"Gimana? Masih segugut?" Laras mengangguk. Tubuhnya merasa lemas di hari pertama haid.
"Maaf, Ya, mas." Laras merasa tidak enak.
"Nggak, papa, sayang. Kan sudah sah, kapanpun kita bisa kok." Jawab Rangga mencoba berbesar hati.
Kemarin malam, Laras dan Rangga mencoba menunaikan kewajiban pertama sebagai sepasang suami istri. Namun, tiba-tiba Laras mengeluh nyeri di perutnya. Rangga mengira hanya alasan Laras yang belum siap dijamah. Tapi ternyata dugaannya salah. Laras pingsan setelah mencoba melawan rasa sakitnya.
Akhirnya Laras di bawa ke puskesmas yang letaknya jauh dari cottage. Dari keterangan dokter baru diketahui kalau Laras sedang menstruasi. Rangga yang tidak terlalu paham dengan penjelasan dokter hanya diam.
"Kalau perempuan sedang menstruasi apa bisa berhubungan." Tanya Rangga yang membuat Dokter cantik itu tak bisa menahan tawa.
"Sudah berapa lama kalian menikah?"
"Baru kemarin dok." jelas Rangga.
"Oh, begitu. Kalau saran saya, ya..anda harus bisa menahan diri sekitar satu minggu."
"Whaaat lama sekali." Kaget Rangga.
"Harus bersabar."
Dokter pun pergi meninggalkan Rangga.
Sekarang mereka masih berada di Anyer. Menikmati liburan setelah resepsi. Entah ini bisa dibilang bulan madu atau bukan. Pasalnya, Sejak haid pertama Laras tak bisa beraktivitas.
Rangga muncul membawa beberapa makanan. Tadi dia searching di internet tentang makanan untuk mengurangi nyeri haid istrinya.
Laras menatap Rangga yang menyuapinya. Ada rasa tidak enak karena di layani suaminya, dia merasa harusnya dirinya yang membaktikan pada suaminya.
"Maaf, ya, mas." ucap Laras merasa tidak enak.
"Soal?"
"Ya, soal tadi. Seharusnya sebagai istri aku yang melayanimu. Bukan mas yang melayaniku."
Rangga tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dia tidak mempermasalahkan hal itu. Toh, mereka sudah sah, jadi mereka bisa melakukannya kapan saja.
"Nggak papa. Oh, ya tadi malam aku sudah bebasin Alam. Yah, ternyata tante Yulia rumit juga pemikirannya. Ina kan kabur sendiri, kok malah Alam yang dituduh bawa Ina lari." Cerita Rangga tentang urusannya semalam.
"Mas" Laras mencoba merubah posisi duduknya.
"Iya, sayang."
Blush
Wajah Laras memerah ketika memanggi dirinya dengan sebutan sayang.
"Kita pulang, yuk." Entah kenapa rasanya dia ingin pulang ke rumah.
"Jangan sekarang, Ras. Kamu istirahat dulu, liat muka kamu pucat."
"Aku mau ketemu Ina, mas. Dia pasti lagi down banget akibat ulah kakaknya. Kasihan Ina, mas sejak dulu nggak pernah bahagia hidupnya. Punya mama casanova, tunangannya casanova juga, dan sekarang disaat ada yang benar-benar mencintainya ada saja penghalang."
Tapi aku yang benar-benar pernah mencintainya. Batin Rangga.
Rangga duduk di depan flamboyan cottage. Lokasi yang langsung menghadap pantai membuatnya terbuai lepas. Tangannya memencet layar gawainya karena getarannya terasa kencang. Ada seuntai senyuman ketika mendengar pembicaraan lewat udara tersebut.
"Wah, om nekat banget sih. Tapi aku setuju sama Om. Mereka harus dipersatukan, kasihan Ina menderita terus. Masa tante Yulia nggak terbuka pikirannya setelah pengorbanan Alam waktu di Jepang kemarin"
"Oke, oke, Om Dul terimakasih infonya." Rangga langsung menutup sambungan teleponnya.
Rangga memasuki cottage melihat istrinya sudah bangkit dan sedang membereskan barang. Tangan Rangga melingkar di pinggang Laras. Membelai pucuk rambut istrinya dengan lembut.
"Ras, tadi om Dul menelepon. Katanya besok Ina mau ditunangkan dengan Gilang, Tapi om Dul punya rencana beda. Katanya Ina akan ditunangkan dengan Alam secara sembunyi-sembunyi."
Laras tersenyum mendengar kabar tersebut.
"Nekat ya, mas. Aku nggak bisa ngebayangin reaksi tante Yulia. Kayaknya tante Yulia itu sangat keras orangnya. Aku saja pernah dimarahi sama dia karena membujuk Ina agar tidak pergi ke Jepang."
Keesokan harinya.
Cinta memang tak pernah disangka kehadirannya. Tak pernah disengajakan akan jatuh pada hati siapa. Mengalir begitu saja, tetapi saat kita merasakan jatuh cinta, sadarkah kita bahwa itu adalah salah satu kebesaran Allah SWT? Bersyukurkah kita pada-Nya atas keindahan cinta yang Allah selipkan pada hati kita? Sudahkah cinta membuat kita semakin dekat pada-Nya? Sudahkah kita memaknai dan menempatkan cinta dengan sebenar-benarnya?
Itu yang kini dirasakan Laras dan Rangga. Dua anak manusia yang ikatkan tali pernikahan, tanpa pacaran, tanpa saling mendalami karakter masing-masing. Laras dan Rangga mencoba menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya. Masih mencoba belajar tanpa harus saling melukai.
Jika ada yang bilang, ah mereka masih penganten baru, masih hangat-hangatnya. Nanti juga beberapa tahun kemudian pasti ada berantemnya. Mungkin iya karena efek pengantin baru. Namun, Laras yakin kalau Rangga bukan tipe lelaki kasar pada wanitanya. Hal itu bisa dia lihat bagaimana saat dulu Rangga memperlakukan Ina dengan baik, menganggap orang terdekat Ina adalah keluarga. Dari situ Laras mulai mengagumi sosok Rangga. Sikap Rangga mengingatkannya pada Fajar, kakaknya yang telah tiada. Laras ingat saat sang kakak gajian, selalu mengajak dua bestie nya Adul dan Eva. Padahal gajinya nggak seberapa, tapi Fajar selalu bilang "Berbagi itu wajib apapun keadaannya". Laras, Adul dan Eva saat itu tahunya senang saja. Tapi sekarang saat Laras tahu bahwa gaji kakaknya hanya 40 ribu sebulan. Ada rasa sedih menerpa. Karena hanya demi menyenangkan dirinya sang kakak rela menggadaikan gajinya.
"Aku rindu ibu, bapak dan kak Fajar." Batinnya sembari menyeka air mata.
Laras berjalan keluar aula acara.Hiruk pikuk suasana acara membuatnya pusing. Paling tidak dengan menghirup udara luar bisa memberinya sedikit ketenangan. Untung saja dia sudah memakai hijab, jadi tidak perlu takut rambutnya tersibak angin.
"Kamu disini?" Laras menoleh sosok yang menghampirinya.
"Bulan madu, ya? masa menantu orang kaya bulan madunya di Ancol." sahut sosok itu.
Laras hanya melemparkan senyuman kecil. Tak lama tangannya mencubit kumis lelaki itu dengan gemes.
Pekikan dari suara bariton itu membuat wanita 19 tahun tertawa lepas.
"Nggak dulu nggak sekarang suka bener mainin kumis orang."
"Iya kumis tukul." Sahut Laras.
Lelaki itu adalah Adul, Sahabat kecilnya Laras. Lelaki yang seusia Laras tersebut, muncul di hadapan wanita. Seragam putih hitamnya plus dengan pentungan wajibnya, membuat Adul sedikit menawan. Sedikit? karena kalau dia bilang sangat menawan akan ada yang tidak suka dengan pujiannya.
"Kamu kerja disini?"
Adul mengangguk "Aku keren kan kayak gini? mirip nggak sama yang film baywatch."
"Hahahaaha.. Baywatch itu cuma pake kolor bukan seragam lengkap kayak gini."
"Ras."
"Iya, dul."
"Kamu cantik pake hijab. Aku harap kamu istiqomah, ya. Jangan kayak Neng nindy, lepas hijab pas kerja dikota."
"Terimakasih."
Nindy adalah salah satu tetangga mereka yang melepas hijab karena kerja di perkotaan. Hanya saja setiap pulang ke rumah Nindy kembali menggunakan hijab.
"Insyaallah, Dul. Aku kedalam dulu, ya. Takutnya mas Rangga nyari." Pamit Laras.
Dul memandang Laras dari kejauhan.
"Andai saja aku sekolah sampai tamat bisa kuliah kayak kamu, Ras. Mungkin aku bisa mengkhitbahmu, tapi sekarang aku hanya bisa mendoakanmu agar bahagia dengan pilihanmu." Ucap Dul pelan.
"Sayang, kamu kemana saja." Panggil Rangga saat melihat istrinya yang dicari sejak tadi.
"Aku cari angin, mas. Sumpek didalam."
"Oh, kenapa nggak ngajak aku.Biar cari angin berdua."
"Ya, mas Rangga tadi asyik benar berbaur sama mereka. Aku minder, mas."
"Kenapa kamu minder? Kamu kan anak pengusaha juga?"
"Kalau hasil tes DNA menyatakan aku bukan anak om Donal? Apa mereka masih bersikap baik sama aku?"
"Kalau hasil tesnya negatif. Itu tanda kamu bukan adik tiriku, dan tetap menjadi nyonya Rangga Barata Yudha. Pokoknya kamu tenang saja, sayang. Apapun hasilnya kamu dan aku tetap suami istri.
Aku akan berusaha menjadi suami yang baik buat kamu. Ya, walaupun bukan dari pacaran. Lagian kamu bukannya belum pernah pacaran, ya?"
"Pasti Ina kan yang bilang. Ih, ember bener tuh anak, aku kan jadi malu."
"Malu kok sama suami sendiri. By the way, kamu masih lama haidnya?"
Aduh kok dia nanya gitu,ya? Apa dia masih menagih malam pertama kami. Ya Allah aku takut.
"Apakah acaranya masih lama?"
"Kenapa, Sayang?"
"Pulang, yuk. Mama Raya dan Oma Gladys pasti sudah menunggu kita."
"Nggak kok, aku sudah pesankan empat kamar. Kasihan Ina baru saja diusir kakaknya. Pasti dia masih bingung mau pulang kemana?"
"Mas".
"Iya, sayang."
"Kamu masih perhatian sama Ina. Apakah kamu masih cinta sama dia?Apakah..." .
Laras melototi Rangga yang mencuri ciuman pertama. Rangga menuntun tangan Laras mengalung dilehernya. Entah kenapa dia tidak bisa berontak dan terkesan menikmati bibir suaminya.
"Maaaas"
"Enak kan sayang, mana halal pula."
"Iiih, kita lagi ditempat umum, mas." Wajah Laras memerah layaknya buah tomat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 140 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
heem KOG bisa secepat itu Rangga balik haluan dr Ina ke Laras??
2025-01-18
0
Buna_Qaya
senyum-senyum sendiri bacanya
2022-10-10
0
Buna_Qaya
bahasa mu bikin sesak dadaku dul
2022-10-10
0