Sebuah tanya besar sekarang berada di kepala Soraya. Dia ingin rasanya meluahkan apa yang ada dipikiran saya saat ini, namun sayangnya dia tidak memiliki hak veto yang kuat untuk itu.
"Raya, jangan pernah tinggalkanku," ucap Derry sambil memegangi tangan soraya.
"Maksudmu?? Fanni sudah datang Derry!! apa kau gila??" ucap Soraya seolah ingin lebih tahu tentang ucapan itu.
"Diam lah, kita lihat saja 30 hari kedepan!!" pungkas Derry .
Entah apa yang merasuki Derry malam ini, dia berkata dengan tiba-tiba. Derry yang mengingat kembali perkataannya itu, tampak bingung dan menyesali perkataan tanpa dipikirkan tersebut.
Yang diinginkan sudah pun di depan mata, namun Derry bisa berkata kepada SORAYA agar tidak meninggalkan dirinya, padahal sebentar lagi, Derry lah yang akan meninggalkan SORAYA.
Derry terlihat mengendarai mobilnya ke arah apartemen milik Soraya , apartemen itu sudah dihadiahkan Derry untuk istrinya tersebut. 10 bitcoin beserta apartemen dan mobil juga diserahkan untuk Raya.
Walau hanya istri dalam nota perjanjian, namun Derry memberikan harta yang cukup melimpah untuk istri kontraknya tersebut.
Namun, bagi Soraya saat ini adalah dia seolah tidak butuh semua itu, dia hanya butuh Derry berada disampingnya selalu. Sekarang juga seperti halnya Derry berkata yang tidak pernah soraya jangka selama ini.
Jangan tinggalkan aku??
Siapa yang Derry maksud ini, pikir Soraya. Dia tiba-tiba menjadi pria romantis seketika ini. Setelah mereka duduk beberapa saat di tepi pantai, Derry tiba-tiba menggendong Soraya dan memasukkannya ke dalam mobil dengan paksa.
"Suara apa itu??" tanya Derry melirik ke arah SORAYA.
"Tidak ada," ucap Soraya membuang wajahnya.
"Raya, kamu lapar ya??" tanya Derry.
"Tidak!!" ucap Soraya keras.
Derry mengingat sesuatu, bahkan untuk minum saja Soraya belum ada mencicipi minuman yang dipesannya saat beberapa jam berlalu.
Sedangkan Soraya sudah banyak mengeluarkan air matanya di tepi pantai tadi. Derry yang mengingat itu menjadi iba kepada SORAYA saat ini.
Dia pun tidak jadi mengarahkan mobilnya langsung ke apartemen, melainkan mereka singgah sebentar ke restoran dekat apartemen tersebut.
"Kok berhenti??" tanya Soraya .
"Kita makan dahulu ya," ucap Derry.
"Aku tidak lapar," ucap Soraya .
"Nah...itu suara apa??" tanya Derry lagi, seketika perut Soraya berbunyi kembali.
"Sial!!" umpat Soraya dalam hati.
Soraya yang masih diam dan mengutuk dirinya sendiri itu, langsung kaku karena tiba-tiba pintu tempat dia sandarkan tangan telah terbuka, dan wajah tampan Derry sudah berada tepat di wajahnya saat ini.
"Apa mau aku gendong??" bisik Derry tepat di telinga kiri soraya.
"Tidak!!" bentak Soraya.
"Kalau begitu cepat turun," ucap Derry masih lembut.
Mahu tak mahu, Soraya turun dari mobil Derry tersebut. Dia pun dengan lemah melangkah menuju restoran tersebut. Kali ini tingkah Derry semakin aneh, dua bulan pernikahan baru kali ini dia terlihat menggandeng tangan Soraya di khalayak ramai.
Soraya terkejut, dia melihat ke bawah dan ke atas wajah Derry bergantian.
Apa aku sedang tidak bermimpi??" tanya Soraya dalam hati.
Derry terlihat santai dan tanpa masalah masih menggenggam tangan soraya saat ini. Soraya merasakan tekanan di dadanya sekarang ingin meledak, seketika melihat Derry memperlakukannya saat ini.
Mengapa waktu melepaskan dia malah menambah kenangan indah??
Meronta jiwa soraya saat ini, ingin menolak dan menghindar, perjanjian itu belum berakhir. Mereka masih ada waktu lagi untuk bersama, masih terus diikuti dengan langkah yang lemah.
Kali ini Derry membukakan kursi untuk istrinya. Dua bulan berlalu tidak pernah seperti ini. Apa ini karena Tio??
Apa Derry cemburu kepada Tio??
Ah! tidak mungkin!!" ucap Soraya dalam hatinya lagi.
Tio tidak selevel dengan Derry, dia hanya lah di bawah Derry. Dan untuk apa Derry cemburu hanya kepada seorang Tio, pikir Soraya. Soraya bertanya sendiri dan menjawab sendiri.
Perlakuan Derry begitu aneh di lihatnya. Sekarang Derry pula memesankan Soraya makanan sup daging dan nasi putih, serta minuman lemon hangat.
Derry hanya memesan semangkuk sup dan sepiring nasi, beserta segelas lemon tea hangat. Mungkin saja Derry tidak ingin makan, pikir Soraya.
Jika diturutkan dengan perut, dia memang sangat lapar. Bahkan Derry sendiri pun mendengar suara nyaring dari perut Soraya. Derry bahkan lebih perhatian dengan Soraya saat ini.
Ketika pesanan sampai, Derry menyambut pelayan itu dengan cepat. Dia yang biasanya tidak pernah memperdulikan seorang pelayan membawakan makanan, sekarang dia bertingkah aneh, menyambut makanan tersebut langsung dari nampan pelayan tersebut.
"Raya..ayo kita makan," ucap Derry lembut.
"Kita??" tanya RAYA bingung.
"Ya! kita berdua," ucapnya lagi.
"Kau ingin makan sepiring denganku??" tanya RAYA bingung.
"Ya! memangnya tidak boleh??" tanya Derry balik.
Terbelalak mata SORAYA kali ini. Seorang Derry Sanjaya, tiba-tiba ingin makan sepiring berdua bersamanya saat ini bahkan di depan khalayak ramai. Apa Derry sedang gila?? tanya Soraya dalam hatinya.
"Hei...jangan termenung!! ini makan," ucap Derry sambil menyodorkan suapan pertama untuk Soraya.
Tanpa satu kata yang keluar dari mulut soraya, dia membuka mulutnya kecil, bahkan bukan hanya mulut yang terbuka, matanya juga terbelalak heran tak percaya.
Soraya juga menahan isak tangis haru, atas perbuatan Derry untuk kali ini membuatnya berkaca-kaca lagi.
Untuk apa Derry melakukan semua ini, jika hanya untuk menggores dan meninggalkan bekas kenangan saja, pikir Soraya. Perempuan mana yang tidak ingin dilayani dengan seorang suami yang lembut dan perhatian.
SORAYA kini tampak lahap makan dengan jari-jemari suaminya tersebut. Dua bulan menikah baru kali ini, dia merasakan suapan dari suaminya itu. Tidak tahan lagi, Soraya memalingkan wajahnya yang menitiskan air mata saat itu.
Entah itu air mata haru, atau air mata takut menerima kenyataan jika sebentar lagi Derry akan menikah dengan Fanni dan Derry akan meninggalkan SORAYA.
"Raya....kenapa??" tanya Derry.
Raya hanya menaikkan tangan kanannya, dia membuat isyarat sudah cukup. Derry bingung dengan tingkah Soraya tersebut. Dia tidak seperti biasanya menghadapi Derry.
Soraya yang dulu bukan lah SORAYA yang sekarang, dahulu saat berhadapan dengan Derry, dia hanya cuek dan dingin. Bahkan Raya ketika beberapa minggu menjadi istri Derry masih saja bersikap hal yang sama seperti itu juga.
Dua bulan berlalu, kehangatan dan getaran seperti muncul di hati Soraya, bahkan di hati Derry. Namun Derry yang selalu menafikan itu menolak semua rasa yang ada.
Derry masih meyakinkan, jika hatinya hanyalah milik Fanni bukan SORAYA. Namun hari ini entah mengapa dia meluahkan rasa rindu yang tertahan sejak tiga hari berlalu tidak berjumpa dengan Soraya.
Tingkah laku Derry menjadi aneh, dia lebih lembut dan romantis saja kepada istrinya. Namun SORAYA tidak ingin percaya sepenuhnya, Soraya bagaimanapun harus bisa menerima kenyataan yang ada nantinya.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
Lina aja
mas Dery jujur tuh m Soraya klw suka
2023-05-24
0