Satu bulan kemudian
Laras duduk di sebuah kursi antik. Kursi yang berlapis menyerupai emas. Tubuhnya yang langsing dengan tinggi 160 cm tampak anggun memakai gaun putih bermotif bunga, tentu saja tidak lupa dengan hijab berwarna pink muda senada dengan motif bunga-bunga di bajunya. Di meja tersaji beberapa menu lengkap, ada ayam goreng, sop iga dan masih banyak lagi.
Beberapa saat mobil pun berhenti di depan kediaman milik Donal Pattimura. Laras dengan cepat menyambut tamunya dengan ramah. Tentu saja dia senang menyambut tamu tersebut karena yang datang adalah Ina dan suaminya. Mama Raya memang mengundang Ina dan suaminya sebagai ibu sambung.
Sekedar kilas balik, Ayah kandung Rangga, Aryo, pernah menikah dengan mama kandung Ina, Kania Aulia. Sejak itulah Rangga dan Ina dekat karena menjadi saudara tiri. Tidak hanya itu saja, mereka pun pernah menjalin hubungan cinta. cinta itu tumbuh dengan seringnya mereka bersama. Usia Rangga yang 35 tahun dan Ina yang saat itu berusia 19 tahun tak menjadi halangan.
Hingga saat Raya mengungkapkan kalau Ina adalah adik sepersusuan Rangga. Membuat keduanya mantap memilih jalan masing-masing. Ina yang membuka hatinya pada menantu kakak kandungnya, Rangga yang membuka hatinya pada Laras.
Laras adalah juga saksi perjalanan Ina dan Rangga. Saat ini tak ada rasa cemburu terbersit di hati Laras. Mungkin karena saat ini Ina sudah menikah, jadi Laras yakin suaminya tidak akan modus lagi dengan adiknya itu.
Assalamualaikum
Laras mendengar sapaan dari depan pintu, dengan hati-hati dia melangkah menemui tamunya.
Waalaikumsalam
Dua sahabat tersebut saling bertemu di depan pintu. Saling melepas rindu satu sama lain. Tubuhnya beralih ke lelaki di samping sahabatnya. Sambil menggendong gadis kecil, keduanya masuk di temani Laras.
"Waah, pengantin baru sudah datang. Sini nak duduk di dekat Oma." Sapa Raya dengan ramah.
"Ini yang namanya Shasa, ya? cantik sekali. Hmmm, Rangga mama jadi kepengen punya cucu kalau lihat Shasa." Singgung Raya.
Laras hanya mengurutkan dadanya. Dia mencoba tidak terpancing emosi mendengar sindiran mama mertuanya. Entah itu sindiran atau apa dia mencoba tidak suudzon. Tubuhnya didaratkan pada kursi meja makan. Lalu membenar bagian ujung gaunnya yang terjepit di sela pahanya.
"Wah Shasa umurnya berapa, nak?" tanya Oma mencairkan suasana.
"22 bulan Oma" Sahut Alam.
"Tapi kelihatannya sudah dua tahun, ya." Nimbrung Raya.
"Shasa bongsor, Oma." Lagi-lagi Alam menjawab.
"Iya, cepat gede, ya, nak."
"Shasa mau apa, nak?" Ina mengajak komunikasi anak sambungnya.
"Ue .." Ina mengambilkan kue coklat yang terletak di dekat dirinya. Beberapa saat kemudian terjadilah suap-suapan antara ibu dan anak.
"Jadi kalian kapan balik lagi ke Jepang? Ingat, Ina masih tercatat mahasiswa di sana."
"Minggu depan kami berempat berangkat." Jawab Alam
"Jadi kamu masih kuliah, na?" Tanya Oma.
"Masih Oma, masuk semester pertama." Jawab Ina.
Setelah acara makan malam, semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Dimana beberapa pria duduk saling berbincang, sementara para wanita masih berada di area dapur. Laras membantu bibi di dapur, meskipun bibi menolak keterlibatan Laras, namun wanita itu tetap mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan.
"Aduh, non. Biar bibi saja. Non gabung saja saja ibu dan Oma. Lagian non kedatangan Ina kan?"
"Nggak apa-apa, Bi. Aku suntuk kalau diam saja. lagian Ina dan mama Raya kan juga sudah dekat lama. Mereka nggak akan canggung kalau ngomong berdua." Sahut Laras.
"Ras, kami pulang dulu, ya. Shasa sudah tertidur." Pamit Ina menyambangi Laras di dapur.
"Nginap aja, na." Tawar Laras.
"Aduh, sayang. Manalah pengantin baru mau nginap, mereka pasti mau quality time juga." Sahut Rangga.
"Kakak yang pengertian."jawab Alam.
Setelah tamu pulang, Laras memilih duduk di depan kolam renang. Gladys melihat cucu menantunya lebih banyak diam sejak obrolan Raya. Gladys paham bagaimana perasaan Laras, karena dia pernah mengalami apa yang dialami Laras.
Lima tahun Gladys belum dikaruniai anak, dalam kurun waktu panjang itu dia menerima ucapan-ucapan menyakitkan dari keluarga mertuanya. Beruntung suaminya, Farhan Pattimura selalu menguatkan dirinya. Dan sosok Farhan dia temukan dalam diri Rangga, Bukan dalam diri putranya.
Rangga menyambangi istrinya yang masih asyik duduk di dekat kolam renang. Rangga paham suasana hati Laras sedang tidak baik. Laras terlihat menjaga jarak dengan mamanya, mungkin karena mamanya terus membahas soal keturunan.
"Kamu lihat karena sikap kamu,Raya. Laras sekarang jadi pendiam, seharusnya kamu mengayomi bukan memberikan intimidasi pada menantumu. Bagaimana mungkin dia bisa hamil kalau terus di bebankan pikiran soal keturunan. Laras pasti hamil, dan masa itu pasti akan datang. Mereka masih pengantin baru. Berilah mereka waktu untuk saling mendalami satu sama lain. Apalagi mereka tidak pacaran. Mama mohon sama kamu Raya, jangan bebankan pikiran cucuku."
"Mama yakin kalau Laras itu anak Donal? kenapa kita tidak lakukan tes DNA saja, ma. Siapa tahu dia bukan cucu mama?" Sahut Raya.
"Iya atau bukan Laras tetap cucuku, Raya. Mala itu anak angkat Oma Maria, jadi keluargaku juga."
Rangga duduk di dekat Laras. Wanita itu pun tak menyadari suaminya sudah berada di sampingnya. Tangan Rangga menuntun kepala Laras keatas bahunya, tangannya menggenggam erat seakan tak ingin lepas. Keduanya saling bertatapan hingga tersungging senyuman.
"Kamu tahu, ras. Pernikahan itu bukan sekedar untuk mengejar keturunan. Pernikahan itu adalah ibadah, dan keturunan bonus dari ibadah. Jika belum diberi, maka itu kesempatan kita saling memperbaiki diri. Sampai Tuhan bisa memastikan jika umatnya sudah benar-benar siap menjadi orangtua.
Jadi sementara ini kita nikmati waktu berdua tanpa terbebani soal anak. Meskipun nanti ada beberapa ujian yang akan kita lewati. Percayalah, selama kita menjalaninya tanpa emosi, aku yakin kita bisa melewatinya."
"Mas, sepertinya kita akan memulai apa yang disarankan mama. Mas mau kan menemani aku kontrol sama dokter Toni."
"Gimana kalau sama Mona saja?" Usul Rangga.
"Mentang-mentang dia mantanmu, gitu?Mau periksa apa mau reuni?"
"Ya, ampun istriku ini cemburunya... Aku senang dicemburui. Pertahankan!" Goda Rangga.
"Ih, mas. Sakit!" Laras mengelus pipi yang dicubit kuat oleh suaminya.
Rangga menggendong Laras dengan gaya bridal style. Mereka melenggang memasuki kamar yang terletak di lantai atas.
Klik
POV Rangga
Pagi ini aku membuka mata, menatap sebelah ranjangku yang sudah kosong. Tak berapa lama ku dengar suara jalan yang bercingkat. Iya, sudah satu bulan sejak kecelakaan itu. Laras mencoba berjalan sendiri meskipun aku sudah beberapa kali memintanya untuk memakai tongkat. Dia tetap kukuh untuk belajar tanpa tongkat kaki.
Laras termasuk wanita yang mandiri dimataku. Dia jarang mengeluh apa-pun. Meskipun akhir-akhir ini mama sering menuntutnya agar cepat hamil. Malah kata Oma, mama minta dalam dua bulan ini Laras harus hamil.
Astaga! Aku merasa menjadi suami yang berdosa karena membuat perasaan istriku sedih. Tapi aku akan selalu berada disampingnya, saling menguatkan, dan saling menjaga.
"Mas, aku kebawah dulu, ya. Siapin sarapan."
Aku beranjak dari tempat tidur. Aku tahu kakinya belum kuat berjalan, maka inisiatifku membawanya turun ke lantai bawah.
"Mas, nggak usah! Aku bisa pegangan di pagar tangga. Kamu tenang saja."
Dia selalu begitu. Merasa kuat padahal aku sangsi melihatnya turun dengan kondisi kakinya. Beberapa saat setelah mendengar dia merengek turun aku langsung meletakkannya diatas kursi makan.
"Lah, bibi sudah masak. Kok cepat, bi. Ini baru jam enam pagi, Lo."
"Ini non Laras, ibu katanya mau mengajak non Laras ke dokter. makanya dia cepat bangun tadi."
"Oh..Ya sudah. Mas kamu ikut ya?"
"Laras pergi sama mama saja. Kamu cepat sarapan dan ke kantor. Tadi kata papamu ada pengusaha dari Bali mau bertemu."
Entah kenapa aku merasa ragu meninggalkan Laras dengan mama. Walaupun aku tahu maksud mama baik, hanya saja dengan sikap mama yang akhir-akhir ini aneh. Membuatku takut meninggalkan istriku bersama mama.
"Mas, tadi bajumu sudah aku siapkan di dekat gantungan belakang pintu. Kamu siap-siap, aku nggak apa-apa kan ada mama."
Ah, istriku maafkan aku tidak bisa menemanimu ke dokter.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Najwa Aini
Lagi-lagi Raya berulah
2022-06-05
0
Nofi Kahza
kok aku jd gk suka ma Raya ya🤦♀️
2022-05-24
0
Yunia Afida
semangat terus💪💪💪💪
2022-04-30
0