Bella senang dengan ijab kabul Davin yang terdengar mantap. Dia tersipu malu dan mencium tangan Davin.
Pesta pernikahan di rumah Narendra menjadi pesta terbesar dan meriah yang pernah ada. Oma tak main-main melaksanakan keinginannya.
Harris menatap pengantin dengan sinis karena berpikir seharusnya Saga putranya yang diperlakukan istimewa seperti itu bukan Davin.
Maria melihat Harris yang masih terlihat menyimpan dendam untuk istri pertama dan anaknya. Pandangannya beralih pada putranya yang terlihat datar menjalani pernikahannya sendiri.
~Hidup macam apa ini? Suami ku menatap kesal pada putra ku yang menikah dan terlihat tak bahagia~ ucap hati Maria.
Oma memberi kode pada Maria dan Harris untuk menyambut pengantin dan melakukan tradisi adat lainnya. Mereka melakukannya dengan baik tanpa cela. Semua orang melihat penampilan mereka yang sangat apik. Tanpa tahu betapa dalam hati mereka menyimpan sebuah kegelisahan akan rasa terpaksa melakukannya.
Davin dan Bella berdiri dengan gagah dan anggun menatap mata kamera untuk mengabadikan pernikahan mereka. Bella tersenyum manis, sementara Davin datar. Veni menatap foto mereka yang dia ambil melalui ponselnya.
"Kenapa aku merasa Davin terlihat terpaksa melakukannya?" gumamnya.
Wahyu yang ada di dekatnya mendengar dan menoleh. Dia melihat ponsel istrinya yang sudah dia ambil sesaat setelah ijab kabul selesai.
"Dia tegang, aku juga dulu seperti itu" ucap Wahyu.
Veni menghela, perasaannya masih tak enak. Meskipun dia selalu terlihat acuh dan hanya mementingkan sosial media, tapi dia seorang ibu. Perasaan seorang ibu sangat peka, terutama pada anak dan suaminya.
Veni berusaha berpikiran positif, dia menyambut tamu kolega suaminya. Terutama teman arisannya. Istri dari teman kolega suaminya.
Acara selesai jam 8 malam, permintaan Oma melakukan pesta rakyat selama 7 hari 7 malam ditolak Davin. Dengan alasan dia harus kembali bekerja karena proyek baru yang dia terima.
Oma pun ternyata kelelahan setelah ikut bergabung mengikuti jalannya acara tadi. Dia istirahat di kamarnya. Beberapa saat kemudian, Bella datang membawakan obat yang harus Oma minum. Dia memintanya dari pelayan yang biasa melakukannya untuk Oma.
"Permisi Oma, aku bawakan Oma obat dan airnya" ucap Bella.
Oma menatapnya terkejut.
~Anak ini pandai mencari cara untuk mencuri perhatian~ ucap hati Oma.
"Kenapa kamu yang bawa, mana Minah?" tanya Oma sambil turun dari ranjangnya.
"Mulai sekarang aku yang melakukannya Oma, aku yang mau" ucap Bella.
Oma menatapnya lagi dengan berpikir bahwa Bella cukup keras kepala.
"Kau harus melayani Davin, ini malam pertama kalian. Kau harus bisa membuatnya bahagia kan?" ucap Oma.
"Davin masih bicara dengan kolega yang datang terlambat. Dia masih di bawah Oma" Bella memberikan obat pada Oma.
Oma menatapnya, dia juga memeriksa obat yang diberikannya. Bella heran dan memperhatikan Oma yang masih memeriksa.
"Aku melakukan ini juga pada Minah, dia selalu salah memberi obat, jangan tersinggung!" ucap Oma seolah tahu Bella tersinggung.
"Iya Oma!" jawab Bella.
Dia mengambil gelas dari tangan Oma dan merapikan kembali di tatakan yang dia bawa.
"Pergilah, ajak Davin tidur!" ucap Oma.
Bella tersenyum dan mengangguk. Dia pergi ke dapur.
~Oma sangat teliti!~ ucap hati Bella.
Dia meminta Minah menyimpan kembali obatnya dengan baik. Minah mendelik karena merasa Bella bersikap seolah menjadi nyonya rumah, padahal baru saja menikah.
Bella berjalan menuju ruang tengah tempat Davin tadi menerima tamu, namun tak ada siapapun. Bella tersenyum.
~Dia pasti mencariku!~ hatinya senang.
Dia berjalan ke kamar pengantin yang sudah disiapkan. Menatap ke ranjang, Davin sudah berbaring dan menutup matanya.
Bella menghela, dia merasa sudah membuatnya menunggu karena mengantarkan obat dulu untuk Oma. Dia sedikit kesal tapi berusaha mengendalikan diri. Dia melepas pakaian kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Davin membuka matanya dan menghela. Dia kesal mendengar Bella membuka pakaiannya di dekatnya. Dia berbalik dan menutup matanya lagi.
Bella keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Dia melepas handuk dan mengeringkan setiap sudut tubuhnya. Memakai pakaian tidur tipis yang disiapkan ibunya. Menyisir dan memakai wewangian. Tersenyum menatap dirinya di cermin.
Dia berjalan menuju ranjang dan membuka selimut. Dengan perlahan langsung memeluk suaminya. Davin terkejut, dia melepas pelukan Bella dan bangun dari ranjang.
Bella pun terkejut, dia tersenyum mengira Davin kaget karena ini pertama kalinya ada yang memeluknya di kamar.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Davin.
"Tidur sama suami aku" jawab Bella sambil mengusap ranjang.
Davin memalingkan pandangannya.
"Jangan lakukan itu lagi. Aku tak mau dipeluk!" ucap Davin.
Davin berisyarat padanya untuk mundur. Bella terheran tapi menurut untuk mundur. Davin kembali tidur dan menyamankan diri. Bella menatapnya, kemudian menyentuh Davin di tangannya.
Davin kembali terperanjat, kali ini tak berdiri, dia hanya duduk di ranjang.
"Kumohon!" seru Davin agak keras.
"Kamu marah karena tadi aku nggak ada di kamar?" tanya Bella.
Davin menghela dan menatap ke arah lain.
"Aku tadi nganterin obat dulu buat Oma" ucap Bella.
"Memang Minah kemana?" tanya Davin heran tak biasanya Minah memberikan pekerjaannya pada orang lain.
"Ada, aku yang mau sendiri" jawab Bella.
"Oh, kamu nyari perhatian sama Oma!" ucap Davin.
"Kok kamu mikirnya kayak gitu? Aku...."
Bella hendak membela diri, namun ingat ucapan ibunya yang mengatakan bahwa dia harus menghindari perdebatan di ranjang. Bella mengendalikan diri dia tarik nafas dalam dan mengalah. Ini adalah malam pertama bagi mereka, tak baik buat mereka bertengkar.
"Ok aku minta maaf. Jangan marah ya?" ucap Bella.
Davin kembali tidur dan menyamankan dirinya. Bella menatapnya dengan kecewa. Dia membuat suaminya kesal di malam pertamanya. Dia berbaring dan menutup matanya.
~Mungkin tidak hari ini Bella, tidak apa-apa, masih ada hari besok~ ucap hatinya Bella.
Sementara itu, Harris yang tak pergi lagi sedang menatap laptopnya di sofa kamarnya. Maria yang duduk di ranjang menatapnya. Dia memegang buku, hendak membaca sebelum tidur, kebiasaannya. Maria mengalihkan pandangannya dan menatap buku yang dia buka.
Harris melihatnya, dia acuh dan kembali menatap laptopnya. Dia sedang memeriksa laporan yang dikirimkan sekertarisnya untuk meeting besok.
Maria sudah merasa mengantuk, dia menaruh bukunya dan mematikan lampu. Harris yang masih memeriksa, merasa kesal karena lampu dimatikan. Dia menatap Maria yang merapikan selimutnya untuk tidur. Dia mengalah kemudian menutup laptopnya. Dia mengambil bantal kemudian tidur di sofa.
Maria melirik, dia mendengar gerakan Harris yang tidur di ranjang. Maria menutup matanya perlahan. Menerima lagi semua perlakuan Harris yang masih tak menganggapnya. Tak lama air matanya menetes.
Tepat tengah malam, Bella tak sengaja memeluk Davin, tapi Davin tak bergerak karena terlelap. Bella terbangun dan menatap wajah Davin yang sangat tampan.
Bella tak menunggu, dia mencium bibir pria yang sangat disukainya itu. Pertama, Bella merasa malu karena menciumnya pertama kali. Kemudian dia menatap bibirnya lagi. Bella mengusap wajah suaminya dengan lembut. Dia mencium lagi dan kali ini lebih lama.
Davin terbangun dan menatap wajah Bella di hadapannya. Bella tersenyum dan kembali menciumnya. Davin bangun dan mendorong Bella. Dia menghela nafas karena kesal.
Dia sadar ini seharusnya menjadi malam pengantin mereka. Davin sudah berusaha untuk tidur bersamanya. Itu pun sangat berat untuknya.
Bella masih heran menatapnya. Dia tak mengerti kenapa Davin bisa begitu marah. Bella hendak menyentuh tangan Davin. Namun Davin menepisnya.
"Tolong, aku sudah bilang jangan lakukan itu" ucap Davin mengangkat tangannya yang tak ingin disentuh.
"Tapi kenapa?" tanya Bella.
"Kalau kamu keras kepala, aku akan pindah ke kamar tamu!" ucap Davin mengancam.
Bella mengalah, dia tak mau Davin pergi.
"Aku hanya ingin tahu alasannya" ucap Bella perlahan sambil kembali berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Maaf, tapi aku benar-benar tak bisa!" ucap Davin.
Dia juga tidur dan membelakangi Bella yang menangis merasa malu karena memulainya.
\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments