Siena menelpon Alex setelah dia mengetahui bahwa Amelia akan tunangan. Dengan cepat Alex mengirim pesan pada Davin untuk mencegahnya. Siena memberikan nomor telpon Amelia agar Alex bisa memberikannya pada Davin. Dia lebih senang jika Amelia bersama Davin dibandingkan dengan orang lain. Meskipun mereka baru saling mengenal.
Alex mengirimkan banyak pesan, tapi tak dibacanya hingga sore tiba. Davin sedang disibukkan oleh pekerjaan yang Oma Mira berikan.
Baru setelah dia akan pulang, dia melihat notifikasi emailnya sudah banyak pesan. Dia buru-buru membukanya.
Matanya membulat mengetahui dia bertunangan tadi siang. Davin menghela nafas dalam.
~Apa tidak ada kesempatan bagiku?~ ucap hatinya.
Dia sudah terlambat, membaca pesan yang dikirim tadi pagi. Acaranya sudah lewat dan tidak ada kesempatan untuk bersama Amelia lagi.
Davin menatap nomor Amelia, dengan putus asa hendak menghapus semua pesan dari Alex bersama nomor Amelia.
Namun Alex yang menunggu jawaban dari Davin telah melihat pesannya terbaca. Dia mengirim pesan lagi karena Davin tak membalas.
[Ini baru tunangan, jodoh itu masih bisa ditikung meski ijab kabul sedang berlangsung. Cepat telpon dia!]
Seolah tahu bahwa Davin hendak menyerah, dia mengirim pesan yang membuat Davin berubah pikiran.
"Ya benar, meskipun dia sudah menikah, aku akan merebutnya dari pria itu" gumam Davin seperti anak kecil yang bersemangat.
Dia mencoba menelpon Amelia. Beberapa kali, tapi tak terjawab.
Sementara itu.
Rumah Ghani hening, Hani masih menangis di kamar. Hana sedang mengasuh Mikayla di kamarnya. Meski seringkali dia menatap kosong ke ranjang Amelia yang kini takkan ada lagi yang mengisi.
Ghani sendiri duduk di ruang tamu menatap tempat yang biasa Amelia duduki saat menonton tv. Bayangannya saat tersenyum sembari menatapnya seketika hadir dan membuatnya ikut tersenyum.
Wajah Amelia dengan mulut penuh makanan membuatnya selalu ingin membawa bingkisan sepulang kerja. Tiba-tiba air keluar sendiri dari matanya. Ghani tak bisa menahan lagi.
Hana turun mengambil botol susu untuk Mikayla, yang sedang memainkan ponsel Amelia yang tertinggal. Dia melihat ayahnya menangis tersedu tanpa suara. Pria paruh baya yang gagah itu menangis, rapuh dan hancur.
Hana mendekat dan mencoba menenangkannya. Tiba-tiba Ghani berdiri, dia berteriak.
"Dia bukan anakku lagi, aku tidak punya putri bernama Amelia Quinnara. Dia tidak pantas menjadi anakku!"
Hana menangis. Dia kembali ke dapur dan menangis di sana. Mengaduk susu sambil memejamkan matanya mendengar teriakan Ghani yang masih mengatakan bahwa Amelia bukan anaknya lagi.
Davin yang sedari tadi panggilannya tak sengaja diterima oleh Mikayla mendengar semua ucapan ayahnya.
Matanya membulat, dia sadar bahwa Amelia di usir oleh keluarganya. Dia tak mengerti apa yang terjadi. Dia hendak bertanya pada Alex dan memintanya mencari tahu kenapa hal itu bisa terjadi.
Namun tiba-tiba Oma menelponnya dan memintanya untuk pulang. Oma terdengar sangat marah, dia ingin Davin menurutinya segera. Davin tak punya pilihan, dia segera pulang dan bertanya apa yang terjadi.
Di kamar, Oma sedang duduk di kursi kesayangannya. Dia memegang laptop yang layarnya memperlihatkan semua percakapan Alex dengannya.
Davin yang baru datang dan berlari, melihat Oma menatapnya. Nafasnya tersengal, Oma melihat bahwa Davin masih sangat menurut padanya. Dia berniat untuk memanfaatkannya.
"Aku mau kau dan Bella menikah bulan ini. Langsung, tidak usah ada pertunganan" ucap Oma.
Mata Davin membulat tak percaya dengan keputusan Oma.
"Mulai sekarang, email mu aku hapus permanen. Egi akan membantu ku untuk menghapusnya" lanjut Oma.
Davin mengerti bahwa Oma sudah mengetahui kalau dia dan Alex kembali berkomunikasi. Dia jadi tak punya kesempatan untuk meminta Alex mencari tahu kenapa Amelia tak dianggap lagi oleh ayahnya.
"Baiklah Oma, semua terserah Oma!" jawab Davin.
Dia berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Dia melempar jasnya dan membaringkan tubuhnya di sofa. Bayangan saat menghabiskan malam bersama Amelia mengantar tidurnya, seperti biasanya. Dia memandangi ranjangnya dan momen itu seolah terjadi lagi.
Maria melihat Davin yang tertidur di sofa, dia melihat mereka, saat Oma memintanya untuk menikah dengan Bella bulan ini.
Sama seperti dirinya dulu yang dipaksa menikah dengan Harris setelah ibu Saga meninggalkan Saga di istana itu sendiri.
Maria yang seorang putri dari keluarga yang cukup berpengaruh mendapat lamaran dari Narendra untuk Harris yang telah membuat kesalahan menikahi pacarnya yang hanya orang biasa.
Keluarga Maria yang tak mengetahui hal itu, langsung saja menerima lamaran itu dan menikahkan mereka dengan sangat meriah. Maria menjadi istri sah dari Harris, tapi tak pernah punya tempat di hatinya.
~Aku harap, kau tidak melakukan kesalahan yang sama seperti ayahmu, aku harap pernikahan mu dengan Bella menjadi jalan kebahagiaan hidupmu~ ucap hati Maria.
Oma memperhatikan Maria yang baru menutup pintu kamar Davin dengan perlahan.
"Kau sudah bicara dengannya?" ucap Oma tiba-tiba.
Maria terkejut, dia hampir mengumpat namun untungnya tak keluar dari mulutnya. Dia menutup mulutnya karena merasa beruntung.
"Hanya melihatnya sudah tidur atau belum Bu!" jawab Maria setelah menarik nafas dalam.
"Dia bukan anak kecil lagi yang harus selalu kau pantau sudah tidur atau belumnya, kau seharusnya bisa memberikan pengertian padanya bahwa pernikahan ini sangat penting. Bukan hanya dirinya yang bisa mendapatkan gadis sebaik Bella, kita juga bisa memperbesar dan memperluas Narendra Coorporation" ucap Oma.
Maria menunduk mendengar semua itu, yang ada di pikirannya yang ada hanyalah bahwa anaknya akan dikorbankan lagi seperti dirinya.
"Apa ibu tahu kalau Davin tak menyukai Bella?" Maria berusaha membantu anaknya untuk meminta pengertian neneknya.
"Jika saja dulu kau tak memaksa Saga untuk keluar dari rumah ini, aku takkan memaksakan ini semua padanya, semua ini salahmu, jadi buat dia mengerti" ucap Oma.
Tanpa melihat Maria yang tersinggung dengan ucapannya, Oma pergi kembali ke kamarnya. Maria mengusap air matanya yang tak terasa menetes saat mendengar ucapan mertuanya itu.
Harris yang baru pulang, mendengar ucapan Oma. Maria melihatnya masih berdiri menatapnya dari kejauhan. Harris mengalihkan pandangannya dan pergi ke kamar mereka.
Maria berjalan ke arah dapur hendak menyiapkan makanan untuk suaminya. Namun tak berapa lama Harris turun lagi dan keluar menggunakan mobilnya.
Maria menghentikan tangannya yang menata piring di meja makan. Minah melihatnya dan membereskannya kembali tanpa berkomentar. Maria terduduk di kursi meja makan. Kedua tangannya memegang kepala hingga rambut kemudian mengusap wajahnya.
Dia menangis dengan menunduk di lipatan tangannya di meja. Minah mendengar tangisannya saat merapikan dapur, beberapa pelayan juga terdiam mendengar sedu sedan Maria.
Istana itu terlalu besar, suara tangis Maria tak terdengar ke kamar Oma Mira maupun kamar Davin. Hanya detak jarum sebuah jam besar yang menggema di lantai atas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments