Dua bulan yang lalu.
Raya Kalendina berjalan menuju ruang kerja suaminya. Saat ini dia menggantikan Rangga yang pergi ke Jepang mengurusi Thunder corps yang sedang ada masalah. Dengan anggun Raya mendaratkan bokongnya di sofa ruangan suaminya.
Wanita berusia 50-an ini memeriksa beberapa barang yang ada diruangan Donal. Entah apa yang merasukinya hingga sampai seperti itu. Donal yang melihat kelakuan istrinya hanya menggeleng-geleng kepala. Dia yakin istrinya berpikir soal perempuan simpanan yang jadi gosipan beberapa bulan ini.
"Ma" Donal membenamkan kepalanya dileher istrinya.
"Mama masih curiga sama papa." Tanya Donal.
"Aku tahu kalau aku sudah tua, mas. Nggak menarik lagi dimatamu. Tapi please jangan menyimpan perempuan lain lagi. Cukup ceraikan aku jika sudah tak cinta lagi."
Donal menutup bibir istrinya dengan telunjuk. Lelaki itu mencoba meyakinkan istrinya kalau dia tidak selingkuh. Hanya saja saat ini ada seorang famili yang sedang dia bantu perekonomiannya.
Donal dan Raya duduk bicara dari hati ke hati. Walaupun mungkin akan sulit meyakinkan istrinya. Raya tidak asal menuduh, dia menemukan hasil transferan suaminya ke rekening lain, yang ternyata milik seorang wanita yang bernama Kumalasari. Raya yakin kalau itu milik perempuan simpanan suaminya.
"Bu, ini kopinya." Salah seorang OB mengantarkan kopi pesanan Raya.
"Bentar?" Raya mencegat OB tersebut untuk keluar ruangan.
"Ini kamu yang buat?" Tanya Raya.
"Bukan, Bu. Ada OB baru yang buat."
"Panggil dia." Titah Raya.
"Baik." OB tersebut langsung meninggalkan ruangan.
Mampus si OB baru. Pasti dia bakal dimarahi sama bu Raya.
OB tersebut langsung menemui gadis yang dicari bos.
"Ras, kamu dipanggil bu Raya."
"Saya? kenapa? Apa kopi buatan saya tidak enak."
"Sepertinya begitu, Ras. Kelihatan dari wajahnya mulai pucat saat mencoba kopimu. Cepetan minta maaf sebelum dia memecat kamu."
Laras langsung terburu-buru menemui atasannya. Sudah seminggu Laras bekerja di perusahaan Donal. Lowongan yang direkomendasikan Ina untuknya. Laras tahu kalau itu perusahaan keluarganya Rangga.
"Maaf,bu. Atas kecerobohan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Asal jangan pecat saya, saya mau membantu pengobatan ibu saya soalnya."
"Nama kamu siapa?"
"Larasati, bu." Jawab Laras takut-takut.
"Larasati, mulai sekarang kamu yang membuat kopi untuk saya, anak saya dan suami saya. Saya justru suka sama kopi buatanmu."
Laras hanya melongo mendengar ucapan Raya.
Kapan kamu pulang?" Terdengar suara Raya menelepon putra semata wayangnya.
Raya mendapat kabar kalau masalah di perusahaan Jepang sudah lama selesai. Seharusnya Rangga sudah pulang ke indonesia. Tapi ternyata sampai sekarang anaknya tetap bertahan di Negeri Sakura tersebut.
📞 Selesai undangan dari tuan Okada, ma. Ada apa?
📞 Nggak papa, akhir-akhir ini mama merasa kurang sehat. Mama pengen ketemu kamu, nak.
📞 Ya udah, ma. Aku langsung pulang saja, nggak usah datang ke acara Tuan Okada.
📞 Eh, Jangan dong. Selesaikan tugas kamu.
"Bu, ini kopinya." Laras datang mengantarkan kopi pesanan atasannya.
"Terimakasih" Ucap Raya.
Laras keluar dari ruangan atasan. Tapi saat didepan pintu Raya kembali memanggil Laras.
"Saya perhatikan pekerjaan kamu bagus. Kamu anak yang rajin, saya suka cara kerja kamu." Puji Raya.
"Terimakasih,bu. Saya permisi dulu."
"Tunggu! saya belum menyuruh kamu pergi, kan." Raya masih menahan Laras keluar ruangan. Wanita itu menyuruh gadis itu duduk di sofa.
"Ceritakan tentang dirimu." Titah Raya.
"Saya? Buat apa, bu. saya mah nggak ada punya cerita bagus." Kekeh Laras.
"Saya mau dengar apapun bentuk ceritanya." Raya tetap ngotot.
"Oke, bu. Perkenalkan nama saya Larasati. Saya bungsu dari dua bersaudara. Kakak saya meninggal saat bekerja. Ibu saya bernama Mala, dulu dia punya usaha kue rumahan. Ayah saya meninggal saat saya masih SMP. Segitu saja, bu."
"Ibu kamu bikin kue? Boleh dong saya pesan kue buatan ibu kamu."
"Anu, bu. Sudah tidak lagi sejak sakit-sakitan. Saya pernah coba buat kue untuk bantu ibu. Tapi nggak enak. Makanya saya berhenti kuliah dan kerja."
"Ras, kamu mau kan bantu saya." Pinta Raya.
"Bantu apa,bu?"
"Saya mau kamu jadi istrinya Rangga, anak saya. Saya pusing lihat Rangga yang sampai sekarang belum nikah. Kamu jangan takut, biar saya atur semuanya. Kamu terima beres saja, seandainya dalam 6 bulan kalian tidak cocok, kamu boleh minta cerai. Gimana?"
Laras menelan salivanya. Rasanya seperti mimpi dengan gampangnya Raya memintanya menikah dengan Rangga. Laras sadar Rangga tak mungkin mau dengan dirinya, dia tahu bagaimana cinta lelaki itu pada Ina.
"Bagaimana?" Raya lagi-lagi meminta jawaban.
"Aduh, bu. Maaf. Saya tahu diri, tidak mungkin tuan Rangga mau sama saya." Laras masih menunduk.
"Ras,kamu pikirkan lagi, nak. Dari awal saya suka sama kamu. Saya janji akan bantu biaya pengobatan ibumu, juga biaya kuliah kamu. Bagaimana?" Desak Raya.
Laras tetap tidak bergeming. Jujur dia memang sudah lama jatuh cinta pada Rangga. Hanya saja, dia tahu kalau Rangga dari dulu cintanya pada Ina seorang. Memiliki Rangga apalagi menikah dengan lelaki itu jauh dari ekpetasinya.
"Maaf,bu. Saya bicarakan dulu dengan ibu saya."
"Silahkan, Saya tunggu jawabannya besok"
Besok! Laras terkejut dengan batasan waktu yang diberikan Raya. Dia bingung kalau diberi waktu secepat itu. Laras meninggalkan ruang kerja Raya, pikirannya terus ke permintaan atasannya.
"Nggak mungkin kak Rangga mau sama aku. Aku tahu betul dia cinta mati sama Ina."
Tanpa Laras sadari beberapa OB menguping pembicaraan dirinya dan Raya. Sebagian dari mereka menyiapkan sebuah rencana, entah rencana baik atau bisa jadi rencana buruk.
"Heh! Anak baru!" Hardik Maya.
"Iya, kak!"
"Kamu kemana saja dari tadi! Kamu lihat wc kotor begini. Kamu malah enak-enakan mengobrol sama Bu Raya. Mau cari muka sama Bu Raya!" Hardik Maya sambil menoyor kepala Laras.
Laras masih menunduk karena takut pada Maya. Dia takut kalau melawan pasti bakal dipecat. Dia butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya.
"Heh! Kerjain! Malah bengong!" Bentak Maya.
Laras langsung mengambil alat untuk membersihkan kamar mandi. Tapi Maya mengganti bros kamar mandi dengan sikat gigi.
"Bersihkan pake ini saja." Laras manut saja. Dia berusaha kuat meskipun diperlakukan buruk.
Selesai membersihkan Laras kembali ke pantry melepas dahaga karena sudah 4 jam membersihkan WC. Penampilan Laras yang acakadul membuat orang-orang menjauhinya "Iiiih, bau. Bau toilet hahahahahahaa..."
Jika aku menerima permintaan Bu Raya. Aku akan bungkam mereka semua.
klik
Assalamualaikum
Laras mengucapkan salam saat masuk kerumah. Tampak Mala menyambut putri bungsunya yang baru saja pulang kerja. Laras merebahkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu. Lama dia memandang isi rumahnya yang satu persatu habis demi biaya pengobatan ibunya. Helaan nafas berat terdengar pelan dari bibir tipisnya.
"Minum dulu, Ras." Mala membawa segelas es teh kesukaan putrinya. Tampak tangan wanita berusia 44 tahun tersebut mulai mengkerut. Tak sesuai dengan usai sebenarnya. Tapi inilah hidup, kadang diatas kadang dibawah. Uang pemberian Ina pun sudah menipis.
"ibu istirahat. Nggak usah banyak aktivitas. Kalau aku mau apa kan masih bisa dikerjakan sendiri."
"Ras, maafin ibu. Seharusnya ibu yang bekerja bukan kamu. Seharusnya kamu tetap kuliah mengejar cita-cita. Maafkan ibu, ibu memang orangtua nggak berguna." Isaknya.
Laras hanya tersenyum tipis. Tidak menyalahkan ibunya tapi keadaan yang memaksanya harus merelakan cita-citanya. Andai saja dia tidak terbujuk rayuan Ramida dengan iming-iming nilai tinggi, andai saja dia tidak terlibat dalam pencemaran nama baik Ina, mungkin ceritanya akan beda. Laras sangat menyesal dengan perbuatannya dibelakang Ina. Apakah yang dirasakan sekarang sebagai tabur tuai? Bisa jadi. Bahkan saat Ina mentranfer uang lima juta untuk pengobatan ibunya, Laras merasa malu.
"Bu, Laras mandi dulu, ya." pamit Laras meninggalkan ibunya di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, Laras baju saja selesai salat jamak magrib dan Isya. Dikarena dia pulang saat menjelang magrib dan sampai dirumah sudah lewat isya. Langkah berjalan menuju ke dapur, terdengar suara batuk ibunya yang kuat.
"Bu, laras mau ngomong soal permintaan bu Raya." Laras membicarakan tawaran Raya untuk menikah dengan Rangga. Dia menjelaskan pada Mala, kalau Raya juga mau membantu pengobatan dan biaya kuliah.
"Ras"
"Iya,bu."
"Maaf ibu keberatan kamu menikah dengan anak bos mu. Ibu tahu maksud dia baik, tapi menurut ibu lebih baik jangan dituruti. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Kita ini orang susah, nak. Ibu takut mereka hanya memanfaatkan kamu saja. Kalau sekarang saja mereka bisa mengaturmu, apalagi sesudah nikah nanti. Ibu mohon pikirkan lagi, nak."
Pagi ini
"Bu. Laras berangkat kerja dulu, ya." Pamit Laras pada Mala di kamar ibunya.
"Iya, nak. Hati-hati. Oh, ya soal yang kita bicarakan tadi malam, ibu minta kamu berpikir lagi. Semua kembali ke kamu, nak. Kamu sudah besar, sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik." Jelas Mala.
Laras hanya tersenyum kecil "Bu, buat aku restu ibu nomor satu. Kalau pada akhirnya Laras harus dipecat karena tidak menyanggupi keinginan bu Raya, Laras ikhlas, bu."
"Sudah, kamu berangkat saja. Nanti terlambat." Mala mengalihkan pembicaraan. Dia paham perasaan putri terombang ambing karena permintaan atasannya. Bukannya tidak setuju, tapi Mala takut apa yang dia alami dulu juga menimpa putrinya. Bedanya Mala belum sempat menikah harus menerima kenyataan kalau calonnya juga menikah di hari yang sama.
Mala ingat saat masa mudanya, dia berpacaran dengan Donal. Saat itu usianya 20 tahun yang bekerja di kediaman Pattimura. Donal sebagai anak tunggal digadangkan pewaris perusahaan Pattimura. Mala yang sempat di jodohkan sama Oma Maria, neneknya Donal. Karena Maria sering bilang padanya kalau Mala adalah cucu menantu pilihannya.
Pada saat yang tiba dimana, Gladys ibu kandung Donal merestui keinginan terakhir Oma Maria. Persiapan demi persiapan sudah mereka lalui. Mala rela mengundang sanak kerabat dari Wonosari untuk menghadiri pernikahannya. Rencananya pernikahan diadakan di rumah pakde nya Mala.
Hingga saat acara itu tiba, Mala mendengar Oma Maria masuk rumah sakit dan Meninggal dunia. Mala yang masih menggunakan kebaya pergi ke rumah sakit menemui Oma. Tapi apa yang dia lihat? Donal menikahi wanita lain didepan Oma Maria yang sedang koma.
Gladys yang tadi digadangkan setuju malah memakinya. Baru saja perasaan hancur karena pengkhianatan Donal, dimaki-maki Gladys, hingga akhirnya sang ayah langsung drop karena serangan jantung. Mala pulang dengan perasaan hampa di tambah omelan budenya.
"Makanya Mala, Jangan mimpi ketinggian. Apalagi sampai menikah dengan orang kaya seperti mereka. Eling! Eling!" Omel Bude nya.
Kembali ke masa sekarang.
Mala merasa dadanya sesak. Lalu bangkit mengambil obat. Batuk yang tak henti-henti terus menggerogoti pernafasannya. Mala menumpahkan air minum dan gelas pun pecah di lantai. Beberapa tetangga yang mendengar langsung menerobos pintu rumah Mala. Mereka saling bahu-membahu menyelamatkan Mala, tak lama tubuh Mala sudah berbaring di ranjang puskesmas. Beberapa tetangga menjaga kediaman Mala. Sedangkan salah satu dari mereka mencoba menghubungi Laras.
"Nggak diangkat, pak" Gerutu Lisa
"Coba lagi. Kasihan bu Mala, sepertinya sakitnya parah." Bujuk pak Karta pada putrinya.
"Sudah, pak. Tapi tetap nggak diangkat." Jawab Lisa sambil menggerutu.
Sementara saat Laras tiba di tempat kerjanya. Hampir semua karyawan kantor menatap sinis kepadanya. Laras tidak memperdulikan itu, dia disini bekerja bukan mencari perhatian orang-orang disana. Laras menyimpan barangnya di loker. Lalu kembali bekerja seperti biasanya.
"Waahh, anak emas masih punya muka masuk ke kantor" Ledek mereka.
"Bagi dong jimatnya, biar pak Rangga lengket sama saya."
"Udah, biarin aja di berharap. Paling juga ditinggal kabur lagi nantinya." Celetuk yang lain.
"Hahhahahaa .. iya juga..Yang cantik paripurna aja ditinggal. Apalagi yang model kayak gini."
Laras hanya menggenggam ujung bajunya dengan keras. Menahan gejolak am¿arah yang ingin dia luapkan. Langkahnya berdiri memasuki ruangan Raya.
"Assalamualaikum, Bu." Sapanya di dalam ruang atasannya.
"Waalaikumsalam, Laras. Ada apa? Saya belum pesan kopi."
"Saya... Saya.." Laras masih gugup.
"Saya mau mengundurkan diri,bu." Ucapnya
"Kenapa? Saya puas kok sama pekerjaan kamu. Walaupun kamu masih anak baru, tapi kamu profesional."
"Maaf, bu. Saya juga tidak bisa memenuhi permintaan ibu. Untuk menikah dengan anak ibu." Laras mengeluarkan surat pengunduran dirinya.
"Tunggu! apa karena ini kamu mengundurkan diri? Maaf, Ras bukan seperti ini caranya. Saya tidak akan memecat kamu karena masalah ini. Tapi mulai besok kamu kerja dirumah saya. Bagaimana?" Tawar Raya.
Laras hanya menunduk. Dia heran kenapa Raya ngotot ingin dirinya menikah dengan Rangga. Padahal diluar sana banyak yang sepadan dengan mereka, bukan seperti hidupnya yang miskin. Laras juga tidak mau di cap matre oleh orang-orang.
Laras duduk didalam pantry, merenung semua yang terjadi dua hari ini. Raya yang maksa buat dirinya menikah dengan Rangga, Ibunya yang tidak setuju karena takut nanti ditindas, orang-orang dikantor yang membully dirinya. Permasalahan itu yang dadanya sesak. Seketika pertahanannya runtuh, dia yang mencoba untuk kuat. Akhirnya pecah juga.
"Eh, ngapain lu mewek? Sono kerja! Kamu pikir kita bakal kasihan sama kamu, hah!"
"AKU SALAH APA SAMA KALIAN! SAMPAI SEGITUNYA BENCI SAMA SAYA! HAH! SEJAK SAYA MASUK DISINI KALIAN MEMPERLAKUKAN SAYA SEMENA-SEMENA. KENAPA? APAKAH SAYA TIDAK BOLEH KERJA DISINI!"
Semua di pantry terdiam. Laras yang mereka anggap pendiam ternyata bisa marah juga. Tak ada yang merespon ucapan Laras tapi mereka juga tidak beranjak ditempat. Maya yang mendengar omelan Laras langsung nimbrung.
"Ngapain kamu ngamuk-ngamuk begitu? Biar ada yang kasihan sama kamu, gitu. Hey, jangan manja disini hidupnya banyak yang lebih keras dari kamu. Mereka dulu juga sama seperti kamu, dilatih mentalnya tapi mereka nggak secengeng kamu. Bener kata orang, anak zaman sekarang mentalnya rebahan." Jawab Maya.
Maya teringat kalau dulu dia dilatih seniornya waktu jadi OB. Disuruh bersihkan kamar mandi sampai pingsan. Bahkan dia harus menginap dikantor karena pekerjaannya belum selesai. Tidak hanya dia saja, beberapa temannya juga begitu. Bagi yang tidak kuat tentu saja memilih mundur.
Maya pun saat ini menikmati hasilnya saat ini. Dia sudah menjabat sebagai kepala kebersihan.
"Lalu kamu bangga dengan sikap kamu yang seperti ini, Maya?" Suara datang dari depan pintu pantry.
"Sikap kamu itu mencerminkan pemimpin yang semena-mena. Pantas saja mereka sikapnya seperti ini, karena kamu mendidiknya dengan cara yang sama. Seandainya posisi itu ada pada anak gadismu, apa yang akan kamu lakukan? Maya .. Maya ternyata seperti ini kinerja kamu. Saya kecewa sama kamu."
Tak lama Maya menerima telepon "Bu, saya izin anak saya pingsan di wc sekolah." pamit Maya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Nofi Kahza
senioritas memang menyebalkan. dan aku pernah jd korbannya😒
2022-05-16
1
💮Aroe🌸
rada tegang juga di sini bacanya...
2022-04-27
0
Yunia Afida
semangat terus💪💪💪💪
2022-04-22
0