An Xia dan Dayang Mei sudah sampai di pasar, kini mereka berdua tengah melihat lihat barang yang baru Alexsa temui.
Namun setelah Alexsa berjalan terlalu lama dengan antusiasi, sampai Alexsa lupa jika perutnya belum di isi makanan.
“Mei ... aku lapar, kita pergi ke rumah makan yang enak di kota ini.”
“Ta-tapi Nona, kita tidak punya uang.” Sekali lagi Dayang Mei mengingatkan.
Alexsa memutar matanya dengan malas, karna Dayang setianya ini selalu mengeluh tentang uang.
Alexsa pun mengeluarkan tumpukan uang kertas tunai pada Mei, “Mei ... lihatlah.”
Mata Mei bersinar terang seperti matahari, ketika melihat tumpukkan uang tunai yang di pegang jun-jungan nya.
“Ya dewa. Nona, dari mana anda mendapatkan uang itu.”
“Tidak perlu tau, cepat kita makan enak di tempat makan yang mahal di kota ini.” Ucap Alexsa dengan semangat.
“Baik Nona.” Dayang Mei hanya mengangguk saja, mengikuti sang jun-jungan dari belakang.
•
Kediaman Jendral An•
An Rian dan An Rumi tengah gembira, ketika sang Ayah mengabari jika mereka di undang makan malam ke Istana.
“Kabari juga An Xia, Dia harus ikut karna Kaisar menginginkan ketiga putriku untuk ikut.” Ucap Jendral An Chen pada penjaga.
Penjaga itu mengangguk, lalu pergi untuk mengabari putri tertua Jendral yang di kucilkan semua orang.
“Tuanku, mengapa anda ingin mengajak An Xia keperjamuan di istana? Tidak takutkah Anda, Tuanku. Jika An Xia akan mempermalukan anda?”
Seperti biasa, Selir Yu akan menghasut Jendral An untuk tidak melibatkan putri sah dari istri pertamanya ... karna Selir Yu ingin jika kedua putrinya yang mendapatkan perhatian dari semua orang.
“Sebenernya aku juga tidak menginginkan anak bodoh itu ikut ke perjamuan di istana, tapi apa boleh buat jika Kaisar menginginkan ketiga putri ku untuk ikut.” Ucapnya, yang mana membuat An Rian dan An Rumi mengepalkan kedua tangannya..
“Tidak boleh, dia tidak boleh ikut.” Gumam An Rian dalam hati, “Jika An Xia bodoh itu ikut, aku akan mempermalukan dia di hadapan Kaisar dan para Pangeran.” Gumamnya lagi.
Sedangkan An Xia, yang berada di restoran tengah memakan mie dengan Dayang Mei sampai perut mereka kenyang.
“Aahk, aku kenyang Mei.” Ucap An Xia mengelus perutnya.
“Saya juga merasakan hal yang sama Nona.”
“Ayo kita pergi untuk membeli beberapa hanfu, karna hanfu di dalam bilikku sudah lusuh dan usang.” An Xia berdiri dari tempat duduknya, begitu pun Dayang Mei.
Kedua orang itu melangkah pergi, setelah perut mereka kenyang ... tanpa mereka sadari, jika kelakukan makan mereka di perhatikan oleh dua seorang pemuda bertopeng di sudut ruangan.
“Cari tau gadis itu berasal dari mana.” Titah seorang pria bertopeng perak pada pengawal pribadinya.
“Baik tuanku.”
•
Malam hari•
Di ruang makan ... Jendral An, Selir Yu dan ke dua anaknya An Rian dan An Rumi tengah menunggu An Xia datang.
“Tuanku, apakah harus selama ini menunggunya?” tanya Selir Yu pada Jendral An
“Tunggulah seben--"
Jendral An tidak lagi melanjutkan perkataannya, ketika suara penjaga di luar membuka pintu sambil berteriak.
“Tuan, Nona pertama An sudah datang.”
“Biarkan dia masuk.” Jawab tegas Jendral An.
Pintu ruang makan terbuka ke sisi kiri, bersamaan dengan An Xia datang berjalan dengan anggun ... An Xia mengenakan hanfu yang dia beli tadi siang bersama Dayang Mei, dengan warna putih berpadu dengan ungu muda, memperlihatkan betapa anggunnya An Xia
Semua orang membelalakan mata mereka, saat An Xia terlihat cantik ke hadapan mereka. Namun, An Rian merasa tidak suka dengan penampilan An Xia malam ini.
“Dari mana dia mendapatkan gaun itu! Bukankah dia tidak memiliki uang.” Gumam An Rian dalam hati.
“Salam Ayah, salam Selir ... Yu.” An Xia sengaja memanjangkan kata Selir pada Selir Yu.
“Hm ... duduklah, kita makan bersama.” Ucap Jendral An Chen, setelah sadar dari kekaguman terhadap putri pertamanya.
An Xia menganggukkan kepalanya, lalu duduk di depan An Rian yang tengah menatapnya tidak suka.
“Hallo para musuhku.” Gumam An Xia dalam hati, menyunggingkan bibirnya.
“Cih, lamban.” An Rumi mendecih tak suka.
“Oh ... maaf adik, aku terlalu sibuk di dalam kediamanku! sehingga aku melupakan ajakan ayahanda makan malam.” Jawab An Xia, namun dengan nada tekanan di setiap katanya.
“Pelayan, hidangkan makanan di atas meja.” Titah Jendral An pada pelayan.
Para pelayan pun menyajikan makanan di meja, dengan sangat hati-hati ... mereka takut membuat kesalahan sedikit pun, karna mereka masih menyayangi kepala mereka.
Sedangkan mata An Xia membulat sempurna ketika melihat makanan yang banyak di atas meja.
Seketika air liurnya menetes besersamaan dengan perutnya yang berbunyi minta di isi, padahal tadi sudah di isi full teng dengan Dayang Mei sewaktu di pasar.
An Xia tak sungkan mengelap bibirnya dengan punggung tangannya, walau sebenarnya tak ada air liur di sudut bibirnya ... tapi makanan di depan matanya sangat menggiurkan sekali.
An Xia makan dengan lahap tanpa memperdulikan sekitarnya, yang tengah menatap An Xia dengan horor..
“An Xia, apa kau tidak bisa makan dengan etika? Mengapa cara makan mu seperti kuda kelaparan.” Ledek Selir Yu.
An Rian dan An Rumi terkekeh, menutup mulutnya dengan telapak tangan mereka. Sedangkan An Xia langsung menaruh kedua sumpit yang ada di tangannya.
“Maafkan putrimu ini ayah, makanan ini terlalu enak sehingga anak mu ini tidak bisa mengontrol diri ... karna selama ini, anak tertua mu ini hanya makan makanan sisa kalian.”
Deg ...
Jantung Jendral An berdetak, keningnya berkerut dan merasa bingung dengan apa yang di katakan putri tertuanya.
“Apa maksudmu An Xia?”
Selir Yu membelalakkan matanya, ia tak percaya jika anak bodoh seperti An Xia akan berbicara pada ayahnya. Padahal An Xia sudah di ancam oleh Selir Yu, bahwa An Xia tidak boleh mengeluh pada Jendral An..
“Tuanku ... it--”
Selir Yu tidak bisa meneruskan perkataannya, saat An Xia berkata.
“Anak bodoh dan tidak berguna sepertiku, hanya bisa makan makanan sisa kalian ... itulah yang di ucapkan Selir Yu padaku ayah.”
Jendral An langsung menatap Selir kesayangannya, yang tengah menggelengkan kepalanya.
“Itu tidak benar Tuanku, aku tidak mungkin tega melakukan itu.” Elak Selir Yu, dengan tatapan mengiba.
Jendral An menghela nafasnya, lalu melihat An Xia. “Selesaikan makan mu, dan cepatlah kembali ke kediaman mu karna besok kita akan pergi ke Istana lebih awal.”
Bukannya membela An Xia, sang Ayah malah menyuruhnya mempercepat makan. Yang mana membuat Alexsa mengepalkan kedua tangannya.
“Jika An Xia akan menerima penghinaan ini ... tapi aku tidak bisa menerima penghinaan ini, awas saja kalian.” Gumam An Xia dalam hati.
Setelah semuanya selesai makan, mereka semua kembali ke kediaman masing masing ... namun An Rian dan An Rumi tengah merencanakan sesuatu untuk mempermalukan An Xia, si gadis bodoh.
Tanpa mereka berdua sadari, jika An Xia tengah menguping pembicaraan mereka dari atap. Alexsa harus memutar otaknya agar terhindar dari rencana kedua adik tirinya yang jahat. Dan Alexsa mempunyai dua pilihan sekarang, yaitu menghindar atau melawan.
“Tidak akan aku biarkan kalian mempermalukan ku.” Gumam An Xia, lalu pergi.
... •••••...
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA ...
...TAP LOVE TAMBAHKAN KE FAVORIT KALIAN....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Ayu Sari Murni
bpknya buang ke laut ajah
2024-10-20
0
Ida Blado
bapak macam otu gk usah di kasih hati,tinggalin ajalah buat apa jg
2023-02-22
0
syafa
semangat Thor,semoga sehat selalu
2023-01-25
0