Soraya digosipkan bercinta dengan om-om kaya raya. Namun para penggosip masih belum menemukan bukti tentang itu.
Omongan orang sudah biasa dia dengar, baginya biarlah, selagi manusia mempunyai mulut dan mata, manusia itu akan tetap bercerita dengan apa yang mereka lihat, pikir Soraya.
Hari-harinya menjadi istri sudah biasa dia jalani. Hari-harinya menjadi karyawan di perusahaan suaminya juga terbiasa dia lakukan.
"Hey, kenapa termenung," ucap Derry kali ini sedikit pelan.
"Nah, notamu," ucap Soraya memberikan nota itu kembali kepada Derry.
"Sudah di baca kembali bukan??" ucap Derry penuh kemenangan.
Soraya hanya malas melihat map berisi nota merah tersebut. Melihat itu hanya membuat Soraya mengingat kembali perjanjian pertama mereka berdua.
Kali ini entah kemana Derry akan membawanya lagi. Padahal ini masih jam bekerja. Rasa cemburu yang tak terluahkan itu, membuat Derry bersikap tidak layak menjadi seorang pemimpin perusahaan.
Dia tidak profesional dengan pekerjaannya sendiri. Melihat perjalanan semakin jauh, dan perjalanan itu bukan menuju Kantor maupun apartemen, Soraya pun mencoba membuka suaranya lagi, yang tadinya sudah diam membisu.
"Derry!!"
"Hm... "
"Mau kemana kita??" tanya Soraya dengan wajah protes.
"Ke surga," ucap Derry sambil tersenyum.
"Derry!! kau jangan gila, ini masih jam untuk bekerja!!" bentak Soraya.
"Raya, tenang saja. Kamu tahu bukan, itu perusahaan papaku," jawab Derry pula.
"Derry, aku tahu itu perusahaan papamu. Tapi itu papamu!! bukan papaku!!"
"Aku hanyalah staf, jadi kembalikan aku ke kantor!!" ucap soraya tegas dan sinis.
Ketika SORAYA sudah kembali mengucapkan hal tersebut, entah mengapa terbesit ingatan beberapa waktu yang baru saja terlewat hari ini. Ingatan Derry tiba-tiba muncul dengan kata staf.
Tampaknya Soraya benar-benar terasa hatinya, lagi pula Derry begitu tampak cemburu saat SORAYA bersama tuan Rendra sejam lalu.
Itu bukan mahu SORAYA , itu adalah tuntutan kerja. Lagi pula soraya hanya duduk saja setelah melakukan presentasi tentang kenaikan keuangan perusahaan mereka.
Derry tampak diam, dia memang sulit untuk berkata maaf, namun beberapa hari lalu dia sedikit sering mengucapkannya. Entah sudah berubah karena apa, dia sendiri pun tidak tahu.
"Derry!! kenapa diam??" tanya Soraya lagi.
"Hari ini kau ikut bersamaku menemui tuan Osman saja," ucap Derry.
"Bukannya itu sudah kau tugaskan kepada Tio??" tanya Soraya.
"Aku akan menelpon Tio sekarang," ucap Derry.
Alasan Derry sangat banyak saat ini, jika nanti Derry bilang di luar pekerjaan, pastilah Soraya akan protes kembali dan tidak ingin ikut bersama Derry saat ini.
Sekarang Derry kembali beralasan untuk menemui tuan Oesman pula. Tio yang sudah ditugaskan hampir berangkat keluar. Dia pun tampak sudah berada di parkiran bawah untuk bersiap-siap bertemu tuan Osman.
Derry memasang handsfree di telinganya. Dia pun mulai memanggil Tio saat itu juga. Soraya hanya menggelengkan kepalanya, jika sudah muncul keras kepala Derry, seperti ini lah jadinya, ucap Soraya dalam hati.
"Hallo Tio!!" panggil Derry.
"Iya Der, ada apa??" tanya Tio yang sudah di dalam mobil.
"Tuan Osman aku yang akan menemuinya bersama Soraya, kau awasi saja perusahaan!!" perintah Derry dan dia langsung mematikan ponselnya.
"Hallo Der!! Derry!!" panggil Tio lagi.
"Sial!! seenaknya saja dia mematikan ponsel, menyuruh ini dan itu!!" umpat Tio kesal.
Siapa yang tidak kesal, tingkah Derry itu tidak pantas dengan jabatannya seorang ceo. Tidak konsisten, bahkan jam kerja dibuat sesuka hati.
Untung saja Derry mendapatkan staf yang baik dan setia yang bekerja di perusahaan itu, jika tidak bisa saja perusahaan itu mudah gulung tikar.
Tuan Osman yang akan ditemui ini berasal dari negara yang sudah sangat maju tersebut. Tuan Osman katanya ingin mendirikan pabrik karpet terbaik di bandar kota Jakarta ini.
Di wilayah ini sudah banyak berdiri pabrik lainnya, namun pabrik karpet memang belum terlihat begitu pesat. Lagi pula, ini bukan sembarang karpet, harganya juga begitu selangit.
Tuan Osman memang lelaki kaya raya. Dia sudah banyak dikenal di negara enam tiga ini. Negara yang penuh kekayaan sumber daya alam dan kepadatan sumber daya manusia juga mempuni disini.
Bandar kota Jakarta begitu sesak dan penuh. Semua kalangan berada disisi, dari yang bawah, menengah bahkan kelas atas juga ada di sini.
Kini Derry tidak ingin melepaskan proyek besarnya ini. Yang di sewa tuan Osman bukan tanggung-tanggung. bahkan hampir wilayah di bandar Jakarta milik keluarga Derry habis untuk pabrik yang akan segera di rancang ini.
"Dari semalam kau katakan ingin bertemu tuan Osman, hmm tukang bohong!!" umpat Soraya.
"Semalam aku memang berbohong, namun kali ini tidak!! kita akan menemui tuan Osman," ucap Derry.
"Lalu dimana tuan Osman itu??" ucap Soraya dengan nada malas.
"Dia ingin bertemu di pantai Maghrib."
"Di pantai??" meeting di pantai??"
"Iya, di pantai," ucap Derry santai.
Soraya masih tidak percaya, jika tuan Osman tersebut akan bertemu Derry di pantai. pasalnya tidak mungkin klaen besar itu ingin bertemu di pantai sepagi ini, pikir Soraya.
Namun, dia yang tidak bisa menolak kemanapun Derry mengajaknya tersebut, dia pun membiarkan mobil itu laju dan membawa dirinya sampai kemana yang akan dituju.
Jika di ikut kan hati, dia ingin selalu begini. Ingin selalu Derry bersama dirinya. Bahkan mungkin saja setelah dua minggu ini berlalu, masa-masa ini tidak akan didapatnya kembali.
Mengingat waktu hampir tiba, Soraya kembali tertunduk merenungi nasib pernikahan singkatnya ini.
Derry pula tampaknya memegang tangan kanan istrinya itu, dan Derry tersenyum hangat tiba-tiba. Soraya melihat Derry seperti itu, merasa suaminya telah tidak waras, karena itu bukanlah sikap Derry yang seperti biasanya.
Dia yang pemarah, tidak sabaran, arogan bahkan egois, tidak mungkin melakukan hal seromantis itu jika dia sedang tidak waras, pikir Soraya.
Ketika mereka sedang di ranjang, mungkin saja perlakuan itu akan didapatkannya, namun ini beda cerita. Mereka sedang berada dalam satu mobil dan baru saja mereka bertengkar, tidak mungkin saja Derry akan melakukan hal romantis itu.
Namun, tangga itu tidak beranjak sedikitpun, masih saja menggenggam erat dan tersenyum. Soraya pula menghadapkan wajahnya ke jendela, karena malas dengan sikap suaminya itu.
Tiba-tiba lagi, Derry mengangkat tangan Soraya dan mencium tangan istrinya dengan kecupan yang lembut.
Jantung Soraya berdetak kencang, apa itu kecupan keikhlasan dari seorang suami??
Entahlah, Soraya kali ini berpaling ke arah tangannya yang sedang di kecup lembut itu. Butiran air matanya hampir jatuh, dia wanita mandiri yang kuat, sekarang menjadi wanita yang cengeng dan ingin selalu menangis.
Ada apa denganku??
Ada apa juga dengan Derry??
Tanya Soraya dalam hatinya saat ini. Dia merasakan perubahan dirinya, namun dengan Derry dia sama sekali masih menjadi pria egois yang menyimpan perasaannya itu.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
Lina aja
ABG labil kaya nya tu
2023-05-27
0