Seminggu berlalu, saat ini pula setelah malam pertama itu Derry tidak juga kembali ke apartemen tersebut.
Soraya menghabiskan malamnya dengan sendiri selama seminggu ini, dia terbiasa dengan kesendirian. Tiba-tiba terdengar suara kaki melangkah dari arah pintunya.
"Hmm tidak mungkin dia," ucap Soraya kembali membuka lembaran novelnya.
Masih diambang pintu saja haruman dari tubuh Derry tercium, tidak dipungkiri pria itu benar-benar memakai parfume kelas dunia.
Tubuhnya kekar, wajahnya memang tampan tapi sayang dia arogan dan hanya penuh dendam pelampiasan, ucap Soraya dalam hatinya saat ini sambil tersenyum sedikit dan memukul kepalanya perlahan.
"Huh, ngapain aku mikirin lelaki arogan itu!" umpatnya lagi.
Masih menundukkan kepalanya saat ini, dia pun asyik membaca sampai tidak tahu siapa yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Oh….siapa pria arogan?"
Tiba-tiba suara itu terdengar jelas, mata dan telinga Soraya saat ini mencoba mentelaah dengan benar.
"Apa dia yang benar datang?" ucap Soraya dalam hatinya.
"Hei, siapa pria arogan?" tanya Derry sekali lagi.
"Ha, eh kapan kau datang? Kenapa kau tidak menekan bell?" Soraya balik bertanya saat ini agar mengalihkan pembicaraan awal.
"Ini apartemen yang aku beli untukmu, jadi aku tidak perlu menekan bell, aku juga berhak masuk dan keluar sesuka hatiku!" ucapnya penuh angkuh.
"Oh ya kau benar," jawab Soraya singkat.
"Hei, wanita sombong! Jangan kau menghilangkan topik yang awal tadi, aku masih mendengar dan mengingat dengan jelas, kau mengatakan diriku arogan bukan?" ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Soraya.
Mata Soraya sempat beradu sedikit dengan mata Derry, namun dia membuangnya dengan cepat. Tiba-tiba gemuruh hebat datang seperti hujan yang ingin meledak dalam jantung Soraya sast ini.
"Bukan, itu bukan kau!" ucap soraya lalu lari dari tempat duduknya saat ini.
"Ish..kenapa dia selalu lari dariku!'' umpat Derry kesal.
Tetap saja Soraya berlari meninggalkan Derry sendiri saat ini. Namun pria arogan keras kepala itu tidak tinggal diam, dia mengejar langkah kaki Soraya dengan cepat saat ini.
"Nah, kenak kau!" ucapnya yang saat ini meraih pinggang Soraya.
"Derry! Lepaskan aku!" ucap Soraya membentak.
"Tidak! Kau hakku!" jawab Derry enteng.
Membuat Soraya terpaku dengan ucapan itu. Ya, dia memang hak Derry, namun ucapan Derry terdengar tulus di telinganya.
"Hm..maksudku ya walaupun hanya 90 hari," ucapnya lagi dengan angkuh dan melepaskan pinggang istrinya itu.
Hanya ada anggukan yang keluar dari tubuh Soraya saat ini. Dia sadar diri dia hanya dibutuhkan dalam 90 hari tidak lebih dan tidak kurang dari itu.
Soraya melangkah sedikit lemah kearah kasur saat ini, entah mengapa Derry tampak seperti salah tingkah. Diapun masih belum bisa tidur juga, padahal seminggu tidak datang ke apartemen ini membuatnya rindu.
Entah rindu dengan apa dia sendiri pun tidak tahu apa yang dia rindukan.
"Raya, apa kau bisa masak?" tanya Derry memecahkan kebisuan diatas ranjang itu.
Soraya menoleh sejenak, dia yang sedari tadi membelakangi Derry dan membaca novel walaupun bacaan dan pikirannya entah kemana, namun pertanyaan Derry itu cukup aneh malam ini.
"Iya bisa," jawabnya singkat.
"Aku lapar," ucapnya dengan wajah sedikit memelas dan memegangi perut.
"Kau mau makan apa?" tanya Soraya.
"Nasi goreng, apa bisa?" tanyanya lagi.
"Oke tunggu sebentar," ucap Soraya lalu dia pun membenahi rambut panjangnya itu.
Piyama yang dia pakai cukup menarik perhatian dan mata jantan milik Derry saat ini. Setelah Soraya mengikat rambutnya makin terlihat leher jenjang putih mulus itu.
Derry menelan salivanya saat ini, sepertinya otak dan si kecilnya terkoneksi dengan sangat baik sekarang. Melihat Soraya berjalan ke ambang pintu dia ingin mengikuti wanita itu, namun gengsinya tinggi.
"Tidak, biarkan dia melayaniku seperti raja, karna kan dia sudah kubeli 500 juta," ucapnya dalam hati.
Dia pun menunggu di dalam kamar, sedangkan Soraya telahpun menuju dapur. Tampaknya wanita itu benar-benar serius akan membuatkan nasi goreng untuk Derry.
Masakan pertama untuk suami kontraknya itu. Walau hanya 90 hari yang akan berakhir tidak lama lagi, tetap saja dia suami Soraya.
Baginya melayani suami adalah pahala yang besar. Dan saat ini Soraya membuat nasi goreng yang tampak lumayan porsinya.
"Hmm nasi goreng hijau dengan telur dadar sosis, mungkin dia akan suka," ucap Soraya sambil meracik bahan di dapur.
Derry mencoba membuka novel yang Soraya selalu pegang dari tadi, namun haruman dari dapur membuat perutnya semakin berdendang saat ini.
"Apa yang dia masak?" tanta Derry dalam hatinya.
Entah mengapa pikirannya ingin mengintip sang istri memasak di dapur. Dia pun berjalan perlahan, seolah tanpa dosa memakai boxer dan bertelanjang dada.
Mengendap layaknya maling hanya karena ingin menutup gengsinya semata. Dia tersenyum melihat lihainya Soraya memasak bahkan tampak wajah wanita itu tulus melakukan pekerjaan tersebut.
"Humm, sepertinya ini lezat," ucap Soraya sambil mengambil piring untuk menaruh nasi goreng itu.
Melihat Soraya yang hampir selesai, Derry bergegas dengan cepat saat ini menuju kamar, agar dia tidak ketahuan kalau dari tadi mengintip Soraya masak di dapur.
"Huh! Untung aja aku cepat geraknya, kalau kagak turun harga diri Ceo Arogan," ucapnya.
Ya, selama sebulan ini dia menggantikan ayahnya itu, di perusahaan tersebut banyak yang mengatakan dia Arogan, angkuh sombong dan bahkan kurang bersosialisasi.
Padahal jiwa dari Derry tidak seperti itu. Dia hanya tidak ingin terlihat lemah dihadapan semua orang. Apalagi karena masalah percintaan yang terbilang hampir gagal itu.
Bagaimana mungkin dia yang memiliki segalanya bahkan wanita yang dia cintai tetap saja mengundur waktu untuk hidup bersama dalam ikatan yang sah.
"Tuan Derry Sanjaya,ini nasi goreng pesanan anda!" ucap Soraya berlagak cutek juga.
"Oke, terima kasih," ucapnya.
"Hmm..sebelum aku makan nasi goreng ini, kamu dulu deh yang cicipi," ucapnya pula.
"Lah, kenapa harus saya yang cicipi? Tadi di dapur sudah saya cicipi kok," ucapnya.
"Bukan begitu, saya tidak melihat kamu makan di dapur, saya takut kamu racuni saya dengan nasi goreng ini," jawab Derry dengan sengaja.
"Huh, dasar pria arogan tukang nuduh pula lagi!" Umpat Soraya kesal.
Derry menahan gelaknya saat ini, dia mengulum senyum lebarnya karena berhasil menjahili Soraya tengah malam buta seperti ini.
"Nih liat, aku udah makan dan pastinya aku itu bukan psikopat!" ucap Soraya.
"Oke, kalau begitu makanan ini aman, akan aku makan," ucap Derry santai.
Dengan lapah suapan pertama itu dia masukkan ke mulutnya. Matanya terpejam menikmati rasa nasi goreng hijau dengan telur dadar sosis buatan istrinya itu.
"Hmm luar biasa," tiba-tiba mulut Derry terucap seperti itu.
Soraya hampir mengeluarkan senyumnya, namun dia tidak ingin Derry mengetahui hal itu, dia pura-pura saja tidak dengar dengan ucapan Derry itu.
Sangkin enaknya nasi goreng itu,sampai ada nasi yang melekat di dagu Derry dia tidak sadar saat ini.
"Kalau makan itu jangan kayak anak kecil, nih ada nasi lengket di dagu!" ucap Soraya sambil mengambil nasi itu.
"Hei, jangan sentuh saya sembarang!" ucap Derry tiba-tiba dengan raut wajah marah.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
Lina aja
lanjut Thor....alur cerita nya q suka y
2023-05-23
1
Mimi Farel Afandi
bagus Ceritanya
2023-02-03
0