Amelia terbangun, wanita paruh baya itu membawanya masuk ke rumah ke ruang pemeriksaan tempatnya praktek sebagai bidan. Seorang anak berlari dan berteriak setelah melihat Amelia bangun dari pingsannya.
"IBUUU....! orangnya bangun bu.....!" teriaknya.
Amelia berusaha bangun dan turun dari ranjang yang cukup tinggi itu. Suara perutnya yang lapar terdengar, dia juga kesakitan, terasa ada yang mencubit perutnya. Amelia hendak keluar, namun bidan itu berpapasan dengannya.
"Mau kemana?" tanyanya sambil memegang tubuh Amelia dan memapahnya ke kursi.
Amelia masih merasa lemas.
"Bu, tolong saya!" ucap Amelia lemah.
"Makan dulu, kayaknya kamu belum makan dari pagi ya?" ucap Bidan itu kemudian keluar mengambil sepiring nasi.
Amelia langsung memakannya, dia sangat kelaparan. Dia melahapnya seperti orang yang sudah berhari-hari tak makan. Bidan itu memperhatikannya. Ada rasa iba saat melihat keadaan Amelia. Namun dia tak bisa menampungnya.
"Udah ini, kamu boleh nginep di sini. Tapi cuma sehari. Ibu nggak punya kamar kosong buat tampung kamu" ucap Bidan itu.
Amelia menaruh sendoknya dan menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Saya bisa langsung pergi ke rumah kalo ibu mau bantu saya menggugurkan kandungan saya" ucap Amelia.
Bidan itu menarik nafas dan memegang tangan Amelia.
"Maaf, saya nggak bisa. Saya bukan orang seperti itu. Dan kalau bisa, kamu jangan gugurkan kandungan kamu ini" ucap Bidan itu.
"Tapi, karena janin ini saya diusir ayah dari rumah. Dia marah besar dan nggak mau lihat saya lagi" ucap Amelia menangis.
"Hanya Allah SWT yang berkuasa di dunia ini. Yang mampu mengambil dan memberikan kehidupan. Jika daun yang gugur saja sudah diatur Allah, pasti janin itu hadir di perut kamu juga sudah diatur sama Allah" ucap Bidan.
Amelia menggigit bibirnya.
"Saya nggak tahu dimana bapaknya, saya..."
Tiba-tiba Amelia teringat Siena dan Ghina. Dia menatap Bidan dengan penuh harap.
"Boleh saya minta tolong?" tanya Amelia.
"Selain aborsi saya bisa" jawab Bidan.
"Saya mau menghubungi teman, boleh?" tanya Amelia.
Bidan memberikan ponselnya pada Amelia, dia mengingat nomor Siena dan menghubunginya. Tak ada jawaban, kemudian nomornya tidak aktiv. Amelia mencoba menghubungi Ghina. Sama, tak ada jawaban.
~Apa karena ini sudah malam?~ tanya hati Amelia saat melihat jam di ponsel bidan menunjukkan pukul 11 malam.
Bidan menatapnya yang terlihat tak berhasil menghubungi seseorang.
"Kamu tinggal dimana? Ibu anter pulang!" Bidan menawarkan jasanya.
Amelia berharap dia akan bisa diterima jika ada orang yang mengantarnya ke rumah.
"Mejing Lor, rumah ku di jalan Margo Hadi" ucap Amelia.
"Aduh jauh banget" keluh Bidan.
"Jauh, emang ini dimana Bu?" tanya Amelia.
"Sleman!" jawab Bidan.
Amelia tertunduk, dia baru sadar sudah berjalan sangat jauh. Dia tak melihat petunjuk arah. Dia benar-benar sudah cukup jauh dari rumah.
"Ya udah, tidur aja dulu. Besok kalau ada kendaraannya suami ibu nanti yang antar ke Mejing Lor"
Bidan kembali ke rumahnya, Amelia duduk termenung. Bertanya dalam hati kemana dia harus pergi. Suara ayahnya yang mengatakan bahwa dia hanya akan menyakiti ibunya, terngiang dan membuatnya sadar bahwa jika dia kembali semua takkan membaik. Amelia berbaring kemudian memikirkan lagi kemana dia harus pergi.
Keesokan harinya, Amelia pergi saat subuh. Bu bidan dan keluarga masih ibadah dan belum melihatnya. Tapi dia pergi dengan menyelipkan sejumlah uang untuk bu Bidan karena bersedia menerimanya semalam.
Amelia naik kendaraan umum, dia pergi keluar kota. Dia memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya dan keluarganya. Dia akan melahirkan dan merawat anaknya sendiri.
Amelia tiba di kota baru, dia ingat dengan teman SMAnya yang pernah menawarkan pekerjaan padanya dulu. Dia ingat betul dimana rumahnya. Sampai di depan gerbang pintu rumahnya, Amelia memencet bel.
Keluar seorang penjaga dengan mengerutkan dahinya menatap Amelia.
"Mau ketemu siapa?" tanyanya.
"Hadi ada?" ucap Amelia.
"Hadi siapa?" tanya Penjaga itu.
"Hadi Rahardi putra Pak Budi Rahardi" ucap Amelia menerangkan.
Penjaga itu menoleh pada temannya yang didalam, kemudian bicara untuk beberapa saat. Amelia menunggu dengan penuh harap dia akan bertemu dengan Hadi di sana.
Penjaga itu berhenti bicara dan kembali pada Amelia dan bicara.
"Itu, pemilik sebelumnya kayaknya Dek, sekarang yang tinggal di sini orang asing" ucap Penjaga itu.
Amelia menghela, dia merasa tak punya harapan. Dengan wajah kecewanya dia pamit dan hendak berjalan kembali. Penjaga itu menatapnya dengan iba.
"Hati-hati dek!" ucap penjaga itu melihat Amelia yang tersandung.
Beberapa saat kemudian, pemilik datang dengan mobil dan berhenti di depan gerbang. Seorang pria asing membuka kaca mobilnya dan melihat kepergian Amelia. Dia bertanya pada penjaga.
"Siapa itu?" tanyanya.
"Yang nanya pemilik rumah sebelumnya pak" jawabnya.
Steve, nama pria itu, dia berpikir sejenak kemudian memanggil penjaga tadi setelah dia masuk bersama mobilnya.
"Panggil dia, tanyakan apa keperluannya bertanya tentang pemilik sebelumnya" ucap Steve.
"Baik Pak!" ucap penjaga.
Dia berlari dan mencari, untungnya Amelia masih di dekat perumahan. Dia buru-buru menghampiri.
"Hei, tunggu!" teriak penjaga.
Amelia menoleh, langkahnya terhenti dan menunggu penjaga itu mendekat.
"Bos saya nanya, kenapa nanyain pemilik rumah lama?" ucapnya terengah.
Amelia terdiam menatapnya, saat dia hendak menjawab penjaga itu bicara lagi.
"Ikut aja yok, cape kalo harus bulak balik ke sini" ucapnya.
Amelia ikut, dia berharap pemilik rumah baru tahu dimana Hadi berada.
"Pak Steve aslinya orang Paris, dia beli rumah pak Hadi karena pak Hadi pindah" ucap penjaga itu.
Amelia mengingat ucapan Hadi yang dulu memintanya menjadi manager di perusahaan barunya.
"Pak Steve susah banget ngomong bahasa indonesia, nanti kamu...."
"Saya bisa bahasa inggris" ucap Amelia menyela.
Penjaga itu meliriknya. Mereka sampai di rumah Steve dan menghadapnya. Steve menatap Amelia dengan senyuman genitnya. Amelia mengerutkan dahinya. Dia merasa sudah salah berharap akan mendapatkan kesempatan bertemu dengan Hadi. Dia berencana akan menjawab seperlunya dan pergi lagi.
"Ada perlu apa menanyakan Pak Budi Rahardi?" tanya Steve.
"Aku teman anaknya, hanya berkunjung, itu saja. Saya akan pamit saja Pak!" ucap Amelia.
"Tunggu!" ucap Steve menahan kepergian Amelia.
Amelia menoleh, dia berusaha untuk menjaga rasa hormatnya terhadap orang lain, meski sangat ingin pergi secepatnya dari sana.
"Apa kau butuh pekerjaan? Aku sedang sangat memerlukan asisten. Aku akan kembali ke Paris malam ini" ucap Steve.
Amelia menatap orang yang jelas asing di hadapannya. Baru dia kenal dan dia juga tak tahu bagaimana perangainya. Ada ragu sedikit di hatinya mengingat bagaimana cara dia memandang dan tersenyum.
"Asisten untuk tinggal di rumah ini?" tanya Amelia.
Jika itu benar, dia akan sedikit lega.
"Bukan, untu ikut dengan ku ke Paris, bekerja di sana. Rumah ini sudah ada yang akan menyewa. Mungkin dua hari ke depan mereka sudah pindah" jelas Steve.
Amelia berpikir keras, dia memang harus pergi jauh, tapi tak sejauh itu. Steve menunggu jawabannya. Kemudian datang seorang pelayan membawakannya minum. Dia juga menatap dan tersenyum dengan cara yang sama padanya. Amelia menatap heran karena pelayan itu wanita yang sudah tua.
~ouh, aku salah mengira, dia punya ciri khas raut wajah dengan senyum seperti itu~ ucap hati Amelia.
"Baiklah, aku akan menerima tawaran anda" jawab Amelia.
Steve mengangguk dan menghubungi seseorang untuk menyiapkan empat tiket tambahan. Bukan hanya dia yang dibawa olehnya, dua pegawai lain pun ikut bersamanya.
\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments