Enam bulan kemudian
Rangga dan Laras saat ini sudah tinggal di Jepang. Sudah enam bulan mereka tinggal di negara sakura tersebut.
Bagi keduanya kehidupan mereka lebih tenang setelah pindah dari rumah mertuanya. Bukan berarti mereka tidak betah, hanya saja jika punya rumah sendiri akan lebih nyaman.
"Pagi, istriku." Laras menggeliat melihat suaminya sudah berpakaian rapi.
Seketika tubuhnya beranjak kaget. Dia merasa tidak enak karena tidak mempersiapkan kebutuhan suaminya. Udara Jepang yang memasuki musim semi menjadi alasan dia terlalu nyaman dalam dunia mimpi. Dengan cepat dia mengambil hijabnya menutupi rambut sebahunya.
"Mas, kok baru bangunin aku sih!" Protes Laras.
"Aku tidak mau mengganggu tidurmu sayang." Sahut Rangga merapikan dasinya.
"Sini biar aku saja." Laras mengambil kursi kecil untuk menggapai kerah baju suaminya.
Tubuh Rangga yang tinggi membuatnya susah menggapai dasi yang sedang dipasang.
"Nggak sampai, ya?" Ledek Rangga.
"Mas, sih tinggi bener. Kan aku pendek mas."
"Iya, mau gimana, bawaan lahir udah begini."
"Padahal mama Raya sedikit tinggi dari aku. kok mas bisa lebih tinggi, ya?"
"papaku tinggi, ras. Kamu belum lihat photo papaku kan?"
"Aku sudah lihat, mas. Ina pernah lihatkan tapi saat itu posenya duduk memangku Ina. Jadi nggak kelihatan dia tinggi. Kelihat dia sayang banget sama Ina, beruntung banget Ina punya papa seperti om Aryo."
"Papa Aryo, sayang. Kamu itu menantunya sekarang, bukan lagi sebagai temannya Ina."Rangga mengingatkan istrinya.
"Maaf, aku lupa. Tapi benar, yang. Dari semua suami mamanya, cuma dua lelaki yang jadi panutan Ina. Dia bahkan bilang kalau nikah mau cari suami kayak papa Aryo dan kayak kamu, mas. Ya meskipun dia terjebak cinta si Casanova yaitu Dodo. Dan untungnya dia dapat suami penyayang seperti Alam."
"Ras, sudah ya. Kita nggak usah bahas Ina lagi. Kita bahas tentang kamu dan aku saja. Bahas masa depan kita, dan soal terapi yang akan kita jalani saat ini."
Rangga mengingatkan Laras soal jadwal terapi yang sudah mereka jalani dua bulan ini.
"Mas,"
"Iya, sayang."
"Maaf, mas. Aku boleh nanya soal kata dokternya Takeda kemarin. Soalnya aku masih gaptek bahasa Jepang. Dia bilang apa sih, mas? kok dari raut mukanya kayak nggak enak gitu."
Satu minggu yang lalu, saat Laras diperiksa sama dokter Takeda di rumah sakit. Dokter bicara dalam bahasa Jepang pada Rangga. Dia sangat kepo dengan keterangan dokter tentang kondisi rahimnya.
Saat Laras menanyakan apa yang di ucap dokter, Rangga saat itu bilang kalau kalau kesehatan mereka tidak ada masalah. Bisa memiliki keturunan namun hanya membutuhkan kesabaran. Namun, Laras merasa guratan wajah dokter seperti menyampaikan berita duka.
Rangga memandang istrinya dengan tatapan penuh arti. Seandainya dia bilang kalau Laras bakal sudah hamil akan mempengaruhi psikis istrinya. Dokter sebenarnya menawarkan bayi tabung buat mereka. Tapi Rangga takut istrinya semakin curiga dengan kondisi sebenarnya.
"Mas,"
"Sayang, aku mau ajak kamu main ke kantor. Mau kan? Aku takut kamu suntuk kalau di apartemen saja."
"Mas, belum jawab pertanyaanku tadi. Dokter waktu itu bilang apa? Kenapa raut wajahnya seperti bukan menyampaikan berita bahagia. Apa aku ada masalah, atau kamu yang bermasalah. Aku nggak marah kalau memang diantara ada masalah dalam kesehatan."
"Dengar, ya, sayang. Kita baik-baik saja. Kamu tidak usah takut dengan hal itu. Jodoh, rezeki, maut itu hanya Allah yang menentukan. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan apa yang sudah di gariskan oleh-Nya.
Lusa kita ketemu ustad Ahmed di acara pengajian. Siapa tahu nanti kamu dapat pencerahan dari beliau."
"Mas, berangkat duluan, ya. Aku mau ketemu Ina dulu. Nanti aku nyusul ke kantor."
"Ina-nya jangan di ganggu dulu. mereka kan masih ingin berduaan. Mending kamu menemin aku di kantor. Biar suamimu ini semangat kerjanya. Ya, sudah kalau kamu masih mau di rumah. Nanti kalau mau ke kantor hubungi aku. Biar asistenku yang jemput. Aku berangkat dulu, ya sayang.
Oh, ya tadi aku buatin susu jahe buat kamu. Sekarang masih udara dingin jadi, perlu yang hangat untuk tubuh."
Laras menyalami suaminya yang akan berangkat ke kantor. Setelah itu dia bergegas mandi karena akan ke luar rumah.
Setelah membersihkan diri, Laras menikmati susu jahe buatan suaminya. Laras acungi jempol buatan suaminya sangat enak. Bahkan lebih enak dari susu jahe buatan ibunya. Sambil menikmati susu jahe, Laras browsing tentang kesuburan wanita di internet. Banyak yang ingin dia pelajari untuk persiapan terapinya. Laras juga memesan online buah zuriat. Karena setelah ditelusuri di Jepang masih susah ditemukan.
Berdasarkan situs Indonesia tentang ibu dan anak.
Mengonsumsi buah ini pun dipercaya dapat mencegah osteoporosis. Hal ini dikarenakan buah zuriat memang dikenal mengandung kalsium tinggi. Karenanya, buah ini dapat membantu mencegah osteoporosis. Dengan mengonsumsi secara rutin, Bunda pun dapat merasakan manfaatnya bagi tulang agar lebih sehat.
Salah satu yang terpenting dan paling banyak dicari, buah zuriat ini banyak dikonsumsi untuk melancarkan program kehamilan (promil), Bunda. Jadi, bagi Bunda dan Ayah yang sedang menjalani promil dapat turut serta mengonsumsinya ya. Caranya, dengan membelah buah zuriat dan kemudian merebusnya. Kemudian, air rebusan ini dapat diminum setiap hari.
Atau, ada juga yang mengolahnya dengan merebus kulit dan hanya merebus bijinya. Bahkan, ada juga yang merebus keduanya kemudian air rebusan buah ini diminum dimana dapat membantu cepat hamil.
Laras mencari alamat beberapa tempat terapi di Jepang. Mengingat banyak yang berharap? dirinya cepat hamil. Dia akan berusahaa menuruti keinginan mertuanya, supaya nanti bisa di sayang mertuanya. Walaupun Rangga sering menguatkan hatinya namun Laras tetap saja merasa tidak enak.
Setelah bersantai sejenak, Laras pun mempersiapkan diri untuk keluar rumah. Rencananya dia akan menemani Ina yang hanya berdua dengan anak sambungnya. Suaminya Ina saat ini bekerja di kantor milik Rangga. Mereka pindah ke Jepang karena Ina harus menyelesaikan studinya.
Laras berjalan di trotoar pusat kota Tokyo. Meskipun dia pernah beberapa kali diajak jalan sama suaminya, tetap saja decak kagum kembali mengalir dari bibirnya.
Laras merasa gawainya bergetar. Terbit senyum manisnya saat melihat siapa yang video call dengannya.
"Kamu di luar sayang?" Ucap Rangga saat melihat suasana di sekeliling istrinya.
"Iya, mas. Aku mau lihat-lihat dekat sini. Sekalian aku mau ke kantormu."
"Ya sudah aku jemput kamu, ya. Jangan kemana-mana, kamu tunggu aku di dekat apartemen."
"Tapi ini sudah jauh dari apartemen, mas." Laras memandang sekelilingnya supaya suami bisa tahu keberadaannya.
"Oke, kamu tunggu aku. Aku tahu dimana lokasi tempat kamu berdiri sekarang. Jadi kamu tetap disana sampai aku jemput. Oke!"
Tak jauh dari posisinya berdiri ada sebuah kursi panjang. Laras pun mendaratkan tubuhnya di kursi tersebut. Tangannya memegang gawai untuk menghilangkan rasa bosannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Nofi Kahza
aku percaya, usaha keras akan membuahkan hasil🥰
2022-06-04
0
Ramadhania Muhammad
lanjut
2022-05-06
0
Ayuwidia
Semoga dengan kepindahan kalian ke Jepang, Laras segera dikarunia malaikat kecil. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menyentuhkan kasih sayang-Nya dan berkehendak 😇
Semangat Kak Meel 😘
2022-05-06
1