Oma Mira menatap persiapan pernikahan Davin dan Bella. Semua orang sibuk menyiapkan pesta, tak terkecuali Ghani.
Oma melihat Ghani yang begitu datar menyiapkan semuanya. Dia menghampiri dan mengajaknya bicara sambil bekerja.
"Aku dengar dari dokter Hasan...."
Ghani melirik ke arah Oma, dia merasa canggung mendengar kata yang akan selanjutnya Oma katakan.
"Amelia..." Oma menghela.
Ghani menoleh dan menunduk di hadapan Oma.
"Dia sudah dewasa, tapi, apa kau baik-baik saja? Aku khawatir, kau yang memintanya pergi tapi kau yang terluka" ucap Oma Mira.
Ghani menghela nafas.
"Akan lebih baik dia mencari sendiri pria yang berbuat kurang ajar itu. Saya tak mau Hani menjadi lebih malu jika tetap membiarkannya mengandung anak itu di rumah" ucap Ghani.
Oma Mira melihat kesedihan mendalam yang tersirat di wajahnya. Dia pernah kehilangan Saga, cucu yang dia sayangi. Dia sangat tahu sangat berat berpisah dari orang sangat disayangi.
Davin melihat mereka dari arah jauh. Dia sedang berpikir tentang pernikahan yang akan terjadi besok. Rasanya sesak, dia masih memikirkan Amelia yang dia dengar dari telpon sudah tak tinggal lagi dengan keluarganya.
Oma Mira yang hanya tahu bahwa Davin sedang mencari wanita tak jelas, memutuskan komunikasi antara Alex dan Davin.
Siena dan Ghina yang dimutasi ke Bali pun hilang kontak dengan Alex maupun keluarga Amelia. Ponsel Amelia dinonaktivkan dan disimpan oleh Ghani agar panggilan atau pesan apapun tak mengganggu mereka lagi.
Davin menatap kosong ke arah barisan meja dan kursi yang ditata rapi. Kursi-kursi yang akan diisi tamu undangan, kerabat dan kolega yang datang.
~Aku akan menikah dengan wanita cantik dan baik, tapi kenapa aku tak bisa melupakan satu malam itu bersamamu Amelia? Apa yang harus aku lakukan?~ ucap hati Davin yang gusar.
Maria datang dan menyentuh bahu anaknya yang sedang melamun.
"Kenapa? Kamu nggak sangka akhirnya akan menikah?" tanya Maria.
Davin menoleh dan berusaha tersenyum.
"Ibu hanya berharap pernikahan ini akan membawa kebahagiaan untuk mu. Terlebih Oma mu, agar dia bisa melupakan luka lamanya" lanjut Maria yang juga menatap barisan meja itu.
Davin menurunkan pandangannya.
"Luka kalian, bukan hanya Oma" ucap Davin.
Maria menatap putranya.
"Oma yang tak bisa melepas Kak Saga dan Ibu yang tak menerima sebagai penyebab kepergian Kak Saga" lanjut Davin.
Maria kembali menatap lurus kedepan.
"Terlebih ayah, dia sangat terluka karena tak mampu menerima kita sebagai pengendali keluarga Narendra sekarang" ucap Davin.
"Fokus pada dirimu sendiri, bahagialah. Jangan khawatir pada yang lainnya" ucap Maria.
Dia menepuk bahu Davin dan berjalan kembali ke arah datangnya tadi. Sementara Davin masih tetap mengingat wajah Amelia dan tak bisa menepisnya.
Keesokan harinya.
Davin memakai tuxedo yang diberikan Oma Mira padanya kemarin malam. Tanpa kata, tanpa nasihat. Dia menatap dirinya di cermin dan membayangkan Amelia muncul di sampingnya memakai kebaya putih yang cantik. Davin tersenyum, namun bayangan Amelia hilang saat Oma Mira datang untuk menjemputnya.
"Cepatlah! Beberapa tamu penting sudah datang" ucap Oma.
"Kenapa harus buru-buru? Pesta pernikahan nya diadakan di rumah pria kan?" sindir Davin.
Keputusan itu menjadi kontroversi diantara semua keluarga, Gala dan Vania juga anaknya Zidan menertawakan keputusan itu. Ini seolah Davin menikahi gadis tuna wisma, atau kalangan rendah.
Namun Oma Mira kekeh meminta pernikahan ini diadakan di rumah mereka, dengan persetujuan keluarga Bella. Mereka jelas menuruti keinginan Oma Mira karena seluruh perjodohan ini, dia yang mengaturnya.
Oma Mira hanya mencubit lengan Davin dan membuatnya meringis. Dia merapikan jas Davin sambil sesekali mengusap dadanya.
"Kau tak terlihat seperti kakek mu, tapi Oma harap kebijaksanaan mu bisa melebihinya" ucap Oma.
Davin menatap wanita tua yang masih cantik itu. Dia memeluknya dan mengusap punggungnya.
"Oma!"
"Hmmm?"
"Apa Oma tidak berpikir untuk menikah lagi?"
Oma Mira melepas pelukan Davin kemudian memukulnya. Dia kesal dengan candaan Davin padanya.
"Jokes mu buruk sekali!" ucap Oma.
Davin tersenyum, dia berhasil mengalihkan kesedihan Oma nya. Tapi masih merasa sedih dengan keadaannya sekarang. Davin mengaitkan tangan Oma di lengannya. Mereka berjalan untuk turun dan menyambut para tamu.
~Ya, aku harus seperti Narendra, bahkan lebih. Perasaanku? itu bukan masalah. Amelia juga bukan masalah, nanti saat semua sudah tenang, aku akan mencarinya tanpa sepengetahuan siapapun~ ucap hati Davin.
Beberapa tamu mendekat dan bicara bersama mereka. Pujian dan sanjungan keluar dari mulut mereka untuk Oma Mira dan Davin.
Sementara itu, Bella yang menempati rumah belakang sedang dirias dan menatap wajahnya di cermin. Ibunya datang menghampiri. Duduk di sebelah Bella membuka ponselnya dan mengirimkan foto putrinya yang sedang dirias ke sosial media.
"Bu! Apaan sih? Ngapain coba foto-foto terus dikirim ke sosmed segala?" keluh Bella.
"Ya biar semua orang tahu hari ini kamu nikah sama pewaris keluarga Narendra" ucap Veni.
Bella menundukkan pandangannya, merasa ibunya terlalu berlebihan. Tapi dia juga tak bisa mengelak dari rasa bahagia akhirnya bisa menikahi pria yang sangat dia sukai sedari kecil.
Wahyu datang dan meminta mereka untuk buru-buru.
"Penghulu sudah datang, ayo cepet!" pinta Wahyu.
Perias menyelesaikan pekerjaannya dan merapikan kebaya Bella. Veni masih memotret setiap gerak Bella. Hingga Wahyu kesal dan mengambil ponselnya. Veni diam tak berkutik, dia mendelik pada Wahyu. Bella tersenyum melihat tingkah ibunya itu.
Bella berjalan bersama Wahyu diiringi suara gamelan dan pengiring pengantin. Oma mencubit tangan Davin yang masih saja bicara pada sekertarisnya. Davin menoleh pada Oma yang menatap Bella.
Davin melihat kearah pengantin wanita, namun yang dia lihat adalah Amelia yang memakai kebaya putih dan tersenyum manis padanya. Kemudian seorang pria berbisik padanya.
"Kau beruntung bisa mendapatkan Bella"
Davin menoleh, kemudian menatap pengantin lagi yang bukan Amelia, dia melihat Bella. Wajahnya kembali datar dan acuh.
Wahyu mendekat dan menyerahkan Bella pada Davin untuk duduk di depan penghulu. Davin duduk terlebih dahulu tanpa meraih tangan Bella. Wahyu sedikit kesal melihatnya, namun saat melihat Oma Mira, dia kembali menatap masa depan Bella yang cerah. Dia kembali tersenyum dan menetapkan hati akan selalu tersenyum untuk pernikahan putrinya.
Davin mengucapkan ijab kabul dengan lancar, seolah membaca sebuah naskah dalam sebuah drama. Tak ada rasa tegang ataupun gugup. Dia hanya melakukan apa yang diminta Oma Mira.
Namun orang-orang melihatnya sebagai keteguhan Davin sebagai pewaris Narendra. Mereka bertepuk tangan dengan meriah mendengar saksi mengatakan sah atas ijab kabul Davin.
~Apa arti syarat nikah jika yang dilihat hanya luarnya saja? Sejatinya pernikahan ini tak sah karena aku hanya boneka dari keinginan Oma. Jika saja diri ini tak begitu menyayanginya, aku mungkin takkan mengorbankan diri dan perasaanku untuk hal ini~ ucap hati Davin.
\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments