Rangga mengemudikan kendaraan roda empat dengan kecepatan kecil. Dia tidak mau terlalu bersemangat yang nantinya berakibat fatal. Terdengar musik dari mobilnya, lagu yang terdengar mellow dari Glenn Fredly, sesuai dengan perasaan hatinya saat ini.
Tuhan bila masih ku di beri kesempatan izinkan aku menjaganya.
Kata itu sukses membuat Rangga terkenang masa-masa saat awal menikah. Dimana dia mencoba belajar mencintai Laras, meskipun setengah hatinya masih terbawa ke Ina.
Jika memang kesempatan itu ada dia akan membahagiakan Ina. Namun, nyatanya dia hanya bisa membahagiakan adik tirinya sebagai saudara. Apalagi dengan status mereka saudara sepersusuan. Dan itu yang membuat Rangga mundur memperjuangkan Ina.
Mobil akhirnya berlabuh di depan kediaman papa tirinya, Donal Pattimura. Setelah pak sopir membuka gerbang pagar rumah. Dengan cepat Rangga sudah keluar dari mobil silvernya.
Assalamualaikum
Rangga menyapa semua penghuni rumahnya. Tampak suasana rumah masih sepi, padahal sudah malam. Kakinya melangkah menuju kamarnya, kerinduannya pada istrinya tidak terbendung lagi.
Ceklek!
Suara decitan pintu terdengar pelan. Rangga menemukan Laras sudah terlelap di ranjang, di rebahkannya tubuh jangkung tersebut. Tangannya membelai pucuk hijab istrinya, lalu mengecup pipi milik Laras.
Rangga membersihkan diri di kamar mandi. Rasa lelahnya karena pekerjaan yang bertumpuk, ditambah dia memikirkan bagaimana membicarakan soal pindahan tanpa menyinggung perasaan mamanya.
Rangga duduk di tepi ranjang, membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apalagi tadi dia bertemu dengan Ina, membahas masalah penempatan kerja Alam untuk di Jepang.
Laras membalikkan badannya, dia sebenarnya belum sepenuhnya tidur. Tadi dia sudah di beri macam-macam jamu oleh Raya. Beberapa saat perutnya tak bisa menerima jamu yang masuk ke tubuhnya. Bisa jadi karena tidak terbiasa dengan minuman itu. Padahal dulu ibunya jamin membuatkan kunyit asam untuk dirinya.
Pikirannya menerawang mengingat photo yang dikirimkan Nindy padanya. Pertemuan Rangga dan Ina di luar pengetahuannya membuat perasaannya sakit.
Entah kenapa sampai sekarang rasa cemburunya pada Ina masih besar. Meskipun Rangga beberapa kali menjelaskan kalau Ina tetap adiknya bukan wanita dari masa lalunya. Tapi tetap saja dia masih belum bisa menerima kedekatan mereka. Walaupun Ina sudah bersuami, Laras melihat Ina juga tidak menjaga jarak dengan Rangga.
Pagi ini, Laras mendiamkan suaminya. Meskipun Rangga mencoba mengalihkan perhatian istrinya. Tapi tetap saja Laras mengacuhkannya. Rasa kesal Laras dengan suaminya yang super perhatian pada Ina.
Laras masih sibuk di dapur, memotong beberapa bahan sayuran untuk sarapan suaminya. Rangga masih berusaha mendekati Laras yang acuh. Dia masih belum paham penyebab istrinya mendadak diam.
Tidak menyerah Rangga merapatkan tubuhnya di punggung Laras. Tapi tetap saja, istrinya bersikap seperti patung. Pada akhirnya Rangga menyerah lalu berjalan masuk ke kamar.
"Sayang"
Tak ada respon apapun dari Laras.
"Semenit saja kamu diam sudah bikin aku susah bernafas. Jangan gini dong, yang."
"Mas, cepat sarapan nanti telat." Jawab Laras datar.
Rangga langsung menyergap tubuh Laras. Tangannya langsung mengunci tubuh istrinya. Laras memberontak tapi kalah kuat dengan tubuh Rangga.
"Aku tidak akan ke kantor kalau kamu masih seperti ini, Larasati. Aku bingung, salahku apa sampai sejak semalam kamu mendiami suamimu ini. Salahku apa?"
"Jadi sejak semalam mas nggak tahu juga kesalahanmu. Dasar nggak peka! Aku pikir mas sudah intropeksi diri." Oceh Laras.
"Kapan mas? kapan kamu berhenti memberi perhatian lebih pada Ina? Kamu rela meninggalkan pekerjaan hanya demi menemui Ina. Padahal aku sendirian di rumah."
"Sayang, kamu salah paham aku semalam bertemu Ina membahas penempatan jabatan untuk suaminya di Jepang nanti."
"Sayang, aku berangkat ke kantor."
Masih tak ada respon dari Laras.
"Istriku, suamimu mau ke kantor dulu, ya. Dosa lo tidak menyambut suami yang mau berangkat ke kantor." Suara Rangga pun tak terdengar lagi.
Ceklek!
Laras akhirnya keluar dari kamarnya. Matanya celingak celinguk berharap Rangga sudah berangkat. Wanita itu mendaratkan bokong di salah satu kursi di kitchen room. Laras kembali menyelesaikan masakannya. Entah kenapa dadanya terasa sesak, mencoba menahan air matanya yang akan turun.
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar dipinggang Laras. Wanita itu tersentak saat pelukan itu semakin erat. Tak lama membalikkan tubuh, tampak Rangga berdiri dihadapannya. Tanpa mengikis jarak diantara mereka, Rangga menghapus airmata di wajah Laras.
"Maafkan aku, sayang. Mungkin kamu akan bilang aku suami yang tidak peka, nggak punya perasaan atau apalah. Tapi satu yang harus kamu tahu, aku masih punya janji amanat dari papa untuk menjadi pelindung buat Ina. Aku mohon pengertian kamu, Ras.
Meskipun begitu, aku tidak akan melupakan statusku sebagai suamimu. Aku tidak akan lupa kalau aku punya istri yang lebih cantik dari Ina."
Blush
Wajah Laras memerah ketika Rangga menyebutnya cantik.
"Kenapa nggak ke kantor, mas?"
"Karena aku sedang ingin bersamamu, Larasati. Kamu tahu? Sedetik kamu mengacuhkan aku, itu rasanya bagaimana kiamat. Aku nggak kuat didiamkan kayak gini."
Laras mencubit perut Rangga " Kok dicubit?"
"Gombal!"
"Ras, kita kasih cucu yuk buat mama."
"Maksud, mas!"
Belum di beri penjelasan, Rangga sudah membungkam bibir Laras dengan lembut. Tubuh Laras yang tertahan didinding kulkas. Laras sedikit meremang ketika merasakan nafas Rangga yang membuatnya mulai melambung. Belum lagi bisikan mesra membuat jantungnya berdetak kencang. Laras tersipu malu ketika Rangga menatapnya dengan intens. Daster sutra Laras yang memakai cardigan pun mulai melonggar.
Sekarang posisi Laras diatas ranjang. Tangan Rangga mulai menyusup ke tali daster milik Laras. Dengan mudahnya tali itu sudah menyusut turun, menampakkan sedikit bukit kembar milik Laras. Rangga mulai menjamah tubuh Laras menikmati indahnya hubungan yang sudah halal.
Rangga menarik dagu Laras, menikmati tubuh istrinya. Tangan lainnya menjamah bagian tubuh Laras yang lainnya.
"Mas .. Aaahhh... aaahhhh." Laras mulai menikmati sentuhan demi sentuhan yang menjangkau setiap inchi tubuhnya.
"Bismillah. Semoga usaha kita di ijabah oleh yang maha kuasa." Bisik Rangga lalu memasukkan tongkat saktinya. Menanamkan benih ke dalam tubuh istrinya. Tubuh mereka terhempas keatas ranjang. Tampak keduanya sangat kelelahan setelah bergerilya.
Klik
Setelah membersihkan diri, Laras dan Rangga akhirnya keluar kamar dan berkumpul bersama keluarga. Oma Gladys menyambut keduanya dengan senang. Bagi Oma, Laras dan Rangga sudah memberikan aura positif dalam keluarganya.
Oma tidak masalah jika nanti hasil tes DNA menyatakan Laras bukan cucunya. Toh, Mala sudah menjadi anak angkatnya dengan mengorbankan masa mudanya, mengasuh Oma Maria, mertuanya.
"Wah, kalian sudah segar dan ceria. Oma senang melihat kalian seperti ini. Pertahankan, ya." Puji Oma Gladys.
Rangga membuka kursi untuk istrinya. Tak lama dia pun sudah duduk disamping Laras. Laras mengambilkan nasi untuk Rangga, dan Rangga pun mengambilkan nasi untuk istrinya. Adegan itu membuat Oma dan Donal senyum-senyum sendiri. Donal melirik istrinya yang masih sibuk dengan gawainya.
"Ma," Sapa Donal.
Raya masih berkutat pada gawainya, meskipun dia tahu suaminya menyapanya.
"Ma," Donal mengulangi panggilannya.
"Raya, suamimu memanggil. kamu bukannya siapin sarapan suamimu malah asyik dengan HP. Tidak bagus seperti itu, kamu harus kasih contoh yang baik didepan menantumu."
"Maaf, ma." Jawab Raya sambil membulatkan matanya dengan malas ke arah Laras.
Raya menyandukkan nasi ke dalam piring milik suaminya. Di sambut ucapan terimakasih dari Donal atas perlakuan istrinya. Oma hanya menggeleng pelan saat melihat sikap Raya tadi.
"Ras, mama sudah jadwalkan untuk tes DNA kamu dan papa Donal. Siang ini kita ke rumah sakit Medika. Bagaimana Rangga, mama Gladys dan mas Donal."
Laras pun akhirnya bersuara "Mama Raya, Oma Gladys, papa Donal dan mas Rangga. Saya rasa tidak perlu tes DNA lagi. Saya tahu kalian masih meragukan status saya sebagai anak papa Donal. Dan maaf saya menolak tes DNA."
Raya membulatkan matanya mendengar penolakan dari menantunya. Seperti kata teman-teman arisannya kalau menantu menolak permintaan mertuanya berarti menantu pembangkang.
"Jeng Raya, kalau punya menantu yang selalu dimenangkan. Nanti dia jadi pembangkang, apalagi kata jeng Raya, Laras selalu di bela sama Oma Gladys dan mas Donal kan? Belum lagi Rangga pasti di pihak Laras juga. Nah, jeng Raya harus tegas. Jangan sampai wibawamu sebagai mertua turun derajat, masa di bantu biar cepat hamil saja tidak mau." Sahut jeng Atik.
"Bukan nggak mau, jeng Atik. Dia bilang masih mau menikmati masa pernikahan. Saya cuma takut mereka terlalu nyaman untuk berdua, makanya saya minta Laras harus hamil dalam 2 bulan ini. Salah saya minta sama menantu sendiri?"
"Jeng Raya nggak salah,kok. contoh menantu saya, dia nurut banget sama saya. Lemah lembut, nggak pernah melawan sama saya.kalau saya lihat Larasnya yang tidak tahu diri." Sahut jeng Rini.
Raya tersentak saat merasa lengannya di tepuk suaminya. Lamunannya tentang obrolan temannya membuatnya was-was pada menantunya.
"Mama kok melamun, dengar tidak ucapan Laras tadi. Dia menolak tes DNA."
Raya mengalihkan pandangannya pada menantunya.
" Apa alasan kamu menolak tes DNA? Apa kamu takut kalau ternyata bukan anak kandung Donal, apa kamu takut ternyata bukan cucu kandung Oma Gladys?"
"Oma, papa Donal, mas Rangga dan mama Raya, saya tidak takut hal itu. karena saya memang bukan anak dan cucu kandung papa Donal juga Oma Gladys.
Saya adalah anak sah ibu Mala dan ayah Fauzan. Saya sudah mendengar hal ini dari kerabat pihak ibu. Mereka bahkan baru tahu ibu hamil setelah kecelakaan yang pernah menimpa ibu.
Sekarang saya senang mendengar hal itu, karena saya bisa menjalani rumah tangga bersama mas Rangga sebagai istri dan menantunya. Bukan sebagai keturunan keluarga ini. Oma maafkan Laras, Oma boleh marah sama Laras karena hal ini."
"Tidak, nak. Kamu tetap cucu Oma apapun yang terjadi. Walaupun Rangga cuma cucu tiri, tapi Oma sayang sama Rangga seperti cucu kandung. Jadi apapun hasilnya kalian tetap cucu Oma."
Laras dan Rangga mendekati Oma Gladys, keduanya memeluk pundak Oma secara bersamaan."Kami juga sayang sama oma."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Najwa Aini
Hancur pokonya..kalau ngikutin ghibahan orang. itu dah buktinya..si Mama Raya..
2022-06-05
0
Nofi Kahza
ihh..! dasar para mulut tetangga.. racun😤
2022-06-02
0
Ayuwidia
Semoga ikhtiyar Rangga dan Laras segera diijabah 😇 Ras, percayalah pada suami kamu. Karena kamu suami kesayangan Rangga 🥰
Semangat Kak Meel, maaf baru mmpir 😊🙏
Bunga2 untuk pasangan Ra-La 🌹🌹
2022-05-04
0