Permintaan Raya

Laras duduk di sebuah ruangan dimana para wanita kelas atas berkumpul. Ada rasa segan meliputinya dimana semua yang ada di ruangan rata rata bukan sembarang orang. Laras hanya diam tak tahu mau bicara apa. bagaikan patung pajangan dia hanya ikut menyimak pembicaraan para nyonya.

Tangannya terus mengepal mengalahkan rasa cemasnya. Akankah kehadirannya tak terlihat. Ada minder mendera di hatinya. Tapi apa boleh buat, dia hanya menerima ajakan dari mertuanya untuk berbaur dengan teman-teman Raya.

Sudah satu bulan Laras dan Rangga pulang ke Indonesia. Sebagaimana layaknya pasangan yang baru pulang dari bulan madu, mereka di jejal pertanyaan-pertanyaan sepanjang perjalanan mereka.

Laras pun diikut sertakan setiap acara arisan milik Raya. Tentu saja memamerkan menantunya pada teman-teman arisan. Tidak semua orang bisa menerima kehadiran Laras. Sebagian dari mereka masih ada yang mencemooh karena status sosial Laras.

"Jadi ini menantu Raya yang OB itu?" bisik Bu Aida

"Iya, jeng Aida. Itu menantunya Raya yang bekas pembantunya. Cantik ya?" Sahut Bu Rini.

"Cantik sih enggak. biasa saja. masih cantik Jihan anaknya Alex. Itu si Rangga pasti di paksa sama Raya untuk nikahi perempuan itu. Atau mungkin perempuan itu yang cuci otaknya Raya.

Tahu sendiri si Raya gampang kasihan sama orang. Nah, pasti dia jual airmata."

"Bisa jadi ... bisa jadi" Balas Bu Aida.

"Iyalah, Bu perempuan kayak dia jual diri pun rela. asal bisa jadi orangkaya." Jawab Bu Rini.

Bu Rini dan Bu Aida pun masih asyik menggunjingkan Laras yang dianggap tidak selevel dengan mereka. Tatapan sinis dari keduanya tak tersorot oleh si pemilik rumah. Seandainya Raya tahu menantunya di jadikan bahan gunjingan sudah pasti mereka sudah di depak.

"Bu Raya menantunya manis. Cocok sama rangga." puji Bu Atik.

"Terimakasih, Bu Atik. Ayo cicip hidangannya."

"Enak sekali. Apa ini menantu Bu Raya yang buat?"

"Bukan,Bu. saya tidak pintar buat kue. Kalau masak di dapur saya bisa." jawab Laras

"Yang ditanya jeng raya bukan kamu, ras." Sahut Bu Rini.

"Nggak papa, Bu Rini. Toh yang dibahas emang soal Laras, bukan soal kamu Bu Rini." Jawab Raya.

"Ma, aku ke belakang dulu,ya." pamit Laras.

"Iya, ras." Sahut Raya tanpa memperhatikan langkah perginya menantunya.

Laras masuk ke kamarnya. duduk sejenak meregangkan otot tubuhnya. Duduk lama ternyata bikin pegal juga. Mau ninggalin acara dia tidak enak sama mama mertuanya. Tapi dia juga malas karena beberapa dari tamu tak menyukainya.

"Ibu benar, kalau ternyata masuk ke dunia mereka sangat susah. Kita hanya diterima sebagai casing saja. Tapi dalamnya mereka tidak sepadan. Tapi untungnya mertuaku tidak begitu. Mereka baik,Bu.

Mereka welcome sama aku. Tidak memandang aku ini siapa. Bahkan Tante Raya mau menerimaku padahal aku anak dari papa Donal. Tapi apa benar, Bu kalau aku anak papa Donal? dan apa benar ibu dan dia pernah bertemu. Begitu banyak rahasia yang tersimpan."

Laras memeluk photo keluarganya. Rasa rindu pada semua anggota keluarganya semakin terasa. Laras ingat saat kakaknya memberikan hadiah sebelum meninggal dunia. Laras juga ingat saat ayahnya membuatkan kamar mandi untuknya, sebelum menghadap ilahi. Laras juga tidak lupa dengan wejangan ibunya tentang dunia orang kaya saat menceritakan soal tawaran Raya. Tapi siapa sangka itu wejangan terakhir dari ibunya.

Laras merasa handphonenya bergetar. Tangannya meraih gawai yang terletak di nakas sebelah ranjang. Seutas senyum terbit di bibirnya.

"Assalamualaikum,mas." sapa Laras pada si pemberi kabar.

"Waalaikumsalam, kamu lagi apa, sayang?" tanya Rangga.

"Di rumah lagi ada arisan, mas."

"Kalau kamu bosan ke kamar saja. Kalau ada yang nyinyir masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Jangan di dengarkan."

Laras terkikik mendengar ucapan suaminya.

"Iya, mas. aman saja kalau itu. Soalnya nggak ada yang aneh sih." Sahut Laras.

"Kamu mau main ke rumah ibu kan?" jawab Rangga.

"Mau mas, kita ziarah dulu. Terus main ke tempat Ina, aku dengar lusa mereka nikah."

"Kamu tuh ya kalau urusan Ina gesit amat?" Omel Rangga.

"Kayak kamu enggak aja, mas. Ina itu sahabatku, mas. Jadi sudah kewajibanku untuk membantu serta mendampinginya. Apalagi untuk hari pernikahannya. Masa aku diam saja."

"Ya, sudah. kalau begitu kamu siap-siap ya. aku sudah di mobil menuju ke rumah."

"Iya, mas. Hati-hati."

Rangga menutup teleponnya. Laras pun bersiap-siap untuk pergi menginap di rumahnya. Dia bukan tidak betah dengan mertuanya. Ini hanya sekedar kunjungan untuk keluarganya. Sejak menikah dia belum ada mengunjungi rumah ibunya. Dia juga tidak mau di bilang kacang lupa kulitnya.

"Ras." Raya masuk ke kamar anaknya.

"Iya, ma."

"Kamu mau kemana?" Tanya Raya

"Laras mau nengokin rumah ibu boleh nggak ma? Laras perginya sama mas Rangga."

"Mama mau ngomong sebentar boleh?"

"boleh, ma. Ada apa?"

"Ras, kamu kan sudah satu bulan menikah dengan Rangga. Mama tahu pertanyaan ini sensitif buat kalian, tapi kamu tahu kan, kalau usia Rangga sudah tidak muda lagi.

mama cuma berharap kamu dan Rangga sudah membuat program untuk hamil. Mama pengen gendong cucu sebelum ajal memanggil.

Ras, mama sudah daftarkan kamu ke salah satu dokter obygyn terbaik se-Jakarta. Mau kan kamu ikut terapi kehamilan. Buat antisipasi."

"Ma, terimakasih doanya. Laras juga pengen memberi mama cucu yang lucu buat mama, doakan Laras ya, ma. supaya bisa terkabul."

"Ras, mama sudah daftarkan kamu ke obygyn itu. Malam nanti kamu mau kan ikut mama ke kliniknya."

"Tapi, ma. Laras janji sama mas Rangga. Malam ini kami bakal bermalam di rumah ibu. soalnya lusa kami mau datang ke nikahan Ina."

Raya hanya terdiam mendengar jawaban Laras. Dia hanya berlalu meninggalkan menantunya dari kamar milik Rangga.

"Ma.." Laras merasa mama nya tersinggung dengan penolakannya.

"Oke, mama maklumi saat ini. Tapi mama harap kamu bisa menjaga tubuhmu agar bisa cepat hamil. Mama pengen dalam dua bulan ini kamu cepat hamil."

Laras terdiam mendengar ultimatum mama mertuanya. Tangannya terus menekuk gemetar.

"Sayang," Laras terkejut melihat Rangga sudah ada di depannya.

"Mas, baru sampai?''

"Iya, kamu sudah siap?" Laras menggangguk lemah.

Rangga menuntut Laras masuk kedalam mobil. Pikirannya menerawang ke ucapan Raya. Dia bingung harus menjelaskan keinginan Raya pada suaminya. Takut Rangga salah paham, tapi jika dipendam bagaimana bisa mencari solusinya.

"Mas .."

"Iya, sayang."

"Aku mau ngomong?"

"Ya udah ngomong saja. Kamu mau bicara apa?"

"Anu .. ini ... mama sudah daftarkan aku periksa kesuburan."

"Sama dokter mana?" Tanya Rangga.

"Sama dokter Toni." Jawab Laras.

"Kamu tahu Toni itu siapa?"

"temannya kak Dodo kan?" tebak Laras.

"Iya, sayang. Kamu hapal juga."

"Kak Rangga lupa ya. Aku sering ikut Ina tiap periksa sama kak Dodo."

"Iya, aku ingat sayang."

Terpopuler

Comments

Najwa Aini

Najwa Aini

Dua bulan harus hamil?

wahh nakutin juga kalau kayak gitu

2022-05-20

0

Nofi Kahza

Nofi Kahza

haddduh.. kayak apa aja. 2 bulan harus hamil..🤦‍♀️🤦‍♀️

2022-05-18

0

💮Aroe🌸

💮Aroe🌸

harus ya, periksa kesuburan🤔

2022-04-27

0

lihat semua
Episodes
1 Pernikahan
2 Gara Gara segugut
3 Bandara
4 Malam pertama
5 Pacaran Setelah Menikah.
6 Kilasan masa lalu
7 Kilasan masa lalu 2
8 Mulai cemburu (sebelum menikah)
9 Masih bulan madu
10 Permintaan Raya
11 Rumah ibu
12 Pulang ke rumah mama mertua
13 Dinner keluarga
14 Periksa ke dokter kandungan
15 Aku bukan cucu Oma
16 Rencana pindahan
17 Terapi kesuburan
18 Menyusul ke Jepang
19 Surat itu ...
20 Kedatangan Raya
21 Mimpi didatangi ibu
22 Masih dalam tekanan
23 Quality time
24 Tragedi
25 Kabar itu ...
26 Di rumah sakit
27 Nestapa di hari duka
28 Haruskah aku pergi?
29 Pemakaman Oma
30 Dimana suamiku?
31 Maaf, aku pergi
32 Masih koma
33 Positif
34 Tamu dari jauh
35 Bangun dari Koma
36 Bangun dari Koma 2
37 Bagas Barata Yudha
38 Hasutan
39 Di sita
40 Masih menumpang
41 Tawaran pindah .
42 Menata hidup baru
43 Pulang ke Indonesia
44 Merasa dekat
45 Cerita Bagas
46 Ziarah
47 Jalan-jalan
48 Wejangan dari calon besan
49 Donatur Taman kanak-kanak
50 Suara itu... suamiku
51 Aku Mencintainya..
52 Menjemput Bagas
53 Masa lalu Raya
54 Masa lalu Raya 2
55 Sebuah pertemuan
56 Aku tidak seperti itu
57 Masih di rumah sakit
58 Guncangan hati Bagas
59 Rencana Mila
60 Tetaplah disisiku
61 Bukan update
62 Maafkan aku, Ras.
63 Cerita di dalam taksi
64 Kisah di sekolah
65 Pertemuan di kontrakan
66 Jemput bersama
67 Kunjungan ke rumah Ina
68 Kunjungan ke rumah Ina 2
69 Pesta penyambutan Laras
70 Di pesta itu ...
71 Masih di pesta
72 Kebahagiaan Bagas
73 Jebakan Mila
74 Makan siang bersama
75 Kejujuran Laras
76 Belum percaya
77 Rencana Rangga
78 Berserah kepada-Mu
79 Berserah kepada-Mu (Versi Rangga)
80 Dampak viral
81 Sidang Mila
82 Di ruang ICU
83 Maafkan aku
84 Penyusup perusahaan
85 Pagi ini ...
86 Resign
87 Pamit
88 Mencoba kabur
89 Kejar-kejaran
90 Pemikiran Laras
91 Tidak punya malu
92 Kalah telak
93 Surgaku padamu
94 Cerita Di Rumah Sakit
95 Arti seorang ayah
96 Bertemu mereka
97 Camp rumah pohon
98 Masih di rumah pohon
99 Senandung hati
100 Di kantor polisi
101 Suka dan duka
102 Apesnya Mila
103 Calon settingan
104 Permintaan maaf Raya
105 Musibah
106 Bagas mau adik, bunda.
107 Teror untuk Mila
108 Irama cinta
109 Poor Mila
110 Hiduplah dengan bahagia
111 Siuman
112 Dinner
113 Promo semesta merestui kami
114 Di ruang sidang
115 Penahanan Mila
116 Masih di persidangan
117 Ini salah saya
118 Penahanan Rangga
119 Kapan terakhir kamu bahagia
120 Saya akan mencintai Larasati
121 Melepas rindu
122 Putusan sidang
123 Izinkan saya jadi menantu ibu
124 Kita akan selalu bahagia
125 Menelan ludah sendiri
126 Bagas mau khitan, Ayah
127 Acara sunatan Bagas
128 Jalan ke monas
129 Ziarah
130 Cerita di sekolah
131 Cerita di sekolah 2
132 Will you marry me
133 Berkumpul
134 Akhir yang bahagia (Final part)
135 PROMO NOVEL LORONG WAKTU TENTARA
136 PROMO PEMILIK KEHORMATAN
137 BINGKAI CINTA UNTUK SARMILA
138 AFTER ONE NIGHT IN LONDON
139 Novel baru: FAJAR UNTUK EMBUN
140 Radar cinta Andara
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Pernikahan
2
Gara Gara segugut
3
Bandara
4
Malam pertama
5
Pacaran Setelah Menikah.
6
Kilasan masa lalu
7
Kilasan masa lalu 2
8
Mulai cemburu (sebelum menikah)
9
Masih bulan madu
10
Permintaan Raya
11
Rumah ibu
12
Pulang ke rumah mama mertua
13
Dinner keluarga
14
Periksa ke dokter kandungan
15
Aku bukan cucu Oma
16
Rencana pindahan
17
Terapi kesuburan
18
Menyusul ke Jepang
19
Surat itu ...
20
Kedatangan Raya
21
Mimpi didatangi ibu
22
Masih dalam tekanan
23
Quality time
24
Tragedi
25
Kabar itu ...
26
Di rumah sakit
27
Nestapa di hari duka
28
Haruskah aku pergi?
29
Pemakaman Oma
30
Dimana suamiku?
31
Maaf, aku pergi
32
Masih koma
33
Positif
34
Tamu dari jauh
35
Bangun dari Koma
36
Bangun dari Koma 2
37
Bagas Barata Yudha
38
Hasutan
39
Di sita
40
Masih menumpang
41
Tawaran pindah .
42
Menata hidup baru
43
Pulang ke Indonesia
44
Merasa dekat
45
Cerita Bagas
46
Ziarah
47
Jalan-jalan
48
Wejangan dari calon besan
49
Donatur Taman kanak-kanak
50
Suara itu... suamiku
51
Aku Mencintainya..
52
Menjemput Bagas
53
Masa lalu Raya
54
Masa lalu Raya 2
55
Sebuah pertemuan
56
Aku tidak seperti itu
57
Masih di rumah sakit
58
Guncangan hati Bagas
59
Rencana Mila
60
Tetaplah disisiku
61
Bukan update
62
Maafkan aku, Ras.
63
Cerita di dalam taksi
64
Kisah di sekolah
65
Pertemuan di kontrakan
66
Jemput bersama
67
Kunjungan ke rumah Ina
68
Kunjungan ke rumah Ina 2
69
Pesta penyambutan Laras
70
Di pesta itu ...
71
Masih di pesta
72
Kebahagiaan Bagas
73
Jebakan Mila
74
Makan siang bersama
75
Kejujuran Laras
76
Belum percaya
77
Rencana Rangga
78
Berserah kepada-Mu
79
Berserah kepada-Mu (Versi Rangga)
80
Dampak viral
81
Sidang Mila
82
Di ruang ICU
83
Maafkan aku
84
Penyusup perusahaan
85
Pagi ini ...
86
Resign
87
Pamit
88
Mencoba kabur
89
Kejar-kejaran
90
Pemikiran Laras
91
Tidak punya malu
92
Kalah telak
93
Surgaku padamu
94
Cerita Di Rumah Sakit
95
Arti seorang ayah
96
Bertemu mereka
97
Camp rumah pohon
98
Masih di rumah pohon
99
Senandung hati
100
Di kantor polisi
101
Suka dan duka
102
Apesnya Mila
103
Calon settingan
104
Permintaan maaf Raya
105
Musibah
106
Bagas mau adik, bunda.
107
Teror untuk Mila
108
Irama cinta
109
Poor Mila
110
Hiduplah dengan bahagia
111
Siuman
112
Dinner
113
Promo semesta merestui kami
114
Di ruang sidang
115
Penahanan Mila
116
Masih di persidangan
117
Ini salah saya
118
Penahanan Rangga
119
Kapan terakhir kamu bahagia
120
Saya akan mencintai Larasati
121
Melepas rindu
122
Putusan sidang
123
Izinkan saya jadi menantu ibu
124
Kita akan selalu bahagia
125
Menelan ludah sendiri
126
Bagas mau khitan, Ayah
127
Acara sunatan Bagas
128
Jalan ke monas
129
Ziarah
130
Cerita di sekolah
131
Cerita di sekolah 2
132
Will you marry me
133
Berkumpul
134
Akhir yang bahagia (Final part)
135
PROMO NOVEL LORONG WAKTU TENTARA
136
PROMO PEMILIK KEHORMATAN
137
BINGKAI CINTA UNTUK SARMILA
138
AFTER ONE NIGHT IN LONDON
139
Novel baru: FAJAR UNTUK EMBUN
140
Radar cinta Andara

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!