Malam pertama

POV Laras

Penumpang yang terhormat, pesawat sebentar lagi akan mendarat di Bandara Narita Tokyo Metropolis, Jepang. Mohon pakai sabuk pengaman anda untuk berjaga-jaga. Terimakasih.

Terdengar suara operator dalam pesawat menandakan akan sampai ke Jepang. Tampak pramugari berkeliling memeriksa sabuk pengaman pada setiap kursi penumpang.

Akhirnya kami tiba di bandara Narita, Tokyo. Rasanya seperti mimpi ketika menginjakkan kaki di negara milik Naruto. Mas Rangga menggandeng tanganku dengan erat. Mungkin dia takut aku hilang kali. Dia tersenyum menatapku, ah mengapa dia terlihat tampan sekali.

Saat masuk ke ruang bagasi tampak seorang lelaki yang katanya salah satu staf dari perusahaan milik mas Rangga. Seorang lelaki muda Jepang menyapa kami dengan menggunakan bahasa inggris. Dan sekarang kami akan berangkat ke apartemen pribadi suamiku di tokyo.

Perjalanan dari Bandara Narita ke apartemen tidak memakan waktu yang lama. Aku memandang jalanan yang dipenuhi salju. Kata Mas Rangga sekarang Jepang sedang musim dingin, dan mungkin sebentar lagi akan masuk musim semi.

Setelah kami mengantar Ina ke apartemen milik keluarga kakaknya. Kedatangan kami disambut oleh lelaki yang bernama Rio dan ibunya bernama Maudy. Mereka ramah-ramah, mungkin karena kami

sama- sama orang indonesia. Dengan komunikasi menggunakan bahasa Indonesia mereka menyambut kami dengan beberapa menu Indonesia.

Setelah selesai mengantar Ina barulah kami diantar ke apartemen milik mas Rangga. Lokasinya hanya berkelang lima gedung dari kediaman Ina.

Huft!

Entah kenapa aku merasa suamiku belum move on dari Ina. Apakah dia sengaja membeli apartemen agar bisa dekat dengan Ina? Apakah salah jika aku merasa cemburu dengan Ina?

"Sayang." aku terkejut saat mas Rangga sudah duduk disampingku.

"Iya, mas." Kenapa jantungku berdetak kencang saat mas Rangga duduk merapat.

"Kamu cantik."

Ya Allah kenapa perasaanku nggak karuan begini. Mana mas Rangga semakin merapat lagi duduknya.

"Mas, aku lapar." aku mencoba mengalihkan perhatian suamiku. Sumpah aku masih takut.

"Oke, aku masakin ya."

"Kita makan diluar aja yuk, mas."

"Oke. Kamu dandan yang cantik malam ini kita dinner."

"Nggak usah di resto mahal, mas. Di warung pinggiran aja."

Aku dan mas Rangga keluar dari apartemen. Kalian tahu ini pertamakalinya aku jalan berdua dengan seorang lelaki. Tangan mas Rangga tak pernah lepas dari genggamannya. Tampak jalanan sepi karena sekarang sudah jam tujuh malam. Langkah kami terhenti saat berdiri di depan gedung apartemen Ina. Aku yakin mas Rangga pasti mau mengecek keadaan Ina. Atau jangan-jangan dia mau ajak Ina dinner bareng. Astaga!

"Kenapa kesini?"

"Kita ajak Ina. Kasihan dia sendirian." Ujar Rangga yang berjalan memasuki lift menuju apartemen Ina.

"Mas."

Aku mencoba menahan mas Rangga untuk tidak melibatkan Ina lagi.

"Iya,sayang."

"Bukankah ini dinner berdua. Kenapa melibatkan oranglain?" protesku.

"Bukan gitu sayang? Aku kn cuma..."

"Cuma apa? Mas masih cinta sama Ina. Kalau masih cinta kenapa nikahin aku bukan sama Ina."

Bagaimana mungkin acara bulan madu tapi melibatkan perempuan lain. Aku menghargai keputusan Ina yang ikut ke Jepang untuk meneruskan kuliahnya. Tapi bukan berarti menghancurkan kehidupan orang lain.

"Ras, Tolong dengarkan aku."

"Aku adalah suami kamu. kita akan memulai sebuah kehidupan yang baru. Saling menerima satu sama lain. Kalau soal Ina, aku menerima Ina sebagai adikku bukan yang lain. Kami ini saudara sepersusuan."

"Tapi, mas. Bolehkah aku keberatan kalau kamu melibatkan Ina dalam acara kita? Aku cuma ingin berdua sama kamu, Mas. Ini bulan madu kita. Acara yang sakral bagi kita berdua."

"Maafkan aku sayang, aku nggak peka. Oke jadi kita jalan berdua saja mengelilingi kota."

Entah kenapa moodku turun setelah mas Rangga mengubah keputusannya. Harusnya aku senang kalau dia tidak jadi mengajak Ina untuk Dinner. Apa aku yang terlalu sensi? Entahlah.

Kami berjalan mengitari kota Tokyo yang diselimuti salju tebal. Udara salju yang terasa sangat dingin tak membuat keromantisan kami luntur. Mas Rangga terus menggenggam tanganku seakan takut aku hilang. Kami pun berhenti disebuat kedai kecil di sudut kota Tokyo.

Si pemilik toko melihatku dengan tatapan penuh arti.

"Apakah anda muslim?" Tanyanya.

Aku hanya mengangguk saat dia bertanya agamaku. Mungkin karena aku memakai hijab.

"Saya akan menyajikan teh hijau buat anda. Tapi maaf kalau disini tidak ada menu halal. Jadi kami akan berikan teh hijau untuk kalian."

"Oh, maaf kalau begitu kami tidak bisa berlama disini. Istri saya lapar makanya kami mencari makanan disekitar sini."

"Di sana ada restoran muslim. Silahkan anda kesana." Pemilik toko menunjukan pada kami restoran yang hanya berkelang 10 gedung dari tempat kami berdiri.

"Terimakasih, tuan. Kami minta maaf karena tidak memesan apapun disini."

"Tidak papa, tuan."

Kami berjalan menuju restoran kecil yang ditunjuk bapak kedai tadi. Kami beruntung diingatkan sama bapak tadi, kalau tidak mungkin sudah menyantap masakannya. Ada hikmahnya aku memakai hijab, karena sudah banyak cerita sejak memakai hijab. Mas Rangga tetap tak melepas tanganku dari genggamannya.

Kami memasuki resto kecil tersebut. Mas Rangga mengantarkan aku pada sebuah kursi panjang kecil. Dia memintaku menunggu sementara dia menemui si pemilik resto.Entah apa yang mereka bicarakan, kudengar mereka bicara dengan bahasa jepang. Tak lama dia duduk disampingku.

"Maaf, ya. Kamu pasti sudah lapar banget. Sambil menunggu masakannya kamu makan ini saja dulu."

Mas Rangga memberikan sebuah makan mirip nasi berbentuk segitiga. Ditengahnya ada lampisan warna hijau mirip sayuran.

"Ini apa, mas."

"Ini onogiri, lemper versi jepang. Makan aja, enak kok."

"Onogiri. Kok mirip nama daerah di jawa ya."

"Itu Wonogiri sayang." Sahut Rangga sambil mencubit hidungku.

Saat aku mencoba yang onogiri rasanya enak. Seperti berasnya beda dengan yang biasa aku makan selama diindonesia.

"Enak?"

"Enak, mas. Bener kayak makan lemper tapi nasinya beda."

"Kalau kamu suka biar aku pesan lagi buat bawa dirumah sekaligus beliin buat Ina."

"Bisakah tidak membahas soal Ina saat momen seperti ini." Sahutku. Sumpah aku capek dengar nama Ina di setiap ucapan Mas Rangga.

"Maaf, sayang."

"Aku mau pulang, mas." Aku benar-benar sudah malas makan.

"Tapi, sayang. Pesanannya gimana?"

Aku tak peduli lagi dengan makanannya. Rasa kesalku pada mas Rangga sudah diujung batas. Bisa-bisanya dia masih memikirkan Ina di momen ini. Istri mana yang tidak kesal ketika suaminya masih memikirkan mantannya.

POV author

Laras tidak memperdulikan suara Rangga memanggil namanya. Apalagi rasa kesalnya pada suaminya sudah membesar. Dimana dia berharap ada momen romantis tapi malah jadi momen menyesakkan hati. Dia terus melanjutkan jalannya tanpa tahu dimana arah pulang. Hingga dia tersadar sudah berjalan jauh dari jangkauan suaminya.

Laras menatap Jalanan yang tertutup salju.Tubuhnya semakin merasa dingin. Jaket yang menutupi tubuhnya sudah tak mempan lagi. Matanya mencari celah agar bisa menemukan jalan pulang.

"Mas, aku takut." Laras terpekur karena ketakutan.

"Sayang!" Laras mendengar suara suaminya tapi tak terlihat wujud keberadaan asal suara itu.

"Mas, kamu dimana?" ucapnya Lirih.

Laras pun terus berjalan berharap menemukan suaminya. Tubuhnya sudah lelah tak bisa menahan dinginnya udara.

"Laraaaass!" Rangga melihat istrinya hendak pingsan.

"Astaga aku lupa kalau Laras punya asma."

Rangga langsung membopong Laras kembali ke apartemen. Beruntung dia punya apartemen ditengah kota sehingga dia tidak susah mencari jalan pulang. Sampai di apartemen Rangga langsung mencari obat asma istrinya. Terdengar suara bengikan dari bibir Laras.

"Maafkan aku, Ras." Ucap Rangga melihat kondisi istrinya.

"Mas, aku yang harusnya minta maaf. Aku tadi pergi tanpa permisi sama kamu. Aku mendengar panggilanmu tadi tidak kudengarkan. Maafkan aku, mas."

"Ras, kamu istirahat ya. Aku keluar sebentar." Rangga membiarkan Laras istirahat.

"Mas, jangan tinggalkan aku sendiri disini."

Rangga duduk disamping Laras. Tak lama Rangga menselonjorkan kakinya disamping ranjang Laras. Menyandarkan kepala Laras diatas bajunya. Mereka saling bertatapan lama. Dengan perlahan Rangga mengikis jarak sambil membuka hijab di kepala Laras. Tangan Rangga menarik tubuh Laras hingga terduduk diatas paha lelaki itu.

Rangga menarik dagu Laras, menodongkan ciuman lembut dibibir istrinya. Rangga menuntun tangan Laras membuka kancing kemejanya tanpa melepaskan ciuman mereka. Ciuman yang lembut menjadi luapan perasaan Rangga bahwa dia menerima Laras sebagai istrinya.

Posisi Laras sudah berada di bawah tubuh Rangga. Rambut Laras sudah terurai tanpa penutup. Baju gamis Laras kini sudah berserakan di lantai.

"Aku mencintaimu, Larasati. Kamu tahu kalau aku mulai mencintaimu saat aku melihat kedekatanmu dengan teman lelakimu. Hatiku mulai dibakar cemburu dan aku ingin segera mengikatmu dengan hubungan yang halal."

"Kak Rangga, aku mencintaimu sejak SMP. Sejak aku mengenalmu sebagai kakaknya Ina. Sudah lama aku memendam perasaan ini tapi aku tahu hati kak Rangga hanya untuk Ina. Apalagi sainganku adalah Angel." Cerita Laras.

Tubuh Rangga dan Laras semakin rapat hingga menempel dengan sempurna. Rangga menarik tubuh Laras sehingga posisinya seperti membonceng, tangan Rangga terus mengayunkan pinggung istrinya memasukan tongkat saktinya.

"Aaaa... Mas. Pelan-pelan." Laras mulai merasakan pedih di bagian sensitifnya. Tapi dia memilih menahannya dengan mengggigit bahu Rangga. Tubuh Laras langsung terhempas diatas ranjang.

Rangga masih belum lelah, dia kembali menjamah tubuh istrinya dengan melayangkan beberapa tanda milik di leher Laras. Laras pun ikut terpancing dengan kembali melayangkan ciuman di bibir Rangga. Keduanya kembali tenggelam dalam penyatuan raga tanpa nafsu. Menyalurkan hasrat cinta mereka yang sudah halal.

Dan malam ini aku sudah menyerahkan semuanya kepadamu.

Terpopuler

Comments

Yuliana Purnomo

Yuliana Purnomo

belah duren akhir nya

2025-01-18

0

Buna_Qaya

Buna_Qaya

nyicil segini dulu kak ya

2022-10-10

0

Arthi Yuniar

Arthi Yuniar

Akhirnya belah duren 😁😁

2022-06-26

0

lihat semua
Episodes
1 Pernikahan
2 Gara Gara segugut
3 Bandara
4 Malam pertama
5 Pacaran Setelah Menikah.
6 Kilasan masa lalu
7 Kilasan masa lalu 2
8 Mulai cemburu (sebelum menikah)
9 Masih bulan madu
10 Permintaan Raya
11 Rumah ibu
12 Pulang ke rumah mama mertua
13 Dinner keluarga
14 Periksa ke dokter kandungan
15 Aku bukan cucu Oma
16 Rencana pindahan
17 Terapi kesuburan
18 Menyusul ke Jepang
19 Surat itu ...
20 Kedatangan Raya
21 Mimpi didatangi ibu
22 Masih dalam tekanan
23 Quality time
24 Tragedi
25 Kabar itu ...
26 Di rumah sakit
27 Nestapa di hari duka
28 Haruskah aku pergi?
29 Pemakaman Oma
30 Dimana suamiku?
31 Maaf, aku pergi
32 Masih koma
33 Positif
34 Tamu dari jauh
35 Bangun dari Koma
36 Bangun dari Koma 2
37 Bagas Barata Yudha
38 Hasutan
39 Di sita
40 Masih menumpang
41 Tawaran pindah .
42 Menata hidup baru
43 Pulang ke Indonesia
44 Merasa dekat
45 Cerita Bagas
46 Ziarah
47 Jalan-jalan
48 Wejangan dari calon besan
49 Donatur Taman kanak-kanak
50 Suara itu... suamiku
51 Aku Mencintainya..
52 Menjemput Bagas
53 Masa lalu Raya
54 Masa lalu Raya 2
55 Sebuah pertemuan
56 Aku tidak seperti itu
57 Masih di rumah sakit
58 Guncangan hati Bagas
59 Rencana Mila
60 Tetaplah disisiku
61 Bukan update
62 Maafkan aku, Ras.
63 Cerita di dalam taksi
64 Kisah di sekolah
65 Pertemuan di kontrakan
66 Jemput bersama
67 Kunjungan ke rumah Ina
68 Kunjungan ke rumah Ina 2
69 Pesta penyambutan Laras
70 Di pesta itu ...
71 Masih di pesta
72 Kebahagiaan Bagas
73 Jebakan Mila
74 Makan siang bersama
75 Kejujuran Laras
76 Belum percaya
77 Rencana Rangga
78 Berserah kepada-Mu
79 Berserah kepada-Mu (Versi Rangga)
80 Dampak viral
81 Sidang Mila
82 Di ruang ICU
83 Maafkan aku
84 Penyusup perusahaan
85 Pagi ini ...
86 Resign
87 Pamit
88 Mencoba kabur
89 Kejar-kejaran
90 Pemikiran Laras
91 Tidak punya malu
92 Kalah telak
93 Surgaku padamu
94 Cerita Di Rumah Sakit
95 Arti seorang ayah
96 Bertemu mereka
97 Camp rumah pohon
98 Masih di rumah pohon
99 Senandung hati
100 Di kantor polisi
101 Suka dan duka
102 Apesnya Mila
103 Calon settingan
104 Permintaan maaf Raya
105 Musibah
106 Bagas mau adik, bunda.
107 Teror untuk Mila
108 Irama cinta
109 Poor Mila
110 Hiduplah dengan bahagia
111 Siuman
112 Dinner
113 Promo semesta merestui kami
114 Di ruang sidang
115 Penahanan Mila
116 Masih di persidangan
117 Ini salah saya
118 Penahanan Rangga
119 Kapan terakhir kamu bahagia
120 Saya akan mencintai Larasati
121 Melepas rindu
122 Putusan sidang
123 Izinkan saya jadi menantu ibu
124 Kita akan selalu bahagia
125 Menelan ludah sendiri
126 Bagas mau khitan, Ayah
127 Acara sunatan Bagas
128 Jalan ke monas
129 Ziarah
130 Cerita di sekolah
131 Cerita di sekolah 2
132 Will you marry me
133 Berkumpul
134 Akhir yang bahagia (Final part)
135 PROMO NOVEL LORONG WAKTU TENTARA
136 PROMO PEMILIK KEHORMATAN
137 BINGKAI CINTA UNTUK SARMILA
138 AFTER ONE NIGHT IN LONDON
139 Novel baru: FAJAR UNTUK EMBUN
140 Radar cinta Andara
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Pernikahan
2
Gara Gara segugut
3
Bandara
4
Malam pertama
5
Pacaran Setelah Menikah.
6
Kilasan masa lalu
7
Kilasan masa lalu 2
8
Mulai cemburu (sebelum menikah)
9
Masih bulan madu
10
Permintaan Raya
11
Rumah ibu
12
Pulang ke rumah mama mertua
13
Dinner keluarga
14
Periksa ke dokter kandungan
15
Aku bukan cucu Oma
16
Rencana pindahan
17
Terapi kesuburan
18
Menyusul ke Jepang
19
Surat itu ...
20
Kedatangan Raya
21
Mimpi didatangi ibu
22
Masih dalam tekanan
23
Quality time
24
Tragedi
25
Kabar itu ...
26
Di rumah sakit
27
Nestapa di hari duka
28
Haruskah aku pergi?
29
Pemakaman Oma
30
Dimana suamiku?
31
Maaf, aku pergi
32
Masih koma
33
Positif
34
Tamu dari jauh
35
Bangun dari Koma
36
Bangun dari Koma 2
37
Bagas Barata Yudha
38
Hasutan
39
Di sita
40
Masih menumpang
41
Tawaran pindah .
42
Menata hidup baru
43
Pulang ke Indonesia
44
Merasa dekat
45
Cerita Bagas
46
Ziarah
47
Jalan-jalan
48
Wejangan dari calon besan
49
Donatur Taman kanak-kanak
50
Suara itu... suamiku
51
Aku Mencintainya..
52
Menjemput Bagas
53
Masa lalu Raya
54
Masa lalu Raya 2
55
Sebuah pertemuan
56
Aku tidak seperti itu
57
Masih di rumah sakit
58
Guncangan hati Bagas
59
Rencana Mila
60
Tetaplah disisiku
61
Bukan update
62
Maafkan aku, Ras.
63
Cerita di dalam taksi
64
Kisah di sekolah
65
Pertemuan di kontrakan
66
Jemput bersama
67
Kunjungan ke rumah Ina
68
Kunjungan ke rumah Ina 2
69
Pesta penyambutan Laras
70
Di pesta itu ...
71
Masih di pesta
72
Kebahagiaan Bagas
73
Jebakan Mila
74
Makan siang bersama
75
Kejujuran Laras
76
Belum percaya
77
Rencana Rangga
78
Berserah kepada-Mu
79
Berserah kepada-Mu (Versi Rangga)
80
Dampak viral
81
Sidang Mila
82
Di ruang ICU
83
Maafkan aku
84
Penyusup perusahaan
85
Pagi ini ...
86
Resign
87
Pamit
88
Mencoba kabur
89
Kejar-kejaran
90
Pemikiran Laras
91
Tidak punya malu
92
Kalah telak
93
Surgaku padamu
94
Cerita Di Rumah Sakit
95
Arti seorang ayah
96
Bertemu mereka
97
Camp rumah pohon
98
Masih di rumah pohon
99
Senandung hati
100
Di kantor polisi
101
Suka dan duka
102
Apesnya Mila
103
Calon settingan
104
Permintaan maaf Raya
105
Musibah
106
Bagas mau adik, bunda.
107
Teror untuk Mila
108
Irama cinta
109
Poor Mila
110
Hiduplah dengan bahagia
111
Siuman
112
Dinner
113
Promo semesta merestui kami
114
Di ruang sidang
115
Penahanan Mila
116
Masih di persidangan
117
Ini salah saya
118
Penahanan Rangga
119
Kapan terakhir kamu bahagia
120
Saya akan mencintai Larasati
121
Melepas rindu
122
Putusan sidang
123
Izinkan saya jadi menantu ibu
124
Kita akan selalu bahagia
125
Menelan ludah sendiri
126
Bagas mau khitan, Ayah
127
Acara sunatan Bagas
128
Jalan ke monas
129
Ziarah
130
Cerita di sekolah
131
Cerita di sekolah 2
132
Will you marry me
133
Berkumpul
134
Akhir yang bahagia (Final part)
135
PROMO NOVEL LORONG WAKTU TENTARA
136
PROMO PEMILIK KEHORMATAN
137
BINGKAI CINTA UNTUK SARMILA
138
AFTER ONE NIGHT IN LONDON
139
Novel baru: FAJAR UNTUK EMBUN
140
Radar cinta Andara

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!