mendengar pertanyaan dari Arumi, judulnya bahan yang ada di dapur dia masak.
Dia tidak tahu apa nama masakan tersebut, yang terpenting dia bisa menghidangkan sebuah makanan yang enak untuk pacarnya, Arumi.
“Entahlah, Mas ngga tahu nama masakannya apa. Yang pasti masakan Mas enak,” kata Aldo percaya diri.
“Ya ampun, Sayang. Kamu itu memang calon suami idaman,” kembali Arumi mencium bibir Aldo.
Setelah merasa puas berciuman, Arumi langsung meminta Aldo untuk mengajaknya makan. Karena perutnya sudah meronta minta diisi, cacing di dalam perutnya sudah seperti lautan manusia di dalam club yang sedang berdisko.
Arumi dan Aldo langsung berjalan menuju ruang makan, ternyata benar. Di atas meja makan sudah banyak makanan yang terhidang.
Terlihat sangat enak dan menggiurkan, hal itu membuat Arumi ingin meneteskan air liurnya.
“Sepertinya sangat enak,” ucap Arumi.
Arumi langsung duduk dan mencicipi masakan Aldo, untuk sesaat dia memejamkan matanya. Lalu, dia pun mengacungkan dua jempol kepada Aldo.
“Enak banget, Mas. Aku aja ngga bisa masak seenak ini,” ucap Arumi memuji.
"Kalau begitu kamu makannya yang banyak, biar tambah semok. Biar yang ini tambah enak saat diremat," kata Aldo seraya meremat bokong Arumi.
"Mas, jangan!" pinta Arumi.
"Pengen, Yang. Pengen banget, besok aku ke rumah kamu ya? Pulang kerja aku jemput, kita langsung ke rumah kamu aja. Aku udah ngga tahan pengen nikahin kamu, aku pengen buru-buru ngerasain ini." Aldo mengusap milik Arumi dengan lembut.
Sentuhan Aldo benar-benar membuat Arumi meremang, dia menginginkan hal yang lebih. Namun Arumi masih berusaha untuk tetap sadar jika melakukan itu tidaklah baik.
"Aku juga ingin, sekarang kita makan dulu. Besok jemput aku, kita ke rumah bareng-bareng," kata Arumi.
"Ya, Sayang." Aldo menurut.
Akhirnya Aldo dan juga Arumi melaksanakan ritual makan malam mereka berdua, terkadang ada canda tawa di sela acara makan malam tersebut.
Terkadang Aldo menyuapi Arumi dan juga mengecup bibir mungil milik kekasihnya tersebut.
Dengan senang hati Arumi menyambut tautan bibir Aldo, yang terpenting pikir Arumi Aldo tidak meminta yang lebih dari itu.
Pukul delapan malam Arumi memutuskan untuk pulang, dia tidak mau pulang terlalu larut. Takutnya pak Didi merasa curiga.
Aldo menyetujuinya, dia langsung mengambil kunci mobil miliknya. Dia hendak mengantarkan Arumi, namun Arumi tidak mau Aldo antarkan.
Tentu saja dia tidak ingin ketahuan oleh pak Didi, karena pak Didi berkata jika dirinya akan menjemput Arumi.
Awalnya Aldo merasa tidak rela jika Arumi pergi begitu saja, namun dia tidak bisa berkata apa pun ketika Arumi meminta dengan wajah yang penuh dengan permohonan.
"Mas, please. Aku pulang sendiri, besok baru kita pulang bareng. Oke?" pinta Arumi dengan wajah yang begitu menggemaskan.
"Baiklah, sini dulu." Aldo menepuk pahanya.
Arumi mengerti, dia langsung duduk di pangkuan pacarnya tersebut. Kemudian dia mengalungkan kedua tangannya dileher Aldo.
Aldo tersenyum, lalu dia mendongakkan kepalanya. Dia rangkum kedua pipi Arumi, lalu dia tautkan bibirnya ke bibir wanita yang kini menjadi candu untuk dirinya.
Aldo dan Army saling membelit lidah, saling menyesap dan saling menikmati rasa manisnya madu cinta.
Tangan kanan Aldo bahkan terlihat meremat dada kekasihnya tersebut, sedangkan tangan kirinya terlihat turun dan meremas bokong Arumi, Arumi terdengar mendesahh karena ulah Aldo.
"Udah Mas, ada yang bangun," kata Arumi seraya terkekeh.
"Hem, dia sudah tidak tahan untuk segera masuk ke dalam sarangnya," kata Aldo.
"Sabar, ya, Sayang." Arumi mengelus lembut pipi Aldo.
"Ya," jawab Aldo.
Setelah puas bermesraan dengan kekasihnya, Arumi terlihat berpamitan kepada Aldo. Dia langsung pergi dari rumah Aldo dan berhenti tepat di alun-alun kota.
Setelah itu, dia menelepon pak Didi dan meminta bapaknya tersebut untuk menjemput dirinya.
Sepuluh menit kemudian, nampaklah Reihan yang datang menjemput Arumi. Arumi sempat mengernyit heran, karena saat dia menelpon bapaknya, pak Dedi berkata jika dialah yang akan menjemput Arumi.
"Loh, kok Kakak ada di sini? Mau apa?" tanya Arumi.
"Mau jemput kamu, De." Reihan langsung menuntun Arumi untuk masuk ke dalam mobilnya.
Tak lama kemudian, Arumi dan juga Reihan terlihat pergi meninggalkan alun-alun kota tersebut.
Tanpa Arumi dan Reihan ketahui, Aldo menyaksikan hal tersebut. Mata Aldo terlihat memerah menampakan kilatan amarah, rahangnya terlihat menegas dan kedua tangannya terlihat terkepal dengan sempurna.
"Awas saja kamu Arumi, berani bermain denganku, kamu akan merasakan akibatnya." Aldo langsung pergi dari sana.
*
*
Selamat sore kesayangan, selamat beristirahat. Maaf kalau hari ini Othor hanya bisa up satu bab saja, karena Othor sedang ada keperluan.
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Komen, like, hadiah dan juga votenya Othor tunggu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Emak Femes
waaaaah mas aldo bakalan kalap nih kayaknya
2022-08-23
1
Emak Femes
hmmmm si reihan masih terus beraksi nih
2022-08-23
0
🦋⃟ℛ★KobeBlack★ᴬ∙ᴴ࿐ 🐍Hiatus🐍
nah kan aldo curiga tuuh, gimana nih nasib arumii
2022-08-23
0