Beberapa tahun yang lalu
Cahaya pagi menampakkan sinarnya. Menerangi langit dari kegelapan. Setiap insan makhluk hidup yang paling sempurna memulai waktunya. Laras kecil dengan semangat mengikuti kegiatan Mala, sang ibu yang asyik mengadon bahan di loyang tersebut. Bedanya yang diadon Laras adalah bahan mainan yang dibelikan ibunya. Mala menatap putrinya sambil tersenyum lalu tak lama dia menyelesaikan adonan dan memasukkan kedalam oven.
"Laras!" Panggil Fajar, sang kakak.
"Iya, kak." Laras berlari mendekati sang kakak.
Fajar memberikan sebuah kado pada adiknya. Siapa yang tidak riang kalau diberi hadiah. Laras menerima kado tersebut sambil mengucapkan terimakasih kepada kakak semata wayangnya.
"Ini kado kakak, buat adik kakak yang naik kelas dua."
"Tapi aku kan nggak dapat juara, kak."
Fajar tersenyum sambil mengacak rambut Laras. Memang dia sering dengar dari teman sekolahnya kalau tidak dapat rangking orangtuanya tidak memberi hadiah. Padahal kasih hadiah bukan harus jadi juara. Bisa bentuk apresiasi si anak agar belajar lebih giat lagi.
"Bagi kakak kamu tetap juara dihati kami, Ras. Kakak kerja biar Laras bisa sekolah tinggi. Kakak berhenti sekolah biar bisa bantu ibu dan bapak."
Laras memeluk erat ke pinggang kakaknya. Karena tubuhnya hanya sebatas pinggang sang kakak. Fajar membalas pelukan adiknya. Mala melihat pemandangan itu menitikkan air matanya. Dia senang Fajar menyayangi Laras beda ibu.
"Iya, bu!" Laras berjalan tempat ibunya berdiri.
"Ini kuenya sudah matang. Hadiah buat anak ibu yang naik kelas." Dengan ekpresi penuh keteduhan wanita yang saat itu berusia 27 tahun mengajak putrinya mengambil kue yang sudah dipotong.
"Enak?" Laras mengangguk senang. Sebuah potongan bolu jadul pun tandas masuk ke mulutnya. Laras pun memotong beberapa kue dan disimpan dalam sebuah wadah plastik. Langkah berlari kesebuah kamar di depan pintu depan. Kamar yang pintu masuknya terdapat poster kurt cobain.
"Kak." panggilnya.
"Iya, Ras." Sahut Fajar.
"Ini kue buat kakak. Enak kak rasanya." Laras menyodorkan kue yang disiapkannya tadi.
"Ini kan buat Laras. Spesial ibu buatin karena kamu naik kelas."
"Kan masih banyak, kak. Pokoknya ini buat kakak biar semangat kerjanya." Laras meninggalkan kamar kakaknya.
Fajar pamit pada Mala dan Laras untuk berangkat kerja. Sementara Fauzan sudah berangkat kerja sejak subuh untuk mengais rezeki. Fauzan sang ayah, bekerja sebagai tukang ojek.Tangannya tak berhenti menyeka wajahnya.
Sore itu Laras terbangun. Karena sekolah masih libur Laras memilih berleha-leha dengan main barbie pemberian Fajar. Untuk taraf kehidupan Laras boneka barbie merupakan barang mahal. Dulu saja saat ibunya dapat proyek bikin kue, Laras diajak ke mall buat dibelikan baju. Tapi saat tahu harganya mahal, dia minta ibunya beli baju dipasar saja.
Suasana rumahnya rame, gadis berusia 8 tahun tersebut merasa heran. Ada acara apa dirumahnya. Terdengar suara tangisan sang ibu. Seperti tangisan menyayat hati. Laras mendengar ibunya terus menyebut nama sang kakak.
"Bu." Sapa Laras
"Laras!" Peluk Mala masih menangis.
"Ini ada apa, bu?"
"Kakakmu, nak. kakakmu sudah tidak ada."
"Maksud ibu, kak Fajar kenapa?"
"Kakakmu kecelakaan saat mengantarkan gas kekonsumen. Mobilnya tertabrak kereta api di bintaro. dan ... dan ...." Mala tidak kuat melanjutkan ceritanya.
"Dan meledak"
"Kakaaaaaakkk!"
🍇🍇🍇
Dimasa sekarang
Laras berdiri menatap kamar mendiang ibunya. Setelah pemakaman Mala, Laras didatangi Raya untuk diajak bekerja dirumahnya. Tapi gadis itu masih ragu menerima tawaran atasannya. Dia takut kalau orang-orang di sekitarnya akan menganggapnya matre. Padahal dia sudah menolak tawaran Raya untuk menjadi istri Rangga.
"Ras!" Panggil Eva tetangga yang seumuran dengannya.
"Iya, Va." Laras menyeka wajahnya yang terlihat sembab.
"Kamu yang sabar,ya. Jangan tinggalkan doa untuk ayah kamu, Bu Mala dan Kak Fajar. Karena doa anak yang sholehah akan menjauhkan mereka dari siksaan api neraka. Kamu juga harus menatap ke depan, jangan larut dalam kesedihan."
"Makasih, Va. Kamu memang temanku, kamu selalu ada disaat aku membutuhkan."
Eva tergelak mendengar pujian Laras "Tapi kalau kamu butuh duit jangan sama aku. Soalnya aku juga pengen banget punya duit."
"Tapi bukannya kamu sudah diajarin sama ibu buat bikin kue. Itu bisa jadi modal kamu, lo. Kamu tahu, Va, kalau aku malas bantu ibu pasti dia bilang gini "Liat tuh Eva. Dia bisa buat kue yang enak." Kamu pasti bisa, Va. Jangan kayak aku yang bikin pelanggan ibu kabur."
Eva hanya tersenyum kecut, ada rasa tidak enak karena dijadikan alat perbandingan. Tapi Eva yakin maksud ibu Mala supaya Laras termotivasi belajar.
"Laras, ada yang nyari?"Panggil bu Ida.
Laras dan Eva keluar kamar. Mereka menemui tamu yang datang melayat. Tampak beberapa teman sesama OB nya datang. Laras tetap menyambut mereka dengan ramah, tampak Maya juga ikut dalam rombongan.
Maya hanya bersembunyi dibelakang, dia malu bertemu dengan Laras. Sejak kejadian itu, Maya kembali menjadi OB. Beruntung dia tidak dipecat oleh Raya, karena kata Raya dia mempertimbangkan kinerja Maya.
Maya memilih duduk diteras karena masih malu dengan sikapnya pada Laras. Beberapa teman OB berbisik nyinyir melihat sikap Maya. Laras mendatangi Maya yang masih termenung diluar.
"Kak Maya, ayo masuk." Ajak Laras.
"Aku malu, Ras. Aku banyak salah sama kamu."
"Kak, aku sudah maafin kakak. Justru ucapan kakak kemarin menyadarkanku kalau aku nggak boleh manja. Ya, mungkin karena efek aku anak bungsu makanya terlihat manja." Jawab Laras.
Maya memeluk Laras, kejadian yang dia lakukan pada Laras rupanya juga menimpa pada putrinya. Saat Maya menemui sekolah anaknya, dia mendapat kabar kalau anaknya disuruh membersihkan wc hingga dikunci dari luar. Udara Wc yang tak ada pentilasi pun membuat anaknya susah bernafas. Beruntung ada yang menemukan saat mau ke WC.
"Maafin aku, Ras. Aku iri melihat kamu masih baru tapi sudah dekat dengan Bu Raya. Sedangkan kami saja, mengobrol dengan Bu Raya saja segan." Adu Maya.
"Laras" Tampak seorang berpenampilan anggun datang dengan seorang wanita muda.
"Bu, Raya." Laras dan Maya menyalami Raya bergantian.
"Kamu jadi kan kerja dirumah saya? Kalau jadi saya tunggu kamu berkemas." Titah Raya.
"Bu, kasih saya waktu. Saya masih banyak yang harus diurus." Mohon Laras. Dia tidak enak saat Raya kembali mengajaknya untuk kerja dengan mereka.
"Saya kan sudah kasih waktu kamu, dua hari yang lalu. Kamu pun tidak memanfaatkannya untuk mempertimbangkan permintaan saya. Dan saya minta kamu ikut saya sekarang. Maaf kalau kesannya saya memaksa. Saya cuma mau bantu kamu, Ras. Kata Rangga kamu sahabat dekat Ina. Ina itu anak saya, jadi kamu juga keluarga saya."
"Jadi bu Raya sudah tahu soal saya dan Ina." Raya mengangguk.
Raya ingat semalaman saat teleponan sama Rangga. Dia mengabari memperkerjakan seseorang di apartemen tempat tinggal Rangga sekarang. Saat Raya memberitahukan soal nama ART yang akan mengurus apartemennya. Rangga minta sang mama memperlakukan Laras dengan baik. Karena Laras adalah sahabat yang disayang Ina.
Kita sudah sampai." Raya menyerukan saat mobil mereka sampai didepan kediaman Donal.
Lani yang membawa mobil turun terlebih dahulu. Tanpa menyapa atau membantu Laras, wanita hanya melengos masuk. Raya melihat ada mobil didepannya, dia menebak kalau mertuanya datang.
"Ayo, Ras." Ajak Raya.
Raya dan Laras masuk ke rumah. Raya pun menyapa sang mertua yang sudah duduk di sofa.
"Mama" Raya dan Gladys bersungkem ria.
Tampak keakraban keduanya seakan menepis rumor kalau mertua dan menantu tidak bisa akur. Raya pun memperkenalkan Laras sebagai Art baru di rumah mereka.
"Kenalkan ini Laras, ma. Dia akan bekerja disini sampai Rangga pulang." Jelas Raya.
"Kenapa menunggu Rangga pulang?"
"Soalnya dia nanti jadi ART Rangga di apartemen." Tambah Raya.
"Jangan satu saja. Kasih dua atau tiga ART, kalo cuma berdua nggak bagus." Saran Gladys pada menantunya.
"Iya juga, ya, ma."
Gladys berdiri mendekati Laras. Netranya memandang gadis itu dari atas sampai kebawah. Seakan merasa devaju melemparnya pada sosok yang dikenalnya. Sayangnya, Gladys menolak untuk memperkuat ingatannya. Wanita usia 71 tahun tersebut memilih menginterogerasi ART mudanya.
"Duduk" Titahnya dengan sopan.
Laras duduk di sofa. Pandangannya seperti takut-takut karena raut wajah Gladys terlihat jutek.
"Nama kamu siapa, cantik?"
"Larasati, Nyonya."
"Jangan panggil saya nyonya. Panggil saja Oma."
"Iya, Oma."
"Berapa usiamu?"
"20 tahun, oma."
Gladys pun hanya tersenyum melihat sikap Laras. Lalu dia meminta bi Asti, asisten senior untuk mengantarkan Laras ke kamar yang masih berbentuk gudang.
"Kok saya di gudang, bik"
"Ini dulu kamar asistennya Oma Maria. Asisten kesayangan Oma Maria, bahkan sempat di gadangkan sebagai calon menantu. Dia pernah pacaran sama pak Donal tapi cuma oma yang merestui. Ya biasalah cinta beda kasta gitu."
"Terus bagaimana nasib perempuan itu?" Tanya Laras.
"Nggak tahu, Ras. Mungkin sudah bunuh diri kali. Secara pas mereka mau nikah, pak Donal malah dipaksa nikah sama perempuan lain. Perempuan lain itu ya mamanya non Lani."
"Oooo... Ya udah saya bersihkan gudang dulu, ya, bik."
"Kita bersihkan sama sama, Ras. Jujur saat saya ngelihat kamu, saya jadi ingat seseorang."
Laras dan Bi Asti membersihkan gudang. Memindahkan beberapa barang dengan posisi yang tepat. Hampir satu jam mereka berkutat dengan debu yang tebal dan sarang laba-laba. Laras pun membersihkan diri di kamar mandi dekat dapur.
Waktu menunjukan pukul 17.50, adzan pun berkumandang. Saatnya melaksanakan kewajiban kepada sang pencipta. Laras pun mengambil wudhu, sayup dia mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Larass!" Pekik pemilik suara tersebut.
Dengan tergopoh-gopoh dia berlari ke lokasi sumber suara yaitu diruang tengah.
Tampak Lani sudah bergaya, bak penampilan seperti ratu. Laras memandang riasan Lani yang tebal dan gaya pakaian yang terlalu seksi.
"Kamu jaga Zayn, anak saya! Saya mau ke cafe ngumpul bersama teman-teman." Lani langsung berlari tanpa mendengar bantahan dari Laras.
"Mau kemana kamu, Lani." Gladys muncul sebelum Lani keluar dari pintu rumah.
"Ngumpul sama teman-teman, Oma. Aku suntuk di rumah, tiap hari ngurusin bayi terus. Bosan!"
Gladys hanya menggeleng kepala melihat tingkah cucunya itu. Sejak kecil Lani memang sangat dimanjakan, bahkan sudah kelihatan angkuhnya. Gladys pikir setelah menikah cucunya akan berubah. Ternyata tidak, malah dia dengar kalau Lani suka melawan suaminya. Gladys tahu apa yang membuat cucu menantunymenceraikan Lani.
"Kamu itu seorang ibu, Lani. Seorang ibu tugasnya menjaga anaknya, bukan keluyuran malam, apalagi main ke cafe. Apakah kamu sadar hal seperti ini yang membuat Toni menceraikanmu? Apakah kejadian arisan berondong tidak membuatmu jera? Kenapa seperti ini, nak? Mana cucu Oma yang penurut dulu?"
"Oma! Asal oma tahu, ya! Harusnya Toni itu bersyukur. Derajatnya diangkat sama papa. Disekolahkan, dikasih fasilitas pendidikan, dan bekerja di Rumah Sakit Swasta ternama. Aku nikah sama dia karena kasihan saja. Dia deketin aku terus walaupun berkali-kali ku tolak. Kalau dia ceraikan aku, itu berarti dia nggak mau hidup enak dan aku tidak mau hidup miskin!"
"Satu yang harus oma tahu! Aku yang menceraikan Toni, bukan dia!"
Gladys kembali menggelengkan kepalanya. Dia terus mengurut dadanya melihat kelakuan cucunya. Beda sekali dengan cucu sambungnya yang selalu menghormati oranglain. Sampai-sampai dia berpikir sifat Lani menurun dari siapa? karena mama Lani orangnya santun.
Selepas kepergian Lani, wanita paruh baya tersebut malah menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Masih mengurut dadanya melihat sikap cucunya. Laras langsung mendekati Gladys. Mencari tahu apa yang dibutuhkan majikannya.
"Oma kenapa?" Sahut Laras.
"Oma tidak papa,nak. Tolong antarkan oma ke kamar. Oma ingin istirahat." Laras memapah Gladys menuju kamar wanita paruh baya tersebut.
"Oma kalau gundah atau ada masalah coba sholat. Maaf kalau saya lancang, Oma. Saya hanya memberi saran." Gladys tersenyum mendengar ucapan Laras.
Kamu mengingatkan aku pada seseorang, nak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
💮Aroe🌸
oma juga suka ma laras ya😇
2022-04-27
0