Pulang ke rumah mama mertua

Perjalanan menuju ke rumah mertuanya dari acara pernikahan Ina dan Alam, Rangga hanya memilih diam. Tak ada sikap romantis seperti biasa di ungkapkan pada istrinya. Pikirannya melayang mendengar ucapan dokter lalu berpindah dengan sikap mamanya. Laras mengalihkan pandangannya kearah suaminya. Tak seperti biasanya lelaki itu murung. Seharusnya Rangga senang karena dia sudah menjalankan amanah dari ayahnya. Menjadi wali pernikahan Ina.

Laras mencoba menampik pikiran kotornya, dia sempat menduga suaminya masih belum ikhlas atas pernikahan Ina. Tapi dia tidak bisa menahan diri atas rasa penasarannya.

"Mas.." Sapa Laras.

"Eh, iya, sayang."

"Kamu kenapa, mas? dari tadi kamu murung terus. Kamu ada masalah? Apa karena Ina menikah tadi kamu jadi mewek. Mas belum ikhlas dengan pernikahan mereka?"

"Sayang, bukan begitu."

"Lalu apa, mas? Aku tidak melihat kamu senang ataupun bersikap seperti biasanya. Ada apa, mas? Kamu bisa cerita ke aku. Bukankah suami istri harus terbuka. Tidak ada yang ditutupi."

"Apa soal Ina lagi?" Nada kecewa terdengar dari suara istrinya.

"Aku tidak apa-apa, sayang. Tadi kantor menelpon katanya ada berkas yang bermasalah. Aku harus kesana, tapi ku tolak. soalnya aku nggak bisa ninggalin kamu di rumah sakit." Rangga mencoba berbohong pada istrinya.

"Mas, jangan gitu lagi, ya. Aku tidak mau di jadikan alasan. Kamu kalau mau selesaikan urusan kantor nggak apa-apa. Kan aku ada mama, Oma, kak lani dan bibi. Jadi mas nggak usah takut tinggalkan aku."

"Iya, sayang. Mas, janji tidak akan begitu lagi." Rangga tersenyum sambil mencubit pipi istrinya.

Rangga hanya bisa tersenyum kecil. Rasanya tak mungkin menceritakan yang sebenarnya. Akan ada dua sosok yang harus dia jaga pikirannya, mamanya dan istrinya.

Sementara ini dia masih merahasiakan soal efek kecelakaan itu. Karena nantinya akan ada waktunya dia menjelaskan pada istrinya soal kondisi sebenarnya. Sedangkan mamanya, terus mewanti-wanti agar mereka cepat diberikan keturunan. Rangga bisa saja mengajak Laras kontrol kesuburan. Tapi, dia yakin akan ada masanya Tuhan memberinya keturunan. Yang dilakukannya saat ini hanya berdoa dan ikhtiar kepada Allah.

Dalam kehidupan rumah tangga jangan ada yang di tutupi. Pernikahan tentu berbeda dengan dunia pacaran yang masih kental dengan ranah privasi masing-masing. Ketika pasangan sudah hidup seatap, seharusnya gak ada lagi yang ditutup-tutupi. Keterbukaan dalam segala aspek sangat diperlukan demi keharmonisan, baik itu menyangkut keuangan, masalah keluarga atau sesimpel password handphone.

Bagi Rangga, dia sudah memberikan cinta dalam kehidupan rumah tangganya. Menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya. Saat ini, ada goncangan menerpa dalam rumah tangga mereka, dimana tuntutan mamanya agar Laras cepat hamil.

Mungkin sikap mamanya sebagai ungkapan sayang pada mereka. Rangga tidak munafik kalau dia juga ingin punya anak. Disamping usianya sudah matang untuk menikah dan mempunyai keturunan. Beda dengan Laras yang usianya terbilang sangat muda. Di mata Rangga, Laras masih harus banyak belajar mendalami kehidupan rumah tangga.

Semua kembali pada keterbukaan dan bagaimana komunikasi suami istri. Adanya privasi berarti adanya sesuatu yang disembunyikan, dengan kata lain pasangan gak boleh tahu. Padahal kalau dikomunikasikan dengan baik atas dasar cinta dan rasa percaya, sekat yang bernama privasi itu bisa dihilangkan. Hubungan yang tanpa rahasia dan saling percaya, begitulah pernikahan yang bahagia.

Mobil yang mereka tumpangi berdiri di pelataran rumah kediaman Pattimura. Rangga turun mengeluarkan kursi roda untuk istrinya. Gladys menyambut cucu menantunya dengan riang.

"Laras kenapa, ga?" Tanya Gladys ketika Laras di dudukan dalam kursi roda.

"Di tabrak motor, Oma." jelas Rangga sambil mendorong kursi roda istrinya masuk ke dalam rumah.

"Kok bisa?" Raya muncul ditengah mertua, anak dan menantunya.

"Aku yang tidak hati-hati, ma." Jawab Laras.

"Makanya Laras jangan ceroboh, kamu tahu sekarang posisi rahimmu sedang rawan jadi perlu di jaga."

"Raya! Ngapain kamu malah bahas rahim. Tidak ada hubungannya. Mereka ini baru saja pulang tapi kamu malah ngomong yang aneh-aneh. Anakmu dan menantumu butuh dukungan. Bukan di cerca seperti ini." Jawab Gladys yang aneh melihat sikap Raya.

"Nggak aneh, ma. Sebagai ibu mereka aku hanya mengingatkan saja. Setiap ibu yang memiliki menantu wajar kalau saya mengingatkan Laras agar menjaga kesehatannya, terutama janinnya. Sebagai seorang mertua aku hanya ingin mendukung mereka agar cepat diberi momongan. Apa itu salah?"

"Salah, Raya. Karena mereka baru satu bulan menikah. Kecuali kalau mereka sudah bertahun-tahun menikah baru kamu bersikap seperti itu. Mama saja tidak pernah menuntut kamu agar hamil lagi. Tapi kenapa kamu malah begini? Apa yang merasukimu, Raya kalendina?"

Laras hanya bisa diam. Dia tidak tahu mana yang harus di bela. Kalaupun dia membela diri juga percuma. Karena akan memperkeruh keadaan.

Rangga mendorong kursi roda Laras untuk di bawa ke kamar. Tundukan wajah istrinya menyimpulkan kalau Laras tidak nyaman dengan situasi tadi.

"Sayang," Rangga menjongkok di depan istrinya.

"Maaf, mas. Aku sudah membuat mama dan Oma bertengkar."

"Hey, ini bukan salah kamu. Mama saja yang sedang sensi. Mungkin mama sedang PMS, kamu lihat Oma tadi membela kita. Itu tandanya Oma sayang sama kita. Jadi buang rasa bersalahmu itu."

"Maaf, mas." Laras mencoba menyeka air matanya sedikit menyunggingkan senyuman.

"Kamu nggak usah senyum kalau sedang tidak bisa senyum." Sahut Rangga.

"Kenapa?"

"Nggak cantik lagi." Rangga mencubit hidung Laras.

Rangga memindahkan Laras dari kursi roda ke atas ranjang. Kaki Laras di luruskan sambil memijit-mijit pergelangan kaki istrinya.

"Sudah, mas. Aku nggak apa-apa, sudah agak mendingan. Tapi aku penasaran, mas. Mama kenapa seperti itu?"

"Sama, ras. Aku juga kaget melihat sikap mama. Ya mungkin seperti kata mama tadi, itu bentuk sayangnya pada kita."

"Semoga saja, mas."

Raya sudah berada di sebuah restoran China. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Dimana ada sosok lain yang sudah berjanji akan bertemu dengannya.

"Jeng Raya," Sapa seorang wanita yang bergaya bak ratu menghampiri dirinya.

Raya menyambut temannya dengan cupika cupiki. Beberapa saat dia memanggil waiter untuk memesan makan.

"Jeng Rini mau pesan apa?"

"Saya samain saja dengan jeng Raya." Jawab Bu Rini.

"Huft, rasanya tenang hati setelah di luar rumah." Rini memulai pembicaraan.

"Kenapa emangnya, jeng?"

"Kamu tahu kan kalau anakku menikah dengan suster tempat dia bekerja. Apalagi susternya bukan satu kalangan dari kita, beuuuh. Manja! jual air mata!

Ditegur sedikit diem nangis! Nanti Nando datang ngomelin aku. Bilang aku yang buat istrinya menangis."

"Emang mereka masih tinggal sama kamu jeng Rini? Bukannya kalau sudah berumahtangga harus mandiri?"

"Aku nggak akan suruh mereka mandiri. Kamu tahu Raya, jika wanita sudah mengambil anak kita, itu berarti kita sudah di batasi mengawasi anak kita jeng. Aku pernah lihat Nando mengepel rumah mertuanya. Masa anak kita di jadikan seperti babu."

Raya hanya menyimak cerita dari jeng Rini teman arisannya. Dari cerita itulah dia mengambil kesimpulan kalau menantu akan merasa berkuasa di belakang suaminya. Raya yakin kejadian tadi membuat Laras semakin di sayang oleh keluarganya, terutama suami dan mertuanya.

"Aku harus cari tahu, apa benar Laras anak kandung Donal atau bukan. Aku yakin mas Donal tidak akan se-sayang itu pada Laras kalau ternyata Laras bukan anaknya melainkan anak Mala dan suaminya."

Rasa iri mulai bercakar dalam dirinya. Seakan dia lupa kalau dialah yang mengangkat Laras masuk ke keluarga mereka.

Terpopuler

Comments

MAY.s

MAY.s

Betul sekali👍

2022-07-21

0

Nofi Kahza

Nofi Kahza

itulah sebab, aku lbh suka di rumah.

btw sikap Raya itu aneh🤦‍♀️

2022-05-24

1

Najwa Aini

Najwa Aini

Kenapa Raya sangat sangat ingin Laras segera hamil? baru juga sebulan menikah

2022-05-20

0

lihat semua
Episodes
1 Pernikahan
2 Gara Gara segugut
3 Bandara
4 Malam pertama
5 Pacaran Setelah Menikah.
6 Kilasan masa lalu
7 Kilasan masa lalu 2
8 Mulai cemburu (sebelum menikah)
9 Masih bulan madu
10 Permintaan Raya
11 Rumah ibu
12 Pulang ke rumah mama mertua
13 Dinner keluarga
14 Periksa ke dokter kandungan
15 Aku bukan cucu Oma
16 Rencana pindahan
17 Terapi kesuburan
18 Menyusul ke Jepang
19 Surat itu ...
20 Kedatangan Raya
21 Mimpi didatangi ibu
22 Masih dalam tekanan
23 Quality time
24 Tragedi
25 Kabar itu ...
26 Di rumah sakit
27 Nestapa di hari duka
28 Haruskah aku pergi?
29 Pemakaman Oma
30 Dimana suamiku?
31 Maaf, aku pergi
32 Masih koma
33 Positif
34 Tamu dari jauh
35 Bangun dari Koma
36 Bangun dari Koma 2
37 Bagas Barata Yudha
38 Hasutan
39 Di sita
40 Masih menumpang
41 Tawaran pindah .
42 Menata hidup baru
43 Pulang ke Indonesia
44 Merasa dekat
45 Cerita Bagas
46 Ziarah
47 Jalan-jalan
48 Wejangan dari calon besan
49 Donatur Taman kanak-kanak
50 Suara itu... suamiku
51 Aku Mencintainya..
52 Menjemput Bagas
53 Masa lalu Raya
54 Masa lalu Raya 2
55 Sebuah pertemuan
56 Aku tidak seperti itu
57 Masih di rumah sakit
58 Guncangan hati Bagas
59 Rencana Mila
60 Tetaplah disisiku
61 Bukan update
62 Maafkan aku, Ras.
63 Cerita di dalam taksi
64 Kisah di sekolah
65 Pertemuan di kontrakan
66 Jemput bersama
67 Kunjungan ke rumah Ina
68 Kunjungan ke rumah Ina 2
69 Pesta penyambutan Laras
70 Di pesta itu ...
71 Masih di pesta
72 Kebahagiaan Bagas
73 Jebakan Mila
74 Makan siang bersama
75 Kejujuran Laras
76 Belum percaya
77 Rencana Rangga
78 Berserah kepada-Mu
79 Berserah kepada-Mu (Versi Rangga)
80 Dampak viral
81 Sidang Mila
82 Di ruang ICU
83 Maafkan aku
84 Penyusup perusahaan
85 Pagi ini ...
86 Resign
87 Pamit
88 Mencoba kabur
89 Kejar-kejaran
90 Pemikiran Laras
91 Tidak punya malu
92 Kalah telak
93 Surgaku padamu
94 Cerita Di Rumah Sakit
95 Arti seorang ayah
96 Bertemu mereka
97 Camp rumah pohon
98 Masih di rumah pohon
99 Senandung hati
100 Di kantor polisi
101 Suka dan duka
102 Apesnya Mila
103 Calon settingan
104 Permintaan maaf Raya
105 Musibah
106 Bagas mau adik, bunda.
107 Teror untuk Mila
108 Irama cinta
109 Poor Mila
110 Hiduplah dengan bahagia
111 Siuman
112 Dinner
113 Promo semesta merestui kami
114 Di ruang sidang
115 Penahanan Mila
116 Masih di persidangan
117 Ini salah saya
118 Penahanan Rangga
119 Kapan terakhir kamu bahagia
120 Saya akan mencintai Larasati
121 Melepas rindu
122 Putusan sidang
123 Izinkan saya jadi menantu ibu
124 Kita akan selalu bahagia
125 Menelan ludah sendiri
126 Bagas mau khitan, Ayah
127 Acara sunatan Bagas
128 Jalan ke monas
129 Ziarah
130 Cerita di sekolah
131 Cerita di sekolah 2
132 Will you marry me
133 Berkumpul
134 Akhir yang bahagia (Final part)
135 PROMO NOVEL LORONG WAKTU TENTARA
136 PROMO PEMILIK KEHORMATAN
137 BINGKAI CINTA UNTUK SARMILA
138 AFTER ONE NIGHT IN LONDON
139 Novel baru: FAJAR UNTUK EMBUN
140 Radar cinta Andara
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Pernikahan
2
Gara Gara segugut
3
Bandara
4
Malam pertama
5
Pacaran Setelah Menikah.
6
Kilasan masa lalu
7
Kilasan masa lalu 2
8
Mulai cemburu (sebelum menikah)
9
Masih bulan madu
10
Permintaan Raya
11
Rumah ibu
12
Pulang ke rumah mama mertua
13
Dinner keluarga
14
Periksa ke dokter kandungan
15
Aku bukan cucu Oma
16
Rencana pindahan
17
Terapi kesuburan
18
Menyusul ke Jepang
19
Surat itu ...
20
Kedatangan Raya
21
Mimpi didatangi ibu
22
Masih dalam tekanan
23
Quality time
24
Tragedi
25
Kabar itu ...
26
Di rumah sakit
27
Nestapa di hari duka
28
Haruskah aku pergi?
29
Pemakaman Oma
30
Dimana suamiku?
31
Maaf, aku pergi
32
Masih koma
33
Positif
34
Tamu dari jauh
35
Bangun dari Koma
36
Bangun dari Koma 2
37
Bagas Barata Yudha
38
Hasutan
39
Di sita
40
Masih menumpang
41
Tawaran pindah .
42
Menata hidup baru
43
Pulang ke Indonesia
44
Merasa dekat
45
Cerita Bagas
46
Ziarah
47
Jalan-jalan
48
Wejangan dari calon besan
49
Donatur Taman kanak-kanak
50
Suara itu... suamiku
51
Aku Mencintainya..
52
Menjemput Bagas
53
Masa lalu Raya
54
Masa lalu Raya 2
55
Sebuah pertemuan
56
Aku tidak seperti itu
57
Masih di rumah sakit
58
Guncangan hati Bagas
59
Rencana Mila
60
Tetaplah disisiku
61
Bukan update
62
Maafkan aku, Ras.
63
Cerita di dalam taksi
64
Kisah di sekolah
65
Pertemuan di kontrakan
66
Jemput bersama
67
Kunjungan ke rumah Ina
68
Kunjungan ke rumah Ina 2
69
Pesta penyambutan Laras
70
Di pesta itu ...
71
Masih di pesta
72
Kebahagiaan Bagas
73
Jebakan Mila
74
Makan siang bersama
75
Kejujuran Laras
76
Belum percaya
77
Rencana Rangga
78
Berserah kepada-Mu
79
Berserah kepada-Mu (Versi Rangga)
80
Dampak viral
81
Sidang Mila
82
Di ruang ICU
83
Maafkan aku
84
Penyusup perusahaan
85
Pagi ini ...
86
Resign
87
Pamit
88
Mencoba kabur
89
Kejar-kejaran
90
Pemikiran Laras
91
Tidak punya malu
92
Kalah telak
93
Surgaku padamu
94
Cerita Di Rumah Sakit
95
Arti seorang ayah
96
Bertemu mereka
97
Camp rumah pohon
98
Masih di rumah pohon
99
Senandung hati
100
Di kantor polisi
101
Suka dan duka
102
Apesnya Mila
103
Calon settingan
104
Permintaan maaf Raya
105
Musibah
106
Bagas mau adik, bunda.
107
Teror untuk Mila
108
Irama cinta
109
Poor Mila
110
Hiduplah dengan bahagia
111
Siuman
112
Dinner
113
Promo semesta merestui kami
114
Di ruang sidang
115
Penahanan Mila
116
Masih di persidangan
117
Ini salah saya
118
Penahanan Rangga
119
Kapan terakhir kamu bahagia
120
Saya akan mencintai Larasati
121
Melepas rindu
122
Putusan sidang
123
Izinkan saya jadi menantu ibu
124
Kita akan selalu bahagia
125
Menelan ludah sendiri
126
Bagas mau khitan, Ayah
127
Acara sunatan Bagas
128
Jalan ke monas
129
Ziarah
130
Cerita di sekolah
131
Cerita di sekolah 2
132
Will you marry me
133
Berkumpul
134
Akhir yang bahagia (Final part)
135
PROMO NOVEL LORONG WAKTU TENTARA
136
PROMO PEMILIK KEHORMATAN
137
BINGKAI CINTA UNTUK SARMILA
138
AFTER ONE NIGHT IN LONDON
139
Novel baru: FAJAR UNTUK EMBUN
140
Radar cinta Andara

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!