...Bab 08. Warisan ayah bagian Kedua...
Orang bijak mengatakan bahwa harta yang berharga adalah keluarga dan seberapapun kerasnya orang tua pasti ada alasan nya untuk mendidik seorang anak agar lebih baik dan sudah dipastikan selalu menyayangi anak-anaknya bahkan tidak hanya manusia, hewan atau pun hantu memiliki prinsip yang sama.
Saat ini Erick bersama Pak Yadi pergi ke rumah keluarga nya yang berada di perkampungan kecil sisi kota Metropolis Jakarta.
Erick ke sana dengan mengunakan mobil sedan yang dipinjam kan oleh Doni. Meski Erick tidak memiliki mobil namun, dia pernah bekerja sebagai supir online dan memiliki SIM A. Hal itu dikarenakan, Erick belum memikirkan kebutuhan dirinya sendiri. Dia lebih mementingkan tugasnya untuk menyempurnakan Pak Yadi agar bisa ke Nirwana
Erick pun tiba di perkampungan yang masih cukup asri dengan berbagai pulau disana atau lebih dikenal dengan kepulauan seribu.
Setibanya disana, Erick pun memarkir mobil nya ditempat yang cukup aman. Lalu, masuk ke perkampungan itu seraya bertanya pria yang bernama Ari kepada para pedagang dan warga setempat dan Ari adalah putra dari Pak Yadi.
Dan, warga mengarah ke sebuah rumah yang memiliki ladang perkebunan yang cukup besar dan disana, Erick melihat seorang pria yang usia nya tidak jauh dari nya.
"Mas Erick, dia Ari. Putraku!" ucap Pak Yadi yang tersenyum melihat ke pria tersebut.
"Begitu, baiklah. Ayo kita hampiri dia!"
Setelah itu Erick pun menghampiri pria yang bernama Ari yang mana dia sedang mencangkul ladang perkebunan nya. Saat sudah dekat, Erick pun menyapanya.
"Hei, permisi! apa kamu Ari?"
Mendengar sapaan Erick, Pria itu menghentikan aktifitasnya dan melihat kearah Erick.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ari.
Saat Ari menjawab nya, Pak Yadi pun sontak bergumam dengan menitihkan air mata nya, "Ari, sekarang kamu sudah besar."
Erick yang mendengar itu, dia pun hanya memberikan senyuman. Lalu, mengembalikan pandangan kearah Ari dan menjawab nya.
"Perkenalkan, Aku Erick Santoso. Pemilik dari Millenium Tower, tempat ayahmu bekerja, pak Yadi," ucap Erick seraya memberikan tangan nya.
Mendengar itu, Ari mengerutkan keningnya dan menatap Erick dengan tajam. "Saya Ari. Putra sulung nya. Ada apa? Mungkinkah, ayah telah meninggal hutang kepada bapak!" ucap ketus Ari.
Erick tersenyum kecil. "Bukan seperti itu, justru ada sesuatu yang harus kuberikan kepadamu dan itu berasal dari ayahmu."
Saat mendengar penjelasan Erick, ekspresi Ari lebih tenang. "Maafkan saya, pak Erick. Mari silahkan kita mengobrol didalam!"
Erick pun mengangguk kepalanya, "Iya."
Sesudah itu, Ari mengajak Erick ke rumah nya. Sebuah rumah tua yang lebar dan didekat rumah terdapat kandang ayam yang mana Luna juga melihat banyak ayam yang berkeliaran serta sapi dan kambing.
Setibanya disana, Luna pun disungguhi teh hangat oleh Ari. "Maaf, ini hanya sekedar nya."
"Terimakasih."
Lalu, Ari memulai pembicaraan.
"Sebenarnya, apa yang ayah ingin berikan? Maaf, apakah bapak tahu bahwa Ayah hanya mewariskan hutang kepada kami! Dan, kami harus mati-matian membayar nya ..."
Ari pun terus mengocek tentang keburukan ayahnya namun, Pak Yadi hanya menangis mendengar nya.
Ditengah pembicaraan itu, tiba-tiba ada yang menggedor-gedor pintu dengan keras.
"Ari, Gua tahu lu didalam. Cepat keluar!" seru seorang pria dari balik pintu.
Mendengar itu, Ari sontak mengerutkan keningnya dan mengepal tangan lalu, dia meminta izin kepada Erick.
"Pak Erick, tunggu sebentar!"
Erick pun mengangguk kepalanya dan mempersilahkan nya.
Lalu, Ari pun membuka pintu dan terlihat lah beberapa preman pria besar dengan mengenakan jaket kulit berada dibalik pintu dan dia sedang menagih hutang.
"Buka juga lu akhirnya, Njing! Sekarang cepat bayar!" ucap kesal salah satu preman.
"Berikan saya waktu, saya akan mencicilnya!" ucap Ari yang mencoba meyakinkan para preman rentenir.
"Kita sudah kasih waktu 3 Minggu tapi Lu gak kunjung bayar!" jawab preman.
"Maafkan saya, perkebunan ku sedang gagal panen. Saya mohon berikan waktu.." pinta Ari.
Preman rentenir pun kesal dengan ucapan Ari. "Banyak Bcot!" setelah mengatakan itu preman pun melesat kan pukulan kencang hingga membuat Ari terjatuh. Lalu, preman rekening memberikan perintah kepada preman yang lain. "Apa yang kalian lakukan? Cepat jarah dan cari barang yang berharga!"
"Baik!" seru serempak para preman.
Setelah itu mereka pun masuk kedalam namun, setibanya didalam tiba-tiba rumah bergetar seperti ada nya gempa selain itu, beberapa benda yang ada didalam rumah terlempar dan mengenai para preman sehingga langkah para preman berhenti dengan kedua tangan menutupi wajahnya agar lemparan benda tidak mengenai mereka.
Erick yang awalnya gempa biasa menjadi berubah pikiran melihat benda yang terlempar secara tidak wajar tersebut. Lalu, dia pun menoleh kesamping dan terkejut melihat sosok pak Yadi yang berubah menjadi sosok yang menyeramkan dengan wajah yang gosok, mata merah dan tubuhnya berubah menjadi membusuk lantaran marah terhadap para preman.
Melihat situasi yang mungkin pak Yadi bisa membunuh para preman dan membuat jiwa nya dimusnahkan oleh malaikat maut. Erick pun mengambil tindakan untuk menenangkan nya.
"Pak Yadi, tenanglah dirimu!" seru Erick seraya melihat kearah samping nya.
Ari yang masih berada di lantai mendengar seruan Erick itu dan membuatnya melihat kearah Erick dengan mengerutkan keningnya lantaran Erick menyebutkan nama ayahnya disampingnya sedang kan, dia tidak melihat seorang pun disana. Namun, melihat kejadian yang tidak wajar. Ari percaya bahwa kejadian itu berasal dari pertolongan ayahnya.
"Pak Yadi, tenang lah dirimu! Serahkan semua masalah ini kepadaku! Jika, anda seperti ini. Aku akan enggan menolong kedua putramu!"
Ari yang mendengar itu, dia pun mencoba meyakinkan Ayah nya meski dia tidak bisa melihat ayahnya.
"Ayah, Hentikan! Ini bukan urusan ayah lagi!"
Erick yang mendengar itu, dia sontak menoleh kearah Ari dan getaran rumah serta pelemparan benda pun terhenti.
Para preman yang ketakutan, dia mengembalikan posisi badannya dan merapihkan sikapnya. Ari pun menghela nafas panjang dan mengumpulkan tenaga nya untuk berdiri.
Sedangkan, Erick juga beranjak dari kursinya. "Pak Yadi, serahkan kepada ku!"
"Ya," jawab Pak Yadi yang berlahan tubuhnya kembali seperti manusia kembali.
Lalu, Erick pun menghampiri para preman rekening.
"Selamat siang semuanya! Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?"
Saat Erick mengatakan itu, beberapa preman ketakutan dengan Erick namun, pemimpin mereka memberanikan diri untuk menjawab nya meski terbata-bata.
"Keluarga mereka telah berhutang 50 juta rupiah kepada kantor kami. Saya hanya menjalankan tugas saja dan maaf, Anda siapa?"
Erick yang mendengar itu, dia pun menghela nafas panjang. "Jadi begitu. Apakah memang harus memakai kekerasan?"
Para preman pun menunduk kepalanya kepada Erick. Mereka takut lantaran dalam pemikiran nya penyebab pelemparan benda berasal dari ilmu hitam Erick.
"Kami juga terpaksa," jawab para preman.
"Dasar, kalian! Baiklah, ke rekening mana. Aku harus membayar nya?"
Para preman rentenir saling bertukar pandang. Lalu, salah satu dari mereka memberikan kartu nama yang berisikan data profile nya dan nomor rekening untuk peminjam.
"Ini, Pak!"
Erick pun menerima kartu itu. Lalu, dia mengambil ponsel nya dan membuka aplikasi Mobile Banking. Setelah itu, Erick mentransfer kan 50 juta ke rekening yang dituju.
"Oke, aku sudah transfer."
Sesaat kemudian, pemimpin preman menerima pemberitahuan dari ponsel nya yang mana dana 50 juta masuk ke rekening yang dituju.
"Iya, kami sudah menerima nya. Terimakasih, pak atas pembayaran nya."
Selain itu, Erick memberikan setumpuk uang kepada nya dengan jumlah satu juta kepada salah satu preman.
"Dan, ini untuk bonus kalian. Ingat! Jangan lagi mengusik keluarga pak Yadi. Kalian mengerti!"
"Baik, pak. Terimakasih atas bonusnya."
Setelah itu, para preman pun pergi dengan mengangguk kepalanya dan tersenyum kepada Ari dan Ari yang masih bingung, dia juga tersenyum dan membalas nya juga dengan anggukan kepala nya.
Dan, preman itu pun pergi.
Setelah itu, Erick melihat kearah Ari dengan senyuman.
"Ari, mari kita lanjutkan pembicaraan kita!"
"A ... iya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Adjie Kasep
Luna siapa?
2022-09-12
1
John Singgih
lunasi hutang ke preman
2022-07-13
1
Mochamad Syafii
memang tak salah pilih
2022-04-25
2