Arumi mengerjapkan matanya beberapa kali, dia merasa sudah terlalu kenyang memejamkan matanya.
Setelah membuka mata dengan sempurna, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang.
"Ternyata sudah siang," kata Arumi lirih.
Arumi segera bangun dan segera membersihkan dirinya di kamar mandi, selesai dengan ritual mandinya, Arumi langsung memakai baju yang dirasa pantas untuk bepergian.
Karena dia masih mengingat, ketika pak Didi berkata jika dia harus pergi untuk makan siang bersama dengan teman sekaligus kolega bisnisnya.
Arumi, juga memoles wajahnya dengan make up tipis dan juga memoles bibirnya dengan gincu berwarna merah muda.
Untuk sesaat, Arumi mematut dirinya di depan cermin. Dia merasa, jika penampilannya sudah terlihat sangat cantik.
Tepat di saat itu, pak Didi masuk ke dalam kamar Arumi. Pak Didi langsung tersenyum, saat melihat Arumi yang sudah terlihat rapi dan juga cantik.
“Wah! Ternyata anak Bapak sudah bersiap, kamu cantik banget.” Pak Didi langsung menghampiri Arumi dan mengelus lembut puncak kepalanya.
Arumi pun langsung tersenyum.
”Tentu saja sudah bersiap, bukankah Bapak mengajak Arumi untuk makan di luar?”
Pak Didi merasa sangat senang, karena keinginannya disambut baik oleh Arumi. Padahal dia sempat berpikir jika Arumi akan menolak ajakan dari dirinya.
“Ya, Sayang. Kita akan makan di luar, di Restoran favorit kita,” ujar Pak Didi.
Arumi tersenyum senang, karena memang mereka jarang meluangkan waktu untuk pergi bersama, setelah Arumi bekerja di Rumah Sakit besar yang berada di pusat kota, waktu untuk bersama terasa sangat sempit.
Arumi kini terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya, begitu pun dengan pak Didi, dia begitu sibuk dengan usahanya.
“Ayo kita berangkat, kalau kamu memang sudah siap.” Ajak Pak Didi seraya mengulurkan tangannya.
Hati Arumi langsung bersorak senang, Arumi langsung memeluk tangan pak Didi dan segera mengambil tas selempang miliknya.
Lalu, mereka pun berjalan secara beriringan keluar dari dalam kamar Arumi.
Dua puluh menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah Restoran mewah yang berada di kota tersebut.
Saat mereka sampai, ternyata mereka sudah ditunggu oleh pak Ridwan dan juga putranya yang bernama Reihan.
Reihan terlihat sangat tampan, muda dan juga berkarisma. Itulah kesan pertama yang Arumi lihat dari sosok Reihan, sayangnya Arumi tidak tertarik karena hanya ada Aldo di dalam hatinya.
Pak Didi dan pak Ridwan saling bersalaman, setelahnya Arumi langsung meraih tangan pak Ridwan dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
Pak Ridwan sangat senang, saat melihat kesopanan Arumi. Lalu Pak Ridwan pun menyuruh Reihan dan Arumi untuk saling bersalaman.
“Nak Arumi, apakah kamu masih ingat dengan anak saya yang tampan ini?” tanya Pak Ridwan.
Dari sorot matanya, terlihat sekali jika pak Ridwan sangat berharap jika Arumi masih mengingat putra tampannya.
Sayangnya, Arumi hanya tersenyum lalu dia menggelengkan kepalanya dengan ragu. Sontak pak Ridwan dan pak Didi pun langsung tertawa, melihat gelengan ragu dari Arumi.
“Wajar saja kalau kamu tidak ingat, karena Reihan berkuliah di luar negeri sampai S2. Pasti kamu lupa padanya, padahal waktu kecil kalian selalu bermain bersama,” ucap Pak Didi.
“Oh iya, Reihan. Apakah kamu masih ingat pada Arumi?” tanya Pak Ridwan.
Rehan tersenyum lalu dia mengangguk, "tentu saja saya masih ingat. Masa gadis secantik Arumi terlupakan begitu saja, saya masih mengingatnya. Gadis kecil yang selalu riang kalau diajak bermain bersama.”
Reihan terlihat menatap Arumi dengan tatapan penuh kagum, pak Didi dan pak Ridwan merasa senang. Mereka berharap ke depannya hubungan Reihan dan Arumi mengalami peningkatan.
“Kalian sangat cocok, yang satu cantik dan yang satunya tampan,” ujar Pak Didi.
“Ya, sepertinya mereka sangat cocok.” Pak Ridwan ikut menimpali.
“Ayah, Bagaimana kalau kita makan dulu. Ngobrolnya dilanjut nanti saja, aku sudah sangat lapar,” ajak Reihan.
“Ah, tentu saja boleh. Silakan duduk,” ucap Pak Didi.
Akhirnya mereka memesan makanan, lalu mereka pun makan bersama. Sesekali mereka terlihat mengobrol, canda tawa terdengar begitu saja dari mulut pak Ridwan, Reihan dan juga pak Didi.
Arumi terlihat diam saja, dia bingung harus menimpali obrolan mereka seperti apa. Sedangkan Reihan, di sela obrolannya sesekali melirik dan tersenyum pada Arumi.
Setelah selesai makan, pak Didi beralasan jika dia ada urusan yang harus segera dia selesaikan. Begitupun dengan pak Ridwan, sehingga Arumi kini tinggal berduaan saja dengan Reihan.
Reihan langsung memanfaatkan momen tersebut untuk mendekati Arumi. Karena memang dari dulu, Reihan sudah sangat menyukai Arumi.
Rehan kecil, memang sungguh mengagumi sosok Arumi yang mudah bergaul, ceria dan juga pintar.
Makanya, saat Rehan diajak untuk bertemu dengan Arumi, dia sangat bahagia. Karena menurutnya, Arumi sangat menarik selain cantik.
Apalagi saat pak Ridwan berkata, jika dia berencana untuk menjodohkan Reihan bersama Arumi.
Rehan langsung berkata setuju, karena menurutnya Arumi adalah sosok wanita yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Reihan membuka percakapan.
“Pekerjaanku sangat menyenangkan, karena aku setiap harinya bisa menolong orang lain,” jawab Arumi pasti.
“Kamu sepertinya sangat senang menjadi Dokter, bahkan semenjak kecil kamu begitu senang menolong orang lain,” kata Reihan.
“Ya, aku sangat mencintai pekerjaanku.” Jawab Arumi. "Aku juga sangat mencintai Mas Aldo,” sambung Arumi dalam hati.
“Kamu ingat, saat aku umur delapan tahun, aku pernah terjatuh. Lututku berdarah, dengan sigapnya kamu menolongku.” Reihan mencoba mengingat kembali masa itu.
Di mana Reihan begitu senang karena sudah ditolong oleh gadis kecil yang cantik dan juga manis. Lututnya yang berdarah, langsung dibersihkan oleh Arumi.
Lalu, Arumi menempelkan plester di lutut Reihan. Reihan lalu tersenyum.
“Masa sih, Kak? Kok aku ngga inget ya?” tanya Arumi.
“Wajar saja kalau tidak ingat, waktu itu usia kamu baru 5 tahun. Sedangkan aku sudah berusia 8 tahun. Jadi wajar, jika kamu sudah lupa.” Reihan berkata sambil tersenyum manis.
Mendengar ucapan Reihan seperti itu, Arumi hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Oiya, Kak. Aku harus segera pulang, sebentar lagi jadwal kerjaku. Tidak apa-apa kan, kalau aku pulang?” tanya Arumi.
“Tidak apa-apa, tapi kalau kamu tidak keberatan, aku ingin mengantarmu pergi bekerja.” Reihan langsung mengambil kunci mobil dan segera berjalan ke arah kasir.
Reihan langsung membayar makanan yang sudah mereka makan, setelah itu, dia kembali menghampiri Arumi.
“Ayo, biar Kakak antar.” Reihan menuntun Arumi.
Arumi terlihat enggan.” Aku pulang sendiri.
“Oh ayolah Arumi, lagipula kamu akan pulang menggunakan apa? Bapakmu sudah pergi sejak tadi, sedangkan aku membawa mobil. Kamu bisa ikut bersamaku, biar aku antar memakai mobilku.” Reihan berkata dengan setengah memaksa.
“Baiklah!” ucap Arumi pasrah.
Akhirnya Arumi menerima tawaran dari Reihan. Sebenarnya dia begitu enggan, karena dia takut menyakiti hati Aldo.
Dia takut jika Aldo akan melihat dirinya, saat bersama dengan Reihan. Tetapi, dia juga tidak tega kepada Reihan.
*
*
BERSAMBUNG....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Emak Femes
hmmm
arumindilema deh
2022-08-23
0
Emak Femes
hmmm sepertinya kau akan kecewa reihan
2022-08-23
0
Emak Femes
kenapa pak didi belum dengar soal si aldo yaaa
2022-08-23
0