Hampir dua jam perjalan, kali ini Derry dan SORAYA sudah memasuki kawasan perusahaan milik Derry tersebut. Tio yang sejak tadi mengkhawatirkan Soraya sudah berkali-kali menelpon Soraya, namun tidak ada jawaban sama sekali.
Tio memang sudah tahu, Soraya pergi bersama sang ceo untuk menemui Tuan Osman. Namun Tio takutkan, Soraya akan dibuat macam-macam oleh sang ceo.
Tio menganggap Soraya di benci oleh Derry, makanya dia sangat begitu khawatir kepada Soraya saat itu. Sedangkan Tio tidak tahu, jika Soraya telah pun menjadi tanggung jawab dari seorang Derry Sanjaya yaitu sepupunya itu.
Begitu sampai Soraya dan Derry di lantai bawah, ternyata Tio juga sudah duduk dan menunggu. Wajah Tio benar-benar khawatir terhadap Soraya saat itu.
"Raya.. kamu tidak apa-apa??" tanya Tio langsung menyapa, tanpa memperdulikan Derry di sebelahnya.
"Hei Tio, kau berpikir apa tentangku??" tanya Derry kesal melihat Tio seperti itu.
"Pak Tio, aku tidak apa-apa," ucap Soraya langsung.
Soraya sengaja berkata langsung dan menyela ucapan mereka, Soraya tidak ingin Derry menjadi amarahnya kembali dan mengungkapkan hubungan sebenarnya kepada Tio.
Soraya belum sanggup menerima kenyataan saat ini. Dia masih ingin bekerja dan mengumpulkan uang untuk keluarganya yang berada di kampung.
Hampir dua minggu belakangan ini, Soraya sudah jarang menghubungi keluarganya tersebut. Karena kesibukannya dan rasa hatinya yang sedang sedih dia tidak ingin ibunya mengetahui hal tersebut.
"Aku pamit kembali ke ruanganku dulu," ucap Soraya segera beranjak dan meninggalkan kedua lelaki tersebut.
Derry membiarkan Soraya pergi mendahulinya. Saat ini Derry tahu tahu suasana hati istrinya tersebut. Namun, Derry juga sedang merasakan suasana yang kacau saat ini juga.
Kali ini Derry juga diam setelah SORAYA meninggalkan mereka berdua. Tio tampak ingin mengejar Soraya saat itu ke ruangannya, namun dengan cepat Derry memanggil Tio dan memerintahkan Tio tersebut.
"Tio!! segera ke ruanganku!!" ucap Derry dan meninggalkan lantai bawah itu.
TIO pun merasa kesal, karena Tio menyuruhnya untuk ke ruangannya kembali saat itu. Derry juga tersenyum sinis saat ini kepada Tio yang terlihat kesal tersebut.
Minggu depan sudah dijadwalkan untuk Tio dan SORAYA akan ke luar kota untuk urusan kerja. Mereka akan bertemu klaen lama yang membuat pabrik tepung di tanah mereka tersebut.
Ini perintah langsung dari papanya Derry tersebut. Jika sudah papa Derry yang memerintahkan maka Derry sendiri tidak bisa mengubahnya.
Entah itu sengaja pahanya lakukan, agar Tio semakin dekat dengan Soraya atau itu memang tugas mereka berdua, pikir Derry.
Namun Derry yang baru saja menyuruh Tio ke ruangannya segera mengatakan hal yang tampak terlihat penting. Sebelum itu Tio menuju kamar mandi terlebih dahulu.
Menunggu Soraya datang dari tadi membuat wajah nya tampak kusut karena khawatir yang cukup berlebihan kepada Soraya.
Jika di turutkan Tio bukan siapa-siapa Soraya. Bahkan mereka tidak pernah pacaran sama sekali. Bukan Tio tidak ingin, namun Soraya yang tampak sulit di dapatkannya.
Tio pun masuk ke dalam ruangan Derry tersebut. Dia tersenyum kecut kepada sepupunya itu. Hubungan mereka tidak pernah buruk selama ini, hingga lah baru hari ini terlihat Tio kesal kepada Derry.
Tio selalu mengalah dengan Derry, karena Tio sangat tahu diri siapa dia sebenarnya. Dia hanyalah cucu angkat dari keluarga Derry tersebut jabatan yang diberikan itu sudah lah sangat disyukuri Tio sebagai saudara bukan sekandung.
"Duduklah!!" ucap Derry.
Tio pun mengikuti apa yang dikatakan Derry tersebut. Lalu dia masih tersenyum sinis ke arah Derry, padahal mereka tidak ada masalah.
"Ada apa Der kau memanggilku?? tanya Tio.
"Ada yang ingin ku katakan padamu!!" ucap Derry.
Tampak wajah serius kali ini Derry maupun Tio. TIO terkejut melihat wajah Derry yang memerah itu, tampaknya memang hal serius yang akan dikatakan Derry sebentar lagi.
"Mengenai apa??" tanya Tio kembali.
"Soraya!!" ucap Derry singkat.
"Soraya?? kenapa dia??" tanya Tio dan sedikit mengeraskan suaranya.
"Dia hakku!!" ucap Derry.
"Maksudmu??" tanya Tio bingung dan penasaran.
"Jangan banyak bertanya, Soraya adalah hakku, jadi jika minggu depan kalian pergi, jangan ganggu dia!!" ucap Derry.
"Hak bagaimana maksudmu??" tanya Tio kembali.
"Sudah lah, aku hanya ingin mengatakan itu saja, sekarang kau keluarlah," jawab Derry.
Karena Derry seorang ceo, bagi Tio dia harus mengikuti apapun yang dikatakan oleh Derry tersebut. Wajah Tio terlihat penuh tanda tanya besar saat ini.
Derry mengatakan SORAYA adalah haknya. Hak apa yang dimaksudkan Derry tersebut, pikir Robin. Tio pun bingung, kali ini dia mencoba ingin ke ruangan Soraya saat ini.
Namun, apa pantas dia menanyakan hal pribadi tersebut. Tapi, sebuah tanya itu tidak di pungkirinya lagi, begitu besar tanya di kepala dan hatinya saat ini. Jika ingin diterjemahkan, wajah Derry tidak terlihat sedang bercanda.
Namun, ucapan itu tampak seolah bercanda, pikir Robin. Soraya pula saat ini, sedang membaringkan setengah tubuhnya di kursi kerjanya tersebut. Mengingat semua itu, dia begitu lelah.
Hari ini Derry di luar jangkauannya, Derry tiba-tiba saja mengakuinya sebagai istri di depan Tuan Osman. Hal itu membuat Soraya masih takut dan trauma. Jika benar nanti ada yang mengetahui dari pihak keluarga Derry pasti hidup Soraya akan hancur, pikirnya jauh saat ini.
Pintu ruangannya memang tidak terkunci saat ini, memudahkan Tio masuk dan mengejutkan Soraya dari lamunan panjangnya saat ini.
"Ray.. kenapa melamun??" tanya Tio yang sudah menutup pintunya ketika dia baru masuk.
"TIO?? ada apa??" tanya Soraya sambil membetulkan posisi duduknya.
"Apa kau kelelahan Raya??" tanya Tio.
"Sedikit," ucap Soraya tersenyum sedikit.
"Raya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu," ucap Tio akhirnya membuka pemasarannya.
"Tanya apa??" ucap Soraya saat ini.
"Raya.." terhenti suara Tio.
Telepon di ruangan Soraya berbunyi dengan tiba-tiba. Soraya pun mengangkatnya dengan segera, ternyata telpon dari sekretaris Dava untuk menyuruhnya keruangan pak Ceo sekarang.
"Siapa?? tanya Tio.
"Erni, menyuruhku keruangan pak Ceo," ucap Soraya.
"Oh.. yasudah, pergilah sekarang," ucap Tio.
"Lain kali kita cerita lagi ya," ucap Soraya meninggalkan Tio di ruangannya sendiri.
Baru saja dia ingin bertanya kepada Soraya tentang ucapan Derry barusan kepada dirinya. Namun lagi-lagi Derry menyuruh Soraya untuk ke ruangannya tersebut.
Tii tampak kesal dengan dirinya sendiri yang sulit untuk berterus terang tentang perasaannya kepada Soraya. Tio takut jika Soraya menolaknya dan tidak ingin berteman dengan dirinya lagi.
Jadi, bertahun-tahun perasaan itu dipendam sendiri, dan hanya menunggu takdir menyatukan dirinya dan SORAYA. Namun itu tidak mungkin saja terjadi, Soraya yang sudah bergelar istri itu tidak mungkin dengan Tio.
Walaupun nanti Derry menceraikan dirinya,
Tio tidak layak mendapatkan dirinya lagi, karena Soraya sudah menganggap dirinya begitu tidak pantas untuk seorang lelaki seperti Tio tersebut. Biarlah Tio mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darinya lagi, pikir Soraya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
Sulastri Herlina
kenapa harus di ulang2 ka paragraf yg di atas nya,,
2024-08-18
0
Lina aja
kasian juga y sama Tio....
2023-05-29
0