Laras selesai memasak sop iga permintaan suaminya. Merasa tubuhnya bau daging dia pun kembali membersihkan diri, karena dia tidak mungkin datang ke kantor dengan bau apek.
Beberapa saat setelah mandi, dia pun kembali ke dapur untuk memindahkan sop dan nasi kedalam rantang. Lalu kembali ke kamar menggunakan hijab segiempatnya. Setelah merasa cantik di depan kaca, memantaskan diri tampil sempurna di depan suaminya. Laras pun mengambil tas nya.
Posisi tas berada diatas beberapa berkas milik suaminya. Dengan bantuan kursi diatas, menahan kakinya yang masih perih.
"Alhamdulillah dapat" serunya.
Braaaaak!
Beberapa berkas dan surat-surat pun berjatuhan. Laras pun membereskan beberapa kertas yang berserakan. Setelah itu, dia mengembalikan letaknya. Namun sebelum dia naik keatas, dia terfokus pada sebuah surat.
"Sepertinya dari rumah sakit." Laras melihat label diatas surat tersebut.
"Loh, ini kan puskesmas dekat rumahku. Kok bisa disini, ya? Apa yang mas Rangga periksa disana?"
Laras masih merasa penasaran dengan isi surat itu. Namun rencananya terhenti saat melihat pesan dari suaminya.
"Sayang, kamu jadikan ke kantor. Aku suruh anak buahku jemput, ya?"
"Jadi, mas. Oke aku tunggu jemputannya. Tapi aku mau kamu yang jemput."
"Maaf, sayang saku tidak bisa jemput. Sebentar lagi ada klien dari China yang akan datang. Sekaligus ada pembicaraan kerjasama, jadi kamu kalau sampai tunggu di ruangan saja."
"Ya, udah, mas kalau begitu. Aku turun dulu, takutnya orang suruhanmu sudah di bawah.
Assalamualaikum, Mas Rangga."
"Waalaikumsalam, Bu Laras."
Laras langsung bersiap-siap turun, namun rasa penasarannya kembali mengganggu. Apalagi kalau bukan surat dari puskesmas dekat rumah.
"Apa aku baca kali, ya? kan, mas Rangga pasti masih lama meetingnya."
Laras duduk di sudut ranjang, pelan-pelan dia membuka isi surat itu. Tampak Laras masih takut membaca isi surat tersebut, apakah suaminya sakit parah, atau jangan-jangan dia yang sakit parah.
Ya, Allah jika memang ada penyakit dalam diriku atau pada suamiku. Aku mohon jangan sekarang kami dipisahkan oleh maut. Aku sayang pada suamiku dan aku yakin mas Rangga juga begitu. Izinkan aku merasakan yang namanya hamil, dan punya anak, izinkan suamiku menemaniku hingga anakku lahir. Aku hanya berharap sebelum nantinya pergi, bisa melihat mama mertuaku menerimaku dengan kehadiran anak kami.
Bismillah..
Laras berdoa sedikit membuka isi surat itu. Meskipun dia masih diliputi rasa takut pada isi surat tersebut. Dengan mantap Laras membaca isinya, lama dia resapi apa maksud dari keterangan dokter. Hingga dia pun mencoba mengklik apa maksud dokter dengan kata pergeseran rahim.
Catatan dokter:
Istri anda mengalami pergeseran kantung janin akibat kecelakaan tersebut. Dimana pergeseran ini bisa membuat kantong janinnya tidak bisa berbuah. Jika suatu saat istri anda hamil, kantong rahim ini tidak akan berkembang sampai sembilan bulan.
Maka itu saya harap, segera lakukan pengobatan sejak dini. Kalau tidak istri anda tidak akan bisa hamil."
Laras terdiam setelah suaranya membaca isi surat tersebut. Dadanya terasa sesak, seakan dipukul dengan palu berkali-kali. Air matanya terus menetes membasahi surat yang masih di genggamannya.
"Aku . .. Aku tidak bisa memberimu keturunan mas Rangga. Aku nggak bisa membahagiakan kamu. Maafkan aku, mas." Tangisnya terus pecah.
Laras menyeka air matanya, dia mencoba kuat dengan semua yang diterimanya. Dia bangkit mengingat janjinya pada suaminya mengantar makan siang.
Langit masih terlihat cerah meskipun masih tampak tumpukan salju menutupi jalanan. Laras berdiri di depan gedung apartemen. Matanya terus mencari keberadaan mobil jemputan dari kantornya.
"Mrs. Larasati?" Sapa seorang lelaki Jepang.
"Yes, I'am. but sorry I can not come to the office. I have a little business, please tell Mr. Rangga."
(tapi maaf saya tidak bisa ikut ke kantor. saya ada urusan sedikit, tolong bilang sama pak Rangga." )
"oke."
"This is a gift for my husband.( ini titipan buat suami saya.")
Laras memberikan rantang pada supir tersebut. Beberapa saat kemudian mobil itu pergi mengantarkan titipan dari Laras.
Kakinya melangkah tak tentu arah. Pikirannya kacau setelah membaca surat tadi. Perasaannya benar-benar kacau, dia merasa tidak berguna untuk suaminya. Kata-kata dari dokter yang dia baca tadi terus terngiang-ngiang di pikirannya. Begitu besar harapan mertuanya agar dirinya bisa memberi mereka cucu. Terbayang bagaimana reaksi Raya ketika tahu keadaannya sekarang.
Air mata terus meleleh. Bagaimana jika mertuanya tahu, bagaimana kalau mama Raya memintanya meninggalkan Rangga. Semua pemikiran itu terus bergulir. Dia sangat mencintai Rangga, dia juga tak ingin jadi janda saat masih muda. Tapi dia yakin sebentar lagi hidupnya selesai.
Laras melabuhkan tubuhnya di kursi yang disediakan pinggir trotoar. Dia terus melamun tanpa menyadari ada beberapa orang mengintai dirinya.
Klik
"Why did you deliver the food? where's my wife?"
(Kenapa kamu yang mengantarkan makanannya. istri saya mana?" )
"Sorry sir, your wife just left this. Looks like she didn't come. Excuse me.
"Maaf tuan, istri anda hanya menitipkan ini. Sepertinya dia tidak Jadi ikut. permisi."
Setelah sopir tersebut meninggalkan Rangga sendiri di ruang. Rangga beralih mengambil handphonenya untuk menghubungi Laras. Namun, berkali-kali dia mencoba tetap saja tidak diangkat.
Berdasarkan maps pelacaknya Laras masih di rumah. Rangga mengambil kunci mobilnya untuk menemui Laras. Entah kenapa dia takut terjadi sesuatu pada istrinya.
Pada akhirnya Rangga sudah berada di depan gedung apartemen. Dengan cepat dia naik ke lantai 5 dimana kamarnya terletak. Rangga berdiri di depan pintu kamar apartemennya. Berkali-kali menggedor tapi tak ada yang membukanya. Lagi-lagi dia melacak mapsnya, berdasarkan kontak handphonenya Laras masih di dalam rumah.
"Ya Allah, kenapa Laras tidak membuka pintu. Jangan sampai terjadi sesuatu pada istriku. Laras aku mohon angkat teleponku."
"Aaaarrrrggh"
Suara lari kencang terdengar menggema di koridor apartemen. Rangga merasa terjadi sesuatu pada istrinya di dalam. Tubuhnya sudah berdiri di resepsionis.
"Sir, Mrs. Laras left the key here."
(Tuan, nyonya Laras tadi menitipkan kunci disini)
"Keys?"
Berarti Laras tidak di rumah. Ya Allah, kamu kemana?
Kaki Rangga berjalan kembali ke apartemennya. Selang kemudian dia membuka kamar, awalnya ingin merebahkan diri. Namun matanya tertuju pada surat yang terletak ditangan.
"Jangan-jangan ...."
"Larasssss!"
"
"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Nofi Kahza
Laras kamu kemana??
2022-06-04
0
Sulestari Tari
smga kbhagiaan sllu dtng kpd kluarga kalian
laras&rangga
2022-05-11
1
Ramadhania Muhammad
lanjut
2022-05-10
0