"Jadi kalian mau resepsi dimana?" Tanya Alam.
"Anyer!" Jawab keduanya kompak.
"Eciyeeee... kompak nih yee!" Goda Alam.
"Soalnya mama yang milih lokasinya." Sambung Rangga.
Laras hanya diam saja. Dia tidak banyak bicara seperti Rangga. Karena tidak terlalu paham dengan rencana keluarga itu. Dia hanya mengikuti alurnya.
"Tenang, Ras. Enam bulan itu sebentar."
Siang itu sebelum makan siang, keluarga besar Pattimura mengajak semua yang dirumah mendatangi kediaman orang tua Laras. Dengan niat mengundang warga sekitar komplek. Tep7at jam setengah satu mereka sudah berada di pemukiman rumah Laras. Ina dan Laras berjalan didepan mengenang masa masa mereka sekolah dulu. Ina sering menginap dirumah Laras kalau mamanya pergi keluar kota berhari-hari.
Alam dan Rangga hanya mengekor dibelakang dua wanita tersebut. Melihat wajah kedua berbinar membuat duda tersebut teringat pada mendiang istrinya. Setiap Gita bertemu dengan Siti dunia seakan hanya milik mereka, sampai lupa pada pasangan masing masing. Helaan nafas terdengar dari suara lelaki itu. Mengingat begitu banyak masalah yang sedang mereka hadapi.
"Lam" Sapa Rangga.
"Iya, kak."
"Kamu serius kan sama adikku?"
"Serius!"
"Kalian nggak ada rencana apa gitu?"
"Aku sudah melamarnya kak. Dan dia sudah menerima lamaranku." Jawab Alam
"Bagus! tapi aku pengen Ina menyelesaikan pendidikannya dulu. Baru kalian boleh menikah. Paham!
"Paham, kak Rangga"
"Saya boleh nanya?" Alam tanya balik
"Silahkan"
"Kak Rangga serius sama Laras?"
"Serius." Jawab Rangga mantap.
"Bukan buat pelarian?" Tanya Alam lagi.
Rangga terdiam sejenak lalu kembali menjawab "Insyaallah bukan."
Mereka memasuki rumah orangtua Laras. Sebagian barang sudah ditumpukkan di kamar belakang. Gladys memandang isi rumah memperhatikan setiap sudut ruangan.
Hingga dia menemukan sebuah photo.
"Jadi Laras anaknya Mala!"
"Sini, nak peluk Oma. Cucu Oma, akhirnya aku menemukanmu" Gladys langsung memeluk Laras penuh rindu.
Laras bingung dengan sikap Oma majikannya. Sebuah pelukan hangat yang sudah lama tidak didapatkannya. Laras mengira Gladys memanggilnya cucu karena dirinya akan menikah dengan Rangga.
"Oma?" Tanya Laras.
"Ras, kamu cucu Oma. Cucu kandung oma!Maafkan oma yang sudah menyiakanmu, nak."
"Maksud oma apa?" Laras masih belum paham dengan ucapan Gladys.
"Kamu anak Mala dan Donal. Kamu cucu Oma, Nak. Donal Laras ini anak kalian, anaknya Kumalasari."
Deg! Raya yang mendengar hal itu bagai petir disiang bolong. Beberapa waktu yang lalu dia sempat menyelidiki perempuan yang menerima transfer suaminya. Perempuan yang di yakininya selingkuhan suaminya.
"Maksud mama apa?" Tanya Raya.
"Mala adalah perempuan dari masalalunya Donal. Yang mengabdikan dirinya sama Oma Maria dari usia 17 tahun. Mama merasa bersalah padanya karena menolak rencana pernikahan mereka. Mala hamil anak Donal, sayangnya mama menolak mereka."
"Dia bukan anakku, Ma." Jawab Donal dengan lantang.
"Kamu jangan begitu, Nak. Dia anakmu! Darah dagingmu! cukup kita buat kesalahan dulu untuk tidak mengakuinya."
"Dia memang bukan anakku, Ma. Mala sendiri yang bilang saat kami bertemu. Anakku sudah meninggal dunia dalam kandungan. Laras anaknya Mala dengan suaminya. Percaya sama aku, ma."
Laras sekarang menatap Donal dan Gladys secara bergantian.Gladys pun duduk disebelah Laras.
"Laras anak siapa Oma?" Tanya Laras.
"Kamu anak ayah dan ibumu, nak. Dia ayahmu." Gladys menunjuk Donal.
"Jadi aku anak haram, Oma!" Suara Laras masih tidak terima.
Gladys mencoba menenangkan Laras yang masih syok. Gadis itu berlari keluar rumah sambil menangis. Entah kenapa Rangga merasa tergerak menyusul Laras. Tapi dipertengahan jalan Rangga memilih berbalik.
"Ngapain aku menyusul dia, toh dengan kejadian ini rencana pernikahan kami pasti batal. Tapi kasihan juga sih..."
Gladys duduk didekat Raya. Masih terlihat ketidakpercayaannya pada cerita tersebut. Tangan itu mencoba menenangkan menantunya. Raya hanya menunduk lemas.
Dua puluh tahun yang lalu, Keluarga kami kedatangan gadis belia yang bernama Kumalasari. Sosok yang lembut dan penurut membuat ibu mertuaku menyukainya. Awalnya dia hanya pembantu biasa. Tapi karena mama Maria menyukainya maka dia didaulat menjadi asisten mama Maria.
Mama maria sering sekali menjodoh-jodohkan Mala dan Donal. Awalnya Mala menolak permintaan mama. Tapi namanya Orangtua tidak bisa dibantah. Mama memang menentang hubungan mereka karena saat itu Donal sudah punya tunangan, yang sekarang menjadi mamanya Lani. Usia donal dan Mala terpaut 5 tahun.
Yang mama tahu, mereka pacaran dibelakang Sarah, selama tiga tahun. Harusnya mereka menikah tapi saat itu Oma drop. Saat dirumah sakit Sarah bilang dia hamil anak Donal. Hari itu juga kami nikahkan mereka. Saat itu sebenarnya hari pernikahan Mala dan Donal. Tapi karena sudah terlanjur malu dengan kehamilan Sarah. Makanya kami nikahkan mereka di rumah sakit.
Satu minggu kemudian Mala datang mengaku hamil sama Donal. Tentu saja mama kaget, justru pengumuman Mala membuat Oma yang mulai sehat akhirnya colabs lagi. Hingga Oma meninggal dunia.
Pesan terakhir Oma adalah menemukan Mala kembali. Kami ke kediaman Mala tapi ternyata ayahnya meninggal lalu Mala dan keluarga pulang ke kampung. Kami tidak tahu dimana kampungnya.Seperti itulah kejadiannya Raya.
Laras duduk di pinggiran kali tak jauh dari rumah. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah tahu status dirinya adalah anak hasil di luar pernikahan. Tangannya terus menggenggam ujung bajunya. Sebagai pelampiasan rasa kecewa.
Sebuah langkah terdengar dari belakang tubuhnya. Tak lama sosok itu sudah duduk disamping. Laras tersentak sebuah tangan menggenggamnya dengan erat. Sosok itu tersenyum sambil mengipit kepala Laras di ketiaknya.
"Aduuul! Kelek lo bauu!" Laras mendorong tubuh Adul penuh keringat.
Adul tertawa "Setidaknya mau badan gue bisa bikin lo senyum lagi!" Laras menjitak kepala Adul.
Adul adalah teman main Laras sejak kecil. Usia Adul satu tahun dibawah Laras. Kalau bertemu Adul selalu mengepit Laras sebagai tanda keakraban mereka. Sayangnya Adul hanya tamat SD orangtuanya tidak membiayai sekolah karena ekonomi.
"Selamat, ya!" Adul menyodorkan tangannya pada bestienya.
"Selamat soal apa?"
"Katanya kamu mau nikah. Makanya aku kasih ucapan selamat. Karena temanku ini ada juga yang mau" Laras mencubit lengan Adul.
Pemuda itu terkekeh dengan sikap Laras yang masih manja padanya. Helaan nafas berat terdengar dari rahang kokoh. Matanya menjelit manis pada gadis disampingnya.
"Kamu harusnya senang dapat calon suami yang kaya. Tapi kenapa dia mau sama kamu ya, nggak bisa masak kue.... hahahahaahaha.."
"Puas ngeledekin aku!" Toyor Laras.
"Puaaaaas banget. Lunas!"
"Jahat kamu ih!"
Laras pulang ke rumahnya ditemani Adul. Dia memang belum siap dengan kenyataan tentang statusnya. Gladys tetap menerima Laras sebagai cucunya, walaupun Donal masih menyangkalnya.
"Dia siapa?" Tanya Rangga
"Temanku. Kenapa?" ketus Laras
"Sebentar lagi kita menikah jadi jangan terlalu dekat sama dia." Titah Rangga.
Laras hanya terbengong mendengar ucapan Rangga barusan.
"Dasar cowok aneh.. Emang dia siapa ngatur aku!"
"Kenapa, Ras?" Ina melihat wajah Laras kayak mau mendung.
"Itu kak Rangga masa dia ngelarang aku temanan sama Adul. Kamu tahu sendiri lah Adul itu bestieku?"
"Dasar nggak peka!" Ina menoyor kepala Laras dengan kencang.
"Aduh, Na. Entah kalau kepalaku putus gimana!"
Ina tertawa melihat muka laras berkerut. Ina saja yang beberapa kali melihat Adul saja sudah paham.
"Kamu tuh nggak peka, Larasati. Mana ada cewek dan cowok bisa temenan. Nggak ada! Ras, gini ya, aku menilai kalau Adul suka dah lama sama kamu. Dan aku yakin kak Rangga pun cemburu lihat kamu sama Adul."
klik
Rangga mengajak Laras bicara empat mata terkait pernikahan mereka. Laras hanya menurut saja, sambil menata perasaan hatinya yang berdebar. Apalagi saat duduk berdua di belakang rumah, Laras mencoba mengalihkan pandangannya, menata jantungnya yang terus berdetak.
[ Ya, Iyalah. Kalau nggak berdetak berarti metong]
"Ras." Sapa Rangga yang membuat gadis itu salting.
"Iya" jawab Laras malu-malu.
"look my eyes." Ucap Rangga menarik tangan Laras.
"Tatap mata saya, Gitu kan kak?"
Rangga terkekeh melihat sikap polos Laras. Tak lama kepalanya menggangguk.
"Emang mata kak Rangga kenapa? Kayaknya baik-baik saja. Nggak sakit, Nggak belekan, nggak bintitan juga."
"Kamu pernah dengar nggak kata ini katresnan bisa hadir bebarengan"
"Artinya cinta itu bisa datang jika sering bertemu." Jawab Laras.
"Nah, itu tahu. Pinter!" Rangga mengacak rambut Laras.
"Jadi kak Rangga manggil aku karena mau bahas ini?"
"Salah satunya." Jawab Rangga mantap.
"Bentar!" Laras berlari ke dalam. Tak lama Laras datang membawa sebuah kertas.
"Ini?" Rangga belum paham maksud gadis itu.
"Ini kan surat perjanjian yang kakak buat. Tulis saja poinnya apa yang boleh dan tidak boleh selama kita menikah. Biar aku nggak kaget lagi."
Rangga merobek surat perjanjian tersebut di depan. Gadis itu kaget dan langsung memungut kertas tersebut.
"Kenapa disobek, kak?" Omel Laras.
"Nggak usah diberesin biar bibi juga. Oh, ya beberapa hari yang akan datang kamu akan ikut saya ke Jepang. Kita tinggal disana, karena saya akan mengurus perusahaan milik papa."
Laras mendengus kesal "Kakak ngajak ke Jepang karena ada Ina kan disana? Modus!"
Rangga tersenyum mendengar reaksi Laras. Lelaki itu mendekati gadis yang usianya 14 tahun dibawahnya. Tangan Rangga menggenggam erat, mereka saling berhadapan membuat gadis itu mulai salting.
"Ras"
"Iya, kak."
"Mulai sekarang surat perjanjian ini tidak diperlukan lagi. Mulai sekarang kita benar-benar kehidupan rumah tangga sepenuhnya. Menikah, saling mencintai, punya keluarga kecil.
Larasati binti Donal Pattimura ... Maukah kami menjadi istriku.
Memulai cinta setelah menikah.
Maukah kamu...." Rangga menggaruk kepalanya karena dia lupa apa yang akan diucapkan selanjutnya.
"Iya kak aku...." Rangga menjelit menunggu jawaban Laras.
"Eh, itu apa?" Laras menunjuk keatas langit. Reflek Rangga menoleh keatas.
"Ketipu" Laras berlari meninggalkan Rangga sambil menjulurkan lidah.
"Aaaaaa" Laras kaget ketika ada yang memeluknya dari belakang.
"Ehmmm... Eh, kalian tidak boleh berduaan sebelum sah. Pamali!" Sahut Raya mendapati keduanya saling berpegang pinggang. Seketika keduanya saling melepaskan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Nofi Kahza
cuma pegangan tangan gpp kali, Raya.. blm sampek cup cup muah juga..🤣
2022-05-18
0
💮Aroe🌸
ada cewe cowo temenan, tapi bukan sahabat. alias jaga jarak😁
2022-04-27
0
Hajirah Basan
mantap
2022-04-24
0