Periksa ke dokter kandungan

POV LARAS

Saat ini aku dan mama Raya sudah berdiri di depan pintu praktek dokter Toni. Dokter Toni adalah mantan menantu mama Raya, mantan suaminya kak lani.

Suasana yang tegang membuat aku memilih diam. Tanganku, lebih sering bolak-balik. Rasanya seperti sedang di sidang di pengadilan, perubahan sikap mama Raya sejak aku pulang dari Jepang.

Apa ada yang salah dengan sikapku? atau aku ada melawan sama mama. Entahlah, cuma orang lain yang bisa menilai semua ini. Aku hanya berusaha menjadi menantu yang baik. Bahkan dulu kata mama Raya sebelum kami menikah, aku boleh kuliah dulu.

Tapi sekarang, dia bak mertua yang seperti di sinetron, selalu berwajah muram, tak pernah senyum.

"Ma," Aku berusaha menghapus ketegangan diantara kami berdua.

"Iya," kulihat mama Raya masih sibuk dengan gawainya.

"Masih lama, ya?" sumpah kakiku masih terasa tidak nyaman saat ini.

"Kenapa? kamu tidak betah?"

Astaga! sepertinya pertanyaanku salah kayaknya.

"Nggak apa-apa, ma. Nanya saja." Jawabku sambil menahan malu.

"Kamu harus biasakan, Ras. punya anak itu harus butuh perjuangan, bukan terima beres saja. Biasanya orang yang baru menikah sudah datang ke obygyn untuk cek kesuburan. Mereka sudah diberi beberapa obat buat kesuburan. Tapi kalian masih santai saja saat, kesannya kalian nggak niat mau punya anak."

Aku lagi-lagi hanya bisa diam, takutnya salah jawab atau bikin mama tersinggung. Beberapa saat kemudian nama kami di panggil, aku dan mama masuk ke ruangan praktek dokter Toni.

"Mama apa kabar?" Sapa dokter Toni.

"Alhamdulillah, baik, Toni. Jadi kamu tidak di kasih bunda lagi, ya."

"Sudah setahun aku tidak disana, ma. Sejak masalah arisan itu, aku dapat mutasi di Bogor, terus aku mendapat tawaran kerja di sini."

"Oh, kamu main ke rumah, Toni. Oma nanyain kamu dan anak-anak pasti kangen sama kamu."

"Aku sudah beberapa kali ke rumah, ma. Sudah bertemu dengan si kembar dan bungsu. Hanya saja, kayaknya papa Donal tidak suka kedatanganku." Jawab Toni mendadak sendu.

"Kamu yang sabar, ya. Lambat laun papa melunak kok. Dia hanya kaget melihat anaknya jadi janda saat hamil besar. Lagian yang menceraikan bukan kamu, tapi Lani."

Aku hanya mendengar kisah drama keluarga mereka. Mau nimbrung tapi tidak tahu apa masalahnya. Mau nanya ke mama, tapi aku takut buat beliau rada tersinggung lagi. aku hanya anak baru disini.

"ini ..." Dokter Toni beralih ke arahku.

"istrinya Rangga." jawab mama dengan ramah.

"Oh, yang waktu itu, ya, ma?"

"Bukan! itu Jihan. Kan dulu sempat kabur pas pernikahan, ini sudah yang sah, namanya Larasati. Laras ini Toni, mantan suaminya lani." Aku menerima uluran jabat tangan lelaki itu.

"Cantik kamu, kak Rangga bisa juga milih. Aku kira kak Rangga sudah nikah sama Ina. Secara kita taulah.. tapi aku nggak asing sama wajah kamu."

"Terimakasih, kak. Aku sering nemenin Ina saat kontrol jantungnya."

"Oh, teman Ina ternyata. Nggak jauh-jauh, nggak dapat Ina temannya pun jadi juga."

Sumpah aku malas sama dokter Toni. Dia sepertinya menertawakan aku dan membandingkan dengan Ina. Kenapa harus Ina gitu? pantas saja kak Lani ceraikan dia, sikapnya begitu.

Dokter Toni mulai memeriksa aku, perutku dikasih gel untuk mendeteksi kondisi rahimku. Sesaat kulihat guratan wajahnya sedikit mengkerut, namun aku belum bisa memahami apa ekspresinya.

"apakah kamu pernah kecelakaan, atau jatuh?"

"Belum lama ini dia ketabrak motor di komplek rumah orangtuanya. Lihat saja kakinya cingket karena sempat retak. Dan harus memakai tongkat."

"Oh, gitu."

"Jadi bagaimana kondisi rahimnya Laras, Toni?"

"Sejauh ini aman, ma. Nggak ada masalah. Untuk sementara ini aku rasa Laras perlu pemulihan diri dulu." Jelas dokter Toni.

Ya Allah, aku lega sekali kalau memang tidak ada masalah. Ku tatap mata mama Raya, sepertinya dia cukup puas dengan ucapan dokter Toni.

"Laras, saya minta nomormu?" Tanya dokter Toni.

"Buat?" Aku heran kenapa dokter Toni minta nomorku.

"Ras, dia minta nomormu buat kasih tahu jadwal kontrol selanjutnya. Ya kan, Toni."

"I-iya, betul kata mama Raya."

Aku memberikan nomor handphone pada dokter Toni. Setelah saling tukaran nomor, mama mengajakku pulang. Tentu saja lagi-lagi mendengar obrolan mereka yang seakan membandingkan aku dengan Ina.

"Ras, kita cari makan dulu, yuk. Mama tiba-tiba lapar, nih?"

"Oke, ma."

Kami sudah berada di sebuah cafe makanan luar. Beberapa hidangan penuh lemak pun tersaji di depan mata. Hidangan yang menggugah selera. Sesaat ku lirik mama Raya yang belum menyentuh makanannya.

Aku pun hanya menunggu mama Raya memulai duluan. Sebab dulu ibuku bilang, kalau mau makan harus menunggu yang lebih tua dulu. Kalau punya suami, utamakan suami duluan yang mulai makan.

Kata-kata itu selalu di tanamkan ibu pada kami, aku dan kak Fajar. Bahkan ibu selalu mendahulukan suami dan anak-anaknya, terakhir baru beliau yang makan. Hanya saat aku dan ibuku tinggal berdua, dia tetap mendahulukan aku yang makan, dan ibu tetap terakhir yang makan.

Aku merasa handphoneku bergetar, lalu pamit sama mama Raya mengangkat telepon.

"Kenapa harus jauh meneleponnya? itu dari Rangga atau bukan?"

"Bukan, ma. Ini dari teman dekat rumahku." Jawabku.

"Perempuan apa laki-laki?"

"Perempuan, ma."

"Jawab disini saja! ngapain pakai menjauh segala."

"Baik, ma."

Aku pun menjawab telepon Nindy. Entah kenapa tiba-tiba dia meneleponku, padahal kami tidak terlalu akrab.

"Ras, suamimu ada disini bersama perempuan. Kayaknya aku kenal dengan perempuan itu." adu Nindy.

Perempuan? Ah, mungkin kliennya.

Beberapa saat Nindy mengirimkan sebuah photo di pesan WhatsAppku. Salivaku tertelan dalam saat aku tahu siapa wanita yang sedang bersama suamiku.

...💐💐💐💐...

Kelap-kelip lampu kendaraan berjejer layaknya lampu neon. Tampak dari atas gedung pencakar langit bahwa kota Jakarta terlihat menawan. Cahaya rembulan yang menyinari kegelapan malam.

"Pak, Rangga." Ucap suara seorang wanita yang membuatnya sukses berhenti melamun.

"Iya."

"Ini pak, dokumen yang tadi bapak minta."

"Oh iya. Saya pelajari dulu, nanti saya panggil lagi."

"Iya, pak." Setelah meletakkan berkas, wanita itu langsung undur diri dari hadapan bos nya.

Rangga membuka beberapa berkas yang ada di mejanya. Beberapa saat dia sedikit terganggu dengan getaran di saku celananya. Dahinya mengkerut, seakan merasa aneh si pemilik nomor tiba-tiba menghubunginya.

Assalamualaikum

Rangga memulai salam pada si penelepon.

"Kak Rangga, ada waktu? Aku sekarang di bawah kantor kakak ada yang mau di bicarakan."

"Oh, iya, Toni. Kamu keatas saja. Kamu tidak lupa kan dengan ruang kerjaku."

"Iya, kak. Aku keatas sekarang."

Beberapa saat Toni dan Rangga sudah duduk berhadapan di ruang kerja. Rangga menawarkan minuman pada Toni. Sebotol minuman dingin pun sudah tersaji di meja mereka.

"Sejak kapan ada kulkas di ruangan ini?"

"Sudah lama, Toni. sejak aku balik ke sini setelah kasus kabur di pernikahan dengan Jihan."

"Oh--"

"Sebenarnya ada apa kamu mencariku, Toni."

"Masalah istri kakak, tadi dia kontrol bersama mama Raya."

"Ada yang serius yang akan kamu jelaskan?"

"Iya, kak. Aduh, gimana, ya? Katanya Laras habis ketabrak motor. Benar?"

"Benar, Toni. Apa ada bermasalah?"

"maaf kak Rangga, seperti akan susah memberikan keturunan, ada pergeseran rahim di tubuh Laras."

Rangga sudah menebak ucapan Toni sama dengan ucapan dokter saat di rumah sakit. Tangannya mengepal erat seakan merasakan gagal menjadi suami.

"Apa reaksi Laras saat kamu bilang begitu?"

"Apa kak Rangga sudah tahu?"

"Aku sudah pernah mendengar hal yang sama saat dokter mendiagnosa seperti yang kamu katakan tadi. Tapi aku belum bilang ke Laras ataupun mama.

Kamu tahu? mama terus merongrong Laras untuk cepat hamil. Aku takut kalau itu membuat Laras down selama disana."

"Apa mungkin mama tidak setuju dengan Laras, makanya bersikap seperti itu?"

"Enggak kayaknya, ton. Justru mamalah yang menjodohkan aku dengan Laras. Makanya pas pulang bulan madu, mama terus merongrong agar Laras cepat hamil. Apa kamu bilang sama Laras soal ini?"

"Enggak, kak. Soalnya aku lihat mama kayaknya sangat antusias, makanya aku bilang baik-baik saja."

"Syukurlah, ton."

"Kak, bolehkah aku kasih saran?"

"Silahkan, Toni."

"Sebaiknya kak Rangga pindah dari kediaman papa Donal. Karena nanti akan mempengaruhi psikologis Laras dengan sikap mama. Aku akan cari tahu tempat terapi untuk pengobatan Laras."

Terpopuler

Comments

Najwa Aini

Najwa Aini

Kelihatannya Toni baik...

terus itu tadi Rangga lagi sama siapa? yg diadukan si Nindy?

2022-06-05

0

Yunia Afida

Yunia Afida

kayaknya Toni jahat deh

2022-04-30

0

Sulestari Tari

Sulestari Tari

slm kenal...

msih mengikuti nih alur cerita.tp....siapa kira2 wanita yg bersama rangga.mkin greget deh.ayo ka smngt ... nulis ny dan smg dlm keadaan sehat y...

2022-04-30

0

lihat semua
Episodes
1 Pernikahan
2 Gara Gara segugut
3 Bandara
4 Malam pertama
5 Pacaran Setelah Menikah.
6 Kilasan masa lalu
7 Kilasan masa lalu 2
8 Mulai cemburu (sebelum menikah)
9 Masih bulan madu
10 Permintaan Raya
11 Rumah ibu
12 Pulang ke rumah mama mertua
13 Dinner keluarga
14 Periksa ke dokter kandungan
15 Aku bukan cucu Oma
16 Rencana pindahan
17 Terapi kesuburan
18 Menyusul ke Jepang
19 Surat itu ...
20 Kedatangan Raya
21 Mimpi didatangi ibu
22 Masih dalam tekanan
23 Quality time
24 Tragedi
25 Kabar itu ...
26 Di rumah sakit
27 Nestapa di hari duka
28 Haruskah aku pergi?
29 Pemakaman Oma
30 Dimana suamiku?
31 Maaf, aku pergi
32 Masih koma
33 Positif
34 Tamu dari jauh
35 Bangun dari Koma
36 Bangun dari Koma 2
37 Bagas Barata Yudha
38 Hasutan
39 Di sita
40 Masih menumpang
41 Tawaran pindah .
42 Menata hidup baru
43 Pulang ke Indonesia
44 Merasa dekat
45 Cerita Bagas
46 Ziarah
47 Jalan-jalan
48 Wejangan dari calon besan
49 Donatur Taman kanak-kanak
50 Suara itu... suamiku
51 Aku Mencintainya..
52 Menjemput Bagas
53 Masa lalu Raya
54 Masa lalu Raya 2
55 Sebuah pertemuan
56 Aku tidak seperti itu
57 Masih di rumah sakit
58 Guncangan hati Bagas
59 Rencana Mila
60 Tetaplah disisiku
61 Bukan update
62 Maafkan aku, Ras.
63 Cerita di dalam taksi
64 Kisah di sekolah
65 Pertemuan di kontrakan
66 Jemput bersama
67 Kunjungan ke rumah Ina
68 Kunjungan ke rumah Ina 2
69 Pesta penyambutan Laras
70 Di pesta itu ...
71 Masih di pesta
72 Kebahagiaan Bagas
73 Jebakan Mila
74 Makan siang bersama
75 Kejujuran Laras
76 Belum percaya
77 Rencana Rangga
78 Berserah kepada-Mu
79 Berserah kepada-Mu (Versi Rangga)
80 Dampak viral
81 Sidang Mila
82 Di ruang ICU
83 Maafkan aku
84 Penyusup perusahaan
85 Pagi ini ...
86 Resign
87 Pamit
88 Mencoba kabur
89 Kejar-kejaran
90 Pemikiran Laras
91 Tidak punya malu
92 Kalah telak
93 Surgaku padamu
94 Cerita Di Rumah Sakit
95 Arti seorang ayah
96 Bertemu mereka
97 Camp rumah pohon
98 Masih di rumah pohon
99 Senandung hati
100 Di kantor polisi
101 Suka dan duka
102 Apesnya Mila
103 Calon settingan
104 Permintaan maaf Raya
105 Musibah
106 Bagas mau adik, bunda.
107 Teror untuk Mila
108 Irama cinta
109 Poor Mila
110 Hiduplah dengan bahagia
111 Siuman
112 Dinner
113 Promo semesta merestui kami
114 Di ruang sidang
115 Penahanan Mila
116 Masih di persidangan
117 Ini salah saya
118 Penahanan Rangga
119 Kapan terakhir kamu bahagia
120 Saya akan mencintai Larasati
121 Melepas rindu
122 Putusan sidang
123 Izinkan saya jadi menantu ibu
124 Kita akan selalu bahagia
125 Menelan ludah sendiri
126 Bagas mau khitan, Ayah
127 Acara sunatan Bagas
128 Jalan ke monas
129 Ziarah
130 Cerita di sekolah
131 Cerita di sekolah 2
132 Will you marry me
133 Berkumpul
134 Akhir yang bahagia (Final part)
135 PROMO NOVEL LORONG WAKTU TENTARA
136 PROMO PEMILIK KEHORMATAN
137 BINGKAI CINTA UNTUK SARMILA
138 AFTER ONE NIGHT IN LONDON
139 Novel baru: FAJAR UNTUK EMBUN
140 Radar cinta Andara
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Pernikahan
2
Gara Gara segugut
3
Bandara
4
Malam pertama
5
Pacaran Setelah Menikah.
6
Kilasan masa lalu
7
Kilasan masa lalu 2
8
Mulai cemburu (sebelum menikah)
9
Masih bulan madu
10
Permintaan Raya
11
Rumah ibu
12
Pulang ke rumah mama mertua
13
Dinner keluarga
14
Periksa ke dokter kandungan
15
Aku bukan cucu Oma
16
Rencana pindahan
17
Terapi kesuburan
18
Menyusul ke Jepang
19
Surat itu ...
20
Kedatangan Raya
21
Mimpi didatangi ibu
22
Masih dalam tekanan
23
Quality time
24
Tragedi
25
Kabar itu ...
26
Di rumah sakit
27
Nestapa di hari duka
28
Haruskah aku pergi?
29
Pemakaman Oma
30
Dimana suamiku?
31
Maaf, aku pergi
32
Masih koma
33
Positif
34
Tamu dari jauh
35
Bangun dari Koma
36
Bangun dari Koma 2
37
Bagas Barata Yudha
38
Hasutan
39
Di sita
40
Masih menumpang
41
Tawaran pindah .
42
Menata hidup baru
43
Pulang ke Indonesia
44
Merasa dekat
45
Cerita Bagas
46
Ziarah
47
Jalan-jalan
48
Wejangan dari calon besan
49
Donatur Taman kanak-kanak
50
Suara itu... suamiku
51
Aku Mencintainya..
52
Menjemput Bagas
53
Masa lalu Raya
54
Masa lalu Raya 2
55
Sebuah pertemuan
56
Aku tidak seperti itu
57
Masih di rumah sakit
58
Guncangan hati Bagas
59
Rencana Mila
60
Tetaplah disisiku
61
Bukan update
62
Maafkan aku, Ras.
63
Cerita di dalam taksi
64
Kisah di sekolah
65
Pertemuan di kontrakan
66
Jemput bersama
67
Kunjungan ke rumah Ina
68
Kunjungan ke rumah Ina 2
69
Pesta penyambutan Laras
70
Di pesta itu ...
71
Masih di pesta
72
Kebahagiaan Bagas
73
Jebakan Mila
74
Makan siang bersama
75
Kejujuran Laras
76
Belum percaya
77
Rencana Rangga
78
Berserah kepada-Mu
79
Berserah kepada-Mu (Versi Rangga)
80
Dampak viral
81
Sidang Mila
82
Di ruang ICU
83
Maafkan aku
84
Penyusup perusahaan
85
Pagi ini ...
86
Resign
87
Pamit
88
Mencoba kabur
89
Kejar-kejaran
90
Pemikiran Laras
91
Tidak punya malu
92
Kalah telak
93
Surgaku padamu
94
Cerita Di Rumah Sakit
95
Arti seorang ayah
96
Bertemu mereka
97
Camp rumah pohon
98
Masih di rumah pohon
99
Senandung hati
100
Di kantor polisi
101
Suka dan duka
102
Apesnya Mila
103
Calon settingan
104
Permintaan maaf Raya
105
Musibah
106
Bagas mau adik, bunda.
107
Teror untuk Mila
108
Irama cinta
109
Poor Mila
110
Hiduplah dengan bahagia
111
Siuman
112
Dinner
113
Promo semesta merestui kami
114
Di ruang sidang
115
Penahanan Mila
116
Masih di persidangan
117
Ini salah saya
118
Penahanan Rangga
119
Kapan terakhir kamu bahagia
120
Saya akan mencintai Larasati
121
Melepas rindu
122
Putusan sidang
123
Izinkan saya jadi menantu ibu
124
Kita akan selalu bahagia
125
Menelan ludah sendiri
126
Bagas mau khitan, Ayah
127
Acara sunatan Bagas
128
Jalan ke monas
129
Ziarah
130
Cerita di sekolah
131
Cerita di sekolah 2
132
Will you marry me
133
Berkumpul
134
Akhir yang bahagia (Final part)
135
PROMO NOVEL LORONG WAKTU TENTARA
136
PROMO PEMILIK KEHORMATAN
137
BINGKAI CINTA UNTUK SARMILA
138
AFTER ONE NIGHT IN LONDON
139
Novel baru: FAJAR UNTUK EMBUN
140
Radar cinta Andara

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!