Kedatangan Raya

Rangga melajukan mobilnya mengitari sepanjang jalanan kota Tokyo. Berbagai macam pikiran berkecamuk. Mengingat Laras masih asing dengan negara Jepang, mengingat kondisi psikologis istrinya yang mungkin down dengan surat tersebut. Matanya berputar mencari keberadaan istrinya.

"Ya Allah Laras, kamu dimana?"

Masih dalam kendaraan Rangga terus mencari keberadaan istrinya. Rasa bersalah karena sudah menyembunyikan keadaan kondisi Laras. Dia tidak menyangka Laras menemukan surat itu. Padahal Dia sudah menyembunyikan serapi mungkin. Rangga sengaja membawa surat itu ke Jepang karena takut jatuh ke tangan mamanya.

Seperti yang sudah di ketahui, Raya terus mendesak Laras agar cepat mengikut program hamil.

Rangga mengemudi mobilnya dengan kecepatan rendah. Hari sudah semakin mendung, jalanan sekitar komplek pun sudah sepi, namun rintikan salju masih ingin menampakkan keeksisannya.

Rangga melirik ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Beberapa kali benda pipihnya bergetar sebuah nama yang dikenalnya tertera disana. Dia juga mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Laras.

Maafkan aku, Laras. Bukan maksud aku melukai perasaanmu. Aku hanya mencari momen yang tepat mengatakan yang sebenarnya.

Kamu tahu, Ras. Aku menyimpannya disini karena tidak ingin mama tahu soal ini.

Ras, kamu dimana sayang?

Ya Allah Laras kamu dimana? Jangan sampai asmanya kumat.

Ya Allah lindungilah istriku dimanapun dia berada. Jauhkanlah dia dari marabahaya yang mengintainya.

Rangga memberhentikan mobilnya di sebuah Masjid. Lantunan suara adzan di gawainya membuatnya harus melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Kakinya melangkah menuju tangga masjid tersebut.

Tokyo Camii adalah Masjid yang populer di Tokyo, karena lokasi nya yang strategis dari area pusat di Tokyo seperti Shibuya, Harajuku, Shimokitazawa, dan lainnya. Masjid ini juga yang terbesar lho di Jepang!

Tahun 1938 Masjid ini dibangun oleh komunitas imigran Turki dari Kazan-Rusia. Masjid Tokyo Camii digunakan sebagai pusat budaya Turki. Tidak hanya masjid terbesar di Jepang, tetapi bisa dibilang juga yang paling indah karena dipengaruhi oleh arsitektur Ottoman, menyerupai Masjid Sultan Ahmed yang terkenal, atau Masjid Biru di Turki, dengan kubahnya yang mengesankan dan menara tinggi.

Rangga tersenyum saat seorang lelaki bersorban menyapanya. Tangan mereka saling berjabat. Menandakan sudah saling mengenal.

"Assalamualaikum, ustad." sapa Rangga pada sosok di depannya.

"Waalaikumsalam, Tuan Rangga. Suatu kehormatan Melihat anda mau menyempatkan sholat zhuhur disini."

"Ah, pak ustadz berlebihan. Saya kebetulan sedang ada tujuan searah dengan mesjid ini. Karena sudah waktunya sholat maka saya mampir kesini."

"Mari, pak. Ini sudah mulai komat." ajak ustad Ahmed merangkul bahu Rangga.

"Loh, bukan ustad Ahmed yang memimpin sholat?"

"Bukan, tuan. Suara saya sedang bermasalah, jadi saya kasih kesempatan pada yang lain. Mari kita atur saf-nya."

Rangga pun ikut berdiri diantara para saf yang sudah di jarak. Meskipun masih dalam keadaan covid, para umat muslim masih memasuki mesjid Assalam Okachimachi. Rangga dan para makmum lainnya dengan kusyuk mengikuti shalat zhuhur.

Selesai shalat, Rangga pamit pada ustad Ahmed untuk melanjutkan urusannya. Keduanya asyik dengan perbincangan singkat.

"Kalau begitu saya pamit dulu, ustad."

"Iya tuan Rangga. Terimakasih sudah mau menjenguk rumah Allah."

Rangga akhirnya meninggalkan pelataran mesjid menghilang bersama mobilnya.

Ketika mobil Rangga sudah meninggalkan pelataran mesjid. Tampak seorang wanita dengan jalan sedikit tertarih. Dia memasuki pelataran mesjid karena menyasar bersama taxi. Merasa tidak ingin meninggalkan kewajibannya, dia berjalan sedikit tertatih merasa sakit kakinya.

"Ya Allah, kok makin sakit kakiku." Rintihnya.

Tangannya menggapai pegangan tangga, namun kakinya tidak kuat lagi berjalan. Di sandarkan punggungnya pagar tangga kecil tersebut. Sesekali menyesali tindakan egoisnya karena meninggalkan rumah tanpa membawa handphon

Wanita itu adalah Laras. Karena tidak begitu paham dengan jalan di sekitar apartemennya. Karena kakinya masih terasa sakit akibat tutupan presto. Kakinya terus melangkah tanpa lelah, hingga dia menemukan mesjid yang pernah disinggahi bersama suaminya.

"Mrs. Larasati." Sapa ustad Ahmed.

"Ustad Ahmed?" Laras menelan salivanya.

"Yes, Iam, ustad." Jawab Laras.

"Belum lama ini tuan Rangga baru saja keluar dari mesjid ini."

Ya Allah, aku merasa berdosa pada suamiku. Aku pergi tanpa pamit, sekarang aku mau pulang tapi kakiku sakit sekali.

Apakah itu tanda aku durhaka pada mas Rangga?

Laras merasa menyesal sudah pergi tanpa pamit pada suaminya. Meskipun dia masih marah karena Rangga sudah membohonginya tentang kondisinya. Namun tetap saja dia merasa salah.

"Apa yang terjadi pada anda? Kenapa wajah anda pucat sekali?" Tanya ustad Ahmed.

"Kakiku sakit terkena tutup presto tadi. Kupikir dengan mengoleskan odol tidak akan jadi masalah. Ternyata semakin sakit jika di tutup dengan sepatu. Maaf ustad bolehkan saya istirahat sebentar?"

"Lebih baik anda istirahat di dalam. Ustadzah Sato, tolong bawa nyonya Laras ke dalam masjid." Titah ustad Ahmed.

Rangga sampai di rumah berharap istri sudah pulang. Tapi ternyata hasilnya nihil, kakinya di hempas ke sofa. Meregangkan sedikit otot setelah setengah hari mencari keberadaan istrinya. Berkali-kali kepalanya di usap dengan kasar.

Rangga merasa gawainya bergetar. Dengan cepat merogoh kantongnya, lalu membuka gawainya.

Ustad Ahmed?

Ada apa dia meneleponku?

"Assalamualaikum" Rangga menyapa si penelepon.

"Tuan Rangga maaf mengganggu, di mesjid ada istri anda. Seperti kakinya kesakitan, bisa anda menyusulnya kesini. Wajahnya pucat sekali."

"Alhamdulillah. Terimakasih, ustad Ahmed. Saya akan kesana." Rangga menutup teleponnya. Tanpa berpikir panjang Rangga langsung keluar dari kamar apartemennya.

Ceklek!

Rangga mematung saat melihat siapa yang berdiri di hadapan. Sungguh saat momen seperti ini malah mendapat masalah baru.

"Rangga?" Sapa wanita paruh baya di hadapannya.

Rangga masih berpikir keras bagaimana menjelaskan pada tamunya. Bagaimana nanti mereka melihat Laras tidak ada di rumah.

"Ya Allah, mama. Kok mama tidak bilang mau kesini? Kan bisa aku jemput." Sambut Rangga demi mengalihkan kegugupannya.

"Pa," Rangga beralih pada pria disamping mamanya.

"Kamu mau kemana?" Tanya Raya.

"Jemput Laras, ma. Dia ikut pengajian di mesjid camii." Dusta Rangga.

"Ooooh. Tapi rumah sudah beres, kan?"

"Mama lihat sendirilah." Rangga menuntun kedua orangtuanya ke kamar tamu.

"Maaf, ma, Rangga jemput Laras dulu." Pamit Rangga.

Rangga meninggalkan apartemen menjemput istrinya ke mesjid camii. Itu dia terpaksa berbohong supaya Raya tidak berpikir macam-macam.

Mobil pun sampai di depan pelataran mesjid. Dengan cepat Rangga turun memasuki gedung rumah Allah tersebut.

"Dia dimana?"

"Itu," ustadzah Sato menunjuk kearah Laras yang sudah tertidur memeluk tas nya.

Dengan pelan Rangga melihat keadaan kaki Laras sesuai aduan ustad Ahmed. Tangannya mengatup melihat kaki istrinya memerah.

Terpopuler

Comments

Nofi Kahza

Nofi Kahza

aku berharap rumah tangga laras dan Rangga tetep baik2 saja..🥺

2022-06-06

0

Ayuwidia

Ayuwidia

Apapun yang terjadi dalam rumah tangga kalian, tidak seharusnya kamu pergi, Ras. Tetaplah brtahan di sisi suami kamu 🥺

Masya Allah, Masjidnya indah banget Kak Meel 😍

2022-05-12

0

lihat semua
Episodes
1 Pernikahan
2 Gara Gara segugut
3 Bandara
4 Malam pertama
5 Pacaran Setelah Menikah.
6 Kilasan masa lalu
7 Kilasan masa lalu 2
8 Mulai cemburu (sebelum menikah)
9 Masih bulan madu
10 Permintaan Raya
11 Rumah ibu
12 Pulang ke rumah mama mertua
13 Dinner keluarga
14 Periksa ke dokter kandungan
15 Aku bukan cucu Oma
16 Rencana pindahan
17 Terapi kesuburan
18 Menyusul ke Jepang
19 Surat itu ...
20 Kedatangan Raya
21 Mimpi didatangi ibu
22 Masih dalam tekanan
23 Quality time
24 Tragedi
25 Kabar itu ...
26 Di rumah sakit
27 Nestapa di hari duka
28 Haruskah aku pergi?
29 Pemakaman Oma
30 Dimana suamiku?
31 Maaf, aku pergi
32 Masih koma
33 Positif
34 Tamu dari jauh
35 Bangun dari Koma
36 Bangun dari Koma 2
37 Bagas Barata Yudha
38 Hasutan
39 Di sita
40 Masih menumpang
41 Tawaran pindah .
42 Menata hidup baru
43 Pulang ke Indonesia
44 Merasa dekat
45 Cerita Bagas
46 Ziarah
47 Jalan-jalan
48 Wejangan dari calon besan
49 Donatur Taman kanak-kanak
50 Suara itu... suamiku
51 Aku Mencintainya..
52 Menjemput Bagas
53 Masa lalu Raya
54 Masa lalu Raya 2
55 Sebuah pertemuan
56 Aku tidak seperti itu
57 Masih di rumah sakit
58 Guncangan hati Bagas
59 Rencana Mila
60 Tetaplah disisiku
61 Bukan update
62 Maafkan aku, Ras.
63 Cerita di dalam taksi
64 Kisah di sekolah
65 Pertemuan di kontrakan
66 Jemput bersama
67 Kunjungan ke rumah Ina
68 Kunjungan ke rumah Ina 2
69 Pesta penyambutan Laras
70 Di pesta itu ...
71 Masih di pesta
72 Kebahagiaan Bagas
73 Jebakan Mila
74 Makan siang bersama
75 Kejujuran Laras
76 Belum percaya
77 Rencana Rangga
78 Berserah kepada-Mu
79 Berserah kepada-Mu (Versi Rangga)
80 Dampak viral
81 Sidang Mila
82 Di ruang ICU
83 Maafkan aku
84 Penyusup perusahaan
85 Pagi ini ...
86 Resign
87 Pamit
88 Mencoba kabur
89 Kejar-kejaran
90 Pemikiran Laras
91 Tidak punya malu
92 Kalah telak
93 Surgaku padamu
94 Cerita Di Rumah Sakit
95 Arti seorang ayah
96 Bertemu mereka
97 Camp rumah pohon
98 Masih di rumah pohon
99 Senandung hati
100 Di kantor polisi
101 Suka dan duka
102 Apesnya Mila
103 Calon settingan
104 Permintaan maaf Raya
105 Musibah
106 Bagas mau adik, bunda.
107 Teror untuk Mila
108 Irama cinta
109 Poor Mila
110 Hiduplah dengan bahagia
111 Siuman
112 Dinner
113 Promo semesta merestui kami
114 Di ruang sidang
115 Penahanan Mila
116 Masih di persidangan
117 Ini salah saya
118 Penahanan Rangga
119 Kapan terakhir kamu bahagia
120 Saya akan mencintai Larasati
121 Melepas rindu
122 Putusan sidang
123 Izinkan saya jadi menantu ibu
124 Kita akan selalu bahagia
125 Menelan ludah sendiri
126 Bagas mau khitan, Ayah
127 Acara sunatan Bagas
128 Jalan ke monas
129 Ziarah
130 Cerita di sekolah
131 Cerita di sekolah 2
132 Will you marry me
133 Berkumpul
134 Akhir yang bahagia (Final part)
135 PROMO NOVEL LORONG WAKTU TENTARA
136 PROMO PEMILIK KEHORMATAN
137 BINGKAI CINTA UNTUK SARMILA
138 AFTER ONE NIGHT IN LONDON
139 Novel baru: FAJAR UNTUK EMBUN
140 Radar cinta Andara
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Pernikahan
2
Gara Gara segugut
3
Bandara
4
Malam pertama
5
Pacaran Setelah Menikah.
6
Kilasan masa lalu
7
Kilasan masa lalu 2
8
Mulai cemburu (sebelum menikah)
9
Masih bulan madu
10
Permintaan Raya
11
Rumah ibu
12
Pulang ke rumah mama mertua
13
Dinner keluarga
14
Periksa ke dokter kandungan
15
Aku bukan cucu Oma
16
Rencana pindahan
17
Terapi kesuburan
18
Menyusul ke Jepang
19
Surat itu ...
20
Kedatangan Raya
21
Mimpi didatangi ibu
22
Masih dalam tekanan
23
Quality time
24
Tragedi
25
Kabar itu ...
26
Di rumah sakit
27
Nestapa di hari duka
28
Haruskah aku pergi?
29
Pemakaman Oma
30
Dimana suamiku?
31
Maaf, aku pergi
32
Masih koma
33
Positif
34
Tamu dari jauh
35
Bangun dari Koma
36
Bangun dari Koma 2
37
Bagas Barata Yudha
38
Hasutan
39
Di sita
40
Masih menumpang
41
Tawaran pindah .
42
Menata hidup baru
43
Pulang ke Indonesia
44
Merasa dekat
45
Cerita Bagas
46
Ziarah
47
Jalan-jalan
48
Wejangan dari calon besan
49
Donatur Taman kanak-kanak
50
Suara itu... suamiku
51
Aku Mencintainya..
52
Menjemput Bagas
53
Masa lalu Raya
54
Masa lalu Raya 2
55
Sebuah pertemuan
56
Aku tidak seperti itu
57
Masih di rumah sakit
58
Guncangan hati Bagas
59
Rencana Mila
60
Tetaplah disisiku
61
Bukan update
62
Maafkan aku, Ras.
63
Cerita di dalam taksi
64
Kisah di sekolah
65
Pertemuan di kontrakan
66
Jemput bersama
67
Kunjungan ke rumah Ina
68
Kunjungan ke rumah Ina 2
69
Pesta penyambutan Laras
70
Di pesta itu ...
71
Masih di pesta
72
Kebahagiaan Bagas
73
Jebakan Mila
74
Makan siang bersama
75
Kejujuran Laras
76
Belum percaya
77
Rencana Rangga
78
Berserah kepada-Mu
79
Berserah kepada-Mu (Versi Rangga)
80
Dampak viral
81
Sidang Mila
82
Di ruang ICU
83
Maafkan aku
84
Penyusup perusahaan
85
Pagi ini ...
86
Resign
87
Pamit
88
Mencoba kabur
89
Kejar-kejaran
90
Pemikiran Laras
91
Tidak punya malu
92
Kalah telak
93
Surgaku padamu
94
Cerita Di Rumah Sakit
95
Arti seorang ayah
96
Bertemu mereka
97
Camp rumah pohon
98
Masih di rumah pohon
99
Senandung hati
100
Di kantor polisi
101
Suka dan duka
102
Apesnya Mila
103
Calon settingan
104
Permintaan maaf Raya
105
Musibah
106
Bagas mau adik, bunda.
107
Teror untuk Mila
108
Irama cinta
109
Poor Mila
110
Hiduplah dengan bahagia
111
Siuman
112
Dinner
113
Promo semesta merestui kami
114
Di ruang sidang
115
Penahanan Mila
116
Masih di persidangan
117
Ini salah saya
118
Penahanan Rangga
119
Kapan terakhir kamu bahagia
120
Saya akan mencintai Larasati
121
Melepas rindu
122
Putusan sidang
123
Izinkan saya jadi menantu ibu
124
Kita akan selalu bahagia
125
Menelan ludah sendiri
126
Bagas mau khitan, Ayah
127
Acara sunatan Bagas
128
Jalan ke monas
129
Ziarah
130
Cerita di sekolah
131
Cerita di sekolah 2
132
Will you marry me
133
Berkumpul
134
Akhir yang bahagia (Final part)
135
PROMO NOVEL LORONG WAKTU TENTARA
136
PROMO PEMILIK KEHORMATAN
137
BINGKAI CINTA UNTUK SARMILA
138
AFTER ONE NIGHT IN LONDON
139
Novel baru: FAJAR UNTUK EMBUN
140
Radar cinta Andara

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!