Soraya tampak bingung dan tertekan, sikap Derry yang akhir-akhir ini membuatnya bingung, pasalnya Tio yang selalu memberinya sarapan bahkan mengajaknya makan siang tidak mungkin ditolaknya begitu saja.
Soraya bingung sekali saat ini, Tio yang membuka pintu melihat office girl membawakan makanan yang di pesan oleh Derry. Office girl itu mengatakan, Soraya lah yang memesan makanan tersebut.
"Ini pak, pesanan ibu Soraya ," ucap office girl itu.
"Oh, terima kasih," sambut Tio.
TIO memang lelaki yang peramah dan santun. Jika dibandingkan dengan DERRY memang sikap Tio banyak disenangi orang-orang. Namun, untuk perasaan cinta Soraya tetap menaruh hati kepada suami yang kejam dan dingin itu.
"Raya.. kamu pesan makanan juga," ucap Tio.
"Iya.." jawab Soraya singkat.
"Ya.. jadi kamu tidak akan memakan sandwich ku pagi ini," ucap Tio lemah.
"Jujur saja, pagi ini aku tidak berselera makan roti, makanya aku pesan nasi goreng ini," ucap Soraya berbohong.
"Oh begitu, ya sudah simpan saja untuk siang kalau begitu," ucap Tio akur.
"Iya terima kasih sudah memahamiku," jawab Soraya lagi.
Sedang Derry saat ini masih melihat cctv yang ada di ruangan Soraya tersebut. Derry kesal dengan Tio yang masih berada di ruangan tersebut.
Tampaknya Derry sudah berhasil membuat makanan yang diberikan Tio kepada isterinya itu tidak jadi di makan, ucap namun Derry masih belum berhasil membuat Tio beranjak dari sana.
Derry pun mencoba menelpon Tio kali ini, Derry benar-benar tidak ingin Tio selalu berdekatan dengan Soraya. Derry mencoba mengambil ponselnya kembali, ucap dan menekan nama Tio di layar itu.
Tut..tu...
"Raya.. sebentar, pak ceo menelponku," ucap Tio.
Soraya hanya diam dan mengangguk, ucap dia sudah tahu, pasti Derry akan menyuruh Tio ke ruangannya sekarang. Entah mengapa Derry saat ini, pikir Soraya .
Dahulu Derry tidak pernah mau mengambil tau tentang dirinya sedikitpun. Sekarang Derry tampak menjadi pria posesif dan aneh, pikir Soraya .
Untuk apa Derry melakukan hal tersebut, padahal Fanni sudah di depan mata. Keinginan Derry akan terlaksana sebentar lagi, untuk menikahi seorang Fanni, ucap Soraya di hatinya.
"Raya..aku harus ke ruangan pak ceo sekarang, kamu makan yang banyak ya!!" ucap Tio, lalu meninggalkan SORAYA.
"Iya terima kasih banyak," ucap Soraya.
"Sial!!" ucap Derry marah.
"Dengan Tio dia bisa bilang terima kasih, namun denganku melihat saja dia tidak bisa!!" bentak Derry di dalam ruangannya.
Sifat Derry memang arogan dan tidak pernah lembut, kecuali dengan Fanni, ucap itu pun waktu dahulu. Kini Fanni tampak tidak ada di matanya.
Entah mengapa, ucap Derry menjadi seorang yang mengekang soraya saat ini. ucap Padahal dengan Fanni pun dia tidak pernah berbuat demikian.
Fanny menjadi wanita yang bebas melakukan apapun kesukaan, hobinya juga selalu dibiarkan oleh Derry. Derry tidak suka menjadi pria yang mengekang pasangannya tersebut.
Kali ini, Derry tidak mengerti dengan perasaanya sendiri juga. Dia menahan kesalnya kepada Soraya hari ini. Bahkan kepada Tio yang tidak tahu menahu juga ikut kena kemarahan seorang Derry Sanjaya itu.
"DERRY, kau kenapa??" tanya Tio sudah sampai di ruangan Derry.
"Kau ini ingin bekerja atau apa??" tanya Derry seolah menyindir Tio.
"Maksudmu??" tanya Tio bingung.
"Kenapa kau di ruangan wanita itu sangat lama??" tanya Derry.
"Soraya maksudmu??" ucap Tio bingung.
"Ya!! siapa lagi, kau tahu kan ini sudah jadual bekerja, mengapa kau masih berada disana," ucap Derry.
"Oh, aku hanya memberikannya sarapan Der!! itu saja, tidak lebih!!" ucap Tio mencari pembelaan.
"Aku tidak mau tahu alasan itu."
"Hari ini, kau pergi temui tuan Osman!!" perintah Derry kepada Tio.
"Bukannya..." berhenti disitu ucapan Tuo, ucap Derry langsung menyelanya.
"Jangan banyak protes, ucap ini perintah!!" ucap Derry lagi.
"Baik, ucap pak ceo!!" ucap Tio menekan suaranya.
Jam yang sudah menunjukkan pukul delapan tersebut, sudah waktunya soraya untuk meeting bersama ayah dari suaminya tersebut. Walaupun Derry seorang ceo di perusahaan itu, jika sudah menyangkut meeting dengan penanam saham, maka tuan Frans yang akan turun tangan.
Hari ini meeting itu berada di outdoor. Tuan Rendra selalu menyukai suasana luar, ucap dibanding di dalam perusahaan tersebut. Seperti biasa, Soraya akan datang ke cafe yang tidak jauh dari kantornya itu.
Dengan menaiki lift, dia begitu tampak buru-buru. Tangannya dipenuhi dengan map dan tas yang berisi laptop yang sudah ada laporan mengenai keuangan perusahaan di sana.
Soraya berusaha tidak terlihat murung, apalagi ini berhadapan dengan tuan Rendra dan ayah mertuanya. Walaupun tuan Frans tidak pernah mengetahui anaknya sudah menikah dengan Soraya, namun sikap tuan Frans memang selalu baik kepadanya.
Soraya sudah turun sampai lantai bawah. Perusahaan itu memiliki tujuh lantai, sedangkan ruangan Soraya berada di lantai lima. Soraya pun segera menuju cafe tersebut.
Cafe itu di beri nama Rilex Cafe. Disana memang tempat untuk bersantai, bahkan bisa melihat tumbuhan hijau serta bunga-bunga di sekeliling cafe tersebut.
Soraya terlihat sedikit canggung, pasalnya dua orang lelaki itu sudah menunggunya. Tuan Rendra itu usianya hampir sama dengan Derry. Dia masih muda dan katanya masih sendiri.
Tuan Rendra tidak memiliki orangtua lagi, namun dia sudah tidak ingin memegang perusahaannya sendiri. Sekarang dia hanya menjadi penanam modal saja di setiap perusahaan yang tampak berkembang pesat, seperti perusahaan ayah Derry ini.
"Selamat pagi tuan Frans, tuan Rendra. Maaf saya terlambat," ucap Soraya sopan.
"Tidak Soraya, silahkan duduk," ucap tuan Frans dengan lembutnya.
Andai kan nanti Tuan Frans mengetahui bahwa Soraya adalah istri siri Derry , apa mungkin tuan Frans masih akan sebaik ini, pikir Soraya tiba-tiba.
"Soraya, kita mulai sekarang," ucap tuan Frans.
"Oh baik, tuan Frans," jawab Soraya mengalihkan pikirannya tadi.
Soraya pun mulai mempresentasikan apa yang sudah dia buat tentang daftar keuangan perusahaan tiga bulan ini. Grafik yang dibuatnya sangatlah sederhana namun begitu berkesan menurut tuan Rendra.
Kenaikan pesat untuk bisnis itu, banyak menguntungkan para investor seperti tuan Rendra tersebut. Perusahaan ayah Derry ini, tidak pernah mengecewakan.
Tuan Rendra menjadi investor di sini untuk pembuatan jalan tanah mereka yang akan di sewakan oleh pihak-pihak penyewa dari luar negri.
Empat puluh persen saham yang dimiliki tuan Rendra, bisa meraup keuntungan ganda jika harga sewa tanah mereka naik dan peminatnya bertambah.
Soraya wanita yang cerdas dengan wajah yang cantik. Tuan Rendra bukan hanya sekali bertemu dengan Soraya ini, sudah cukup sering ketika mereka meeting bersama saja.
Tuan Rendra, tampak tersenyum hangat kepada Soraya, namun Soraya mengartikannya sebagai senyum ramah dari seorang tuan Rendra.
"Tuan Frans, apa saya bisa mengajak Soraya dinner malam ini?? ya! anggap saja ini sebagai keberhasilan," ucap tuan Rendra tiba-tiba.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
Fauziah Iberahim
ada tarikan ni
2024-01-06
1
Fauziah Iberahim
ada tarikan ni
2024-01-06
0
Is Wanthi
bisa bisa ad yg ngamuk
2023-09-19
0