Amelia bangun dengan membuka perlahan matanya. Tak ada siapapun di sana, dia mencoba berdiri, namun merasa ada yang mengganjal di perutnta saat dia bangun dengan posisi sit up. Dia mengubah posisi dan perlahan memijat kepalanya yang masih terasa pening.
Hana yang melihatnya langsung mendekat dan meraih tangannya.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Hana.
"Aku pingsan ya Kak?" tanya Amelia.
"Hmm, huuh" jawab Hana mengangguk.
"Kok sepi? Udah pada pulang?"
Tak ada keramaian seperti tadi, Amelia menatap jemarinya yang belum tersemat cincin pertunangan.
"Acaranya batal karena aku pingsan?" tanya Amelia yang tak mendapat jawaban dari Hana.
Hana memapah Amelia yang mau keluar, Amelia menolak.
"Aku sehat Kak!" keluh Amelia yang diperlakukan terlalu berlebihan menurutnya.
Sampai di luar, ibunya sedang duduk di kursi. Sementara Ghani ayahnya turun dari lantai atas membawa koper Amelia yang berisi semua pakaiannya.
"Ini!" Ghani melempar koper tepat di kaki Amelia.
"Ayah!" Hana menangis memohon.
Hani hanya bisa dia menangis tersedu.
"Kamu bilang mampu kan hidup di kota lain sendirian. Sana! Pintunya di sana, kamu tinggal keluar dan kembali ke sana" ucap Ghani kesal.
"Ayah minta Amelia pergi, kenapa?" tangis Amelia yang tak mengerti.
Dia menatap ibu dan kakaknya menangis.
"Ada apa? Amel bikin salah apa?" tanyanya lagi.
Hani tetap diam, Hana memegang lengan ayahnya yang memalingkan wajahnya dari Amelia.
"Amel pingsan, trus acaranya gagal. Amel nggak ngerti" ucap Amelia sambil mengusap air matanya.
"Nggak ngerti! Apa kamu juga nggak merasa bersalah udah pernah berhubungan dengan pria sebelum terjadi pernikahan?" teriak Ghani.
Amelia mundur selangkah bersandar ke dinding karena terkejut ayahnya sudah mengetahuinya.
~Ayah tahu? apa pria itu datang pas aku pingsan? atau gimana? kenapa ayah tahu? Siena? atau Ghina?~ Amelia panik.
"Siapa pria itu? siapa pria brengsek yang udah ngelakuin itu?" Ghani mengguncang tubuh Amelia dengan keras dan melemparnya.
Amelia diam saja, air matanya kembali mengalir. Dia masih bertanya-tanya apa yang sudah terjadi.
Hana meratap dan memohon dengan wajahnya yang meminta belas kasih ayahnya untuk adiknya.
"JAWAB!" amarah Ghani memuncak.
Tubuh Hani terhentak, terkejut dengan teriakan suaminya. Hana pun memeluk adiknya, melindunginya dari tangan ayahnya yang terangkat.
"Aku nggak tahu ayah, aku juga nggak kenal dia" lirih suara Amelia menjawab.
Wajah Ghani semakin merah padam, matanya tertutup karena kekecewaan besar pada putri bungsunya itu. Tangannya mengepal seolah seluruh tenaga dia kumpulkan di dalamnya. Dia memukulkannya ke dinding dan membuat sebuah suara keras yang merambat ke kaca jendela rumahnya, seolah gempa terjadi di rumah itu.
Hana semakin erat memeluk Amelia, Hani mendekat dan berusaha mencegah sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
"Lalu pada siapa aku harus minta pertanggung jawaban atas anak yang kau kandung?" ucap Ghani melemah.
Amelia terkejut, dia tak menyangka dirinya sedang mengandung. Bayangan saat dia makan banyak dan merasa sangat malas bergerak, muncul di matanya. Tangannya memegang perut yang dia rasa minggu ini terasa mengganjal.
"Aku hamil?" tanya Amelia sambil menangis.
Hana melepas pelukannya. Dia tak menyangka adiknya tak tahu bahwa dirinya sendiri hamil.
"Kalau begitu, bunuh diri saja sana!" ucap Ghani.
"Aaayaaahhh!" teriak Hana.
Ghani menatap Hana dengan sedih.
"Kalau begitu, PERGI! Bawa anak haram mu pergi dari rumah ini! Ibu mu sudah sangat menderita dengan ucapan ibunya Andy. Dia tak boleh lagi merasa kesal karena melihat mu mengandung anak haram di rumah ini"
Ghani menyeret tubuh Amelia dan kopernya hingga ambang pintu. Hani histeris dan mencoba menahannya. Dia mengira tadi Ghani hanya menggertak saja.
Suara histeris Hani dan Hana membuat beberapa tetangga keluar dari rumahnya dan melihat ke arah rumah mereka. Mereka menatap Amelia yang terlempar keluar.
Amelia masih menangis, dia berusaha berdiri sendiri dan mengambil kopernya. Hana berlari menarik tangannya dan mengajaknya kembali masuk, namun Amelia tak bergeming.
Amelia melepas tangan kakaknya dengan perlahan dan mengambil kopernya lagi.
"Maaf kak, aku juga nggak tahu!" hanya itu ucapannya yang keluar setelah sedari tadi diam.
Hani hendak keluar mencegah Amelia pergi, namun tangan Ghani memeluknya dengan erat.
"Sayang, Amelia mau pergi, dia mau pergi lagi sayang. Aku mohon, dia sedang hamil" Hani semakin histeris.
"Hana, MASUK!"
Hana memandang ayah dan ibunya, kemudian beralih pada Amelia yang berjalan menjauh. Saat hendak mencegah Amelia untuk pergi, Mikayla terbangun dan menangis. Hana menjadi kesal dengan situasi ini. Dia berlari ke dalam rumah mengambil Mikayla, kemudian berlari lagi menyusul Amelia. Namun sayang Amelia sudah jauh pergi. Tatapan tetangga membuat langkah Hana terhenti, Mikayla pun tak hentinya menangis.
Ghani melepas pelukannya dan keluar menarik tangan Hana untuk kembali ke rumah. Dia menutup pintu dengan sekuat tenaga, tetangga yang menonton pun bubar setelah rumah itu hening.
Hamil di luar nikah, masih menjadi hal yang paling buruk yang diberikan seorang putri bagi keluarganya. Seberapa besarpun kasih sayang orang tua, rasa kecewa mereka jauh lebih besar.
Lingkungan pun tak ayal memberikan hukuman sosial yang kadang menekan psikis mereka. Tanpa mau mendengar kebenaran ceritanya. Meskipun sudah mendengar, mereka akan selalu menyalahkan.
Kenangannya akan selalu teringat seberapa lamapun. Hukuman sosial itu akan selalu terasa seberapa kuatpun mencoba bertahan dan berubah menjadi lebih baik.
Amelia berjalan tanpa arah, tatapannya kosong. Tiba di tengah kota, menatap ke langit yang meski birunya sangat indah, tapi tak mampu mengobati sakit di hatinya.
Teriakan ayahnya masih terdengar menggema di sekitarnya. Beberapa orang yang lewat menabrak dan menatapnya dengan tatapan yang dimatanya sedang menghukumnya.
~Apa aku mati saja?~ ucap hati Amelia.
Dia berjalan lagi ke arah rel kereta api, beberapa orang melihatnya. Dia duduk di pinggiran rel dengan memeluk kopernya. Menunggu sebuah kereta lewat dan hendak berdiri di tengahnya agar bisa mati.
Tak lama kemudian, suara loceng pertanda kereta berbunyi. Amelia menatap langit dan melihat arah kereta datang. Dia berdiri, namun lagi-lagi perutnya terasa ada yang mengganjal, Amelia terdiam.
~Aku hamil~ ucap hatinya.
Tangannya memegang perutnya, dia menatap perut dan mengusapnya.
"Hanya karena ini kan? Hanya karena ada janin ini aku dimarahi ayah, jika janin ini tak ada, aku akan bisa membujuk ayah lagi untuk pulang" gumam Amelia.
Dia mencari ponselnya untuk mencari seseorang yang bisa membantunya menggugurkan kandunganya. Namun sayang, dia lupa membawanya. Amelia kesal dan melempar kopernya.
Dia berjalan lagi cukup jauh, mencari tempat bidan praktek. Dengan gugup dia masuk dan mengetuk pintu. Seorang wanita datang membuka dan tersenyum padanya.
"Aku, aku mau mengugurkan kandungan ku" ucap Amelia dengan nafas tersengal.
Dia kelelahan karena terus berjalan dan tak makan seharian untuk menjaga agar bajunya muat. Wanita paruh baya itu terkejut dengan ucapannya. Dia mendekat hendak menolak kedatangan Amelia dan mengusirnya.
Namun Amelia tiba-tiba pingsan dan tergeletak di kaki wanita itu. Dia histeris dan meminta suaminya keluar dan membantunya melihat apakah Amelia masih hidup atau tidak.
\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments