Part 8

Anne yang sudah capek, tidak menyadari di meja riasnya ada paper bag berisi gaun pesta beserta aksesorisnya. Anne masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci mukanya. Saat Anne hendak memakai skin care-nya, matanya melihat ada sebuah paper bag besar. Lalu dibukanyalah paper bag itu, dan betapa terkejutnya dia melihat semua benda itu.

Ada kotak perhiasan berisi sepasang anting berlian, lalu ada sepatu Jimmy Choo, tas mungil Gucci, dan di bagian paling bawah paper bag ada sebuan gaun hitam panjang penuh payet dan kristal Swarovski yang indah. Anne pun segera mencoba semua barang itu. Wah, hebat sekali Robert bisa tahu semua ukuran gaun dan sepatunya dengan tepat. Tubuh Anne tinggi semampai sekitar 165 cm dan kakinya memang agak besar. Robert memilih gaun yang all size dengan sepatu size 40.

Anne melihat penampilan di kaca lemari baju. Wow, keren sekali. Kemudian, dia berlari keluar dari kamar dan hendak bertanya kepada Robert di mana dia mendapat semua barang ini.

“Robert, Robert, kamu sudah tidur belum? Ayo, buka pintu, coba lihat gaun ini,” ujar Anne seraya mengetuk pintu kamar Robert.

Robert yang sedang mengetik di laptop-nya, segera membuka pintu, dan matanya pun terpana menatap Anne dalam balutan gaun itu. Anne tampak semakin cantik dan elegan saja.

 

“Hmm, gaunnya cantik sekali.” Bola mata Robert hampir keluar saat melihat betapa menawannya Anne walau belum ditata rambutnya dan wajahnya belum dipoles make-up.

“Gaunnya saja yang cantik? Aku cantik juga, ‘kan?” sungut Anne dengan bibir mengerucut.

“Kamu? Yah, biasa-biasa saja seperti biasanya,” ujar Robert yang canggung karena tidak biasa melihat Anne memakai gaun. Namun, dalam hatinya Robert jelas mengakui bahwa istrinya ini cantik dan tubuhnya indah sekali. Timbul hasratnya untuk meraih Anne dalam pelukannya, tapi diurungkannya niat itu karena takut Anne marah.?

“Oya, omong-omong kamu beli di mana semuanya ini? Berapa harganya? Kok ini ada tag mereknya semua? Ini asli atau apa ya?” cecar Anne yang penasaran.

“Sudahlah, kamu tidak usah tanya. Toh aku yang beli kan? Aku beli di online shop, KW terlihat seperti asli, ‘kan?” jawab Robert cepat-cepat supaya Anne si istri kritis tidak bertanya terus.

“Hmm, oke baiklah. Kamu sudah punya jasnya?”

“Sudah. Ayo aku pijit kakimu, terus kamu tidur ya. Aku masih mau main laptop,” sahut Robert sambil mengajak Anne masuk ke kamarnya. Anne mengangguk antusias karena masih senang dengan semua pemberian gaun dan aksesoris dari Robert.

Anne segera ke kamar mandi dan berganti baju tidur. Gaun dan aksesorisnya ditaruh kembali di dalam paper bag. Anne berbaring telentang dan memejamkan matanya. Robert segara mengambil minyak zaitun dan mulai memijit kaki dan betis Anne pelan-pelan.

 

Matanya memandang Anne intens. Sejenak ada rasa kasihan dalam hati Robert. Anne harus bekerja keras bahkan kadang Sabtu pun masih diganggu urusan pekerjaan kantor karena tidak ada orang yang bias membantu Anne di kantor. Anne adalah key person dalam pekerjaannya. Memang ada beberapa sales admin lain, tapi mereka menangani region lain dan tidak terlalu memahami customer dan detail region yang Anne pegang. Anne betul-betul bekerja keras demi bisa membayar cicilan KPR dan motor matic-nya. Untungnya, beberapa bulan lagi KPR itu akan lunas sehingga Anne bisa bernapas lega.

Di sisi lain, Robert mengagumi Anne yang sederhana dan tidak menuntut banyak padanya. Ingatan Robert melayang ke beberapa bulan lalu.

 

Flash back on.

Pernah suatu kali Robert menguji Anne dengan berkata bahwa dia sedang tidak punya uang karena loss profit ketika main forex. Anne awalnya marah-marah kepada Robert dan mencecarnya dengan banyak pertanyaan karena sudah menghilangkan uang karena loss. Mau bagaimanapun itu tetap uang juga, ‘kan? Namun, kemudian Anne menenangkan Robert bahwa semua akan baik-baik saja. Tanpa banyak bicara lagi, Anne segera mengambil uang dari ATM-nya dan membayar tagihan air dan listrik, dll.

Saat itu, Anne yang masih agak kesal dari Robert dan pergi duduk di taman dekat perumahan warga. Robert yang takut Anne sendirian malam-malam, segera mengikuti Anne. Ternyata Anne sedang memberi sedekah sedikit uang dari dompetnya kepada seorang ibu pengemis tua yang tidur beralaskan kardus di dekat taman. Anne lalu berjalan pulang dan Robert tetap membuntutinya dari belakang.

Robert seringkali melihat Anne bersedekah, baik itu di jalanan, maupun transfer rutin kepada dua panti asuhan anak. Memang jumlahnya tidak banyak, tetapi Anne tetap rajin memberikan dari kekurangannya.

Robert pernah tanya juga kenapa Anne mau menabur bagi mereka yang tidak dikenalnya. Anne hanya menjawab bahwa lebih baik memberi kepada orang yang tidak dikenal karena mereka tidak menilainya dari penampilan fisik semata. Anne ingin pengemis dan anak-anak panti asuhan itu hidup bahagia. Selain itu, jadi belajar untuk tidak berharap diberi ucapan terima kasih atau pamrih juga dari siapa pun, ‘kan? Memberi dengan ikhlas, tangan kanan memberi, tangan kiri tidak melihat. Robert berjanji dalam hatinya untuk selalu menjaga Anne selamanya.

Flash back off.

Robert tersadar dari lamunannya. Lalu, tangan Robert mulai memberikan tekanan pada titik-titik pijit yang Anne suka di telapak kaki dan betisnya. Perlahan, mata Anne makin menutup dan tertidur. Rasa pegal mulai berkurang. Anne mulai memasuki alam mimpinya.

“Tidurlah yang nyenyak, Anne. Jangan takut tentang hari esok karena akan ada kejutan manis untukmu. Aku akan selalu ada di sampingmu dan membantumu. I love you,” gumam Robert pelan. Robert mengambil selimut dan mengatur suhu AC agar Anne tidak kedinginan. Kemudian, dia mematikan lampu kamar, dan mengecup kening Anne sekilas.

Robert kembali ke kamarnya yang terletak di sebelah kamar Anne. Lalu, segera mengambil ponselnya dan menghubungi Matt.

“Matt, apa kamu sudah menyiapkan yang aku suruh tadi?”

“Iya, sudah done Tuan. Anak buah kita di Polaris Diamond USA akan menyiapkan segala dokumen yang diperlukan untuk order snack ke Nyonya Anne segera,” ujar Matt yakin.

“Bagus, kita bicara lagi besok. Jangan lupa awasi kantor pusat Black Diamond Group, aku mencurigai beberapa orang yang hendak membocorkan rahasia perusahaan kita. Malam ini aku akan meretas email mereka, dan besok pagi sikat mereka semua!” seru Robert dengan seringai seram di wajahnya.

Pembicaraan selesai. Robert masih bekerja dan meretas email dari para karyawan yang mau membocorkan rahasia perusahaan, lalu Robert mengirim semua buktinya kepada Matt agar besok mereka segera disidang dan dilaporkan ke pihak berwajib. Kesal rasanya menggaji orang-orang yang tidak jujur, sudah digaji besar, tapi malah mau merugikan perusahaan.

Robert cukup senang dengan semua yang dia lakukan untuk Anne hari ini. Setelah pukul 23.30 malam, lalu dia memutuskan untuk istirahat dan melanjutkan pekerjaannya besok hari lagi. 

***

Halo semua. Mohon dukungannya untuk klik like and favorit ya di karya pertama saya ini. Terima kasih🙏

IG @cindy.winarto

Terpopuler

Comments

Muhammad Fandi

Muhammad Fandi

walau ide cerita ini lebih banyak dicomot dari luar saya tetap salut sama penulis karena bisa menyusuekan dengan pembaca di Indonesia. okey tetap semangat

2022-05-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!